
" Kakaaaak!..." Teriak Lais di waktu bersamaan dengan hilangnya Alexia dan Killian.
" Apa yang terjadi? kenapa yang mulia terlihat buruk? " Tanya Agnes wajahnya pucat.
Dengan kepalan di tangannya, Lais menjawab.
" Dia pasti bohong....." Ucap Lais.
" Aku sudah menduga itu......" Sekali lagi Lais bergumam dengan wajah kesal dan sedih.
" Aku tidak mengerti? Apa yang kau bicarakan. " Agnes semakin cemas.
Lais dengan cepat menenangkan Agnes yang baru saja menjadi istrinya.
" A-Agnes.....
" Tenanglah, lebih baik kita ikuti Yang mulia, dan Lady Alexia. " Lais dengan tangan yang mengelus pipi Agnes berbicara lembut.
Agnes hanya menganggukan kepalanya.
Lais, dan Agnes pergi menyusul Killian. Tentunya Lais meminta bantuan Elf istana.
.
.
.
.
Shaaaaa~
" A...
" Ada di mana kita Killian? " Tanya Alexia gugup.
Mereka berdua tiba di portal yang sudah Killian siapkan.
Tentu saja saat itu Alexia tidak tahu kenapa Killian membawanya ke tempat saat ini dia berdiri.
" .......Ini hadiah untukmu Alexi...." Killian yang masih memegang erat tangan Alexia, dia berbicara.
" ......Hadiah?...." Alexia bingung.
Killian dengan tubuh yang seolah akan rubuh jika di sentuh, dia berjalan ke arah pintu portal yang bersinar terang.
" .....Lihat Alexi....
" Portal ini hadiah untukmu.....
| Dan juga kado perpisahan dariku..| Batin Killian perih.
Alexia dengan alis mengerut melihat portal yang ada di depannya.
| Portal? Apa maksudnya ini? | Tanya Alexia dalam batinnya.
" Uhuk.....
" Killian!..." Teriak Alexia panik.
Killian sekali lagi mengeluarkan darah dari mulutnya. Dia pun tumbang di pelukan Alexia.
| Seolah semua bagian tubuhku rusak, dan tercabik-cabik. Rasa sakit ini tidak begitu berarti jika aku bisa melihatmu pulang dengan aman. | Batin Killian.
" Sebaiknya jangan banyak bicara! Ayo kita temui penyihir agung dan Elf. " Alexia berbicara dengan nada tinggi dan panik.
" Tidak Alexia.....Aku tidak punya banyak waktu...." Dengan sulit Killian berbicara.
" Saya di sini...." Tiba-tiba penyihir agung datang dari ujung.
" Lihat!....
" Penyihir agung ada di sini! Kau pasti akan di obati! " Alexia tidak bisa tenang.
" Alexi....
" Tidak.....
" Maksudku Felisia, aku sudah terlalu lama, dan egois.....
__ADS_1
" Aku sangat-sangat mencintai mu lebih dari nyawaku sendiri. Semuanya tidak berarti bagiku selain dirimu Alexia.....
" Meski aku mencintai mu sampai rasanya ingin terus mengikutimu. aku tidak bisa serakah lagi.....
" Aku tidak ingin....
" Melihatmu khawatir karena ku, dan cemas karena ku.....
" Kata-kata di taman malam itu sudah cukup untukku Alexia....
" Kata-kata, bahwa kau mencintaiku dan ingin menikah denganku. Itu sudah cukup, entah itu bohong atau tidak......
Dengan suara yang hampir hilang, dan mulut sulit terbuka, Killian mengatakan bahwa dia puas dengan ungkapan Alexia.
" Itu sudah cukup untukku....
" Sekarang waktunya kau kembali Alexia.....
" Kau ingin kembali?.... " Tanya Killian.
Alexia diam dengan wajah mengerut sedih. Dia bingung kenapa sampai di titik ini dia baru menyadari, laki-laki yang tadinya sehat dan selalu mengikuti nya, menjadi buruk karena dirinya.
" Bagaimana mungkin aku ingin kembali melihat mu yang seperti ini. Aku tidak bisa meninggalkanmu. " Ucap Alexia dengan air mata yang tidak terbendung.
" Sudah waktunya.....Posisi sudah di tetapkan. " Penyihir agung yang sedari tadi diam dengan ekspresi murung dan sedih, mulai berbicara.
| Ah....Sebentar lagi tubuhku akan menjadi debu. Aku tidak mau melihat Alexia menyaksikan kematianku. | Batin Killian.
" Posisi sudah di tentukan ini saatnya kau pergi Alexia. " Ucap Killian dengan susah payah.
" Tidak! Aku tidak mau Killian. " Ucap Alexia tinggi.
" Kakak! " Tiba-tiba Lais, dan Agnes datang.
Tubuh Killian perlahan mulai hilang, itu di mulai dari tangan.
" A-apa?! Kemana lenganmu Killian? " Alexia bertanya panik, dia melihat dengan jelas tangan kanan Killian menghilang, dan hanya menyisakan butiran debu.
