
" Biarkan saja, lagi pula yang di katakan dia benar adanya. " Killian berbicara dengan ekspresi pasrah.
" Killian?!! " Panggilku kesal.
Jika aku jadi dirinya, mungkin aku sudah marah. Tapi kenapa dia selalu bersikap biasa saja?
Dulu kau tidak seperti itu, atau? jangan-jangan Killian mengalami hal yang sama seperti diriku.
" Alexia, aku tidak boleh marah. Karena jika aku marah, itu berarti aku kalah. " Ucap Killian seraya memegang tanganku.
Aku mengerutkan alisku, dan berbalik menatap Calix.
" Yang mulia, sepertinya saya harus pergi. " Ucapku dengan senyum terpaksa.
Seperti biasa dia menebar senyum badutnya itu.
" Kenapa buru-buru? padahal aku ingin membicarakan tentang perjodohan kita. " Calix menegaskan kata perjodohan, dia tahu bahwa menikah denganku akan sangat menguntungkan.
" Perjodohan? " Killian berkata seolah bertanya.
" Ya, Lady Alexia sudah di jodohkan denganku saat dirinya masih dalam kandungan ibunya. Benarkan Alexia? " Ucap Calix.
" Alexia, apa itu benar? " Tanya Killian.
" Ya, itu benar. Kakakku yang memberi tahuku. " Ucapku berat.
Aku tidak memperdulikan perjodohan antar aku dan Calix.
Lagi pula, dia tidak akan hidup lama. Dia akan mati oleh Killian. Tepat sekali, aku mengingat bagaimana Killian menembak Calix dengan senjata apinya.
" Perjodohan kita hanya sebuah omong kosong yang mulia, itu hanya ucapan orang tua kita dulu. " Ucapku berusaha menolak.
" Benarkah? tapi aku menganggapnya serius. " Ucap Calix.
Saat kami berdua berbicara, Killian tiba-tiba menarik rokku dan berbicara.
" Alexia, aku lelah. " Ucapnya lesu.
" Apa? kau lelah? apa kau sakit? " Tanyaku panik.
" Yang mulia, saya tidak bisa berbicara lagi dengan anda. jadi saya undur diri terlebih dahulu. " Ucapku seraya menarik Killian pergi.
Aku meninggalkan Calix di sana. Meski terbilang tidak sopan. Aku tidak peduli.
...----------------...
Aku berjalan dengan menyeret Killian ke tempat yang tidak ada orang.
Sesampai di sana, aku dengan ganas mendorong Killian ke dinding dan berbicara dengan emosi.
" Hei!! Kenapa kau tidak bergeming sedikit pun? " Tanyaku emosi.
Killian diam dengan kepala yang miring.
" Dia itu menghina dirimu, apa kau tidak menyadarinya? " Ucapku kesal.
" Aku tidak peduli mau dia menghinaku atau tidak. " Ucapnya acuh.
" Killian? " Panggilku.
__ADS_1
" Alexi, kenapa kau yang marah. Dia menghinaku bukan menghina dirimu. Jadi jangan marah. " Ucap Killian.
" Kau tidak marah, jadi biar aku yang menggantikan dirimu. " Ucapku kesal.
Pokoknya Killian harus menjadi Raja dan Tiran bagaimana pun caranya, dia harus membalas semua orang yang telah menyakitinya.
" Berjanjilah, kau harus menjadi raja. " Ucapku.
" Kenapa? " Tanya Killian datar.
" Hanya jadi raja, dan rebut hakmu. Aku akan membantumu bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku. " Ucapku serius.
Ketika aku mengatakan itu semua, wajah Killian tiba-tiba berubah kesal.
Alisnya mengerut dan dia tiba-tiba mendorongku.
Mata merahnya bergema menatapku dengan kekuatan bergelombang yang dingin.
Aku terkejut dengan reaksinya, selama ini aku hanya melihat wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.
" Alexia?!! " Teriak Killian.
Killian memanggil namaku dengan suara tinggi, tapi suaranya kembali rendah.
" Kenapa kau memaksaku menjadi raja, padahal aku tidak mau menjadi raja, karena menjadi raja hanya akan membuat ku menderita!!! " Ucap Killian dengan suara rendah.
" Selain itu, banyak yang harus aku korbankan demi menjadi raja. Tidak ada keuntungan yang ku dapatkan. "
Killian menatap mataku.
Aku tidak tahu apa yang dia lihat, tetapi rasa sakit tertulis di wajahnya dan mendistorsi dahinya.
" Dan tolong, jangan korbankan dirimu lagi. Karena aku tidak mau melihatmu mati. " Killian menundukkan wajahnya di bahuku.
" Ini demi kebaikanmu, kau harus menjadi raja!! " Ucapku.
" Apa karena ini, kau terus memberiku buku-buku aneh. " Ungkap Killian dengan senyuman pahit.
" Ya, " Jawabku berat.
