
Sore hari Zen sudah berada di bandara di mana sebentar lagi pesawatnya akan terbang.
Zen melihat ponselnya yang terus berdering di mana sudah hampir 20 panggilan tak terjawab dari Ziko.
"Si bandit ini, apa perlu kubunuh ia lebih dulu," dumelnya yang sudah sangat- sangat risih dengan telepon Ziko.
Zen mencoba mengangkat teleponnya guna untuk menghentikan ulah Ziko.
"Yaaa, apa kau sungguh ingin mati sekarang?" tanya Zen sembari mengetatkan rahangnya.
"Yaaa, apa kau sudah berangkat?" tanya Ziko dengan nada suara yang terengah-engah.
"Jangan hentikan aku, mau kau nangis di bandara sekalipun aku akan tetap kembali ke LA, jadi jangan coba- coba menghentikanku," tegasnya pada Ziko.
"Tidak, kumohon jangan berangkat dulu, tunggu aku di sana," tahan Ziko membuat Zen memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Tidak, aku akan pergi. Kau tak bisa menghentikanku," tekannya lalu mematikan teleponnya.
Zen membuang napas kasar saat Ziko begitu kekeh menahan dirinya.
"Bagaimana bisa ia bersikap seolah seperti kekasihku? Ia bahkan menangis saat aku berangkat tadi, dan sekarang ia mencoba menahanku disaat aku akan terbang, aku jadi takut jika ia memiliki rasa denganku," gumam Zen sembari mengedikkan bahunya ngeri dan geli.
Zen lalu bergegas pergi ke pesawat karena sebentar lagi waktunya terbang.
Dan yah, Ziko terus menelponnya berulang kali bahkan mengirimkan pesan banyak pada Zen.
Zen yang merasa terganggu dan risih dengan hal itu sontak langsung mematikan ponselnya.
Dan ia sudah masuk ke dalam pesawatnya di mana sebentar lagi waktunya terbang.
Zen sudah tak sabar untuk kembali ke negaranya di mana ia di sana bisa hidup dengan tenang dan nyaman tanpa tekanan.
"Akhirnya aku bisa kembali ke negara asalku," gumamnya sembari menghembuskan napas panjang dan melihat keluar jendela.
Zen membuka mulutnya kala melihat Ziko sudah berada di landasan pacu dekat pesawatnya sembari melambaikan tangannya dan melompat- lompat entah mengatakan apa.
__ADS_1
"Astaga orang gila itu, bagaimana bisa ia sampai kemari secepat itu? Apa ia seorang vampir?" gumamnya lirih kala melihat Ziko berusaha dibawa pergi dari landasan pacu oleh para marshaller.
Zen tersenyum lega saat Ziko sudah disingkirkan dari landasan pacu.
"Dasar si bodoh, bagaimana bisa ia bersikap berlebihan begitu, ia seharusnya tak perlu melakukan hal itu, bukan? Apa ia sesayang itu denganku?" gumam Zen yang tak habis pikir dengan sikap Ziko.
Pesawat pun landas membuat Zen begitu bungah dan sumringah di mana ia sangat senang tatkala akan pergi ke negara asalnya.
....
Malam harinya sekitar pukul 1 malam, Zen baru tiba.
Dengan senyum yang tak pudar dari bibir seksinya, Zen turun dari pesawat dengan hati yang girang dan senang.
Namun senyuman itu langsung hilang pudar begitu saja saat melihat apron bandara yang sedikit berbeda.
"Khap khun khrap!" Zen membuka mulutnya saat mendengar bahasa mereka.
"Tunggu, sejak kapan LA jadi kap kap gini bahasanya," gumamnya yang langsung menarik kopernya dengan cepat pergi dari sana.
Zen lalu menghampiri salah satu keamanan di sana untuk bertanya tanpa memperhatikan sekelilingnya.
"Khun cheu arai?" Zen membuka mulutnya dengan cengoh.
