
Keesokan harinya.
Kerajaan Shaman.
Sebuah surat datang dari kerajaan Lamond, surat itu berisi perizinan mengenai kunjungan Ahwin.
Saron menghadap Ahwin di ruang singgahsananya dan dia segera memberikan surat itu.
" Salam yang maha mulia. " Ucap Saron hormat.
" Ada apa? " Tanya Ahwin yang sedang duduk di atas singgahsananya.
" Anda memiliki surat yang harus di baca, surat itu berasal dari kerajaan Lamond. " Ucap Saron seraya memberikan gulungan surat tersebut.
Ahwin dengan cepat menerima surat tersebut dan dia membacanya.
Di dalamnya tertulis.
Salam, yang maha mulia Raja Shaman.
Saya Same selaku ajudan dari yang mulia raja Killian Lais Lamond.
Mengenai perizinan anda yang ingin berkunjung ke kerajaan Lamond.
Kunjungan anda telah di setujui oleh yang mulia raja Lamond.
Anda bisa berkunjung ke kerajaan Lamond.
Saya akan menyambut anda ketika anda datang ke kerajaan Lamond.
Semoga kerajaan anda di beri kemakmuran dan kedamaian.
Tertulis Same.
Ahwin yang membaca surat itu, segera memerintahkan Saron untuk menyiapkan semua keperluannya untuk pergi ke kerajaan Lamond.
" Saron.....
" Saya yang mulia? " Tanya Saron.
Ahwin pun menatap Saron dan berbicara.
" Siapkan semua keperluanku, aku akan berkunjung ke kerajaan Lamond. " Perintah Ahwin.
Ketika mendengar itu, wajah Saron tiba-tiba muram. Dalam benaknya dia berpikir.
| Kenapa mereka mengizinkannya, seharusnya ini tidak terjadi. | Pikir Saron.
Saron keluar dari pikirannya, dan dia segera menjawab Ahwin.
" Baik yang mulia, saya akan menyiapkan semuanya. " Ucap Saron.
" Bagus, aku tidak sabar untuk bertemu dengan calon tunanganku. " Ucap Ahwin girang.
...----------------...
Sementara itu, calon tunangan Ahwin, Alexia.
Dia sekarang tengah berada di sebuah taman, kehidupan Alexia hanya seperti itu. Dia di besarkan dengan sendok emas, tentu saja dia tidak perlu melakukan apapun.
(#sendok emas/orang yang sejak lahir memiliki kekayaan.)
Alexia sekarang berada di sebuah taman, dia hanya berjalan-jalan di temani oleh pelayannya Sabil.
Sabil sekarang sudah menikah, dia menikah dengan Arsen, dia bahkan sudah memiliki seorang putra.
" Sabil, jangan biarkan siapapun masuk ke taman ini. " Ucap Alexia seraya memegang setiap bunga yang dia lewati.
Sabil mengangguk mengerti.
" Baik Lady. Saya akan mengingatnya. "
" Pergilah, aku ingin sendiri. " Ucap Alexia.
__ADS_1
Alexia terus bejalan-jalan, sesekali Alexia berpikir.
| Aku harus kembali atau tidak, jika pemeran utama muncul aku akan kembali, tapi jika pemeran utama tidak muncul aku akan tetap di sini. | Pikir Alexia sejenak.
Tapi, Alexia mengubah lagi pemikiranya.
| Tidak, aku harus kembali, ibuku dan ayahku pasti menungguku bangun. | Pikir Alexia.
" Alexi!! " Panggil seseorang entah dari mana.
Alexia sempat marah karena dirinya sudah berpesan untuk tidak memperbolehkan orang lain masuk.
| Aku sudah bilang jangan ada yang masuk. Tapi, kenapa ada orang lain. | Pikir Alexia.
" Alexia?!! " Panggil seseorang.
Alexia berbalik dan menatap pemilik suara tersebut.
Di matanya dia melihat seorang perempuan yang cantik, itu adalah Agnes, sahabat lamanya yang baru saja berkunjung.
" Agnes??!!! " Ucap Alexia terkejut.
Agnes menghampiri Alexia, dan dia segera memeluk Alexia erat.
" Alexia!!!! " Agnes memeluk Alexia.
" Sudah lama kita tidak bertemu. " Ucap Alexia. seraya membalas pelukan Agnes.
Singkat cerita, Alexia membiarkan Agnes untuk tinggal beberapa hari di rumahnya.
Agnes menceritakan semua kehidupannya setelah pulang dari rumah Alexia pada hari itu. Dia menceritakan bagaimana dirinya merasa sedih karena kakaknya Robert, yang pergi, bagaimana dia belajar, dan bagaimana dia merindukan seseorang.
Dia menceritakan semua kepada Alexia, dan Alexia hanya bilang bahwa dia telah melalui semuanya dengan baik.
Setelah menceritakan kehidupannya, Agnes ingin mendengar tentang kehidupan Alexia. Tapi Alexia tidak mau memberitahu kehidupannya, dia memilih bungkam.
