
Keesokan paginya, Lea sudah rapi dengan penampilan cantiknya.
Ia melihat sekilas baby Enzo yang masih terlelap di keranjangnya.
"Aku akan masak lebih dulu sebelum mama kemari," gumamnya yang pergi keluar kamar.
Lea mengedarkan pandangannya di ruang tengah dan ruang tamu namun tidak melihat keberadaan El.
Saat turun di lantai dua Lea juga tidak menemukan El.
"Kemana berandalan itu pergi? Apa ia mengungsi?" gumam Lea yang masih kesal dengan sikap El kemarin.
Lea langsung menuju ke dapur untuk membuat sarapan.
Selang beberapa menit Lea sudah selesai masak dan berniat untuk pergi keluar rumah.
"Selamat pagi nona," sapa para pengawal yang langsung menundukkan kepalanya membuat Lea merasa risih.
"Kemana tuan kalian pergi?" tanya Lea yang penasaran kala tak melihat keberadaan El di dalam mansion.
"Semalam tuan meminta kita untuk membantunya naik ke atas balkon agar bisa masuk ke dalam kamar, katanya ada bencana besar yang terjadi," jawab pengawal itu jujur bagaimana semalam mereka berusaha membantu El untuk bisa naik ke balkon hanya demi bisa masuk ke dalam kamar.
Lea menahan senyumnya lalu bersikap biasa agar tidak terlihat salting.
"Baiklah, aku akan pergi ke taman," ucap Lea yang langsung melenggang pergi menuju taman untuk melihat bunga dan ikan hiasnya.
"Baik nona," jawab mereka kompak dengan kepala yang tertunduk dalam.
Setelah Lea pergi mereka baru berani mengangkat kepalanya.
"Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mendongak saat berbicara dengan nona Lea, wajahnya yang begitu natural cantiknya benar- benar menarik hati," adu pengawal itu pada temannya.
"Lebih baik tundukkan kepalamu saat nona lewat atau kau sedang berbicara dengannya sebelum kepalamu putus, kau paham?" pengawal itu mengangguk dengan lemah.
Pengawal itu membuang napas berat.
"Kenapa berat sekali bekerja dengan tuan El setelah ia menikah, seperti sedang bekerja dengan malaikat maut," gumamnya lirih.
Lea berjalan- jalan di taman dengan senyum yang tidak pudar sedikitpun saat ia melihat bunganya bermekaran di tambah desain kolamnya yang begitu minimalis namun sesuai dengan hati Lea.
Lea tahu jika El yang melakukan semua ini sendiri.
Karena itu ia sangat senang memandanginya.
Sedangkan di balkon ada El yang baru saja bangun di mana ia merasa silau karena sinar matahari.
Dengan cepat El langsung bangun dan mengedarkan pandangannya.
"Sudah pagi, apa ia sudah bangun?" gumamnya yang langsung bangun dan pergi ke jendela kamar untuk melihat isrinya.
"Sepertinya ia masih tidur," gumamnya kala melihat gordennya masih tertutup rapat.
El meregangkan ototnya dan berjalan ke tepi balkon.
Hingga pandangannya menemukan sesuatu yang familiar.
"Tunggu, dia sudah bangun?" gumamnya dengan mata yang tajam kala melihat penampilan cantik Lea saat ini.
__ADS_1
"Ia bahkan tidak membuka gordennya karena tahu aku di sini," dumelnya kesal sembari mencari cara untuk bisa turun.
"YAAA!" panggilnya pada pengawalnya.
"Iya tuan," jawab pengawal.
"Cepat ambilkan trampolin, aku mau turun," pintanya dengan tak sabaran.
"Akan saya ambilkan tangga saja tuan," ucap pengawal itu menawari El.
"Kelamaan kalau tangga, buruan ambil trampolinnya," perintahnya dengan sedikit emosi dengan sesekali menatap Lea.
Para pengawal itu langsung mengambil trampolin dan ada sekitar 7 pengawal yang mengelilingi trampolin tersebut.
"Anda yakin akan lompat? Itu akan sangat berbahaya tuan," ucap pengawalnya cemas.
"Kalian jangan meragukan kemampuanku, gini- gini dulu aku atlet lompat jauh," ucapnya yang kini sudah bersiap untuk lompat.
"Lalu apa ini lompat jauh?" tanya Lea yang sudah berdiri di antara 7 pengawal yang mengelilingi trampolin tersebut.
El langsung memicingkan matanya kala Lea malah berdiri berdekatan dengan para pengawalnya.
"YAAA, AKU AKAN MELEPAS BOLA MATA KALIAN JIKA SAJA KALIAN MELIRIK MILIKKU!" teriak El mengancam para pengawalnya.
Lea menghembuskan napas gusar.
"Jangan dengarkan ucapannya, bawa pergi trampolin ini. Meski ia atlet lompat jauh, ia bisa tetap mati jika melompat dari lantai tiga, jadi bawa pergi trampolinnya," perintah Lea pada mereka.
"YAAA! JANGAN BICARA DENGAN ISTRIKU!" teriaknya dari atas membuat Lea berdecak dan mendongak menatap tajam Lea.
