
Di hotel pukul 19.00 WIT
Ada El dan Lea yang tengah makan malam di balkon dengan pemandangan kota Paris di malam hari.
Ya, mereka bulan madu di Paris bukan di Switzerland.
Semua itu atas permintaan Lea karena baby Enzo yang tidak ikut bersamanya jadi bulan madunya cukup di Paris saja.
Selain Lea tak ingin merepotkan Tesa, bulan madu tak perlu pergi jauh- jauh menurutnya, cukup dengan siapa kita melakukannya dan bagaimana menikmatinya, Lea rasa itu sudah lebih dari cukup bukan.
"Aku tak pernah menyangka jika kota Paris ternyata seindah ini jika dinikmati bersamamu," gumam El sembari menatap lekat bianglala dengan senyum yang manis membuat Lea ikut tersenyum.
Cup
El menoleh kala ia mendapatkan kecupan singkat dari Lea.
"Terima kasih sudah mencintai dan memberikan banyak cinta padaku, kuharap kita bisa seperti ini sampai tua nanti," ucap Lea pada El.
El menahan senyumnya di mana ia berusaha untuk tidak salting saat ini.
"Kamu tahu, aku selalu tenggelam pada kedua mata cantikmu hingga aku lupa caranya keluar dari sana, bahkan aku selalu dibuat jatuh cinta berkali- kali hanya karena menatapmu, padahal sebelumnya aku tidak pernah seperti ini," ujarnya pada Lea dengan jarak wajah yang begitu dekat.
Lea tersipu malu mendengar ucapan El barusan.
"Kurasa ucapanmu terlalu manis saat ini tuan," gurau Lea membuat El terkekeh.
"Jika nona tidak percaya, saya bisa membuktikannya," tekannya pelan pada Lea.
Lea tertawa kecil dan menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
El menatap lekat Lea dari samping di mana ia tak hentinya mengagumi kecantikan istrinya sendiri.
El meletakkan sendoknya lalu beranjak dari sofa.
"Kemana?" tanya Lea kala El tampak akan pergi.
"Ke kamar mandi bentar," jawabnya yang langsung pergi membuat Lea mengerutkan sekilas keningnya.
Mungkin selang 2 menit El berteriak.
"Sayang tolong kemari sebentar," panggilnya pada Lea dengan sedikit keras.
Lea mengakhiri makannya dan bergegas ke kamar mandi untuk menghampiri El.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Lea di depan pintu kamar mandi.
El membuka perlahan pintunya dan menyembulkan kepalanya.
"Bisa masuk sebentar enggak? Aku butuh bantuanmu sayang," ucapnya dengan manja membuat Lea menelan salivanya berat dan ragu.
"Memangnya kenapa?" tanya Lea yang sedikit ganjal.
"Masuklah, kamu akan tahu nanti," jawabnya membuat Lea kini sedikit saah tingkah.
Lea lalu masuk ke dalam dan darrr.
"Yaa, kenapa kamu tidak memakai baju?" pekik Lea yang langsung memalingkan wajahnya kala melihat El telanjang.
"Bagaimana caranya mandi jika pakai baju sayang," jawabnya sembari mendekati Lea secara perlahan untuk ia giring ke bawah shower setelah mengunci pintunya.
"Yaa, apa yang kamu lakukan? Bukankah tadi kamu ingin minta tolong?" tanya Lea yang kini malah panik sendiri membuat El semakin geram dan gemas pada istrinya.
El langsung menarik pinggang ramping Lea agar tubuh istrinya tidak menabrak dinding di belakangnya.
"El," panggil Lea memperingati.
"Sudah 2 minggu kita menikah, tapi kamu belum juga mau mandi bersamaku, apa mandi bersama begitu menakutkan bagimu sayang?" tanya El penasaran juga ingin menggoda istrinya.
"Ti- tidak bu- bukan begitu, aku," Lea tidak melanjutkan ucapannya saking gugupnya membuat El tertawa kecil.
