
Keesokan harinya.
Sementara itu di kediaman Alexia.
Di suatu ruangan Lais, Alexia, dan juga Agnes. Mereka berkumpul. Tentunya karena Lais yang berkunjung tiba-tiba ke kediaman Alexia.
Suasana di sana terasa canggung, ketiga orang itu terlihat kaku, apalagi Lais.
Lalu, Lais pun memberanikan diri dan dia memecahkan kecanggungan yang ada.
" Maaf, saya berkunjung tiba-tiba seperti ini. " Ucap Lais seraya menatap Agnes.
Agnes tidak bisa menatap wajah Lais, dia merasa malu dengan sikapnya waktu itu. Dan sekarang dia hanya menunduk.
" Sepertinya anda ingin berbicara dengan Agnes, jadi sebaiknya saya pergi, karena saya pun akan pergi ke istana untuk bertemu dengan tamu kerajaan Shaman. " Ucap Alexia.
Lais yang mendengarnya dia mengerutkan dahinya, dan dia pun berbicara menanggapi perkataan Alexia.
" Apa anda yakin akan bertunangan dengan Raja Ahwin? " Tanya Lais.
Agnes yang mendengarnya, di pun melirik sahabatnya itu. Alexia tidak memberitahu Agnes mengenai pertunangannya.
" Apa itu benar? " Tanya Agnes.
" Ya, saya akan bertunangan dengan beliau. " Ucap Alexia dingin.
Lais pun berbicara lagi, tapi dia ingin berbicara berdua dengan Alexia terlebih dahulu. Karena Lais tidak bisa membungkam mulutnya, jika mengenai kakaknya.
" Maaf, bisakah kita bicara berdua terlebih dahulu. Ada yang ingin saya bicarakan mengenai yang mulia raja. " Ucap Lais dengan mata yang menatap Alexia.
" Ada apa dengan yang mulia? " Tanya Alexia, yang penasaran.
Agnes pun seolah mengerti, dia pun keluar dari ruangan begitu pula dengan beberapa prajurit yang mengawal Lais.
Sekarang hanya ada Lais dan Alexia di dalam ruangan tersebut.
Dalam keheningan yang menyelimuti ruangan tersebut, Lais terus menatap Alexia.
Lalu Alexia bertanya kepada Lais seolah memecah keheningan.
" Kenapa anda menatap saya seperti itu? " Tanya Alexia.
| Apa terjadi sesuatu kepada Killian? | Alexia bertanya-tanya.
Lais pun menjawab pertanyaan Alexia.
" Tidak, saya hanya ingin memperhatikan orang yang di cintai oleh kakak saya. Kakak saya sangat mencintai anda, hingga dia tidak sadar bahwa dirinya sebentar lagi akan menemui ajalnya. " Ucap Lais dengan sedih.
Ketika Lais mengucapkan perkataan itu, Alexia bingung dengan sebagian kalimat yang Lais ucapkan.
" Apa maksud anda dengan menemui ajalnya? " Tanya Alexia penasaran dan mulai cemas.
" Apa anda tidak mengetahuinya sama sekali? " Tanya Lais yang tidak percaya.
| Bagaimana bisa dia tidak tahu mengenai kematian kakak? Apa kakak tidak mau memberitahunya meskipun dia sekarat? | Lais bertanya-tanya heran dan kesal.
Lais yang tidak bisa menutup mulutnya jika mengenai kakaknya, dia pun membongkar semuanya.
" Bagaimana mungkin anda tidak mengetahuinya? " Tanya Lais, tidak percaya.
__ADS_1
" Saya tidak mengetahuinya, yang mulia tidak bilang apapun kepada saya. " Ucap Alexia.
| Sebenarnya apa yang terjadi? apa yang tidak aku ketahui? | Alexia bertanya-tanya Cemas dan khawatir.
" Anda tidak tahu jika yang mulia akan mati? Kakakku akan mati. " Lais menegaskan.
Alexia terdiam dengan ekspresi yang masih tidak percaya, terlebih saat Lais berbicara jika Killian akan mati.
| Apa maksudnya? Killian akan mati? Tapi kenapa? Kenapa dia akan mati? | Banyak pertanyaan yang ada di kepala Alexia saat ini. Tapi itu hanya bisa di jawab oleh Killian.
Setelah tenggelam dalam pikiran sejenak, dan dengan ungkapan Lais mengenai Killian, Alexia sadar, dan dia pun bertanya lagi dengan panik.
" Kenapa beliau akan mati? memangnya apa yang terjadi? " Tanya Alexia panik.
Lais pun mengatakan semuanya.
...----------------...
Kamar Killian, sore hari.
" Pandanganku buram sekali, dan tubuhku semuanya sakit. Apa aku akan segera meninggal? Lebih dari itu, apa aku bisa memenangkan pertandingan pedang nanti?.....
" Ahhhh.......sepertinya tubuhku akan lebih sakit lagi nanti. Walau begitu aku akan berusaha memenangkan pertandingan ini. " Gumam Killian dengan lelah.
Kondisinya yang sudah seperti itu, Killian masih mementingkan duel yang telah dia ajukan. Jika Killian berduel dengan Ahwin, tentunya Ahwin yang akan menang, karena pandangan Killian sudah sepenuhnya buram.
Killian dengan tatapan kosong, dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dengan lelah dan tanpa tenaga.
Dari hari ke hari, tenaga Killian terkuras habis karena dia harus melewati masa sekaratnya.