"Bapak, ngomong apa tadi?" tanyanya seperti orang tuli.
"Phi khun cheu arai?" tanyanya sekali lagi membuat Zen ingin menangis saat ini.
Zen mengedarkan pandangannya dan ia membuka mulutnya tak percaya kala baru menyadari sesuatu yang memang benar- benar berbeda.
Dan yang paling membuat Zen emosi adalah saat membaca tulisan negara yang ia tuju saat ini.
Dengan cepat ia langsung merogoh ponselnya di dalam saku untuk menghubungi Ziko.
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di markas Klan Wolf ada Ziko yang tengah nonton TV bersama dengan anjing Alvino.
__ADS_1
Kring
Ziko meraba ponselnya dan asal angkat tanpa melihat siapa yang menelponnya.
"YAAAA!" Ziko yang terkejut langsung melemparkan ponselnya begitu saja.
"Astaga, jantungku hampir lepas dari tempatnya," gumamnya sembari mengusap dada dan telinganya kala mendengar suara keras Zen.
"Yaa bangsat," teriak Zen membuat Ziko langsung meraih ponselnya dengan detak jantung yang gugup tak karuan saat ini.
"Zen, kau sudah sampai?" tanya Ziko basa- basi di mana ia mencoba mencari cara untuk bisa selamat dari Zen.
"Yaaa, kenapa kau memesankanku tiket pesawat ke Thailand? Apa kau sengaja ingin mengerjaiku?" tanyanya dengan marah pada Ziko.
"Tunggu dulu, pagi itu aku baru bangun tidur dan kau langsung menyuruhku memesan tiket begitu saja, jadi tolong maklumi jika salah tujuan karena nyawa yang belum genap," jawabnya dengan sedikit takut saat ini.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Apa kau tahu, aku seperti orang gila di sini, semua orang berbicara dengan bahasa kap kap, bahkan aku hampir ditangkap keamanan bandara karena dikira narapidana di mana mereka tak sengaja melihat tato di bahuku," dumelnya di akhir kalimat membuat Ziko tertawa.
"Kau bisa tertawa sekarang setelah mengirimku ke Thailand?" tekannya membuat Ziko langsung berhenti tertawa.
"Bukankah sejak tadi aku sudah berusaha memberitahumu? Aku bahkan menelpon dan mengirimkan banyak pesan padamu untuk memberitahu hal itu tapi kau terus memotong ucapanku dan mematikan teleponnya sepihak, aku bahkan rela diseret marshaller hanya untuk memberitahumu tadi," dumel Ziko yang kini malah dia yang merajuk.
"Bisa bisanya kau marah setelah membuat kesalahan ini," ujar Zen membuat Ziko langsung diam.
"Kalau begitu cepat datang kemari dan jemput aku sebelum aku membunuhmu," ancamnya pada Ziko.
"Aku? Menjemputmu ke sana? Tidak- tidak, pekerjaanku di sini sangat banyak, kau tunggu penerbangan selanjutnya aja," tolaknya membuat darah Zen mendidih.
"Kau menolak setelah melakukan ini padaku? Kau bahkan tidak minta maaf padaku? Bukankah kau ingin memiliki teman di sana? Aku akan kembali ke sana dan menemanimu jika kau mau menjemput ku," ujarnya pada Ziko.
"Sungguh?" Zen sedikit terkejut dengan suara girang Ziko.
Zen hanya berdeham dan terdengar sorak sorai dari seberang telepon membuat Zen tersenyum tipis.
"Oke, tunggu aku di sana," pesannya pada Zen dan mengakhiri teleponnya.
__ADS_1
Zen tersenyum tipis namun beberapa detik kemudian berdecak kasar dan mengumpat serta merutuki Ziko.
"Apa ia sengaja melakukan ini agar aku kembali lagi ke Milan? Wahh jika benar begitu, El pasti setuju jika aku membunuhnya," gumamnya yang tak heran dengan otak licik Ziko.