" Ternyata kau sudah berusaha keras menjadikanku raja. Baiklah, aku akan menjadi raja, jika itu keinginanmu. "
Entah kenapa aku merasa tidak puas dengan ucapan Killian.
Itu bukan keinginannya, dia hanya menuruti keinginanku.
Aku menggigit bibirku, aku sudah memaksakan sesuatu kepada orang lain, hanya demi keuntunganku. Tapi Killian memang di takdirkan seperti itu.
" ..... " Aku diam tidak merespon.
" Kau ingin melihatku menjadi raja bukan? " Tanya Killian.
Dengan berat aku berkata.
" Ya....aku ingin melihatmu menjadi raja. " Ucapku.
Killian sejenak terdiam, lalu dia menatap wajahku dengan serius. Seraya berkata hal yang tidak mungkin bisa ku lakukan.
" Kalau begitu.....Jangan mati dan jangan membuangku. Apa kau bisa melakukan itu? " Ucap Killian serius.
Aku tidak menjawab Killian. Meski dari raut wajahnya dia sangat menantikan jawaban.
Aku tidak mau membahasnya lagi, aku segera pergi meninggalkan Killian dan pulang duluan.
Killian bahkan hanya diam termenung melihatku pergi. Aku tidak tahu apa yang di pikirkan Killian.
__ADS_1
...----------------...
Alexia kembali kerumah duluan, seperti biasa dia mengunci dirinya di kamar.
Arsen dan Sabil, khawatir dengan Alexia. Mereka takut jika Alexia terlalu memikirkan Yustaf.
" Bagaimana ini Sir? " Tanya Sabil yang berada di depan pintu kamar Alexia dengan wajah cemas.
" Saya juga tidak tahu, kita harus membantu Asisten Fanny untuk mencari penawar racun tersebut. Bahkan, berita tentang Duke sudah tersebar luas. " Ucap Arsen.
" Anda benar, sekarang pun Asisten Fanny masih belum menemukan penawarnya. " Ucap Sabil cemas.
...----------------...
Kamar Alexia.
Alexia saat ini sedang memikirkan perkataan Killian.
Dia mengingat setiap kata yang di ucapkan Killian.
Mulai dari kata.
— Aku tidak tahu keuntungan itu akan sangat berarti atau tidak jika aku mengorbankan seseorang hanya demi keuntungan sendiri.
Alexia berpikir, bagaimana jika dia mengubah sedikit alurnya. Meski begitu, dia akan tetap fokus menjadikan Killian sebagai Raja sekaligus Tiran. Sampai Killian bertemu dengan pemeran utama wanita.
| Jika aku mementingkan diri sendiri, aku akan sangat menyesal. Aku juga mulai merasa bahwa dunia ini adalah dunia sungguhan. Mereka bukan selembaran kertas dan mereka pun memiliki hati. | Pikir Alexia.
| Lagi pula, alur sudah banyak berubah. Jadi.....aku akan merubahnya sedikit. Sambil mencari jalan untukku kembali tanpa mengorbankan siapapun. | Pikir Alexia.
Alexia sudah bertekad bahwa dia akan mengubah sedikit alurnya.
" Jangan egois, masih ada cara lain agar
aku bisa kembali. " Gumam Alexia.
" Tapi, aku tidak tahu mengenai penawar racun tersebut, bagaimana aku bisa membantu kakakku. " Gumam Alexia.
Ada sebuah pemikiran yang terlintas di kepala Alexia, dia mengingat Tanziro.
" Aku tahu, harus apa. " Ucap Alexia seraya turun dari tempat duduknya dan melangkah keluar.
" Aku harus membawa racun itu kepada Elf, untung saja, Tanziro mengira bahwa aku yang telah memberi informasi dimana Lucia berada. Jadi dia tidak mungkin menolak permintaanku. " Gumam Alexia seraya berjalan.
Ketika dia membuka pintu kamarnya, di sana ada Arsen dan Sabil.
" Kenapa kalian ada di depan pintu kamarku? " Tanya Alexia.
" Maaf Lady, kami mengkhawatrikan anda. Jadi kami berdiri di sini kalau-kalau ada sesuatu yang terjadi. " Ucap Sabil.
| Mereka bahkan mengkhawatirkanku, sedangkan aku tidak peduli dengan mereka. Aku memang jahat. | Pikir Alexia.
Alexia meringis dengan sikapnya sendiri yang dulu mementingkan keinginan sendiri tanpa peduli dengan nasib orang terdekatnya.
Bahkan, semua usaha yang telah dia lakukan untuk kembali ke dunia asalnya tidak berbuah hasil. Dia malah kembali lagi, itu pun karena ulah Killian.
Entah apa jadinya jika Alexia tahu bahwa Killian yang memutar kembali waktu.
Apa Alexia akan membenci Killian atau tidak. Itu tergantung Alexia sendiri.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
" Untuk apa kau memutar waktu?!!! Aku bahkan tidak memintamu untuk melakukan itu!!! "