
Pesawat terbang berlogo burung garuda yang di tumpangi Arkan dan Rose telah mengudara menuju Bandara Ngurah Rai, Bali. Pelayanan First Class membuat perjalanan mereka sangat nyaman dan menyenangkan. Hanya saja Rose sedikit merasa pusing saat pesawat turbulensi.
"Sayang." Arkan menggenggam tangan Rose dengan erat.
"Aku baik-baik saja," jawab Rose seraya tersenyum dan membalas geganggaman tangan istrinya. "Ini sudahbiasa terjadi, jadi jangan khawatir," lanjut Rose meyakinkan suaminya.
Arkan mengangguk, merasa sedikit tenang karena dia mencemaskan istrinya. "Oh iya, aku lupa memberitahumu kalau selama berada di Bali kita akan menginap di Villa temanku," ucap Arkan.
"Temanmu? Pria atau wanita?" tanya Rose, penasaran.
"Wanita, dia teman kuliahku. Dia sangat baik, dan ramah, kamu pasti akan sangat senang mengenalnya," jawab Arkan memuji temannya, membuat Rose menjadi merasa tidak nyaman, dan cemburu.
Rose mencoba menenangkan hatinya yang tiba-tiba terasa panas. Mungkin karena dirinya dan Arkan belum terlalu lama mengenal, jadi dia belum begitu paham dengan lingkungan pertemanan suaminya. Semoga saja tidak terjadi drama seperti di sinetron ikan terbang yang sering dia tonton.
Menempuh perjalanan selama hampir 2 jam, akhirnya pesawat yang di naiki pengantin baru itu telah mendarat dengan sempurna di Bandara Ngurah Rai, Bali. Setelah pembahasan tentang Villa di pesawat, sampai saat ini Rose jadi malas berbicara. Arkan menarik koper besar, sedangkan Rose berjalan di samping pria tersebut menuju lobby.
__ADS_1
"Arkan!!!" seru seorang wanita yang berdiri di depan lobby sambil berjingkrak-jingkrak memanggil Arkan.
Arkan dan Rose menoleh ke arah sumber suara. Bibir Rose cemberut ketika melihat seorang wanita sexy melambaikan tangan pada suaminya.
"Dia temanmu, pemilik Villa?" tanya Rose pada Arkan dengan malas.
"Iya," jawab Arkan tersenyum lebar, kemudian berjalan mendahului istirnya untuk menghampiri temannya itu.
"Willia!" Arkan tersenyum seraya bersalaman dengan teman lamanya. "Apa kabar?" lanjut Arkan sangat senang bisa bertemu dengan wanita itu.
"Aku sangat baik, Ar. Mana istrimu?"
Rose menghembuskan nafasnya dengan kasar, dengan malas dia menghampiri suaminya.
"Oke, baru bertemu dengan teman lamanya saja sudah melupakan aku! Dasar semua pria sama saja, paling nggak bisa kalau melihat yang bening dan sexy!" geram Rose di dalam hati.
__ADS_1
Rose langsung memeluk lengan kekar suaminya dan tersenyum palsu pada wanita sexy yang hanya memakai tangtop dan hot pant di hadapannya ini.
"Hai, kau cantik sekali, dan wajahmu sangat mirip seperti mendiang istri Arkan. Pantas saja Arkan menikahimu," ucapan Willia sangat pedas hingga menembus ke relung hati Rose yang terdalam.
"Willi!" Arkan berkata tegas pada temannya itu agar tidak melukai hati istrinya.
Rose mengeraskan rahangnya seraya melepaskan pelukannya dari tangan kekar suaminya.
"Maaf, aku hanya bercanda, nona cantik. Jangan di ambil hati ya," ucap Willia sambil tertawa pelan seolah kalimat yang baru saja dia ucapkan sangat lucu.
"Sayang, jangan marah ya. Willi hanya bercanda." Arkan terlihat sangat takut dan cemas jika istrinya marah.
"Bercanda ya?!" balas Rose pelan dan penuh penekanan, menatap datar Arkan dan Willi secara bergantian.
"Ayolah! Jangan marah seperti anak kecil. Aku hanya bergurau, jadi jangan marah." Willia mengomentari sikap Rose yang mudah marah dan cemburu. Sungguh tidak dewasa sama sekali, pikir Wiliia.
__ADS_1
"Will, bisa jaga bicaramu?!" Arkan kembali memperingatkan temannya.
"Jadi ini temanmu yang kau banggakan saat di pesawat tadi? Sangat baik dan ramah? Aku baru tahu kalau definisi orang baik itu julid seperti ini," balas Rose dengan datar dan dingin. menatap sengit pada Willia.