
Disebuah unit apartemen mewah, seorang pria paruh baya memarahi istrinya habis-habisnya.
“Lebih baik kau kembali ke Korea!” Tuan Park berkata penuh emosi seraya menatap tajam istrinya yang berdiri di hadapannya. Tuan Park sudah mengetahui kalau istrinya selama ini telah menyewa detektif untuk memantau Rose dan ibunya, dan lebih parahnya lagi, istrinya itu berusaha menghasut Mika dan Arkan untuk menggagalkan pernikahan Arkan dan Rose. Tuan Park benar-benar marah dengan tindakan istrinya yang sudah membuatnya malu bukan kepalang.
“Tidak! Aku tidak mau!” tolak Nyonya Park dengan tegas diiringi dengan gelengan kepala.
“Kau sudah membuatku malu, Ji Woo!” bentak Tuan Park seraya menuding wajah istrinya penuh emosi. “Tidak seharusnya kau menghasut Arkan dan menyewa detektif untuk memantau Rose dan Ibunya! Apa maksud dan tujuanmu?!” lanjut Tuan Park, kemarahan tercetak jelas di wajahnya yang penuh wibawa. Rahangnya mengeras dan kedua matanya melotot tajam pada istrinya yang kini terisak di hadapannya.
“Aku hanya ingin mempertahankan miliku! Apakah aku salah melakukannya? Aku hanya takut kalau kau berpaling dariku, karena aku tahu kalau kau sangat mencintai wanita itu!” balas Nyonya Park tak kalah marah dari suaminya, bahkan dia berani membalas tatapan suaminya. Tak berselang lama, dia kembali terisak, seraya menangkup wajahnya yang masih terlihat cantik meski sudah tidak muda lagi.
Tuan Park menghembuskan nafas kasar, “meski aku sangat mencintai Rosita, tapi aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu!” ucap Tuan Park menurunkan nada bicaranya. Wajahnya memaling seolah enggan menatap istrinya yang menangis di hadapannya. “Kau tahu kenapa? Karena semua sudah terlambat! Jadi semua kekhawatiranmu tidak akan pernah terjadi!” lanjutnya seraya melangkah pergi, keluar dari apartemen tersebut untuk menenangkan pikirannyab sekaligus mencari udara segar.
Mendengar perkataan suaminya, hati Nyonya Park berdenyut nyeri tapi juga sedikit merasa lega, seolah ada sebuah cahaya terang yang bersinar di tengah kegelapan.
__ADS_1
*
*
Di sisi lain. Arkan dan Rose telah selesai melakukan fitting baju, mereka berdua mengucapkan banyak terima kasih kepada pemilik butik sekaligus pamit pulang.
Keduanya keluar dari butik tersebut sambil bergandengan tangan.
“Kamu cantik banget pakai gaun pengantin tadi,” ucap Arkan dengan jujur, seraya menatap calon istrinya yang berjalan di sampingnya.
“Bukankah aku sudah pernah mengatakan perasaanku padamu? Apakah itu kurang?” tanya Arkan seraya menyentuh lengan Rose, namun sebelum tangannya mendarat sempurna, Rose memundurkan langkah, membuat tangannya akhirnya menggantung di udara. Arkan menatap datar pada tangannya, lalu beralih menatap wajah cantik calon istrinya dengan penuh kebingungan.
“Ini bukan masalah kurang atau tidak, ini masalah kejujuran hati! Sekarang aku tanya, saat aku berada di dalam butik, dan saat aku memakai baju pengantin, kau memandangku dengan penuh kekaguman, akan tetapi semua rasa kagummu itu bukan untukku, melainkan untuk mendiang istrimu. Aku benar ‘kan?” Rose berkata pelan, tapi percayalah di balik tutur katanya yang pelan dan lembut terselip sebuah sakit hati yang begitu dalam. Kedua mata Rose mengembun, jika sekali berkedip saja maka air matanya itu akan jatuh membasahi pipi mulusnya.
__ADS_1
Arkan memejamkan matanya sesaat dan erat, seraya mendongak dan berkacak pinggang. Memang ... ketika dia melihat Rose memakai baju pengantin, dia teringat dengan istrinya yang telah tiada. Apalagi kecantikan dan wajah Rose yang sama dengan mendiang istrinya, membuat perasaan Arkan kembali meragu, tapi itu hanya untuk sesaat, karena dia segera sadar kalau wanita yang berada di hadapannya ini adalah masa depannya yang akan menemaninya sampai tua nanti.
“Rose, dengarkan penjelasanku ...” ucapan Arkan terhenti ketika Rose memotong perkataannya.
“Tidak perlu di jelaskan, karena aku sudah paham! Kau menciumku dan mengatakan perasaanmu kepadaku karena kau menganggap bahwa aku ini adalah istrimu yang sudah meninggal itu ‘kan?!” Rose menatap Arkan penuh luka, air matanya yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh juga membasahi pipinya.
“Rose, aku mohon dengarkan aku dulu ...” Mohon Arkan pada calon istrinya ini yang kembali memotong ucapannya. Sungguh Arkan telah mencintai Rose seutuhnya, dan dia sangat terluka sekaligus merasa bersalah saat melihat Rose menangis karenanya.
“Tega kamu! Saat aku mulai membuka hatiku untukmu, tapi perasaan yang telah kau berikan kepadaku hanyalah semu. Aku tidak tahu dosa apa yang pernah aku lakukan, hingga kau mempermainkanku seperti ini! Seharusnya aku sejak awal sadar dan tahu diri, sekaligus menutup hatiku dengan rapat, bahwa kita terpaksa menikah karena Mika!” ucap Rose penuh penekanan, dan sangat kecewa. Dia beranjak dari sana menuju tepi jalan raya lalu menghentikan taksi yang kebetulan melintas di depannya.
“Rose!” Arkan berseru sambil mengejar Rose yang sudah naik ke taksi. Tapi, sayangnya taksi yang di naiki calon istrinya telah melaju cepat menjauh darinya. Tidak mau putus asa, Arkan segera mengejar taksi tersebut menggunakan mobilnya.
“Bodoh!” Arkan mengumpati kebodohannya berulang kali. Kedua matanya berkaca-kaca dan raut wajahnya sangat cemas, di tambah lagi dia kehilangan jejak taksi yang membawa Rose.
__ADS_1
***
Biar kapok, Si Arkan ini harus di kasih sentil sedikit ginjalnya😡