
Kantor Sarvel
Ada Berlyn yang begitu lelah sekali saat ini.
Di mana ia mengerjakan semua pekerjaan yang Sarvel berikan padanya dan harus diselesaikan hari ini juga.
"Apa ia benar-benar sangat gila? Ia memberikan semua tugas yang tidak seharusnya kukerjakan," gerutunya tanpa henti sembari mengerjakan semua berkas-berkas yang harus direvisi.
Berlyn menoleh kala ada suara ramai.
Terlihat beberapa wanita cantik dengan pakaian yang seksi datang berbondong-bondong masuk ke dalam ruangan Sarvel.
Berlyn terlihat menghela napas gusar.
"Apa yang harus kulakukan untuk bisa menghentikan sikapnya yang terus membuatku mengumpat? Aku sangat lelah sekali karenanya," dumelnya sembari menyugar rambutnya ke belakang dan menatap ruangan Sarvel.
Beberapa menit kemudian datang beberapa kurir dengan makanan dan minuman yang mereka bawa.
Berlyn masih membiarkan hal itu terjadi selagi ia berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu.
Tak lama terdengar suara musik yang begitu keras dari ruangan Sarvel.
Berlyn berdecak dan mengumpat begitu keras sekali.
Ia melihat beberapa karyawan tampak terganggu dengan kelakuan Sarvel.
"Kalian bisa pergi sebentar ke kantin untuk istirahat selagi tuan Sarvel sedang karaoke," ujar Berlyn yang setengah jengkel di akhir kalimatnya.
Mereka tampak mengangguk paham dan segera beranjak dari kursinya menuju kantin.
Dan kini hanya menyisakan Berlyn di sana.
"Karena dia membenciku dia melakukan segala cara untuk bisa mengusirku, dan imbasnya pada mereka semua," gumam lirih Berlyn yang merasa bersalah akan hal itu.
Dengan kesabaran setipis tisu, Berlyn mencoba untuk tetap bertahan di sana dan mengerjakan pekerjaannya.
Ia menyumpal telinganya dengan kapas.
Sedangkan di dalam ruangan, Sarvel tampak menikmati makanan dan minuman yang ia pesan.
Sesekali ia melihat ke arah ambang pintu dan menunggu Berlyn beraksi.
Namun waktu berjalan begitu lama tak ada tanda-tanda Berlyn akan masuk ke dalam ruangannya.
Sarvel jadi curiga, apa yang tengah Berlyn lakukan sekarang ini.
Ia lalu beranjak dari sofa untuk melihat Berlyn dari jendela.
Terlihat Berlyn begitu fokus dengan komputernya membuat Sarvel mengumpat.
Ia memutar otaknya untuk bisa membuat Berlyn datang ke ruangannya dan menghentikan karaoke yang ia buat dadakan di ruangannya.
Hingga Sarvel tersenyum devil kala ia memiliki ide cemerlang.
"Yaa, kau. Kemarilah," panggilnya pada perempuan pendek itu.
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan lemah lembut.
"Kau lihat wanita itu?" perempuan itu mengangguk pelan.
"Coba ganggu dia. Atau kalau perlu pancing emosinya. Buat ia marah besar, nanti aku akan datang untuk menyelamatkanmu," pintanya pada perempuan itu.
Perempuan itu hanya mengangguk tanpa tahu resikonya nanti.
Ia langsung keluar untuk menghampiri Berlyn sesuai dengan perintah Sarvel.
Sarvel memantau dari jendela dengan harapan Berlyn marah besar atau melakukan hal yang tak terduga.
Sarvel dengan antusias mengambil ponselnya untuk merekam kejadian yang mungkin akan terjadi begitu fantastis setelah ini.
Dengan begitu Sarvel bisa mengadukannya pada papanya sebagai bentuk balas dendam kemarin.
Namun waktu berjalan begitu lama tidak ada tanda-tanda Berlyn melakukan hal yang mengejutkan.
Sarvel beberapa kali berdecak dan mengumpat kala idenya gagal.
