
“Arggh!” teriak Arkan ketika telinganya di tarik oleh ayahnya.
Sudah jatuh tertimpa tangga, itulah yang di rasakan oleh Arkan saat ini. Bagaimana tidak? Jika beberapa detik yang lalu dia di tendang Rose hingga jatuh ke atas lantai, setelah itu telinganya di tarik oleh ayahnya sendiri.
“Papa, sakit!” Arkan memegangi tangan Gerry yang masih asyik menarik telinganya sampai terasa panas dan perih.
Rose ikut meringis sakit ketika melihat telinga Arkan di tarik oleh Gerry. Bahkan dia sampai memegangi kedua telinganya, seolah merasakan sakit juga. Tapi, di sisi lain dia merasa senang dan puas karena Arkan mendapatkan balasan yang setimpal. Ha ha ha.
“Masa sakit sih? Jagoan itu tidak boleh mengeluh!” cibir Allegra sambil bersedekap, dan menatap putranya dengan kesal.
“Mama, kenapa nggak nge-bela aku?!” Arkan protes pada ibunya sambil meringis sakit dan memiringkan kepala ketika Gerry semakin kuat menarik telinganya.
“Untuk apa bela anak nakal kayak kamu! Kurang ajar kamu karena sudah berani melakukan yang nggak-nggak sama Rose! Kamu harus di hukum!” Gerry terdengar marah, dia langsung menggiring putranya keluar dari kamar tersebut.
“Ampun, Pa! Aku nggak nakal, aku juga nggak kurang ajar sama Rose!” Arkan berusaha membela diri sambil berjalan mengikuti langkah kaki Gerry, sambil menudukkan kepala, karena sampai saat ini ayahnya itu masih menarik telinganya.
“Nggak usah bela diri!” seru Gerry sambil terus menarik telinga putranya menuju ruangannya.
Di dalam kamar tersebut kini tersisa Rose dan Allegra.
Rose menundukkan kepala, merasa canggung dan malu ketika dipandang oleh calon ibu mertuanya.
“Kamu baik-baik saja, Rose?” tanya Allegra seraya mendekati wanita muda itu.
Rose mendongak, lalu menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.
“Apa ada yang luka atau lecet? Maafkan Arkan yang nggak bisa menahan diri. Mungkin karena sudah 7 tahun menduda membuatnya jadi nggak tahan dekat-dekat sama kamu,” ucapan Allegra membuat kedua mata Rose membola sempurna, terkejut karena ternyata calon ibu mertuanya ini salah paham dengan kejadian tadi, di mana dia dan Arkan bertengkar di atas ranjang.
“Ouh ... sepertinya Nyonya salah paham, sebenarnya ...” perkataan Rose terjeda ketika Allegra menyela.
“Sttt ... nggak usah membela Arkan. Sekarang kamu istirahat di kamar ini ya,” ucap Allegra sambil tersenyum, lalu pamit keluar dari kamar tersebut, tidak lupa menutup pintu, meninggalkan Rose sendirian di dalam sana.
“Huh! Arkan, bikin malu!” gerutu Allegra setelah menutup pintu kamar tamu tersebut, lalu berjalan menuju ruangan suaminya.
Sampai di ruangan suaminya, Allegra melihat Arkan duduk bersimpuh di atas lantai tepat di hadapan Gerry yang duduk sofa.
“Arkan! Kamu sangat keterlaluan!” omel Allegra pada putranya.
__ADS_1
Arkan mberengut sambil menoleh pada ibunya yang kini duduk di samping ayahnya. “Kalian jahat sekali, masa nggak percaya sama anak sendiri!” kesal Arkan, seraya menghela nafas kasar, melirik kedua orang tuanya dengan jengkel.
“Mau di colok mata kamu!” umpat Gerry, melotot tajam pada putranya.
“Iya ... iya, maaf.” Arkan menjawab sambil menundukkan kepala.
Allegra berdecak pelan, lalu memerintahkan putranya agar bangun dari lantai dan pindah duduk ke atas sofa.
“Mama tahu kalau kamu ini sudah lama menduda, tapi setidaknya tahan diri kamu! Jangan bikin malu kayak gini!” omel Allegra pada putranya.
Arkan menegakkan kepala, menatap kedua orang tuanya secara bergantian, “berapa kali sih aku bilang kalau aku dan Rose tidak melakukan hal itu!” jawab Arkan jujur, sekaligus membela diri.
“Nggak usah banyak alesan kamu!” sahut Gerry jengkel pada Arkan.
Arkan memutar kedua matanya dengan jengah, percuma menjelaskan kejadian yang sebenarnya kalau kedua orang tuanya tidak mempercayainya.
