ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 85


__ADS_3

Keesokan paginya ada Lea yang terlihat begitu gembira dan suasana hatinya sedang benar- benar bahagia.


Di mana sejak pukul 6 tadi ia sudah bergulat di dapur hanya untuk menyiapkan sarapan untuk El.


Di sisi lain di ana tangga ada El yang tadi langsung melompat dari atas ranjangnya saat ia tak menemukan wanitanya.


El seakan merasa trauma dengan ditinggal Lea lagi hingga ia bersikap sedikit berlebih begitu.


Dan kini El benar- benar dibuat berdecak kagum saat melihat wanitanya tengah bergulat di dapur dengan paras yang sangat cantik meski tanpa riasan pada wajahnya.



"Arghhh apa ia sungguh wanitaku? Bagaimana bisa ia secantik itu?" gumam El yang dibuat meleleh hanya melihat Lea yang tengah memasak.


Dengan senyuman jahilnya El segera menggoda Lea.


"Sayang," pekik El yang mana hal itu membuat Lea terjengkit kaget dan hampir saja jemarinya terkena pisau.


Lea melayangkan tatapan garangnya pada El yang dengan muka bantalnya berjalan ke arahnya.


"Kenapa kamu tidak membangunkanku dan asyik bermain bersama dengan sayuran- sayuran ini, hmm?" tanyanya sembari memeluk Lea dari belakang.


"Lepaskan tanganmu dari perutku sebelum kucincang jemarimu berhubung aku sedang memegang pisau," ancamnya membuat El malah terkekeh dan mengecup singkat tengkuk belakang Lea.


Ia lalu menopangkan dagunya pada pundak Lea.


"Kenapa sibuk- sibuk masak disaat ada banyak maid di rumah? Tugasmu hanya berada di dekatku dan baby Enzo serta menyusui kami berdua sayang," godanya membuat Lea membulatkan kedua matanya tak percaya kala mendengar ucapan frontal El.


"Yaaa, jaga ucapanmu sebelum kujahit bibirmu," pekik Lea yang geram sekali dengan mulut mesum El.


El hanya terkekeh lalu menciumi leher jenjang Lea yang bagian depan.


"El aku sungguh akan mencincang bibirmu jika kau meninggalkan banyak bekas di sana," ancam Lea sembari menggenggam erat pisaunya kala merasakan kecupan pada lehernya.


El yang tak tahan dengan hal itu sontak langsung membalikkan tubuh Lea lalu mengangkatnya ke meja pantri untuk dicumbunya.


"El, ada banyak maid di sini," bohongnya agar El tak melanjutkan aksinya.


El sedikit menelengkan kepalanya dan melihat ada dua maid yang tengah mengelap meja ruang tengah.

__ADS_1


"KELUAR SEMUA!" perintahnya dengan keras dan tegas.


Tak butuh waktu lama hanya dengan hitungan detik mereka langsung keluar ke teras.


Lea yang melihat hal itu membuka mulutnya tak percaya.


Ya sehebat itu kuasa El di mansionnya.


"Sudah sayang, hanya tinggal kita berdua," ucapnya yang hendak menyambar bibir Lea namun langsung ditahan oleh wanitanya.


"Yaa, kau sungguh meminta mereka keluar hanya untuk melakukan ini? Kau sungguh pria mesum sekali, apa di otakmu hanya ada itu?" tanya Lea yang benar- benar dibuat tak habis pikir dengan sikap El.


El hanya tertawa dan kembali mencium leher jenjang Lea.


"Kamu tahu, dari awal bertemu hingga sekarang aku selalu menahan diri untuk tidak menerkammu agar kamu tidak lari dariku, tapi semakin aku menahannya, aku semakin merasa gila, dan sekarang kamu suda berada di dekatku, bukankah itu hal yang wajar untuk dilakukan sepasang kekasih?" tanya El yang tampak begitu percaya dirinya.


"Memang kita sepasang kekasih?" tanya Lea membuat El membuka mulutnya tak percaya.


"Tunggu, bukankah ciuman dan tidur bersama itu hal romantis yang sering dilakukan oleh mereka sepasang kekasih? Oh tidak, lalu gaya pacaran yang seperti apa yang kamu anggap sebaga sepasang kekasih?" tanya El yang langsung melepaskan pelukannya pada pinggang Lea.


"Tidak bukan begitu maksudku," ucap Lea yang tak bisa menahan tawanya saat ini.


Lea yang mendengar usulan itu langsung melotot dan turun dari meja pantri untuk menghajar El.


"Yaaa, tidak bisakah otakmu itu bersih dari hal mesum sebentar saja? Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu?" marahnya sembari memukuli punggung kekar El.


El yang hanya bisa tertawa pasrah kala Lea memukuli punggungnya.


HAP


El menarik Lea ke dalam dekapannya.


"Salah siapa kau bertanya tentang apakah kita sepasang kekasih atau bukan? Apa kamu tahu bagaimana gilanya aku yang sangat ingin- ingin menikahimu? Setelah kamu siap nanti aku akan menikahimu, apalagi dari kemarin- kemarin mama udah kasih restu waktu kami di Washington," beritahunya sembari mengusap- usap lembut pipi chubby Lea.