Tapi, Agnes tetap ingin tahu, apa reaksi Alexia mengenai Killian yang menaiki tahta.
" Alexia....
" Bagaimana reaksimu ketika tahu bahwa Killian ternyata melakukan kudeta dan menjadi raja? " Tanya Agnes.
" Itu hal biasa, memang seharusnya dia melakukan itu. Jangan membahasnya. " Ucap Alexia.
Agnes diam dengan ungkapan temannya, dan dia segera mengalihkan pertanyaannya.
| Sepertinya, Alexia tidak mau membahas Killian.| Pikir Agnes.
" Nah....ayo kita pergi keluar mansion. " Agnes menarik Alexia dan membawanya pergi.
| Kira-kira, aku pergi dengan Killian sudah 5 hari berlalu. | Pikir Alexia.
" Kita mau kemana? " Tanya Alexia.
" Ada seseorang yang aku rindukan, kau sudah tahukan. " Ucap Agnes.
" Ahhhh...Roysin?!! " Ucap Alexia.
" Benar, jadi mari. " Agnes membawa Alexia pergi.
" Tunggu, biarkan aku membawa Arsen. " Ucap Alexia, seraya memberhentikan Agnes.
" Tidak perlu, Sir Arsen sudah menunggu di kereta, aku sudah menyiapkan ini. " Ungkap Agnes.
" Ahh...baiklah. " Ucap Alexia seraya mengikuti Agnes.
Mereka berdua pergi ditemani oleh Arsen.
...----------------...
Pasar tradisinonal.
Agnes mencari-cari Roysin, dia berharap bahwa Roysin akan datang seperti sebelumnya.
" Apakah dia akan datang, bagaimana wajahnya sekarang. Pasti dia imut. " Ucap Agnes dengan riang.
Berbeda dari Agnes, Alexia hanya berjalan-jalan saja, dia tidak menimatinya.
__ADS_1
" Ahhh...aku bosan. " Ucap Alexia.
" Apa? " Tanya Agnes.
" Tidak..... " Ucap Alexia.
Saat mereka berdua berjalan-jalan, Alexia tertarik dengan sebuah kerumunan, dia ingin tahu, apa yang membuat masyarakat berkerumun seperti itu.
" Ayo kita kesan!! " Alexia menarik Agnes.
" Tu-tunggu Aleixa!!! Kita mau kemana? " Agnes terpaksa ikut dengan Alexia.
Saat Alexia datang ke sana, ternyata semua orang sedang mengerumuni seorang peramal.
" Peramal?! " Ucap Agnes.
" Hanya seorang peramal..... " Ucap Alexia.
Alexia tidak tertarik, dan dia pun bersiap pergi. Tapi, peramal perempuan itu berbicara.
" Kau....
Alexia berbalik dan menatap peramal tersebut.
" Apa kau memanggilku? " Tanya Aleixa.
Peramal itu mengangguk, dan dia berjalan melewati kerumunan.
" Ikut denganku, ada yang tidak beres dengan nasibmu. " Ucap Peramal itu.
" Apa maksudmu? " Tanya Alexia.
" Lebih baik kita ikuti saja peramal ini. " Ucap Agnes.
| Siapa tahu, aku bisa tahu siapa jodohku. | Pikir Agnes.
" .....Baiklah, aku akan ikut. " Ucap Alexia.
Peramal itu segera membubarkan orang-orang, dan dia membawa Alexia dan Agnes ke sebuah rumah makan.
Saat masuk, Alexia dan Agnes heran, mengapa di sini tidak ada siapapun.
" Kenapa di sini tidak ada siapapun? " Tanya Alexia.
Peramal itu bilang jika dia mengosongkan rumah makan itu.
" Saya yang menyewa rumah makan ini, kalian bisa makan atau mau di ramal langsung pun boleh. " Ucapnya.
Alexia dan Agnes saling menatap, mereka bertanya-tanya, bagaimana bisa seorang peramal menyewa satu rumah makan.
" Dia mungkin peramal terkenal.... " Bisik Agnes.
" Ku pikir begitu. Lihat saja penampilannya, dia cantik. " Bisik Alexia.
" Nah....kalian mau di lamar, ahhh maaf, maksud saya Ramal. "
" Anda mau di ramal sekarang atau nanti? " Tanya peramal.
" Sekarang, anda bilang ada yang tidak beres dengan nasib saya. " Ucap Alexia.
" Memang, sepertinya nasibmu kurang baik. " Ucapnya.
" Tolong berikan tangan anda. " Pinta peramal.
" Ahhh, baiklah. " Ucap Alexia.
Alexia memberikan tangannya, Peramal itu segera membaca mantra dan keluar lah cahaya dari tangannya.
Peramal itu memejamkan matanya seolah membaca masa depan Alexia.
" Ini sangat buruk. " Ucapnya seraya membuka matanya.
Agnes dan Alexia penasaran dengan penjelasan Peramal. Mereka ingin segera mendengarnya.
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG.......