ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 101


__ADS_3

Rumah Berlyn


Sarvel baru pulang pukul 6 pagi ini setelah semalam membantu El mempersiapkan acara melamar Lea.


Dan karena mereka keasyikan pesta di pantai kemarin, alhasil pukul 4 tadi mereka baru usai acara bakar- bakarnya dan segera kembali ke Milan sebelum hari pagi.


Dan kini Sarvel pulang langsung menuju ke rumah Berlyn bukan ke mansionnya.


Ya karena ia sangat merindukannya.


Dengan sangat hati- hati ia masuk ke dalam rumah Berlyn.


Bukan karena takut dengan Berlyn melainkan lebih takut dengan anjing peliharaannya.


Bukan maksudnya Verrel.


Sarvel tersenyum lebar kala ia tak menemukan siapapun di ruang tengah.


Beruntungnya Sarvel begitu pandai menduplikat semua pintu rumah Berlyn, jadi tak ada kata sulit untuk dirinya bisa masuk ke dalam rumah sederhana tersebut.


Segala cara ia upayakan untuk bisa bertemu dengan sang kekasih.


Sarvel langsung menuju kamar Berlyn untuk melihatnya.


Senyum merekah dari bibir Sarvel menandakan ia begitu girang dan bahagia saat ini.


Bagaimana tidak, ia melihat Berlyn masih terlelap di atas ranjangnya dengan begitu lucunya.


Apalagi, Sarvel segera masuk ke dalam kamar dan melepas jaket hitamnya.


Karena semalaman suntuk ia tidak tidur, alhasil ia akan tidur seharian hari ini bersama dengan Berlyn.


Dengan hati- hati Sarvel naik ke atas ranjang menyelinap masuk ke dalam selimut dan langsung memeluk Berlyn dengan senyuman yang lebar.



"Kau sudah pulang?" tanya Berlyn dengan suara seraknya.


"Apa aku membangunkanmu?" Berlyn hanya tersenyum tipis.


"Dari mana saja kamu semalam?" tanyanya saat Sarvel menciumi matanya dengan gemas.


"Semalam aku hampir kehilangan tangan kananku gara- gara Ziko si gila," jawabnya yang selalu kesal jika mengingat kebodohan Ziko semalam.

__ADS_1


Berlyn yang mendengar hal itu hanya tertawa.


"Kenapa?" tanyanya ingin tahu.


"Nyalain petasan sumbunya dihadepin ke bawah, masih untung belum meledak, coba kalau udah meledak, mungkin udah nyusul astronot di bulan," jawabnya dengan bibir yang sedikit dimajukan membuat Berlyn yang melihatnya tertawa kecil.


Berlyn lalu membuka kedua matanya dengan sempurna untuk bisa melihat jelas wajah Sarvel.


"Ngapain nyalain petasan? Apa kalian segabut itu?" tanya Berlyn ingin tahu.


"El melamar Lea, wanita yang kemarin kuceritakan," ucapnya membuat Berlyn hanya beroh ria saja.


Berlyn lalu merubah posisinya untuk terlentang karena sedikit sesak saat Sarvel mendekapnya.


"Sekarang tidurlah, aku akan menyiapkan makan siang untukmu," ujarnya yang hendak bangun dari ranjangnya.


Sarvel langsung menarik Berlyn ke dalam pelukannya.


"Kau mau kemana? Temani aku tidur di sini biarkan pengawal membelikan makan siang untuk kita nanti," ujarnya sembari menciumi kening Berlyn dengan gemas dan geram.


"Aku juga harus beberes rumah, nanti sore kak Verrel akan datang," ujarnya memberitahu Sarvel.


"Masih nanti, sekarang temani aku lebih dulu untuk tidur," tahannya pada Berlyn.


Berlyn hanya tersenyum dan memeluk perut Sarvel.


Sedangkan di mansion ada Glen yang baru saja tiba sama seperti Sarvel tadi.