Malah perempuan itu kembali begitu saja ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Maaf tuan, ia begitu fokus dengan pekerjaannya," ujarnya membuat Sarvel detik kemudian tersenyum begitu lebar mendengar hal itu.
Sarvel lalu memanggil perempuan yang lain dan membisikkan sesuatu padanya.
Perempuan itu keluar membuat Sarvel langsung memantaunya dari jendela.
Terlihat Berlyn dan perempuan itu pergi dari sana.
"Yaaa, kau sekarang pergi ke meja perempuan itu. Kamu hapus semua filenya, jangan ada yang tersisakan, kamu paham?" perintahnya pada perempuan itu.
"Tapi tuan," bantahnya yang takut terjadi sesuatu nantinya.
"Aku akan membayarmu lebih," tegasnya membuat perempuan itu langsung pergi tanpa ba-bi-bu lagi.
Sarvel yang melihat hal itu hanya bisa berdecak dan memantau dari jendela.
Perempuan itu kembali setelah menyelesaikan perintahnya sebelum Berlyn datang.
Tak lama Berlyn datang dan kembali duduk di kursinya.
Sarvel begitu tidak sabar menunggu reaksi Berlyn.
BRAK
Sarvel tersenyum begitu lebar kala melihat Berlyn menggebrak mejanya.
Berlyn beranjak dari kursinya dan kini berjalan menuju ruangannya.
Dengan cepat Sarvel langsung duduk di sofa berpura-pura bersenda gurau dengan wanita panggilannya.
BRAK
Mereka semua tampak terjengkit kaget begitu juga dengan Sarvel.
"Yaaa, kau kan yang sengaja menghapus file yang sedang kukerjakan?" bentaknya pada Sarvel.
Sarvel melepaskan tangan perempuan yang memeluk lengannya lalu beranjak dari sofa mendekati Berlyn.
"Apa kau tahu apa posisimu? Kau baru saja membentakku. Kau bahkan juga menuduhku melakukan hal yang tidak kulakukan," tekan Sarvel dengan penuh keyakinan di mana aktingnya kini benar-benar patut diacungi jempol.
"Sejak tadi aku di sini, jangan membuatku marah dengan tuduhanmu," ujarnya di mana kini nada bicara Sarvel sedikit meninggi.
Berlyn berdecak sembari berkacak pinggang.
"Kau pikir aku tidak tahu, kau bisa saja mengutus perempuanmu untuk melakukannya, bukankah kau ingin sekali menyingkirkanku? Aku tak akan mundur, akan kubuat kau menuruti perintahku suatu saat nanti," tegasnya pada Sarvel dengan berani tanpa memedulikan statusnya saat ini.
Berlyn berhenti di ambang pintu lalu berbalik menatap satu persatu para perempuan yang duduk di sofa menatap dirinya.
Entah kenapa ada ide konyol yang terlintas di benak Berlyn.
"Apa kalian tahu? Kudengar mantan dari pria ini adalah seorang mantan narapidana, Minggu lalu ia membunuh wanita seperti kalian di kantor ini. Jadi, bersiap saja untuk kalian hari ini, entah siapa yang akan ia bunuh diantara kalian semua, ahh memikirkannya membuatku sangat takut. Mungkin hari ini aku akan melihat darah berceceran di sini," gumamnya di akhir kalimatnya sembari mendalami aktingnya.
Sarvel yang mendengar hal itu menganga tak percaya dengan cerita karangan Berlyn.
"Tidak, jangan percaya itu. Aku tidak mempunyai mantan satupun," bantah Sarvel menyakinkan mereka semua.
Berlyn yang mendengar hal itu sontak melotot tak percaya.
Oh tidak ada mantan ya, kau lihat saja setelah ini, batin Berlyn dalam hati.
Berlyn berpura-pura melihat jam tangannya.
"Kemungkinan ia akan datang sebentar lagi," bohongnya sembari menutup pintu.
Sarvel mengumpati Berlyn lalu berusaha menyakinkan mereka semua jika ia tidak memiliki mantan satupun.
Selang beberapa menit pintu kembali terbuka.
