
#Happy reading all
Terimakasih kasih sudah mampir ke karya author ini๐๐...
Terimakasih juga untuk yang telah memberikan like, komen, rate dan juga votenya.
Semoga sedikit menghibur dan maafkan author kalau masih suka ada typo๐....
.
.
.Lanjut kuy..
"Baiklah..! Aku hanya ingin mengatakan jika aku menyukai Clara sejak saat aku melihat dirinya pertama kali ditempat ini..! Jadi.. jadi bisakah kau membantuku..?" Pinta Raka dengan suara memohon berharap sang calon kakak ipar bersedia membantunya....
"Apa....!" Ucap Ana dengan reflek, tentu saja dia kaget mendengar permintaan Raka tersebut..
"Apa tadi katanya..! Membantunya? Apa aku tidak salah dengar?" Ucap Ana di dalam hati, rasa bimbang menyelimuti hatinya saat ini sehingga dia tidak tau apa yang akan dia katakan pada Raka saat ini..
"Kakak ipar..!! Aku harap kau bisa membantuku kak, aku mohon..." pinda Raka dengan wajah yang dibuat memelas, seakan dia sudah tidak punya rasa malu saat ini..!, ya..! Hanya Clara yang Raka inginkan dia tentu tidak keberatan mengorbankan sedikit rasa malunya demi gadisnya itu
"Maaf ka.., bukan aku tidak mau membantumu tapi...tapi Clara sudah memiliki tunangan.." ucap Ana dengan lirih, karena dia tidak ingin menyakiti hati Raka dengan kenyataan jika Clara sudah memiliki tunangan. Namun diluar dugaannya Raka terlihat biasa saja bahkan tidak ada tanda-tanda terkejut sama sekali dengan ucapannya itu..
"Aku sudah soal itu kakak ipar.." ucap Raka dengan penuh keyakinan, membuat Ana mengerutkan Dahinya semakin bingung..
"Maka dari itu aku ingin kau membantuku kak.." lanjut Raka dengan penuh keyakinan, berharap sang calon kakak ipar bersedia membantunya..
"Maaf ka, aku tidak bisa membantumu..! Aku tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan percintaan Clara karena dia yang akan menjalaninya, bukan diriku..! Sebagai sahabatnya aku hanya ingin yang terbaik untuknya dan selalu mendukung setiap keputusannya, apapun itu!" Ucap Clara dengan hati-hati takut jika ucapannya itu bisa melukai perasaan Raka nanti...
"Apakah keputusanku ini sudah benar..? Kenapa aku bisa ada di dalam situasi yang sepertu ini!" Pikir Ana dengan perasaan yang begitu bimbang..
"Tapi kak.." Ana tak memberikan kesempatan untuk raka melanjutkan kalimatnya, karen dia tidak ingin melukai Raka dengan semakin dalam, tentu dia tau gimana rasanya jika ada di dalam situasi yang seperti ini sehingga Ana langsung memotong ucapan Raka tersebut..
"Ka, tolonglah mengerti dengan keadaan ku.." pinta Ana dengan suara yang begitu lembut, agar Raka berhenti membuatnya bimbang dengan keadaan ini...
__ADS_1
"Huuhhh....." Raka menghembuskan nafasnya kasar berusaha untuk mengendalikan perasaan kecewa akibat ucapan calon kakak iparnya tersebut..
"Baiklah kak, aku menghormati keputusanmu..! Tapi bisakah kau mempertemukan aku dengannya, setidaknya bantulah untuk dekat dengannya anya sebagai sahabat, aku janji...?" Pinta Raka kemudian, tentu saja dia tidak ingin semuannya sia-sia tanpa ada yang berubah sedikitpun. Setidaknya dia ingin dengan dengan Clara...
"Tidak apa-apa ka berteman dulu ini akan menjadi kesemopatan emas mu untuk membuatnya nyaman kepadamu.." ucap Raka di dalam hati.
Tanpa Raka sadari dia melupakan batas waktu yang Dana berikan untuknya. Tentu saja hal itu membuat seorang Dana merasa sangat kesal. Apalagi dia melihat raut wajah sedih dari kekasihnya itu, Raka pasti sudah melakukan hal yang tidak biasa kali ini...
"Awas saja akan ku pastikan kau tidak akan bertemu lagi seperti ini dengan kekasihku.." gumam Dana dengan sangat kesal, apalagi ditambah percakapan mereka belum ada tanda-tanda akan segera berakhir..