Ia dengan langkah yang malas dan mata yang sepat berjalan ke lantai atas untuk segera menemukan ranjangnya.


Saat membuka pintu kamarnya ia melihat Flo tengah duduk di atas ranjang dengan laptop di atas bantal.


"Kau baru pulang setelah semalaman kelayapan?" tanya Flo layaknya seorang ibu yang tengah memarahi putranya.


Glen hanya mengangguk dan langsung berjalan ke arah ranjang sembari melepas jaket hitamnya.


"GLEN," pekik Flo kesal kala Glen memindahkan laptopnya ke samping dan tidur di atas pangkuannya.


Glen dengan begitu nyamannya tidur di paha Flo dengan tangan yang tak tinggal diam.


"Aku akan mencincang tanganmu jika akhhh," desah Flo keceplosan kala Glen meremas sekilas pahanya membuat Glen tertawa saat mendengar suara indah Flo untuk kali pertamanya.


Flo memainkan rambut Glen untuk mengalihkan rasa geli dan merinding kala pahanya dikecupi oleh Glen.

__ADS_1


"Diamlah sebelum kudorong dari atas sini," ancamnya pada Glen membuat ia hanya terkekeh pelan.


Flo lalu mengusap pelan rambut Glen agar ia segera tidur dan Flo bisa bebas darinya.



"Bagaimana dengan acaranya? Apa berjalan lancar?" tanya Flo yang tahu kemana semalam Glen pergi.


"Apanya, semalam hampir menjadi malam terakhirku karena ulah si Ziko bodoh," jawabnya sembari menatap Flo dengan wajah lucunya.


Flo tertawa dan sangat penasaran dengan apa yang terjadi semalam.


"Bagaimana bisa? Apa Ziko ingin membunuhmu?" tanya Flo dengan sedikit ejekan membuat Glen berdecak dan menggigit sekilas paha Flo hingga kemerahan.


"Argh bangsat, jad merah kan," kesal Flo yang melihat paha mulusnya kini merah karena gigitan Glen.


"Si kunyuk itu mengarahkan sumbu petasannya ke bawah, meski aku tidak ikut memegang petasannya, tapi petasannya kan meledaknya ke bawah bukan ke atas, ya pasti aku ikut meledak," dumelnya kala ia mengingat kebodohan Ziko semalam.


Flo tak bisa berhenti tertawa kala mendengar cerita Glen.


"Kau puas tertawa?" tanyanya pada Flo.


Flo langsung diam dan menatap Glen dengan menahan tawanya.


"Kau bahkan terlihat begitu senang sekali saat kuberitahu jika semalam akan menjadi malam terakhirku, dasar wanita," decaknya yang kembali merebahkan kepalanya di atas paha Flo.


Flo kembali tertawa sembari memegang kepala Glen.


"Arghhh iya- iya ampun," pekik Flo kegelian kala Glen menggigit pahanya.


Meski tidak sakit tapi Flo sangat geli.


Glen lalu menarik Flo untuk ikut berbaring dan langsung menindihnya dengan perasaan gemasnya.


"Kau terus tertawa sejak tadi, sepertinya kamu terlihat begitu senang sekali, apa kamu tidak takut kehilanganku jika semalam benar menjadi malam terakhirku?" tanyanya yang geram dengan Flo.


"Siapa bilang begitu, semalaman aku menunggumu pulang, siapa yang tahu jika di sana ternyata Ziko hampir mengakhiri hidupmu dengan petasan yang ia pegang," ujarnya dengan tawa yang ia tahan.


"Sungguh kamu menungguku semalaman kemarin?" Flo dengan tawa kecilnya mengangguk.


Glen yang mendengar hal itu tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya saat ini yang tengah salah tingkah.


Ia langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Flo saking saltingnya.

__ADS_1


"Glen geli," kata Flo sembari memukuli punggung kekar Glen.


Glen tak menggubris ucapan Flo dan mengecupi leher jenjang Flo hingga meninggalkan bekas merah di sana.


__ADS_2