
"Rose ..." bisik Arkan lagi, lalu mengecup dada Rose dengan penuh harap. Kemudian beralih mencium bibir Rose lagi dengan penuh kelembutan.
"Emh ... Arkan." Rose melepaskan ciuman itu dengan paksa, lalu sedikit mendorong dada bidang Arkan untuk agar tubuh keduanya berjarak.
"Ada apa?" tanya Arkan menatap Rose penuh gairah.
"Kita belum menikah, jadi maaf," jawab Rose lalu turun dari pangkuan Arkan, Duduk di samping pria tersebut kemudian menangkup wajahnya yang kini merona merah seperti tomat yang matang di pohon. Rasa malu, canggung dan kesal bercampur menjadi satu di dalam rongga dadanya.
Bagaimana bisa dirinya melakukan hal seperti tadi. Membalas ciuman Arkan, dan terbuai dalam segala pesona pria tersebut.
Rose menggigit bibirnya dengan kuat, seraya merutuki dirinya di dalam hati.
Arkan mengusap wajahnya kasar, lalu memejamkan matanya erat seraya menundukkan kelapa sambil memijat pangkal hidungnya, saat kepalanya mendadak pusing karena dia harus meredam hasratnya lagi.
"Aku yang harus minta maaf," ucap Arkan seraya menatap Rose yang terlihat canggung padanya.
"Ini memalukan." Rose berkata lirih seperti gumaman, namun masih di dengar oleh Arkan.
"Aku yang salah, aku yang sudah ..." ucapan Arkan terhenti ketika Rose menempelkan jari telunjuk ke permukaan bibirnya.
"Jangan di bahas lagi, oke!" Rose berkata penuh penekanan, menatap tajam Arkan yang juga tengah menatapnya.
"Rose ..."
"Arkan, aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba baik dan bertindak seperti ini padaku. Padahal sebelumnya kita selalu bertengkar dan tidak pernah akur, apakah ini karena aku adalah adik iparmu?" Rose meminta penjelasan pada Arkan. Dia sungguh bingung dengan situasi ini.
"Kau salah paham Rose. Aku melakukan semua itu berdasarkan naluriku. Entah kenapa belakangan ini saat aku berdekatan denganmu, jantungku berdetak sangat cepat, dan pandanganku selalu tidak bisa lepas darimu," jawab Arkan jujur, dia meraba dadanya merasakan jantungnya berdetak sangat cepat, dan kedua matanya menatap wajah cantik Rose penuh damba.
"Sepertinya aku telah jatuh cinta padamu," lanjut Arkan dengan penuh keyakinan,
"Jangan membual, Arkan! Kau pernah bilang tidak akan pernah jatuh cinta kepadaku. Kita akan menikah karena alasan yang sama yaitu demi Mika, lalu sekarang ...," ucapan Rose terhenti ketika Arkan menarik tengkuknya dan melabuhkan ciuman di permukaan bibirnya.
"Sekarang sudah berubah. Aku mengaku kalah, aku kalah karena sudah takhluk padamu," bisik Arkan lembut, seraya menangkup wajah Rose dengan sebelah tangannya.
"Tapi, bagaimana bisa?" tanya Rose, tidak percaya, menatap wajah tampan Arkan yang terlihat serius. Lalu pandangan matanya itu menatap kedua manik berwarna biru itu dengan lekat, menyelaminya lebih dalam, mencari kebohongan di sana, tapi yang dia temukan adalah sebuah kejujuran.
"Aku juga tidak tahu. Rasa ini muncul begitu saja, dan entah sejak kapan berkembang di dalam sini." Arkan berkata sambil menunjuk dadanya, seraya menatap dalam pada wanita yang duduk di dekatnya ini.
"Apakah kau mempunyai rasa yang sama?" tanya Arkan, lalu meraih salah satu tangan Rose dan menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
Rose menelan ludahnya dengan kasar, dan jantungnya tiba-tiba berdebar tidak karuan ketika tangannya di genggam erat oleh calon suaminya. Rose bertanya pada hatinya,apakah dia juga mempunyai perasaan yang sama seperti Arkan? Namun dia tidak mendapatkan jawaban dari hatinya. Lalu apakah dia harus mencari jawabannya dengan cara lain?
"Arkan," panggil Rose.
"Ya?" Arkan menatap Rose dengan lekat.
"Bisakah kau menciumku lagi?" pinta Rose, karena dia ingin mencari tahu jawaban atas perasaannya terhadap Arkan.
Arkan menaikkan sebelah alisnya, tapi sedetik kemudian dia tersenyum dan langsung menyambar bibir Rose dengan penuh kelembutan.
Rose tersenyum di sela ciuman tersebut. Jantungnya semakin berdetak sangat cepat, dan perasaannya kian membuncah di dalam dada. Kini dia sudah mendapatkan jawabannya, bahwa dia juga mencintai Arkan. Kemudian dia mengalungkan kedua tangannya di leher Arkan, membalas ciuman tersebut tak kalah lembut.
