
...----------------...
Alexia tetap pergi keluar istana bersama dengan Agnes dan Robert.
Killian pun juga ikut bersama dengannya.
Mereka tidak tahu mengenai masalah yang menimpa Yustaf. Karena Alexia sudah meminta Sabil untuk merahasiakan hal ini dari mereka.
" Cih, aku malas satu kereta dengan si pungut. " Celoteh Robert yang menatap sinis ke arah Killian.
Killian hanya diam sambil menatap ke arah jendela kereta.
" Kakak!!! jangan mancari gara-gara, jika kakak tidak mau naik bersama Killian, kakak turun saja dari kereta. " Ucap Agnes dengan nada kesal.
" Sekali saja kau bela kakakmu ini. Kau itu adikku, atau bukan sih? " Ucap Robert masam.
Di dalam kereta tersebut, hanya Agnes dan Robert yang berbicara. Sedangkan Alexia dan Killian mereka bedua terlihat sedang memikirkan sesuatu.
" Kak? apa kakak tidak menyadari bahwa dari tadi hanya kita berdua yang berbicara. " Tanya Agnes pelan.
Robert pun mulai menyadari, bahwa dari tadi hanya adiknya dan dia yang berbicara.
" Kau benar, sebenarnya apa sih yang mereka pikirkan, terutama Alexia. " Gumam Robert.
Sebenarnya Alexia sedang berpikir tentang Tanziro yang tiba-tiba mengirim surat kepadanya.
| Aku harus menemui Tanziro dan bertanya kepadanya dari mana dia mendapatkan informasi itu. | Pikir Alexia.
Dia berpikir siapa orang yang sudah mengubah alurnya, banyak sekali yang di pikirkan Alexia.
| Apa aku salah jika aku tidak peduli dengan kematian kakakku? Naluriku berkata bahwa aku sangat egois melebihi siapapun. Aku memang sedih dengan kematian kakakku Yustaf di kehidupan pertama sebagai Alexia. Tapi itu memang sudah jalannya. Yustaf sudah mendapat takdir dari sang penulis atau author yang membuat novel ini, takdir yustaf memang harus mati seperti yang tertulis di novel.| Pikir Alexia.
...----------------...
Kereta yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di sebuah keramaian.
Seperti biasa Alexia di kawal oleh Arsen, dia mengajukan diri sendiri untuk menemani Alexia dan yang lainnya.
Arsen membuka pintu kereta dan dia mengulurkan tangannya untuk membantu Agnes dan Alexia turun.
" Lady, kita sudah sampai. " Kata Arsen sopan seraya mengulurkan tangannya.
Akan tetapi, yang keluar duluan saat itu adalah Killian.
Dia dengan cepat turun tanpa memegang tangan Arsen.
" ? " Arsen membelalak melihat tingkah Killian.
Killian yang sudah turun, dia berbicara dengan wajah dinginnya.
" Sir Arsen, biar saya saja yang membantu Lady Alexia. " Ucap Killian dingin.
Alexia yang sudah di depan pintu dia berbicara.
" Kenapa kau melakukan hal ini? " Tanya Alexia.
Robert dan Agnes saling tatap menatap, melihat Alexia dan Killian.
" Lihat itu, si pungut mulai beraksi. " Ucap Robert.
__ADS_1
" Sepertinya Killian mempunyai perasaan terhadap Alexia. " Ucap Agnes pelan.
Killian menatap Alexia dan mengulurkan tangannya seraya menjawab pertanyaan Alexia.
" Aku merasa tidak enak saja, jadi yah. Aku hanya ingin melakukan ini. " Ucap Killian ambigu.
Alexia pun dengan cepat meraih tangan Killian dan turun ke bawah.
" Kau orang yang tidak bisa di tebak. " Ucap Alexia.
" ....... " Killian hanya diam.
Killian menatap Arsen, saat itu Arsen masih mengulurkan tangannya.
" Sir, kau bisa membantu kedua anak itu. " Ucap Killian
" Ahhh...yah tuan. " Ucap Arsen bingung.
| Kenapa hanya Lady Alexia yang dia bantu. | Pikir Arsen.
" Aku tidak perlu di bantu karena aku bisa turun sendiri. " Ucap Robert yang sudah turun.
Arsen pun membantu Agnes turun dari kereta.
...----------------...
Mereka saat ini sedang berjalan-jalan di pasar, terutama Agnes dan Robert. Mereka sangat menikmati hal ini.
Agnes dan Robert membeli banyak barang, setiap kali mereka melihat toko, mereka akan masuk dan membeli barang-barang dari toko tersebut.
Berbeda dengan Alexia dan Killian. Keduanya tidak tertarik dengan barang-barang. mereka berdua hanya melihat-lihat.
" Alexi? kenapa kau diam saja? " Tanya Killian.
Alexia menatap Killian dan menjawabnya.
" Aku tidak tahu, aku hanya sedikit bingung dengan semuanya. " Ucap Alexia.
" Bagaimana jadinya jika seseorang yang kau sayang dalam bahaya, dan mati. Padahal sebenarnya kau bisa membantunya. Tapi karena alasan lain kau tidak membantunya. Dan alasan itu hanya menguntungkan dirimu sendiri. " Ucap Alexia.
