
Sedangkan di tempat lain ada Ziko bersama dengan baby Enzo tengah berada di markas.
Ia sengaja menelpon Glen, Sarvel dan Alvino dengan kedok dipanggil El.
Nyatanya Ziko sendiri yang memanggilnya.
"Di mana El?" tanya Alvino yang sudah datang disusul Glen dan Sarvel di belakangnya.
Ziko menyunggingkan senyum sumringahnya membuat Alvino sudah menaikkan sebelah alisnya tajam.
"Hehe enggak ada. Aku yang memanggil kalian," jawabnya dengan senyum lebarnya.
Ketiganya sontak langsung mengelilingi Ziko.
"Kau sudah bosan hidup?" tanya Alvino dengan sengit.
"Sepertinya jika kita jual organnya satu persatu kita bisa keliling dunia," usul Glen yang diangguki oleh Sarvel.
Ziko hanya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya tanda peace.
"Teman kalian memintaku untuk menjaga putranya selagi ia sedang bersama dengan Lea," beritahunya pada mereka bertiga.
Ketiganya sontak langsung duduk di sofa dengan helaan napas yang berat.
"Apa mereka sedang melakukan foto prewed?" tebak Glen membuat Sarvel dan Alvino menatapnya dengan jengah.
"Tuh anak kalau udah cinta begonya sampai lutut," olok Alvino geram.
"Lagian Lea juga enggak segampang Fera dulu. Ia sangat berbeda karena itu tuan El Zibrano tergila-gila dengannya," timpali Sarvel membuat Glen dan Ziko manggut-manggut paham.
"Iya juga sih, jadi kesempatan kita buat nikung Lea masih ada dong," sorak Glen dengan penuh semangat.
BRUGH
BRUGH
Sarvel dan Alvino dengan kompak memukuli Glen dengan bantal sofa.
"Bukankah kau sudah dilamar Flo? Jangan serakah, masih ada kita berdua yang jomblo," seru Sarvel yang tak ingin Glen ikut andil dalam mendapatkan Lea.
"Tahu tuh, Flo tahu kau bisa mati di tangannya," ujar Alvino menimpali.
Ziko yang melihat adu mulut itu sontak menyeletuk.
"Bagaimana bisa kalian sibuk berebut sedangkan El belum tentu akan memberikannya," celetuknya yang mana hal itu seketika langsung membuat mereka bertiga menoleh menatap Ziko.
"Kalian tahu caranya membedah organ tubuh?" tanya Alvino sembari menggulung lengan kemejanya hingga siku.
"Jangankan membedah, mengambil ginjal dan hatinya aku bisa melakukannya," seru Glen yang yang langsung beranjak dari sofa.
"Apa yang akan kalian lakukan?" tanya Ziko kala Sarvel mengambil alih baby Enzo ke dalam bopongannya.
"Hei son, setelah ini kita akan party setelah kami menjual ginjal dan hati pamanmu, kau senang bukan?" Baby Enzo tersenyum sembari mengulum jempol tangannya.
Sarvel yang melihat hal itu sontak tertawa pelan dan melihat kedua temannya membawa Ziko untuk dieksekusi.
•••
Hari sudah malam namun Lea belum kunjung pulang ke rumah El.
Tadi sore ia baru saja dari rumah sakit forensik hanya untuk menunggu hasil autopsi Nancy.
Dan kini ia berjalan tanpa tahu kemana ia pergi?
Sedikit terkejut kala melihat hasilnya yang begitu mengerikan.
10 tusukan pada perutnya?
Apa ia sungguh seorang manusia?
Bagaimana bisa ia tega melakukannya pada Nancy?
Beberapa kali Lea menyalahkan dirinya atas kematian Nancy.
Terlebih ucapan Oliv padanya tadi pagi benar-benar membuat Lea terus memikirkannya.
"Apa ini salahku? Kalian pergi begitu saja meninggalkanku," gumamnya lirih dengan suara yang serak.
Sesekali Lea meneteskan air matanya sembari menyusuri jalanan dengan mata yang sudah sembab.
Hingga semilir angin menerpa kulit Lea membuat ia merasa dingin dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
Lea merasakan sesuatu di dalam jaketnya dan merogohnya keluar.
Sapu tangan.
Lea memeriksa sapu tangan itu lalu mencoba menciumnya.
Bau darah bercampur khas karet dari sapu tangan tersebut.
Lea kembali menciumnya untuk memastikan indra penciumannya.
Dan Lea tentu tidak salah dengan aroma ini.
Ini adalah bau darah.
Kini ucapan Oliv tentang lehernya yang dicekik oleh El, tiba-tiba melintas di pikiran Lea.
Entah kenapa hati Lea berdegup begitu kencang sekali.
