
Hari Kudeta.
Killian mulai menyiapkan prajuritnya di masing-masing tempat. Dia memulai perangnya. Tanpa pemberitahuan dan peringatan.
" Aku harus memenggal kepala rubah tua itu. " Ucap Killian yang menatap ke arah istana.
Tanziro, pangeran ke tiga Lais, Yustaf, Penyihir agung dan yang lainnya. Ikut dalam pemberontakan tersebut.
" Killian, kami akan mengurus bagian luar. Kau akan masuk ke dalam dan membereskan mereka. " Ucap Penyihir agung.
" Pastikan kau membuat perlindungan dengan sihirmu agar para prajurit dan mereka tidak bisa melarikan diri ke luar istana. " Ucap Killian.
Killian meminta agar penyihir agung membuat sebuah perlindungan. Itu adalah sebuah belenggu sihir yang di buat oleh penyihir agung, agar mereka tidak melarikan diri ke luar istana dan menyebabkan kericuhan di masyarakat.
" Kau tenang saja. Aku sudah melapisi istana ini dengan belenggu sihir. " Ucap Penyihir Agung.
" Hei!! " Panggil seseorang dengan langkah kaki kuda.
" Apa?! " Tanya Killian.
" Apa kau yakin bisa menghabisi mereka semua?! " Tanya laki-laki itu.
" Aku bisa melakukannya. Setelah kemenangan ini, kau harus memanggilku dengan sopan. " Ucap Killian seraya maju dengan kudanya.
" Baiklah kakak kedua. " Ucapnya, dan ternyata itu adalah Lais.
Killian langsung menyerbu masuk ke dalam istana kerajaan. Dia tidak mau menimbulkan banyak korban terutama rakyatnya. Maka dari itu dia harus mempersingkat kudeta ini.
...----------------...
Istana kerajaan.
Pollin dan Calix bersama dengan pengikut setianya sedang mendiskusikan tentang Killian.
" Yang mulia, bocah itu telah mempersiapkan pemberontakan. " Ucap Baron di hadapan sang raja dan Calix.
Mendengar hal itu, Pollin emosi.
" Sialan!!!! Seharusnya aku membunuhnya waktu itu. " Ucap Pollin dengan emosi.
" Itulah mengapa lebih baik membunuh dari pada mempertahankan kotoran seperti dia. " Ucap Calix dengan wajah dingin dan sombong.
Mereka sudah tahu bahwa Killian telah berkhianat. Para bangsawan yang mengetahui itu segera bertindak untuk mencegah ke hancuran mereka.
" Aku tidak percaya dia akan melakukan pemberontakan. " Ucap Pollin dengan tangan mengepal.
" Kita harus secepatnya bertindak sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi." Ucap Count.
" Dia hanya anak remahan yang tidak mempunyai kekuatan, kita tidak perlu terlalu khawatir. " Ucap Calix dengan percaya diri.
| Dia tidak memiliki apapun, dengan melakukan pemberontakkan dirinya telah melakukan bunuh diri yang sia-sia. | Pikir Calix.
__ADS_1
Mereka menganggap remeh Killian, dia kira Killian hanya memberontak sendiri. Pollin berasumsi bahwa Killian akan kalah hanya berhadapan dengan Prajuritnya saja.
" Dia hanya seorang bocah yang tidak mempunyai sekutu. Dia akan kalah hanya dengan melawan prajuritku saja. " Ucap Pollin percaya diri.
Pollin tidak tahu bahwa Killian memiliki sekutu yang lumayan banyak di banding dirinya. Terutama penyihir agung dan Yustaf. Dukungan mereka sudah lebih dari cukup.
Akan tetapi, Killian masih memiliki pendukung yang lainnya.
" Yang mulia, anda tidak tahu. Bahwa bocah itu memiliki sekutu yang lumayan kuat di banding kita. " Ucap Baron.
Pollin dan Calix segera menatap baron dan bertanya dengan mengerutkan alisnya.
" Apa maksud dari perkataanmu? " Tanya Pollin.
" Kau berkata yang tidak-tidak!!! " Ucap Calix.
| Aku sudah meminta Count untuk menyelidiki dan mengawasi Killian selama ini. Dan tidak ada hal yang mencurigakan. | Pikir Calix.
" Count, bukankah kau sudah mengawasi Killian dan Duke? " Tanya Calix.
" Ya...Tentu saja. Saya sudah mengawasi mereka. " Ucap Count dengan senyuman liciknya.
" Apa kau yakin? " Tanya Calix.
" Saya yakin yang mulia. " Ucap Count.
Pollin pun bertanya kepada Baron, siapa sekutunya Killian.
" Sekutunya—
' Brakkk' Pintu masuk tiba-tiba di buka keras. Dan terdengar keributan dari luar.
" Yang mulia!!!! " Prajurit yang sudah berlumuran darah masuk ke dalam dan memberitahu suatu masalah.
Semua yang ada di dalam seketika berdiri dengan wajah kaget dan bingung.