BRAK
"Arghhhh," teriak para wanita itu kala seorang perempuan bertopeng masuk ke dalam ruangan sembari mengangkat pistolnya tinggi-tinggi.
"Aku sangat haus darah. Siapa yang harus kubunuh lebih dulu di antara kalian semua," teriaknya sembari menodongkan pistolnya.
Para wanita itu langsung berlari terbirit-birit kala perempuan bertopeng itu menodongkan pistolnya.
Sedangkan Sarvel kini terdiam di tempatnya sembari mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
Perempuan itu lalu beralih menodongkan pistolnya pada Sarvel.
"Piu piu," serunya yang diiringi dengan tawa renyah.
Sarvel yang mengenali tawa itu sontak memicingkan matanya sembari menurunkan tangannya.
Perempuan itu melepas topengnya.
"KAU!" tekannya dengan kesal dan marah kala melihat Berlyn.
Berlyn tertawa terbahak-bahak kala melihat wajah ketakutan Sarvel tadi.
"Pria macam apa kau ini, dengan pistol mainan aja takut," seru Berlyn sembari melemparkan pistol mainan itu ke dalam tempat sampah.
Berlyn lalu melenggang pergi membuat Sarvel meraih tangannya dan menariknya hingga wajah Berlyn menabrak dada bidangnya.
BRUGH
"Awww," ringis Berlyn sembari memegangi keningnya.
"Apa kau seorang pria? Kau begitu kasar sekali dengan perempuan," ketus Berlyn dengan kesal.
Sarvel menarik pinggang Berlyn hingga tubuh mereka berdekatan.
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja, tidak. Aku akan melakukan segala cara untuk bisa mengusirmu dari kehidupanku, ingat itu baik-baik," tegasnya pada Berlyn beberapa kali.
Berlyn hanya tersenyum miring dan menarik dasi Sarvel.
"Lalu ingat ini baik-baik. Aku akan tetap di kehidupan masa depanmu sekalipun kau membunuhku, bayang-bayangku akan selalu ikut denganmu, sampai kapanpun itu," ucap Berlyn dengan pelan dan penuh penekanan di setiap katanya.
Berlyn lalu mendorong Sarvel ke belakang agar pelukan pada pinggangnya terlepas.
Ia lalu pergi begitu saja keluar dari ruangan Sarvel.
Sarvel berdecak kasar kala ia lagi- lagi terkalahkan oleh Berlyn.
•••
Pukul 7 malam Sarvel masih berada di ruangannya dengan sebotol alkohol yang menemaninya.
Sarvel menatap jendela kala mendengar suara lampu dimatikan.
Itu pasti Berlyn.
Pasalnya hanya dia yang tersisa sejak tadi.
Sarvel beranjak dari sofa dan berjalan menuju jendela dengan segelas alkoholnya.
Tatapan Sarvel hanya tertuju pada halaman kantor.
Ia sangat menantikan sosok Berlyn yang keluar dari kantor.
Terlihat Berlyn tampak berlari kecil menghampiri seorang pria yang bersandar di motor mogenya.
Sarvel menatap datar kala Berlyn memeluk erat pria tersebut.
Apa itu suaminya, itulah hal yang terbesit dalam pikiran Sarvel saat ini.
Itu artinya Berlyn tidak bohong soal ia yang sudah menikah.
Sarvel tersenyum sumbang lalu menenggak habis alkoholnya.
"Bagaimana bisa aku bersikap bodoh dengan berharap ia masih sendiri dan akan kembali padaku. Aku begitu menyedihkan sekali," gumamnya lalu berbalik dan melemparkan gelasnya ke dinding.
Pyarrr
Napas Sarvel terdengar begitu memburu, matanya begitu buram saat ini.
Langkahnya juga sudah sempoyongan.
BRUGH
Sarvel terjerembab di lantai dengan kesadaran yang masih sedikit tersisa.
"Ternyata ia bahagia bersama dengan orang lain. Lalu apa yang selama ini kutunggu," gumamnya sebelum akhirnya kesadaran itu hilang begitu saja.
BRAK
__ADS_1