__ADS_1
Ditambah rekaman CCTV yang tadi ia lihat di mana pria itu juga mengenakan jaket kulit hitam seperti yang ia pakai saat ini.
"Itu tidak mungkin dia kan yang melakukannya?" gumamnya dengan suara yang bergetar.
Dan lagi-lagi pikiran Lea teringat akan ucapan yang selalu El katakan padanya setiap kali ia terluka.
Aku tidak akan segan untuk menghabisi mereka sekalipun itu keluargamu sendiri jika berani menyentuh atau menyakitimu.
Lea menatap sapu tangan hitam itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa ini yang Oliv maksud? Tapi tidak mungkin dia bukan?" gumamnya yang masih tak percaya.
Tidak, Lea tidak boleh berprasangka buruk pada El.
Ia harus mencari buktinya lebih dulu.
Lea lalu menghentikan taksi yang kebetulan lewat.
Ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dibanding pulang ke rumah El.
Sesampainya di rumah sakit Lea bergegas menyusuri lorong untuk sampai di ruangan ayahnya.
Hingga kaki Lea terhenti saat melihat El duduk di depan ruangan ayahnya.
Lea langsung memalingkan muka menghindari tatapan El.
"Kamu sudah kembali? Aku sangat mencemaskanmu sejak tadi," ujarnya yang langsung menyambut kedatangan Lea.
Lea berusaha untuk menahan dirinya meski ia sangat ingin sekali mengatakannya.
"Aku menunggu hasil autopsinya," jawabnya dengan pelan dan segera masuk ke dalam ruangan papanya.
Siapa yang tahu jika di dalam sana ada Tesa yang terlelap di sofa.
"Mama menunggumu sejak tadi sampai tertidur di sana," seru El yang sudah berdiri di belakang Lea.
Lea menatap wajah yang tertidur pulas dengan posisi duduk tersebut dengan rasa tak enak hati.
"Aku akan membangunkan mama," ucap El hendak membangunkan mamanya.
Lea langsung mencekal lengan El dan menggelengkan kepalanya.
"Kalian," ucap Tesa yang terusik dengan suara mereka.
Keduanya menoleh menatap Tesa.
"Lea sayang, kamu sudah pulang nak?" tanyanya sembari mengusap wajahnya.
Lea tersenyum dan langsung menghampiri Tesa.
"Tante kenapa tidur di sini?" tanyanya dengan sopan dan ramah sembari duduk di samping Tesa.
Lea hanya tersenyum lalu melepas jaket El.
"Memangnya kenapa Tante ingin bertemu saya?" tanya Lea yang terlihat begitu mudah akrab sekali dengan orang tua.
El yang melihat hal itu kini tersenyum lebar di mana ia sedikit heran dengan Lea yang bisa mengambil hati mamanya dengan semudah itu.
"Tante boleh minta tolong sayang, kamu dan El tolong wakili Tante untuk datang ke acara pernikahannya anak dari tuan Zenico's, cuma sebentar kok sayang, nanti Tante akan memberikan apapun yang kamu mau," pinta Tesa dengan penuh memohon.
"Iya Lea mau tante, asal Tante tidak memberikan apapun," ujarnya membalik ucapan Tesa.
Tesa tertawa begitu juga dengan El.
"Udah malam sayang, kita sambung obrolannya besok lagi ya? Kamu juga harus istirahat kan?" Lea hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
Tesa meraih tasnya lalu menatap El.
"Tolong jaga menantuku dengan baik," klaimnya dengan tegas pada El.
"Siap ma," jawab El sembari memberikan hormat pada Tesa.
Lea yang mendengar hal itu berusaha untuk tetap tersenyum meski hatinya sangat menolak dan mencurigai El.
Tesa mengusap sekilas pipi Lea dan bergegas pergi.
Setelah mamanya pergi, El segera menghampiri Lea.
"Ayo kita pulang, dari pagi kamu belum makan kan?" tebaknya sembari menggenggam lembut tangan Lea.
Lea hanya diam di mana tatapannya hanya tertuju pada manik hitam mata El.
"Bisa tinggalkan aku sendiri. Aku ingin di sini dengan ayah," pintanya dengan suara lesu.
El diam menatap lekat wajah cantik wanitanya.
"Apa sesuatu mengganggu pikiranmu? Apa Oliv kembali menyakitimu?" tanyanya dengan nada suara yang sedikit dingin saat ini.
Lea melepas genggaman tangan El dan menyugar rambutnya ke belakang.
"Tidak. Bisa tolong pergi, aku sangat lelah hari ini," usirnya dengan pelan sembari mengambil selimut dan bantal di dalam laci dekat brankar ayahnya.
El yang melihat perubahan sikap Lea kini bertanya-tanya dengan segala tebakannya.
Lea kembali ke sofa dan hendak berbaring di sana.
Namun El dengan cepat mengangkat tubuh mungil itu dan memanggulnya layaknya karung beras.
