APA AKU BISA KEMBALI ?

APA AKU BISA KEMBALI ?
CHAPTER 30


__ADS_3

Kudeta masih berlanjut.



...----------------...



Saat Count Zerro maju, tiba-tiba dia mengarahkan pedangnya ke arah Baron Dufrey dan menusuknya begitu saja.


' Slebbb.... ' Baron di tusuk begitu saja dari belakang oleh Count.


" Khuuuukkk...kau..apa yang..." Baron pun mulai kehilangan kesadaran dan mati begitu saja.


Melihat hal tersebut, mereka yang melihatnya pun heran dan bingung.


" Apa yang kau lakukan?!! " Pollin berteriak.


Count Zerro bertekuk lutut di depan Killian dan dia berbicara.



" Saya sudah menyelesaikan tugas dari anda. " Ucap Count.


" Padahal kau tidak perlu membunuh Baron dengan tanganmu. " Ucap Killian dengan ekspresi yang sedikit licik.



Ternyata, Count Zerro merupakan sekutu Killian. Count Zerro adalah mata-mata istana yang di tempatkan oleh Killian. Semua informasi tentang istana dan rencana Pollin yang Killian dapatkan berasal dari Count.


" Sebenarnya apa yang terjadi? " Gumam Pollin tidak mengerti.


" Kau...penghianat!!!! Itu sebabnya kita tidak mengetahui pergerakan iblis itu. " Ucap Calix marah dan dia menunjuk Killian.


" Kau banyak mengoceh. " Ucap Killian kepada Calix.


Killian menatap Count Zerro dan dia menyuruh Count untuk berdiri dan pergi keluar.


" Berdirilah, sisanya biar aku yang urus. " Ucap Killian.


" Kau boleh pergi Zerro. " Ucapnya sekali lagi.


" Baik yang mulia, saya akan bergabung dengan yang lain. " Ucapnya seraya berdiri dan pergi.


Sekarang tersisa beberapa orang lagi di depan Killian. 2 prajurit dan 2 serangga ( Pollin&Calix ).


" Kalian berdua?!! Jika kalian ingin pergi, maka pergilah selagi aku berbelas kasih. " Ucap Killian kepada kedua prajurit tersebut.


Kedua prajurit tersebut melirik satu sama lain. Dan mereka memutuskan untuk pergi. Keduanya lebih memilih nyawa mereka dari pada Calix dan Pollin. Meskipun mereka menyerang Killian, hasilnya pasti nihil.


" Lebih baik kita pergi! " Ucap salah satu prajurit berambut hitam.


" Tapi...bagaimana dengan yang mulia raja dan putra mahkota? " Tanya Temannya.


" Mereka bahkan tidak peduli dengan nyawa kita. " Ucap prajurit berambut hitam.


" Kalau begitu, kita pergi saja. " Ucap temannya.


Kedua prajurit itu pergi dengan cepat tanpa berbalik. Pollin dan Calix mulai panik dan mereka terlihat kesal dan emosi.


" Hei!!! kalian mau kemana?!! " Teriak Pollin, yang memanggil kedua prajurit tersebut.


" Sialan!!! prajurit tidak berguna. Mereka malah melarikan diri!!! " Calix meludah kesal.


Sementara itu, Killian malah tertawa melihat tingkah serangga yang ada di depannya. Killian berpikir bahwa mereka terlihat konyol dan tidak berguna.


" Ppppfftt....hahah..Maaf, tapi. Kalian memang terlihat seperti sampah!! " Ucap Killian dengan tawanya.

__ADS_1


Calix Menggertakkan giginya kesal. Dia sudah tidak punya harga diri lagi.


" Adik ke dua, aku adalah kakakmu. Kau akan melepaskanku kan? " Tanya Calix yang memohon belas kasih di hadapan Killian.


" Cih..Siapa yang kau sebut adik? " Tanya Killian mengejek.


" Dasar tidak berguna!!! Dia tidak mungkin mengampuni kita. " Ucap Pollin kepada Calix.


| Aku harus menyelesaikan ini secepatnya. | Pikir Killian.


" Waktu kalian habis. " Ucap Killian dengan senyum jahatnya.


Killian mengangkat satu tangannya yang memegang senjata api, dia menodongkan senjata itu ke arah Calix.


Calix pun mulai panik dan resah.


" A-apa yang mau kau lakukan?!! " Tanya Calix panik dengan kaki yang terus mundur.


" Coba tebak. " Ucap Killian.


Killian mulai membidik dan dia segera menembakkan peluru tersebut ke arah yang dia tuju.



' Dor.... '


Suara tembakan terdengar nyaring di dalam ruangan, peluru itu melaju kencang ke arah dada Calix dan mendarat dengan sempurna.


" Arght...ughhhh...


Calix merintih kesakitan dengan memegang dadanya yang bolong, dadanya mengeluarkan darah merah yang kental dan bercucuran.


" Aarrggghh.....haaaahhh.....haahhh...ughhhh.....


" Sialan kau!!! " Calix masih bisa berbicara.


" A-ayah!!!.....