"Berhenti teriak sebelum aku naik ke atas dan menjahit bibirmu," ancamnya balik pada El.
"Yaaa, kalian bawa kemana trampolinnya, aku belum lompat," teriak El kala pengawalnya membawa pergi trampolinnya.
"Tunggu, aku akan ke atas dan menghajarmu," ucap Lea pada El.
Bukannya takut atau marah El malah trsenyum girang dan melompat kesenangan kala mendengar Lea akan naik ke atas untuk menghajarnya.
"Astaga, berapa usia tuan El sebenarnya?" gumam pengawal yang melihat tingkah kocak tuannya.
"Bagaimana bisa tuan El begitu girang dan kesenangan saat nona Lea akan menghajarnya? Kenapa dia memiliki dua kepribadian yang sangat signifikan sekali," tambah satunya sembari menggelengkan kepalanya heran.
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana saat tuan muda Enzo sudah besar dan memiliki adik, apa tuan El juga akan bersaing dengan anaknya untuk bisa mendapatkan perhatian nona Lea?" tanya pengawal satunya.
"Kurasa tuan El akan lebih kekanak- kanakan dibanding tuan muda Enzo," celetuk satunya membuat mereka tertawa kecil.
Sedangkan di atas Lea membuka jendelanya dengan sangat kesal di man terlihat El sudah berdiri di depan jendela dengan wajah yang datar dan memelas.
"EL," pekik Lea terkejut saat ia membuka jendelanya dan El langsung memeluknya begitu erat.
"Lepaskan," marahnya sembari memukul bahu kekar El.
"Kenapa rasanya begitu lama sekali satu malam tanpamu," ucapnya sembari menciumi wajah dan puncak kepala Lea dengan sangat brutal tanpa henti.
El menangkup wajah Lea dan menciumi beberapa kali bibir pink nan manis tersebut.
El lalu menatap Lea yang kini tampak menyipitkan matanya tanda kesal.
__ADS_1
"Kau tahu apa kesalahanmu?" tanya Lea dengan lucu karena pipinya yang semakin chubby.
Cup
"Ya aku tahu. Aku salah," jawabnya sembari memainkan pipi Lea.
"Apa salahnya?" tanya Lea membuat El menelan salivanya.
"Karena tidak makan masakanmu semalam, karena mengabaikanmu saat pulang malam dengan mama semalam dan sibuk bermain ponsel saat kamu sedang berbicara," jawab El dengan lancar sembari mengingat bagaimana kesalahannya semalam.
Lea menatap El sedikit heran, bagaimana bisa ada pria sepertinya.
Yang menyadari akan kesalahannya tanpa rasa gengsi.
"Lalu apa yang harus kamu lakukan?" tanya Lea pada El.
El tersenyum devil kala mendapatkan pertanyaan tersebut.
"Tentu bergulat di ranjang sampai nanti malam," jawabnya sembari memainkan pipi chubby Lea.
Dugh
"Awww," ringis El pura- pura kala Lea memukul perutnya.
"Apa hanya itu yang kau pikirkan semalaman?" El tanpa ragu mengangguk dengan mantap membuat Lea tersipu malu dan memalingkan wajahnya.
"Siapa yang mengira jika kau semesum itu," gumam lirih Lea membuat El tersenyum dan menangkup gemas wajah Lea sembari menggiringnya perlahan ke dekat ranjang.
Brugh
"EL," ucap Lea kala El mendorongnya untuk berbaring di ranjang.
"Sebentar sayang, semalam aku tidur sendirian di luar tanpamu, apa kamu tahu bagaimana dinginnya di luar?" adunya pada Lea sembari mengecupi leher jenjang Lea.
"Maaf aku tidak tahu jika kamu tidur di luar," ucap Lea membuat El menghentikan aksinya menciumi leher jenjang Lea.
El menatap lekat Lea lalu memajukan wajahnya hingga begitu dekat dengan bibir Lea.
"Kenapa kamu yang minta maaf disaat aku yang salah?" ucapnya tepat di depan bibir Lea.
Lea yang gugup karena aksi El tersebut spontan menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa kamu memiliki kebiasaan buruk menggigit bibir bawahmu? Apa kamu sedang menggodaku?" tanya El dengan bibir yang sudah menempel pada bibir Lea.
El tersenyum tipis kala melihat pipi Lea bersemu merah.
Lea memejamkan matanya saat bibir seksi El menempel pada bibirnya.
Lea membuka kedua matanya kembali saat El melepaskan bibirnya.
"Kau kira aku hanya akan melakukan ini setelah semalaman tadi tidur di luar? Tentu tidak sayang, aku harus bekerja keras sampai nanti malam agar bisa menyimpan banyak benih di rahimmu," ucapnya memberitahu Lea dengan senyum jahilnya.
Lea yang mendengar hal itu ingin sekali menghilang saat ini.
Entah kenapa suaminya ini memiliki mulut yang sangat ember dan frontal sekali.
El langsung ******* bibir Lea dengan tangan yang aktif untuk melepas baju Lea.
__ADS_1
Sepertinya hasratnya begitu menggebu untuk bekerja di pagi hari ini setelah semalam tidur di luar.