"Lepaskan aku!" berontak nya tanpa berani bersuara keras.
__ADS_1
El dengan erat memanggul Lea menuju basement parkiran.
Lea yang biasanya begitu kuat dalam bertarung entah kenapa terasa lemah saat dalam dekapan El.
El mendudukkan Lea secara perlahan di kursi penumpang bagian depan.
"Aku tidak ingin pulang. Aku ingin bersama dengan ayah," berontaknya dengan keras membuat El dengan santai memakaikan seal beatnya pada Lea.
El tak memedulikan hal itu dan langsung menutup pintunya.
BRAK
El masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan basement parkiran.
Di sepanjang jalan Lea terus mendumel tanpa henti.
Dan El tak sedikitpun merasa risih atau marah padanya.
Telinganya seakan begitu tebal dengan segala dumelan Lea.
Hingga tangan kekar itu meremas lembut paha Lea membuat dumelannya seketika langsung terhenti.
El yang melihat perubahan Lea yang begitu cepat seketika tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya.
Lea sontak langsung memukuli tangan kekar El agar terlepas dari pahanya.
Dan itu tak berimbas apapun pada El.
El tetap meremas lembut dan kadang kuat pada paha Lea.
Lea yang lelah memukuli tangan El kini sudah pasrah dan menatap keluar jendela.
Sesampainya di rumah, El segera membawa Lea masuk ke dalam mansionnya.
Yah seperti biasa El memanggul Lea tanpa membiarkannya untuk berjalan.
Tiba di kamar El langsung mendudukkan Lea di tepi ranjang.
Dan pintu kamar sudah ia kunci.
"Kenapa kau selalu egois dan semaumu sendiri? Aku ingin di rumah sakit menemani ayah," marahnya pada El.
Kini El mulai serius dan menatap Lea yang penuh dengan amarah.
"Di sana sudah ada pengawalku sayang, apalagi yang kamu cemaskan?" tanyanya dengan pelan.
"Siapa yang peduli dengan para pengawalmu, aku hanya ingin duduk di samping ayah menumpahkan segala rasa lelahku. Apa kau tahu, aku hanya memiliki ayah, tolong mengertilah," ucap Lea yang mana kini air matanya sudah mulai berlinang.
El yang melihat air mata itu kini hatinya terasa begitu rapuh dan tak kuasa melihatnya.
"Apa kau sungguh tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang terdekatmu? Itu sungguh membuatku sangat rapuh," gumamnya lirih dengan isak tangis yang begitu memilukan.
El langsung memalingkan mukanya kala kedua matanya berkaca-kaca.
Lea tak lagj berbicara ia sibuk menangis tersedu-sedu.
"Aku juga pernah kehilangan orang yang paling dekat denganku. Dan aku tahu rasanya itu," ucapnya dengan lirih sembari mendongakkan kepalanya untuk menahan air matanya agar tidak terjatuh.
El yang melihat Lea terus menangis kini tak kuasa melihatnya.
"Maaf aku tidak bisa memahamimu. Beristirahatlah, aku tak akan mengganggumu!" ujarnya lalu melenggang pergi keluar dari kamar.
El memutuskan untuk pergi keluar kala ia teringat akan masa lalu yang begitu memilukan untuknya.
Masa lalu yang selalu menghantuinya hingga sejak ini.
Dan kini El tahu kelemahan dirinya sendiri saat ini.
Yaitu air mata Lea.
El melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi di mana ia selalu melakukan hal itu disaat dirinya sedang bersedih.
•••
Pukul 1 dini hari Graham terbangun saat ia merasakan dingin.
Graham dengan mata yang begitu lengket sekali berusaha untuk bangun dan mematikan AC nya.
Tapi ternyata bukan AC yang membuatnya kedinginan melainkan jendelanya terbuka.
Graham segera turun dari ranjang untuk menutup kembali jendelanya.
BRUGH
Graham terkejut saat seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa kamu?" tanya Graham dengan terkejut dan panik.
Pria bertopi hitam dengan jaket kulit hitamnya hanya tersenyum kala melihat wajah takut Graham.
"Aku adalah dewa kematianmu," serunya dengan suara serak basah dan langsung menikam perut Graham.
Graham terlihat membelalakkan matanya sembari memegangi tangan pria itu.
Pria itu mencabut pisaunya dan kembali menusukkan secara acak pada perut Graham.
Pada tusukan terakhir Graham mencengkeram kuat pergelangan tangan pria tersebut.
Pria itu tampak tersenyum lebar kala melihat darah segar mengalir di lantai marmer tersebut.
__ADS_1
"Lain kali jangan menyentuh milikku. Kau sudah membuatnya menderita selama ini, jadi jangan salahkan aku karena melenyapkanmu," serunya pada Graham yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimpah darah.