
"Mau ke mana?" tanya Gerry pada putranya yang berjalan menuju garasi mobil.
"Mencari Rose. Papa tahu keberadaan Rose?" jawab Arkan sekaligus bertanya pada ayahnya akan tetapi Gerry hanya menaikkan kedua bahunya secara bersamaan, kemudian berlalu dari hadapannya.
Arkan membuang nafas kasar ketika melihat respon ayahnya, lalu dia segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir rapi di garasi. Pencarian Rose pada hari itu di mulai. Pertama-tama Arkan mendatangi bengkel--tempat kerja calon istrinya, sekaligus bertanya kepada dua teman Rose yang bekerja di bengkel tersebut. Namun, bukannya mendapatkan jawaban, melainkan mendapatkan amukan dari Hendra dan Agus.
"Kalau kamu nggak becus jaga Rose, mendingan kamu lepaskan saja dia!" bentak Hendra seraya menatap tajam Arkan penuh emosi.
"Apa yang sudah kamu perbuat pada Rose? Sampai dia pergi meninggalkanmu?!" Kali ini Agus yang meluapkan kekesalannya pada Arkan.
"Aku datang ke sini baik-baik, aku juga bertanya baik-baik, bukan mencari ribut dengan kalian!" balas Arkan penuh emosi seraya menatap kedua pria yang berdiri di hadapannya secara bergantian. "Sekarang aku tanya sekali lagi, apa kalian tahu keberadaan Rose?!" tanya Arkan sekali lagi, sekaligus mencoba untuk mengendalikan diri agar tidak terpancing emosi.
"Nggak!" jawab Hendra dan Agus bersamaan.
Arkan membuang nafas kasar, lalu segera pergi dari sana karena tidak ingin membuang waktunya. Setelah dari bengkel, Arkan menuju rumah kontrakan Rose, dia berharap Rose berada di sana.
__ADS_1
"Kayaknya nggak ada orangnya." gumam Arkan menatap pintu kontrakan yang tertutup rapat. Tapi, Arkan tidak mau menyerah begitu saja, dia melangkahkan kedua kakinya, mendekat ke arah pintu tersebut, tangan tangannya terangkat lalu mengetuk perlahan daun pintu berwarna coklat itu.
Tok ... Tok ...
Arkan mengetuk pintu tersebut berulang kali akan tetapi tidak ada jawaban. Arkan memundurkan langkahnya berniat pergi dari sana akan tetapi pintu tersebut bergeser dan terbuka lebar. Jantung Arkan berdetak sangat cepat dan perasaannya sangat senang, akan tetapi rasa senangnya langsung sirna saat melihat bukan Rose yang membuka pintu melainkan Ibu Rosita.
"Ibu ..." Arkan kembali mendekat lalu mencium tangan calon ibu mertuanya dengan sopan. "Ibu kapan datang?" tanya Arkan sopan.
"Tadi subuh," jawab Ibu Sita tersenyum ramah lalu mempersilahkan calon menantunya masuk ke dalam kontrakan. "Masuk aja, tapi jangan berisik ya, soalnya Rose masih tidur," ucap Ibu Sita.
"Ada apa? Kenapa kamu menatap Rose kayak kaget begitu?" tanya Ibu Sita pada Arkan.
"Nggak apa-apa, Bu," jawab Arkan seraya mendudukkan diri di atas lantai, tepat di samping Rose yang masih terlelap.
Ibu Sita membuatkan teh hangat untuk calon menantunya. "Kamu lagi bertengkar sama Rose?" tanya Ibu Sita secara tiba-tiba, seraya menyuguhkan segelas teh hangat untuk menantunya.
__ADS_1
"Maaf, Bu," jawab Arkan menundukkan kepala. Terus terang dia sangat malu dan tidak enak hati pada ibu Sita karena dia telah menyakiti hati Rose.
Ibu Sita tampak menghela nafas panjang, lalu berkata, "jangan diiulangi lagi ya. Kemarin malam Rose menyusul ibu ke Jawa, katanya sih nggak mau ketemu dan nggak mau nikah sama kamu. Kalian sudah dewasa tentu sudah dapat mengambil keputusan yang terbaik untuk kalian sendiri. Ibu nggak tahu masalah kalian apa, yang terpenting kalian harus secepatnya berbaikan dan menyelesaikan masalah kalian sebelum hari pernikahan," jelas Ibu Sita dengan bijak.
"Baik, Bu. Sekali lagi maafkan saya," jawab Arkan menundukkan kepalanya.
"Yo wes, ibu mau ke pasar dulu. Katanya, Mika rindu sama masakan Ibu. Ibu mau memasak spesial untuk cucuku." Ibu Sita beranjak dari duduknya, lalu mengambil dompet yang tergeletak di atas televisi.
"Aku antar ya, Bu," ucap Arkan.
"Nggak usah, pasarnya dekat kok. Kamu di sini saja dulu temani, Rose," jawab Ibu Sita sambil berjalan keluar kontrakan. "Pintunya nggak usah di tutup!" Ibu Sita memberikan ultimatum pada calon menantunya.
"Iya, Bu," jawab Arkan seraya berdiri dan mengantarkan ibu Sita sampai halaman kontrakan, setelah calon ibu mertuanya sudah berjalan jauh, Arkan masuk kembali ke dalam kontrakan, tidak lupa menutup pintu kontrakan tersebut.
"Peraturan dibuat untuk dilanggar," gumam Arkan sangat bahagia seraya merebahkan diri di samping Rose lalu memeluk calon istrinya itu dengan erat dan penuh kerinduan.
__ADS_1