
Rose meletakkan ponselnya di dekat bantal setelah selesai berbalas pesan dengan Arkan, lalu menatap Mika yang sudah terlelap sambil mendekap boneka manusia salju.
"Memangnya dia sedang kesulitan apa?" gumam Rose, mengingat pesan yang dikirimkan Arkan. Rose beranjak dari atas tempat tidur, keluar dari kamar tersebut dengan langkah pelan menuju kamar Arkan yang letaknya tak jauh dari sana.
Tok ... tok ...
Rose mengetuk pelan pintu tersebut, tak berselang lama pintu itu terbuka dari dalam.
"Untung kau cepat datang," ucap Arkan terlihat cemas. "Masuk," pinta Arkan seraya membuka pintunya lebih lebar, lalu dia menepi memberikan akses jalan untuk calon istrinya ini.
"Ada apa? Katakan di sini saja," jawab Rose ketus seraya melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Arkan penuh curiga, maka dari itu dia enggan masuk ke dalam kamar tersebut.
Arkan menghembuskan nafas kasar, tanpa banyak basa-basi lagi dia langsung menarik tangan Rose, memaksa wanita itu masuk ke dalam kamarnya.
"Arkan!" sungut Rose, menatap sebal pada Arkan yang kini menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.
"Apa?" jawab Arkan terlihat santai dan tidak merasa bersalah sama sekali.
"Aku mau keluar dari sini! Bisa bahaya kalau kedua orang tuamu melihat kita berduaan di dalam kamar!" protes Rose, seraya berjalan menuju pintu kamar, akan tetapi langkahnya terhenti saat tangannya di tarik Arkan sangat kuat hingga membuat tubuhnya terhuyung dan punggungnya menubruk dada bidang Arkan.
"Lepas!" Rose memberontak ketika Arkan memanfaatkan kesempatan, memeluknya dari belakang sangat erat.
"Sebentar saja, Rose. Aku hanya ingin meminta bantuanmu," bisik Arkan seraya meletakkan dagunya di pundak wanita itu, lalu mengecup leher Rose dengan lembut.
Rose memejamkan kedua mata, dan tubuhnya seketika itu meremang saat merasakan kecupan lembut tapi meninggalkan sensasi basah di sekitar lehernya. Dadanya naik turun bersamaan dengan nafasnya memburu, dia menggigit bibirnya dengan kuat ketika kedua tangan kekar Arkan semakin erat melingkar di perutnya.
__ADS_1
"Arkan, jangan seperti ini. Ini tidak baik untuk kita," bisik Rose, mmeberikan pengertian pada Arkan.
"Berapa hari lagi kita menikah?" tanya Arkan seraya memejamkan kedua matanya dengan erat, saat sisi liarkan memberontak ingin keluar.
"Lima ha-hari lagi," jawab Rose terbata sambil menahan nafas dan tubuhnya menegang ketika merasakan benda keras mengganjal dibokongnya. Rose nggak polos-polos banget, dia paham dan tahu kalau benda keras itu adalah milik Arkan.
"Kenapa lama sekali?" ucap Arkan, mendesah kasar.
Rose melirik tajam calon suaminya ini, "Lima hari Arkan, bukan lima bulan atau lima tahun!" cibir Rose sambil berusaha melepaskan kedua tangan Arkan yang melingkar di perutnya. Namun, usaha Rose tidak berhasil karena tangan Arkan malah semakin erat melingkar di area perutnya.
"Arkan, katanya kau membutuhkan bantuanku?" tanya Rose baru mengingat tujuan utamanya datang ke kamar itu.
"Sudah, kau sudah membantuku," jawab Arkan seraya menggiring calon istrinya ke sofa. Arkan mendudukkan diri di sana, otomatis Rose jadi duduk di atas pangkuannya.
"Arkan kau sungguh menyebalkan!" umpat Rose sangat jengkel, karena dia baru menyadari kalau Arkan hanya modus padanya.
Rose memanyunkan bibirnya karena Arkan selalu saja mengambil keuntungan darinya, kemudian dia menarik rambut Arkan dengan kuat sehingga membuat pria itu memekik kesakitan.
"Arghhh!!!" pekik Arkan saat rambutnya di tarik Rose. Sontak saja, dia yang sedang menguyel dada empuk calon istrinya terpaksa harus menghentikan aksinya. "Kau ini kejam sekali!" protes Arkan seraya melepaskan tangan Rose yang masih menarik rambutnya.
"Rasakan ini! Kau ini benar-benar mesum ya ternyata!" Rose menatap sengit pada Arkan.
"Kau ingin tahu betapa mesumnya aku, Rose? Mau aku buktikan sekarang?" Arkan bukannya marah karena makian calon istrinya, justru malah sebaliknya, Arkan semakin menjadi.
"Jangan macam-macam!" Rose ingin beranjak dari pangkuan Arkan, tapi lagi-lagi gerakannya terlambat karena Arkan kembali menahannya.
__ADS_1
"Arkan!!!!" Rose rasanya ingin memukul Arkan dengan sandal yang dia gunakan, tapi sayangnya dia tidak mempunyai keberanian sebanyak itu, pasalnya jika dia semakin melawan maka Arkan akan semakin menjadi.
"Bisa tidak sih, duduk tenang di sini, membantuku untuk menghilangkan rasa lelahku setelah seharian bekerja dan pusing di kantor," protes Arkan seraya mengecup bibir Rose sekilas.
"Ih! Cium-cium terus!" kesal Rose seraya menutup bibirnya dengan telapak tangannya.
"Sama calon suami nggak boleh pelit!" jawab Arkan lalu kembali mendekap Rose sangat erat.
"Rose, besok kau akan bertemu dengan Tuan Park dan istrinya, aku harap kau mempersiapkan diri dari sekarang," ucap Arkan secara tiba-tiba, membuat Rose sangat terkejut.
"Besok? Secepat ini?" tanya Rose sangat terkejut.
"Hu'um, Tuan Park tadi yang menghubungiku terlebih dahulu," jelas Arkan seraya menatap wajah cantik Rose dengan lekat.
"Bagaimana? Kau setuju atau tidak? Jika kau belum siap atau tidak setuju, aku akan menghubunginya," lanjutnya seraya mengelus lengan Rose penuh kelembutan.
"Iya, aku siap. Bukankah lebih cepat lebih baik," jawab Rose mantap dan penuh keyakinan.
Arkan tersenyum lalu menarik tengkuk Rose, lalu melabuhkan ciuman lembut di bibir manis itu.
"Kenapa bibirmu lembut dan manis sih? Aku 'kan jadi nggak bisa berhenti menciummu." Arkan melontarkan kata-kata modus agar bisa kembali mencicipi bibir semanis madu itu yang sudah menjadi candunya.
"Dasar modus!" cibir Rose seraya menghindari ciuman Arkan, akan tetapi tidak bisa karena duda tampan itu begitu pandai membuai dan membuatnya tak berdaya.
***
__ADS_1
MODUSSS terussss 😂