Calix memegang kaki Pollin dengan gemetar.


" Aku....aku harus pergi sekarang!! " Pollin mencoba melarikan diri, akan tetapi, Killian dengan kekuatan iblisnya menarik kakinya Pollin.


Kaki Pollin di belenggu oleh bayangan iblis Killian, bayangan tersebut membentuk sebuah tangan.


" Argghhh.....apa yang...benda apa ini?!! " Pollin kebingungan. Dia terus merangkak berusaha melepaskan diri dari bayangan iblis tersebut.


Killian yang masih menyaksikan derita Calix dia beralih ke Pollin dan dia pun berjalan ke arah Pollin dengan tawa terkekeh.


" ...Merangkak dan memohon lah dengan keras. Apa kau ingat dengan kematian ibuku? " Ucap Killian dengan sorot mata tajam layaknya pisau.


Pollin menatap Killian dengan penuh kebencian, dia pun tidak pernah menyangka bahwa Killian akan menjadi seperti sekarang. Dia sangat menyesal, kenapa waktu itu dia tidak membunuh Killian.


" Iblis...Kau adalah iblis!!! " Pollin meludah.


" Ughh...." Calix masih merintih kesakitan, darahnya terus bercucuran.


Killian kemudian mengangkat lagi senjata apinya dan dia menembak lagi Calix. Dia menembak Calix dengan beberapa tembakan.



' Dor...


" Ughh....." Tembakan kedua, Calix merintih.


Killian bahkan tidak memalingkan wajahnya dari Pollin. Dia hanya menggunakan Tangan kanannya dan terus menembak Calix di semua badannya.


' Dor..dor...dor.. ' Suara tembakan terus terdengar.

__ADS_1


Dan Calix pun tumbang dan tewas dengan banyaknya tembakan yang mengenai tubuhnya. Dia tewas dengan mengenaskan.


Rambutnya yang pirang seindah emas yang berkilau, kini menjadi berwarna merah darah begitu pula dengan kulitnya yang putih dan mulus. Kini kulitnya sudah tidak berbentuk.


" Aku belum selesai dengan tubuhmu... " Ucap Killian.


Killian menatap mahkota yang di kenakan oleh Pollin dan dia berbicara dengan seringai pahit.


" Sepertinya aku harus menebas leher itu, agar aku bisa mendapatkan mahkota tersebut. " Ucap Killian menyeramkan.


" Lepaskan aku..!!!! " Pollin terus merangkak hingga kukunya patah.


Killian yang melihat tangan Pollin yang terus merangkak, dia menarik pedang dari sarungnya dan menusuk lengan tersebut.


" Diam!!! " Ucap Killian seraya menusuk tangan Pollin dengan pedangnya.


' Khuuuukkkk....aarrgghhhh.....


Pollin menjerit kesakitan.


" Kau berisik!!! " Killian mulai menggila.


| Aku harus menahan kekuatanku, jika tidak. Aku kan menjadi Tiran yang sesungguhnya. | Pikir Killian.


Killian mulai menyadari bahwa dirinya harus segera menyelesaikan ini.


" Lepas...lepaskan...


Killian mencabut kembali pedangnya.



Sebagai gantinya, kepala Pollin terpenggal dalam sekejap dan jatuh dengan suara benturan, membuat suara keras di aula. Makhota yang d kenakan Pollin jatuh dari kepalanya.



Killian mencabik-cabik tubuh Pollin dengan pedangnya.


" Kau adalah orang yang membuatku tidak bisa mendapatkannya!!! " Killian marah...marah...sangat marah.


Belum cukup dia mencabik tubuh tersebut. Kemudian dia mengambil kepala Pollin yang berguling-guling di lantai. Sambil memegangi kepalanya, Killian memelototi wajah Pollin seolah-olah itu menjijikkan, ekspresinya mengeras.


" .....Raja sialan!!!! " Ucapnya kesal.


Killian melemparkan kepala Pollin, ke belakang layaknya bola. Kepala Pollin berguling-guling seperti kain.


" Menjijikan!!! " Ucap Killian.


Killian menatap kepala Pollin dan mayat Calix tanpa ekspresi, dan mulai berjalan tanpa ragu-ragu.


Dia telah menyelesaikan kudetannya.


" Ahhh....aku sangat ingin bertemu denganmu Alexia. Apa aku menemui mu sekarang saja? " Killian bergumam dengan langkahnya.


Killian mengusap wajahnya dan bergumam kembali tentang orang yang dia cintai.


" Tidak, jika aku kembali sekarang. Kau akan takut, dan menjauh lagi. Atau, meskipun aku tidak seperti ini kau akan terus menjauh dan menjauh. " Gumam Killian.


Killian berhenti sejenak, dan dia jatuh terduduk. karena dia merasa lelah dengan pertempurannya.



Dia ingin beristirahat dan memikirkan orang yang dia rindukan.


" haaaaaahhhh.....Dunia sialan, takdir sialan, dan waktu sialan. " Killian meludah kesal dengan memejamkan matanya sejenak.


" Aku membenci semuanya, termasuk dunia ini. "

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2