" Itu hanya sihir...." Di titik ini Killian masih berusaha menyembunyikan kematiannya.
" Kau masih saja berbohong! " Ucap Alexia yang terus menangis.
" Lais....maaf....
" Apa-apaan kau! Kau ingin pergi tanpa basa basi! Kau memang kakak yang buruk! " Lais berteriak meluapkan kesedihannya.
" Yang mulia, saya mohon jangan seperti itu! " Agnes pun ikut menangis.
" Nah, karena aku kakak yang buruk dan raja yang buruk. Aku harap kau bisa lebih baik dariku....." Killian masih memaksakan berbicara.
" Padahal.....
" Padahal aku baru merasakan kasih sayang dari seorang kakak. Kenapa ku sangat kejam! " Lais yang jarang menangis, dia terus mengeluarkan itu dari matanya.
Kaki Killian mulai menghilang. Semakin tubuh Killian menghilang, maka semakin sakit rasanya.
" Penyihir agung, sekarang waktunya.....
Killian melepaskan tangan kiri nya dari genggaman Alexia, dan dia kemudian mendorong Alexia.
" Pergi.......
" Sekarang!....
" Tidak Killian! Aku tidak mau meninggalkanmu seperti ini! " Alexia yang berusaha ke arah Killian dia tiba-tiba melayang.
" Turunkan aku penyihir agung! cepat turunkan aku! " Teriak Alexia dengan hati yang hacur dan penuh keputusasaan.
Killian menatap Alexia dengan sedih, untuk ucapan terakhirnya, Killian berkata.
" Hiduplah dengan damai, dan bahagia......
" Masukkan sekarang......
Penyihir agung dengan cepat memasukkan Alexia ke dalam portal tersebut, tentunya portal itu langsung menyerap Alexia.
" Tidak Killain! Jangan seperti ini....." Alexia berteriak dari dalam portal.
Setelah tersedot kedalam portak menuju dunianya, hal terakhir yang Alexia lihat adalah lenyapnya Killian.
__ADS_1
Killian lenyap menjadi debu tepat setelah Alexia masuk ke dalam portal.
" Aku harus kembali! Dia membutuhkanku. Tidak mungkin Killian mati! " Alexia yang masih di dalam portal yang putih itu, dia ingin kembali ke sisi Killian.
Tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung dan tumbang.
.
.
.
.
...----------------...
Killian, di mana ini?
Ruangan dengan nuansa sederhana dan barang-barang yang rapih.
" Ini rumah sakit?...."
Aku menyadari itu karena infusan yang berada di tanganku.
Begitu aku menyadari bahwa aku berada di rumah sakit, aku mulai bangun dari kasur pasien dan turun untuk memastikan.
Aku pun dengan kasar mencabut infusan yang berada di tanganku.
Aku berlari ke luar dengan segera.
" Tidak, ini pasti mimpi. " Sekuat mungkin aku menolak kenyataan.
Aku berlari keluar dan berlari di jalan koridor rumah sakit.
" Pasien? Kenapa dia berlari? " Semua orang yang ku lewati bertanya-tanya. Tapi aku masih tidak percaya, mungkin saja itu halusinasiku.
| Tidak mungkin, semuanya......Semua yang ku lewati mulai dari lantai, orang dan barang-barang di sini, semuanya terasa nyata. | Batinku mulai berantakan, tidak! sejak awal aku membuka mataku, batinku sudah berantakan.
Aku terus berlari, hingga aku sampai di depan jendela yang memperlihatkan sosokku.
" Ini.....
Aku meraba wajahku, dan memegang rambutku.
" Tidak mungkin....
Rambutku putih, bola mata merah, dan kulit putih berwajah cantik.
" Alexia......
" Aku dalam tubuh Alexia? "
Ya, aku masih dalam tubuh Alexia. Tapi aneh nya kenapa semua yang ada di sini jelas bukan zaman kerajaan melainkan zaman modern.
" Apa aku benar-benar sudah kembali? " Aku bertanya-tanya seperti orang gila.
Aku bahkan menyakiti tubuhku dengan benda tajam, aku ingin memastikan bahwa ini mimpi.
Tapi itu tidak berguna, dan aku sadar bahwa aku memang sudah kembali ke duniaku.
" .....Killian........
Dengan air mata yang tiba-tiba menetes, aku mengingat sosok Killian.
" Bagaimana caranya agar aku bisa kembali? " Aku bertanya-tanya.
" Nak! Kau ternyata ada di sini! Kakak mencarimu kemana-mana! " Tiba-tiba saja suara laki-laki terdengar di telingaku, jelas suaranya terdengar seperti mengkhawatirkan diriku.
Aku menaikkan kepalaku untuk melihatnya, saat aku melihatnya, wajahnya jelas seperti kakakku.
| Kakak yang ada di dalam novel, dan dunia yang sudah aku tinggalkan. | Batinku.
__ADS_1
Aku termangu menatap wajah pria yang mirip dengannya, seolah itu hanya halusinasi.
...----------------...