Tidak ada kekuatan yang tersisa di tubuhnya. Jika sekarang seorang pembunuh bayaran datang ke sana, Killian pasti akan terbunuh. Karena semua tenaga Killian sudah terkuras habis dan hanya menyisakan waktu bernafas.
" Uhukkkkk......." Killian selalu memuntahkan darah.
" Apa aku bisa memenangkan pertandingan itu? " Killian bertanya-tanya dengan perasaan campur aduk, seraya menatap darah yang ada di tangannya.
Ketika Killian tengah bertanya-tanya di dalam kamarnya sendirian. Same selaku ajudannya, memenggilnya.
" Yang mulia, raja Ahwin ingin berbicara. " Ucap Same dari luar kamar Killian.
Killian yang tidak mempunyai kekuatan untuk berdiri, dia meminta Ahwin untuk menemuinya langsung.
" Biarkan Raja Ahwin memasukki ruanganku. " Perintah Killian.
" Baik Yang mulia. " Ucap Same dari luar.
Tidak lama kemudian, Ahwin datang dengan Ajudannya Saron.
" Salam, raja Lamond. " Saron dan Ahwin menyapa Killian yang saat itu tengah duduk menyender di atas kasurnya.
Ahwin pun menyadari bahwa Killian memang sakit.
" Ternyata anda sakit. " Ucap Ahwin.
Killian hanya tersenyum pahit mendengar Ahwin.
" Seperti yang anda lihat, anda pasti berpikir bisa menang dengan kondisi saya yamg seperti ini. " Ucap Killian menebak.
Ahwin yang melihat-lihat ruangan Killian dia berbicara.
__ADS_1
" Baru kali ini saya di perbolehkan masuk ke dalam kamar raja. Dan itu pun kerajaan yang baru menjali hubungan. " Ucap Ahwin.
" Dari pada itu, anda tidak usah khawatir.....
Killian heran dengan ucapan Ahwin.
" Apa yang tidak usah di khawatirkan? " Tanya Killian.
" Karena seseorang sudah meminta hal aneh kepada saya....
" Jadi, saya memutuskan untuk kembali ke kerajaan saya dan membatalkan pertunangan saya. " Ucap Ahwin seraya menatap Killian.
Killian yang mendengarnya, dia pun bertanya kenapa dia membatalkannya.
" Kenapa anda membatalkannya? " Tanya Killian serius.
Ahwin pun berbicara.
" Karena Lady Alexia sudah membatalkan pertunangannya dengan saya. Dan saya tidak bisa memaksa dirinya untuk tidak membatalkan pertunangan ini. " Ucap Ahwin.
Killian heran, dia pun sedikit tersenyum ketika mendengar Alexia membatalkan pertunangannya.
| Kenapa Alexia tiba-tiba saja membatalkan pertunangannya? Apa Alexia sudah mengakui perasaannya kepadaku? | Killian bertanya-tanya riang.
Perasaannya seketika bahagia, Killian mengira jika Alexia telah mengakui perasaannya.
" Sebenarnya saya sedikit menyayangkan ini, kenapa Lady Alexia ingin membatalkan pertunangannya. Padahal saya sudah datang jauh-jauh. " Ahwin berbicara.
" Lalu apa yang akan anda lakukan? " Tanya Killian.
Ahwin pun berbicara dengan sedikit mencela.
" Jika raja kerajaan lain di perlakukan seperti ini oleh rakyat kerajaan lain. Mereka pasti tidak akan diam. Mereka akan merasa terhina dan akan melayangkan perintah penyerangan......
Killian pun menatap Ahwin tajam, dan dia bertanya dingin.
" Lalu? Apa anda ingin berperang dengan kerajaan Lamond karena Lady Alexia telah menghina anda? " Tanya Killian dingin.
Saron sang ajudan Ahwin dia berbicara.
" Yang maha mulia tidak pernah berpikiran sempit. " Ucap Saron.
Ahwin pun menambahkan.
" Ya, Saron benar. Untuk apa saya mengajukan perang hanya karena pembatalan satu pertunangan. Jika anda ingin tahu, saya sudah melakukan pembatalan pertunangan sebanyak 50 kali dan itu mereka sendiri yang membatalkannya.....
" Jadi, saya sudah terbiasa....
Ketika mendengar itu, Killian mengerinyit, dalam hatinya Killian berbicara.
| Aku tidak percaya itu. | Pikir Killian.
" Anda jangan berpikir bahwa saya tidak menarik dan membosankan bagi wanita. Mereka membatalkan pertunangan karena malu......" Ahwin tanpa sadar menceritakan semuanya.
| Malu? | Killian bertanya-tanya.
" Ekehmmm!!! Yang maha mulia!! " Saron berusaha menghentikan Ahwin.
" Malu? kenapa mereka malu? " Tanya Killian.
" Mereka malu untuk bersanding dengan saya, karena wajah saya sangat tampan. Ketika perempuan berjalan di sebelah saya, mereka hanya di anggap sebagai lalat, orang lain hanya mengabaikan mereka dan mereka hanya memandangi wajah saya yang tampan ini. " Ahwin merasa paling tampan, seketika hidungnya menjulang tinggi.
Killian hanya menyeringai saja, dia beru tahu jika Ahwin memiliki sikap seperti itu.
" Ada satu hal yang membuat saya tidak bisa marah kepada Lady Alexia....
" Apa itu? " Tanya Killian.
__ADS_1
" Karena Lady Alexia adalah adik dari penyelamatku. " Ucap Ahwin.
...----------------...