Killian membuka mulutnya perlahan dan berbicara.
" Aku akan sangat menyesal, ketika aku bisa membantunya kenapa tidak. Walau alasan apapun aku tidak akan mundur dan tetap menolongnya. Karena dia adalah orang yang ku sayang. Dan aku tidak tahu keuntungan itu akan sangat berarti atau tidak jika aku mengorbankan seseorang hanya demi keuntungan sendiri. " Ucap Killian.
" Jadi, kau akan menolongnya, meski kau harus kehilangan apa yang kau mau? " Tanya Alexia.
" Ya. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu? " Tanya Killian.
" Tidak. Hanya saja, aku ingin tahu saja apa pendapatmu. " Ucap Alexia seraya berjalan.
Alexia banyak memikirkan sesuatu di kepalanya, dia pun memikirkan ucapan Killian.
| Aku, tidak akan menyesali itu. Dunia ini hanya novel, dan kakakku pun hanya karakter novel. | Pikir Alexia.
" haaaaah. " Alexia menghela nafas.
Killian kemudian menatap Alexia lagi. Dengan alis mengerut.
| Rasanya aku ingin membuka isi kepalamu dan mencari tahu apa yang selama ini kau sembunyikan dalam otak kecilmu. | Pikir Killian.
...----------------...
Berhenti memikirkan kakakku, sekarang aku harus memikirkan cara bagaimana aku bisa kabur dari Arsen dan yang lainnya.
Aku harus bertemu dengan Tanziro.
Aku harus bertanya dari mana dia mendapatkan informasi tersebut.
__ADS_1
" Lady Alexia, kebetulan sekali kita bertemu di sini.”
Suara itu membuatku tersadar dari lamunanku dan aku menoleh ke sumbernya.
Laki-laki dengan rambut pirang mata merah, dan terlihat imut. Tapi mematikan.
Dia adalah pangeran pertama Calix Lais Lamond, karakter yang memiliki wajah tampan bagai malaikat. Akan tetapi, di balik penampilan yang bak malaikat, tersembunyi sosok iblis di belakangnya.
Aku hampir lupa, bahwa aku sudah di jodohkan dengan Calix Lais Lamond sejak dalam kandungan.
Ibuku ada-ada saja, hanya karena melihat sosok Calix yang mirip malaikat, dia sampai menjodohkanku.
Ibuku sampai mati pun tidak tahu, bahwa Calix adalah Iblis berkedok malaikat.
Lagi pula dia kenapa ada di sini, pake senyum-senyum segala.
| Sepertinya dia datang bersama dengan adiknya yaitu Pangeran Clovis Lais Lamond. Pasti Lais sedang bertemu dengan Agnes. | Pikirku.
" Lady? " Calix berbicara dengan senyuman.
" Ahhhkk, ya. Maaf yang mulia, saya sedikit melamun. " Ucapku seraya membungkuk memberi salam.
Calix pun terlihat tersenyum.
" Tidak apa-apa Lady. " Ucap Calix.
| Ughhh.....dia menebar senyum itu lagi. Berhentilah bersandiwara, dengan senyummu.| Pikirku jijik.
Aku hampir lupa, bahwa di sebelahku ada Killian.
Calix mengalihkan pandangannya ke arah Killian.
Aku pun melirik ke arah Killian, saat aku menatap wajahnya.
Wajah Killian saat itu tidak ada ekspresi apapun, dia hanya diam seperti biasa.
| Kenapa dia tidak bereaksi. Biasanya dia akan mengerutkan keningnya dan pergi ketiks dia bertemu dengan keluarga kerajaan. | Pikirku.
" Ahhh, jadi ini orang itu. " Ucap Calix dengan senyuman manisnya.
" Maksud anda apa? " Tanyaku.
Calix mendekat ke arah Killian dan dia berbicara.
" Kau orang yang seharusnya menjadi pangeran ke dua, tapi karena suatu hal. Kau tidak mendapat itu. Kau bahkan tidak di didik di istana kerajaan, masa kecilmu bahkan sangat suram, dari kecil kau sudah di besarkan di gudang anggur. Kenapa? takdirmu jelek sekali. Aku jadi merasa kasihan kepadamu. " Ucap Calix dengan senyumnya, seolah dia mengejek dengan ucapan lembut.
" Yang mulia?! " Ucapku geram.
" Ya, lady? " Tanya Calix.
" Dia adalah adik anda, meski dia berbeda ibu dengan anda. " Ucapku yang geram.
" Memang apa yang aku ucapkan. Aku hanya mengasihani nasibnya yang buruk. " Ucap Calix.
Aku mengepalkan tanganku kesal, bagaimana bisa dia bicara tentang hal itu dengan suara lembut dan senyumnya yang bodoh.
" Alexia, jangan dengarkan dia. " Ucap Killian.
Apa-apa, kau tidak marah sama sekali setelah mahluk ini membicarakanmu.
" Killian ada apa denganmu? " Tanyaku heran.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG.........