“Udah nggak ada yang dibicarakan, kan? Kalau begitu, aku mau tidur.” Arkan beranjak dari duduknya, tapi langkahnya yang baru terayun langsung terhenti saat mendengar seruan ibunya.
“Enak saja kamu mau pergi begitu saja!” omel Allegra pada putranya.
“Arkan!!!” seru Allegra pada putranya yang sudah keluar dari sana.
“Biarin saja, Ma,” ucap Gerry sambil mengelus pundak istrinya.
“Biarin apanya? Kamu mau anak kamu jadi bastrad kayak masa muda kamu dulu?!” omel Allegra, menatap sengit pada suaminya.
“Loh ... Loh, kok masa lalu aku di bahas sih!” protes Gerry tidak terima.
“Karena tingkah Aslan dan Arkan sama seperti kamu! Aslan merebut istri orang, sedangkan Arkan mau memperkaos Rose, semua sikap mereka itu menurun dari kamu! Ish ... jadi kesal sama masa lalu kamu!” Allegra menjadi gregetan sendiri jika mengingat masa lalu suaminya dulu, kemudian dia beranjak dari duduknya, keluar dari ruangan tersebut dengan langkah kesal.
“Dia sendiri yang mengingat masa laluku, tapi dia juga yang marah padaku. Haduh ... alamat tidur di luar ini. Nasib banget jadi seorang pria, selalu saja salah di mata wanita alias makhluk Tuhan yang paling kuat dan tidak pernah salah!” gerutu Gerry sambil memijat pelipisnya. Sangat sulit kalau menghadapi istrinya yang sedang marah seperti ini, pasalnya Allegra akan menyuruhnya tidur di luar dengan alasan tidak mau diganggu dan tidak mau berdekatan dengannya.
“Padahal sudah 30 tahun berlalu, tapi kenapa dia masih ingat saja sih sama masa laluku?” gumam Gerry seraya merebahkan diri di atas sofa.
Itu karena daya ingat wanita sangat kuat, Papa Gerry. Mau sampai seumur hidup pun akan selalu diingat. Yang sabar ya, Papa Ganteng.
*
__ADS_1
*
Pagi hari telah menyapa. Mentari telah menyinari bumi dengan dengan sinarnya yang indah. Sinar mentari yang hangat di pagi itu di manfaatkan hampir semua orang untuk berjemur. Sama halnya seperti Mika pada pagi itu yang di jemur oleh Rose di halaman rumah.
“Mommy, panas,” rengek Mika sambil cemberut karena seumur hidupnya baru kali ini berjemur di bawah sinar mentari pagi. Kulitnya terasa terbakar dan keringat di keningnya terus menetes.
Rose menghela nafas panjang, padahal baru saja berjemur 5 menit tapi gadis kecil itu terus merengek padanya untuk mengakhir sesi berjemur itu. Mungkin karena Mika belum terbiasa melakukannya, jadi Rose akhirnya mengalah dan mengajak Mika masuk ke dalam rumah.
“Padahal berjemur di pagi hari sangat bagus untuk kesehatan kulit, dan tulang,” ucap Rose pada putrinya.
“Tapi, panas, Mom. Aku tidak tahan dengan sinar mataharinya, bisa-bisa kulitku yang selembut sutra ini nanti gosong,” jawab Mika dengan manja, sambil menyentuh lengannya layaknya seorang model handbody lotion.
Rose meringis dan menjadi gregetan dengan anak sambungnya itu.
“Ampun deh, kamu pinter nge-less ya,” ucap Rose seraya mencubit gemas kedua pipi Mika, lalu menggandeng tangan Mika menuju ruang makan, untuk sarapan.
*
*
Di sisi lain, Ibu Sita saat ini sedang menahan rasa kesal dan emosi yang luar biasa ketika melihat kedatangan Tuan Park pada pagi itu.
“Selamat pagi, Sita,” sapa Tuan Park pada Ibu Sita yang sedang menjemur pakaian di halaman rumah.
“Hemmm, mau apa lagi kamu ke sini? Kita sudah nggak punya hubungan lagi, jadi jangan mengganggu, dan jangan membuatku seperti seorang pelakor!” umpat Ibu Sita seraya masuk ke dalam kontrakan, dan menutup pintu dengan kasar.
Tuan Park menghela nafas kasar melihat kemarahan Ibu Sita. Dia berjalan mendekat ke arah pintu lalu berkata pelan yang dia yakin suaranya itu masih di dengar oleh Ibu Sita.
“Sita, aku belum pernah menceraikanmu, jadi kamu masih menjadi istri sah-ku.”
“Dasar sinting!” umpat Ibu Sita dari balik pintu. ”Pergi kau dari sini, aku sudah menganggapmu mati!”
****
Kesel ih sama Tuan Park ..
Janga lupa, like, komentar dan kasih dukungan lainnya🥰
__ADS_1