"Padahal saat mandi bersama kita bisa melakukan banyak gaya," godanya membuat Lea mendelik kesal dan memukul punggung El.
"Tidak bisakah kamu sedikit mengontrol ucapan frontalmu? Rasanya aku sungguh ingin menjahit bibirmu," geram Lea yang mana hal itu membuat El bukannya marah namun malah tertawa.
El lalu menggiring pelan Lea untuk bersandar di dinding.
"Aku tidak akan melakukannya selagi ada rasa takut padamu sayang," ucap El memberitahu Lea.
Lea yang merasa tersentuh dan terharu dengan sikap peka El merasa bersalah padanya.
"Kenapa kamu tidak pernah marah atau menuntut hakmu, padahal kamu bisa melakukannya," tanya Lea ingin tahu.
"Kenapa harus marah dan menuntut jika bisa minta baik- baik," jawabnya membuat Lea tak bisa berkata- kata.
Lea mengalungkan tangannya pada leher El.
"Sebenarnya aku sangat menantikan momen manis ini, sayangnya aku terlalu malu untuk mengatakannya," ucapnya pelan dengan sedikit malu- malu membuat El memalingkan wajahnya sembari menggigit bibir bawahnya karena gemas dengan ucapan istrinya.
"Jika kamu ingin, kenapa tidak mengatakanya dari awal sayang, apa kamu tahu bagaimana gilanya aku menahan diri dan selalu berangan- angan melakukan ini bersamamu? Kenapa aku tidak bisa marah padamu meski sedikit kesal saat ini," gumam El membuat Lea tertawa kecil.
__ADS_1
"Kamu marah denganku?" tanya Lea memancing emosi El.
El menatap Lea lekat di mana ia tengah memikirkan sesuatu.
"Kenapa harus marah jika bisa bersenang- senang denganmu," jawabnya bersamaan dengan tangannya yang menyalakan shower.
"El," ujar Lea kala merasakan air hangat itu membasahi tubuhnya.
El mengangkat tubuh Lea dan langsung mencumbui leher jenjang istrinya.
Ciuman itu tampak intens dan sedikit brutal melihat banyak tanda yang ditinggalkan di leher jenjang Lea.
Entah sejak kapan El melakukannya namun Lea baru sadar jika ia sudah telanjang saat ini.
Setelah selesai membersihkan diri masing- masing kini El mengambil handuk untuk Lea.
El takut jika istrinya kedinginan atau masuk angin nantinya karena hawa nafsunya yang terlalu menggebu-gebu saat ini.
"Kok cuma satu, punyaku mana?" tanya Lea kala melihat El hanya membawa satu handuk.
"Kenapa harus masing- masing jika bisa satu untuk berdua," jawabnya sembari menyampirkan handuknya pada tubuh Lea.
Lea hanya tersenyum dan sedikit malu kala El mengeringkan tubuhnya.
El yang melihat Lea tampak menunduk malu kini merasa geram dan gemas sekali, rasanya ia ingin sekali menerkamnya.
"Tolong pegangi handuknya," pintanya pada Lea.
Lea memegangi handuknya membuat El tersenyum dan langsung ******* bibir yang tampak biru tersebut dengan lembut.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam di mana El tak bisa menahan diri lagi saat ini.
"Akhhh," desah Lea kala tangan El meremas sekilas benda kenyalnya.
El terkekeh membuat Lea berdecak.
"Maaf sayang, malam ini sangat dingin sekali, kurasa minum susu adalah solusinya," Lea membelalakkan kedua matanya kala mendengar ucapan El.
"KAU!" tekan Lea membuat El langsung membungkus Lea dengan handuk dan membawanya keluar dari kamar mandi.
"El turunkan aku," pekiknya kala El membawanya ke ranjang bukan ke walk in closet untuk ganti baju.
__ADS_1
"Maaf sayang, tapi sepertinya kamu harus bekerja keras untuk malam ini," ujarnya yang langsung menindih tubuh Lea.
"El bangsat," umpatnya membuat El tertawa dan menciumi brutal wajah cantik istrinya.