"Sepertinya aku memang harus segera bertindak..!" Ucap Dana dengan mantap..
Sementara itu ditempat Ana dan Raka saat ini masih dalam suasana yang hening...
"Baiklah aku akan membantumu agar bisa berteman tengannya...tapi...." belum juga selesai mengucapkan kalimatnya tiba-tiba....
"Hey...sayang..." ucap seseorang dari belakang Ana.
Mendengar itu seketika tubuh Ana menegang, tentu saja dia tau siapa pemilik suara tersebut...
"Ini seperti posisi kepergok selingkuh bukan sih?" Gumam Ana lirih, kemudian membalikan badannya dengan pelan..
Dan...
Benar saja Dana lah yang sedang berdiri di depannya saat ini dengan tatapan yang sulit diartikan hal ini membuat Ana menjadi salah tingkah saja dibuatnya...
"Owh ya ampun..!! Maafkan aku sepertinya aku sudah melupakan kesepakatan kita..." ucap Raka ketika menyadari kesalahannya, apalagi jika bukan waktu...
"Kesepakatan apa..?" Tanya Ana dengan perasaan yang bingung,,
"Bukan apa-apa sayang...! Ayo sekarang kita pulang..." ajak Dana kemudian menarik tangan Ana agar segera mengikutinya..
"Apa dia marah? Tapi kenapa marah, bukankah dia sudah mengizinkannya. Itulah yang Raka katakan bukan?" Pikir Ana lagi...
"Tapi..tapi..aku..." ucap Ana terbata, karena bingung harus bagaimana sat ini. Bagaimana dengan pembicaraannya dengan Raka, ?
__ADS_1
"Sudahlah kau tidak perlu memikirkan dia lagi, dia bisa mengurus masalahnya sendiri" ucap Dana dengan tegas, dan pada akhirnya Ana hanya menurut saja dan mengikuti Dana untuk segera pulang...
"Dasar manusia kepala batu yang tidak sabaran...?" Ucap Raka kesal sambil terus menatap kepergian Dana dan Ana hingga mereka berdua masuk ke mobil dengan sempurna hingga hilang dari jangkauan matanya...
. . . . . . . .
Sementara itu di dalam sebuah mobil yang saat ini dikendarai oleh Dana dengan kecepatan sedang, terlihat seorang Ana yang duduk dengan mulut terkunci rapat dan kepala yang terus menunduk dan sesekali memandangi arah di luar jendela. Tanpa sekalipun menatap ke arah Dana, hal itu tentu membuat Dana merasa kesal sendiri....
"Sayang.....?" Panggil Dana pada akhirnya karena sudah tidak mampu lagi menahan rasa kesal di dalam hatinya...
Mendengar itu Ana dengan segera menatap Dana yang juga sesekali menatap kearahnya, sorot mata Ana sangat jelas menjelaskan jika dia takut saat ini. Melihat itu Dana jadi merasa sedikit bersalah..
"Kenapa dia seperti orang yang sedang ketakutan..? Padahal aku tidak memarahinya bukan..?" Ucap Dana di dalam hati, bingung dengan sikap yang Ana tunjukan kepada dirinya ini..
"Sayang...! Kenapa kau diam saja..? Apa kau tidak suka jika aku mengantarmu pulang..?" Ucao Dana lagi, tidak tahan dengan sikap diam yang Ana tunjukan...
"Tidak sayang.., bukan begitu aku, aku takut kamu marah.." ucap Ana lirih tidak berani menatap wajah Dana saat ini, mendengar itu Dana justru tersenyum tipis...
"Apa ini..? Apakah dia mulai perhatian dan peduli padaku.." pikir Dana senang...
"Memangnya kenapa aku harus marah..? Memangnya apa yang sudah kamu lakukan..? Hmmm!" Ucap Dana mencoba mencari tahu kegelisahan sang kekasih hati...
"Maaf..maaf karna aku sudah pergi dengan Raka ke tempat tadi..?" Ucap Ana dengan takut, mendengar itu Dana justru menampilkan senyum seringainya yang membuat nyali Ana semakin ciut saja....
#Bersambung...
#Halo guys ayo dukung juga author di novel ini ya..!! Jangan lupa, like, komen rate dan vote..
Satu like dan komen kalian benar-benar membuat jiwa menulis author bangkit...
Vote dan rate dari kalian benar-benar membuat author merasa dihargai...
#Sukses untuk kita semua
Terimakasih
__ADS_1