Suasana hangat dan romantis tercipta begitu kental di ruangan tersebut. Dua sejoli saling berciuman penuh kelembutan, saling memagut dan saling membelit lidah, hingga suara cecapan dan decapan memecah keheningan ruangan itu.
Namun, tiba-tiba ciuman mereka terhenti dengan paksa ketika mendengar suara ponsel Arkan berdering panjang, bertanda kalau ada panggila masuk.
Arkan segera mengambil ponselnya yang tersimpan di kantong celana.
"Mika," ucap Arkan saat memandang nama kontak pemanggil di layar ponselnya.
"Tunggu dulu, jangan di angkat!" cegah Rose saat akan mengangkat panggilan tersebut.
Rose meraih beberapa lembar tisu, dan juga sisir. Dia mengusap bibir Arkan yang basah dan merapikan rambut pria tersebut yang terlihat berantakan, kemudian Rose merapikan dirinya sendiri, setelah selesai dia mempersilahkan Arkan untuk mengangkat panggilan tersebut.
Arkan tertawa pelan melihat tingkah Rose, kemudian dia mencubit gemas pipi calon istrinya.
"Biar nggak ada yang curiga, pasti di samping Mika ada ibumu," jawab Rose sambil menyisir rambutnya dengan kelima jari tangannya.
"Memang boleh se-cerdas ini?" goda Arkan sambil tertawa, lalu mencium bibir Rose yang mengerucut. Setelah puas merasakan bibir manis itu, dia baru mengangkat panggilan telepon dari putrinya.
"Daddy!!! Kenapa belum pulang?!" suara cempreng Mika menyambut indra pendengaran keduanya saat panggilan tersebut sudah terangkat. Wajah sebal gadis kecil dan menggemaskan itu terpampang di layar ponsel Arkan.
"Iya, Sayang. Daddy masih di rumah Mommy," jawab Arkan pada putrinya yang terlihat kesal.
"Daddy curang! Kenapa di rumah Mommy tidak mengajakku!" protes Mika.
"Maafkan Daddy, tadi pulang kerja langsung mampir ke sini," jawab Arkan, seraya menatap Rose yang terkikik geli di sampingnya. Kemudian Arkan menyerahkan ponselnya kepada Rose.
"Hai, Mika, kok belum tidur?" sapa Rose tersenyum hangat pada Mika yang terlihat kesal padanya.
__ADS_1
"Apakah kalian saling bekerja sama?" tanya Mika judes, bahkan tidak menjawab pertanyaan Mommy-nya.
"Mika kalau sedang marah tambah manis dan sangat imut, Mommy jadi gemas dengan putri Mommy." Rose mengoda Mika agar tidak marah lagi.
"Jangan mencoba merayuku! Aku sedang marah! Kalian sangat jahat!" Mika berkata sambil mencebikkan bibirnya, dan hal itu malah terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
"Mika, nggak boleh berkata seperti itu sama Mommy." Suara Allegra terdengar menegur Mika, kemudian mengambil alih ponsel tersebut.
"Kalian berdua ngapain berduaan di sana?! Arkan, jangan macam-macam, dan cepat pulang!" omel Allegra pada Arkan dan Rose.
"Aku dan Rose sedang membicarakan sesuatu yang penting, Mom. Sebentar lagi aku akan pulang," jawab Arkan lalu menyambar ponselnya dari tangan Rose.
Dari seberang sana Mika terdengar merengek ingin bertemu dengan Rose.
"Daddy akan membawa Mommy ke sana," ucap Arkan pada putrinya.
Mika langsung bersorak 'Hore' dan mengucapkan terima kasih pada Daddy-nya. Kemudian menutup panggilan tersebut.
Rose menatap Arkan sambil geleng-geleng kepala, "ini sudah malam, dan tidak mungkin aku ke sana, apa kata orang tuamu nanti."
"Demi Mika. Dan kedua orang tuaku tidak akan mempermasalahkannya, karena kita sebentar lagi akan menikah. Ayolah, kau sudah berulang kali menginap di rumahku, kenapa kali ini kau terlihat ketakutan?" Arkan menatap Rose dengan heran, karena tidak biasanya Rose seperti ini.
"Aku hanya sedikit takut saja, takut kalau kita kebablasan. Sepertinya kelamaan menduda membuatmu kehausan," jawab Rose jujur, tapi tersemat kalimat ledekan untuk calon suaminya ini.
"Sudah berani meledekku ya?"! Arka menatap tajam Rose, kemudian menarik tengkuk Rose dan kembali mencium bibir manis itu tanpa ampun.
"Arkan! lepaskan aku! Jangan menciumku lagi!" protes Rose dengan nada pelan.
"Ini hukuman untukmu karena sudah berani meledekku!!
"Dasar licik!" umpat Rose.
"Iya, itulah aku yang sesungguhnya," jawab Arkan,.
"Aku membencimu!" balas Rose,
"Tapi, aku cinta sama kamu, gimana dong?" sahut Arkan lalu kembali mencium bibir Rose tanpa bosan.
****
__ADS_1
Nah 'kan. Arkan kemakan sama omongannya sendiri. Sekarang siapa yang bucin duluan, wk wk wk