" Dari mana serangga ini masuk?!!! " Pollin meludah kesal.
" Bajingan ini!!!! Apa yang kau bicarakan?!! Bicara yang jelas!!!! " Ucap Calix emosi.
" Kudeta!!!! dan itu adalah Killian. " Ucap Prajurit itu susah payah.
Semua yang ada di sana terkejut dan mulai panik, karena mereka tidak menyangka bahwa pemberontakan itu terjadi begitu cepat, dan tanpa pemberitahuan apapun.
" Apa kau bilang!!!!! " Wajah Pollin mengeras dengan emosinya.
" Siapkan prajurit cepat!!!! " Perintah Pollin.
" Tidak yang mulia, kita tidak akan menang. " Ucap Prajurit itu.
" Apa maksud dari ucapanmu?? " Tanya Pollin tidak sabar.
" Dia telah memonopoli semua prajurit kerajaan. Hanya sebagian yang tersisa yang mulia. Prajurit kita hanya tersisa 6rbu saja. " Ucapnya susah.
" Dan itu setengahnya sudah tewas oleh prajurit mereka. Mereka sekarang sedang menuju kemari. " Ucapnya.
Pollin lebih panik dan takut, dia tidak menyangka akan seperti ini.
| Kenapa ini bisa terjadi, bagaimana bisa bocah itu memonopoli prajurit kerajaanku. | Pikirnya tidak karuan.
" Bagaimana ini yang mulia?!! " Tanya Baron yang ketakutan.
" Anda harus keluar dari istana yang mulia, sekarang juga. " Ucap prajurit itu dengan sisa tenaganya.
" Brengsek!!!! Berengsek!!!! Sial!! " Pollin meludah kesal.
Pollin dan yang lainnya bergegas keluar dari ruangan tersebut dengan beberapa prajurit.
__ADS_1
" Cepat yang mulia kita harus bergegas. " Ucap Prajurit.
Tapi sebelum mereka melarikan diri—
' Dor.... ' Suara senjata api terdengar nyaring. Peluru tersebut melintas di depan mata mereka begitu saja.
" Apa?!!! " Ucap mereka kaget.
" Kalian terlihat sangat sibuk. " Ucap seseorang. Entah dari mana.
" Siapa itu?!! " Calix bertanya.
Saat mereka merasa kebingungan. Tiba-tiba, seseorang muncul dengan baju zirah yang di penuhi darah, di kedua tangannya dia memegang senjata api dan pedang.
Darah merah gelap jatuh dari ujung pedang tajam di tangannya.
Pria itu berjalan ke arah mereka dengan gagah berani, sorot matanya merah semerah darah. Wajahnya di penuhi cipratan darah.
' Tap....tap....tap... ' Pria itu berjalan ke arah mereka dengan gagah.
" Lama tidak berjumpa. " Ucap Laki-laki itu, dan ternyata itu adalah Killian.
Killian menatapnya dan mulai mendekati mereka lagi. Saat Killian semakin dekat, mereka mendengar sesuatu menetes, dan bau anyir yang sangat menusuk. Itu adalah darah.
" Kau?!! " Ucap Calix kaku seperti batu dan dia memutar kepalanya perlahan.
Mereka semua kaget dan ketakutan dengan Killian. Di sana, mereka melihat Killian yang berdiri di belakang mereka.
" Ya...ini aku. " Ucapnya tenang dengan tangan yang sibuk mengisi peluru.
Matanya tampak lebih merah, seperti darah merah yang menutupi wajahnya.
Pollin panik, dia memerintahkan prajuritnya untuk menghalau Killian.
" Tahan dia, jangan biarkan dia mendekat. " Ucap Pollin.
Seorang prajurit maju dan menghadap Killian. Akan tetapi, Killian dengan cepat menarik pedang dari sarungnya, dan dia dengan cepat menarik prajurit itu ke arahnya.
Killian menusuk prajurit itu dengan satu tusukan ringan.
' Slebbbbb..... ' Suara tusukan.
' Khuukkkkk... ' Prajurit itu tewas begitu saja.
Killian melemparkan tubuhnya dan dia melanjutkan langkahnya dengan berkata.
" Kalian tidak sabar, aku sedang mengisi peluruku. " Ucap Killian dengan senyum mautnya.
" Sialan kau!!! " Calix meludah.
" Sebenarnya kalian mau kemana? " Tanya Killian yang diam sejenak untuk terus memasukkan pelurunya.
Kemana mereka pergi? mereka sibuk melarikan diri, Tangan mereka gemetar saat melihatnya.
" Kalian, kenapa diam saja. Cepat habisi dia!!! " Calix mendorong Baron.
" Yang mulia, kenapa saya? " Tanya Baron panik.
__ADS_1
" Tentu saja kau, kau harus melindungi keluarga kerajaan. " Ucap Calix. Calix adalah seorang pecundang, yang hanya bisa berlindung di balik seseorang. Dia tidak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa mengandalkan kelicikannya.
" Biar aku yang membantumu. " Ucap Count yang maju, dan memegang pedang di tangannya.