"Aku jadi penasaran, dengan paras yang kamu bilang sempurna ini, kira- kira berapa banyak wanita yang dulu terpikat denganmu? Sebelum menikah dengan mantan istrimu dulu, berapa jumlah mantanmu?" tanya Lea yang tiba- tiba saja ingin tahu.


El yang mendengar pertanyaan keramat itu sedikit memalingkan wajahnya untuk membuang napas yang terasa sesak di dalam dada setelah mendapatkan pertanyaan yang mungkin bisa membuat dirinya dipenggal jika salah jawab.


"Kenapa perempuan suka sekali mencari masalah dengan bertanya hal- hal yang tidak seharusnya ia tanyakan, nanti salah jawab bisa ribut," dumelnya pelan membuat Lea tertawa sembari melingkarkan tangannya di pinggang El.

__ADS_1


"Pasti banyak kan mantanmu?" tebak Lea membuat El merunduk menatap wajah cantik itu dengan sedikit gemas.


"Tidak ada, aku kurang berpengalaman dan anti dengan perempuan dulunya, karena itu aku cerai dengan Fera karena kurang mengetahui sifat perempuan. Dan itu bisa kujadikan pengalaman dan pelajaran untuk bisa mendapatkan dan mempertahankanmu untuk selamanya sampai akhir hayat nanti," jawabnya sembari mengecupi pipi Lea.


"Jadi Fera itu cinta pertamamu?" tanya Lea lagi membuat El yang gemas dengan wanitanya sontak langsung menggigit pipi chubby itu dengan pelan.


"Awww sakit," rintih Lea membuat El langsung mengecup singkat pipi Lea bekas gigitannya.


"Aku tidak pernah menganggapnya ada di hidupku, kau yang pertama dan terakhir," ujarnya dengan sangat manis membuat Lea mencebikkan bibirnya.


"Ada apa dengan bibirmu, kamu memberiku kode untuk menciummu?" goda El yang gemas sekali kala melihat bibir Lea.


"Sekarang kutanya, dengan wajah yang secantik hampir sempurna begini, berapa mantanmu mengingat kamu sangat galak kala ada pria yang mendekatimu?" tanya El yang sangat penasaran sekali.


Lea tampak berpikir membuat El sudah emosi lebih dulu di mana ia menautkan alisnya tanda kesal.


"Pasti banyak kan?" tebaknya yang sudah kesal duluan.


"Tidak. Bukan mantan sih ini, lebih tepatnya crush, tapi dia kakak tingkatku. Mungkin ia sekarang sudah menjadi dokter muda paling tampan yang pernah ada, karena dulu ia yang paling tampan seantero sekolah dan sangat teladan," puji Lea tanpa sadar di depan El.


"Oh jadi crushmu itu seorang dokter? Yang tampan dan teladan?" tanya El yang mengulangi kembali ucapan Lea.


Lea dengan polosnya malah mengangguk.


"Aku sangat penasaran dengan kabarnya saat ini, apa mungkin ia sudah menikah mengingat ia begitu tampan dan hampir mendekati kata sempurna, jika ia aku sangat ingin melihat wajah istrinya," gumam Lea sembari memainkan kaos El.


El dengan wajah yang masam dan mood yang hancu, tiba- tiba melepas dekapannya pada Lea.


"Jadi, sainganku dokter?" gumamnya lirih sembari berjalan meninggalkan dapur membuat Lea mengerutkan keningnya tak paham.


"Cuma seorang dokter kan? Mungkin ia ahli dalam bidang mengoperasi atau membedah, beda denganku yang bisa segalanya, contohnya memutilasi, menguliti kulit musuh, mencongkel matanya, atau memindahkan organ- organ tubuhnya," dumelnya sembari menaiki anak tangga menuju lantai atas dan meninggalkan Lea sendiri di dapur.


"Apa dia bilang? Sangat tampan dan hampir sempurna? Cih, aku lebih dari itu, apa ia tidak bisa melihat jika aku adalah pria paling sempurna yang ada di muka bumi ini," dumelnya sembari berjalan ke meja rias Lea.


"Aku tampan sejak di kandungan, aku kaya hingga hartaku tak akan habis meski sampai 7 turunan, dan aku multitalenta, serta sangat jago dengan semua yang berhubungan dengan hal ranjang," gumamnya yang menyombongkan dirinya sendiri sembari melihat dirinya di pantulan cermin.


"Arghh bangsat, kukira ia tak memiliki satupun mantan dalam hidupnya mengingat ia begitu galak dengan pria yang selalu dekat dengannya, enggak tahunya malah dia yang ngecrushin pria lain," dumelnya yang tak henti- hentinya sejak tadi.


El yang sudah dilanda api cemburu dan rasa kesal karena Lea memuji kakak tingkatnya kini berniat untuk mandi agar bisa meredam emosinya.

__ADS_1


__ADS_2