
...----------------...
Alexia berpikir bahwa cara itu berhasil.
" Killian? " Alexia terus memastikan.
Mata Killian yang menatap rekaman tersebut kini beralih menatap Alexia.
Killian pun berbicara.
" Kenapa kau mengungkit kematian ibuku dan memperlihatkannya padaku? " Tanya Killian tenang dan dingin.
" A...apa? " Alexia tidak percaya bahwa Killian tidak marah sama sekali.
| Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia tidak bereaksi sama sekali. | Alexia dalam batinnya frustasi.
Alexia tidak mengira, bahwa Killian masih tidak bereaksi dengan cara tersebut.
" Kenapa kau tidak marah!!? " Alexia berteriak kesal.
Killian menunduk, dan dia menatap kembali Alexia.
" Ibuku pasti tidak ingin anaknya marah dengan sia-sia. " Ucap Killian dingin.
" Apa maksudmu? " Tanya Alexia.
| Sebenarnya apa yang terjadi kepada Killian, dia yang dulu tidak seperti ini. | Pikir Alexia.
" Alexi, lebih baik kita makan kuenya. " Killian mengalihkan pembicaraan.
" Jangan mengalihkan pembicaraan!! " Ucap Alexia.
" Apa yang mau kita bicarakan lagi? " Tanya Killian yang masih datar.
" Kenapa kau tidak marah? " Tanya Alexia lagi.
" Alexi, kau terus bertanya kepadaku, sedangkan kau belum menjawab pertanyaanku satu pun. " Ucap Killian dingin.
" Kenapa kau memperlihatkan itu kepadaku? " Tanya Killian.
Alexia mengepalkan tangannya erat, dan menjawab pertanyaan Killian.
| Masa bodo dengan alurnya, karena semuanya sudah berbeda. | Pikir Alexia.
" Aku ingin membuatmu marah!! " Teriak Alexia.
" Kenapa kau tidak bilang, jika kau mau aku marah. " Ucap Killian dingin.
__ADS_1
Killian berdiri dari duduknya dan dia mengambil rekaman tersebut.
" Apa yang ingin kau lakukan? " Tanya Alexia kepada Killian.
" Perhatikan ini. " Ucap Killian dengan senyumnya yang khas.
Killian mengangkat tangannya yang memegang rekaman tersebut, kemudian dia melemparkannya ke dinding dengan ganas.
' Bang... ' Suara lemparan.
" Killian?! " Alexia terkejut dengan tindakan Killian.
Rekaman itu belum hancur, Killian menatap rekaman itu dengan garang.
" Hah...ini tidak hancur..sepertinya aku harus berusaha lagi. " Ucapnya.
" Apa yang kau lakukan?!! " Alexia berteriak.
" Bukankah ini yang kau inginkan? " Tanya Killian.
| Dia bukan marah, itu bukan kemauannya, dia hanya menuruti kemauanku. | Pikir Alexia.
Killian sekali lagi melemparkan rekaman tersebut ke dinding, hingga dinding tersebut retak dan rekamannya hancur berkeping-keping.
Padahal rekaman tersebut terbuat dari batu sihir yang kuat.
" Apa ini cukup Alexi? " Tanya Killian.
Alexia mengerutkan alisnya dan bertanya dengan gagap.
" Ke..kenapa kau bisa sekuat itu? " Tanya Alexia.
| Di usia 14 tahun, dia seharusnya masih lemah. Tapi kenapa dia sangat kuat. | Pikir Alexia.
" Laki-laki harus kuat. " Ucap Killian dingin.
" Jangan bercanda!! " Teriak Alexia.
" Mari makan kuenya. " Ucap Killian.
" Killian?!!! " Alexia berteriak memanggil nama Killian.
Killian hanya diam dengan wajah datar.
" Kenapa kau bisa sekuat itu? " Alexia terus bertanya.
" .... " Killian tidak menjawab.
Di tengah keributan itu, Sabil masuk karena mendengar suara benturan yang keras.
__ADS_1
" Tuan Muda?! " Sabil menerobos masuk.
Sabil merasakan suasana di dalam ruangan itu sangat mencekam, terutama saat Sabil melihat Killian dan Alexia yang saling bertatapan.
Sabil kemudian bertanya dengan cemas.
" Lady, Tuan muda. Apa terjadi sesuatu? " Tanya Sabil.
Alexia mengalihkan pandangannya dari Killian dan dia menjawab Sabil.
" Tidak, tidak ada yang terjadi. " Ucap Alexia.
" Lady, bagaimana mungkin tidak terjadi apa-apa, lalu siapa yang membuat dinding itu retak? " Sabil terus bertanya-tanya.
Killian berbalik dan menatap dinding dengan wajah datarnya.
" Aku tidak sengaja meretakkannya. " Ucap Killian seraya mengambil kotak kue dan pergi dari kamarnya.
Sabil yang mendengar pengakuan Killian dia kaget setengah mati.
" Sebenarnya, apa yang kalian berdua lakukan hingga dinding ini bisa retak? " Sabil bertanya kepada mereka.
Alexia yang menatap Killian pergi, dia kemudian berbicara.
" Sudahlah Sabil, lebih baik kau suruh orang untuk memperbaiki ruangan ini. " Ucap Alexia.
| Killian sangat mencurigakan. | Pikir Alexia.
...----------------...
Killian pergi ke gudang tempat dia menyendiri.
Killian menatap tangannya dan bergumam kecil.
" Aku terlalu berlebihan. " Gumamnya dingin.
" Ada hal yang harus aku urus terlebih dahulu, jadi kue ini akan ku makan besok. " Gumamnya seraya menyimpan kotak kue tersebut.
Entah apa yang akan Killian lakukan.
...----------------...
2 Hari berlalu......
" Sepertinya anak itu menepati janjinya. " Ucap Tanziro.
Tanziro sedang membaca sebuah surat, isinya adalah petunjuk tentang kekasihnya Lucia.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG............