
Setelah kesal dengan mamanya, kini El berakhir bersama dengan Ziko dan Zen.
Kemana? Hanya mutar- mutar kota.
"Yaaa, apa kita hanya akan mutar- mutar tanpa ada tujuan?" tanya Zen yang sudah tak betah berada di dalam mobil.
"Aku yang beli bahan bakarnya, mau keliling satu kota seharian apa masalahnya denganmu," ketus El dengan sedikit emosi kala Zen merusak lamunannya.
"Tapi yang nyetir tangannya udah hampir lepas," sahut Ziko yang bertugas mengemudi.
"Yaudah tinggal nglepas aja apa masalahnya," jawab El dengan enteng membuat Ziko menutup rapat mulutnya agar tidak berkata kasar.
"Menurut kalian, Lea sekarang langsung pulang atau masih di rumah mama?" tanya El yang merasa cemas sendiri setelah tadi tidak mengajak Lea pulang dan malah meninggalkannya begitu saja di rumah mamanya.
"Di rumah tante Melindalah, yakali pulang," jawab Ziko mengompori yang malah diangguki oleh Zen.
"Emangnya dia enggak takut aku marah?" tanya lagi El.
"Ya enggaklah, ngapain takut denganmu kalau backingannya tante Melinda," jawab Ziko lagi yang diangguki oleh Zen.
El membuang napasnya gusar.
"Bagaimana jika foto Lea benar dijadikan sampul majalah? Pasti para pria di luaran sana akan membeli majalah itu hanya untuk dipandangi sampulnya," gumam El yang kini mulai menebak- nebak dan was- was.
"Enggak akan," jawab Ziko sok tahu.
"Tapi tadi kau lihat sendiri kan bagaimana mereka berantusias memfoto Lea, bagaimana jika foto itu benar dijadikan sampul majalah dan menjadi booming pasti Lea bakal dijadikan brand ambasador mereka, aku tidak ingin Lea menjadi seorang model," bantah El lagi.
"Yaudah cabut aja investasi yang pernah kau tanam pada mereka," suruh Ziko pada El.
"Tapi jika kucabut investasinya, mama akan sangat marah denganku," protesnya yang terlihat bimbang.
"Yaudah itu artinya kau harus membiarkan foto Lea dijadikan sampul oleh mereka, kan enak pas nikahan dapat sponsor dari mereka," ujar Ziko membuat El berdecak.
"Aku tidak mau foto Lea dijadikan sampul majalah, tapi aku juga tidak berani mencabut investasinya, pasti mama nanti bakalan marah banget, tapi nanti foto Lea dijadikan sampul, gimana dong Zik, bimbang banget sekarang," rengeknya dengan segala kebimbangannya.
CIT
Tiba- tiba Ziko menghentikan mobilnya lalu turun dari mobil.
Ia lalu menarik tangan El untuk keluar dari mobil.
Zen yang melihat hal itu dibuat menganga tak percaya.
Ziko kembali masuk ke dalam mobil dengan helaan napasnya.
__ADS_1
"Akhirnya beban mobil telah dikeluarkan," gumamnya sembari melajukan mobilnya meninggalkan El di jalan.
Zen melihat El yang ditinggal di pinggir jalan dengan tak percaya.
"Yaaa, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah tak butuh pekerjaan hingga bosan hidup?" tanya Zen yang kini merasa was- was sendiri dengan nasibnya.
Ziko diam sejenak namun detik kemudian mencoba bodoh amat.
"Salah siapa udah dikasih jawaban masih aja nanya mulu, ulah- ulahnya sendiri, cemas- cemas sendiri, aku menurunkannya di jalan hanya untuk membantunya menyelesaikan masalah, agar ia kembali ke rumah tante Melinda untuk memeriksa apaka Lea masih berada di sana atau sudah pulang," jawab Ziko dengan begitu enteng dan gamblangnya.
Zen menghela napas gusar dan menyandarkan punggungnya di kursi penumpang.
"Entah bagaimana nasibmu nanti setelah pulang. Jika aku yang menjadi El, sudah pasti aku akan memenggal kepalamu," gumam Zen yang tak habis pikir dengan Ziko.
"Kita makan dulu ya," ajak Ziko yang langsung belok ke restauran.
"Astaga, ia bahkan masih memikirkan makan disaat hidupnya sisa beberapa jam," gumam lirih Zen yang hanya bisa pasrah saat ini mengingat mereka belum sarapan juga tadi karena terburu- buru ikut El.
Keduanya turun dari mobil dan segera masuk ke dalam restauran untuk mengisi energi.
Ziko memesan banyak menu karena ia sangat lapar dan ini juga sudah waktunya makan siang.
Tak lama makanan datang membuat Zen sedikit heran dengan menu yang Ziko pesan.
Zen menghela napas pelan sembari meraih sepiring steak dan nasi merah.
"Apa kau sungguh bisa makan semua ini setelah melakukan hal tadi pada El?" tanya Zen sembari memotong steaknya.
"Tenang saja, backinganku tante Melinda," jawabnya sembari makan begitu lahap sekali.
"Tapi kau bekerja dengan El tolol, mereka masih satu keluarga, kau pikir tante Melinda akan menerimamu setelah kau menelantarkan putranya di jalan?" jawab Zen dengan sedikit emosi.
Ziko menghentikan kunyahannya dan terlihat sedikit sadar.
"Iya juga ya," gumamnya yang sepertinya mulai sadar dengan apa yang ia lakukan barusan.
"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Kira- kira El sudah pulang ke mansion atau masih di tepi jalan?" tanyanya yang kini mencemaskan El.
"Kau baru sadar sekarang setelah kau buang tuanmu di tepi jalan, aku ingin sekali membawamu ke dapur restauran dan memanggang punggungmu, kenapa ada anak buah sepertimu," gerutu Zen yang tak habis pikir dengan sikap berani Ziko.
"Yaudah lah mau gimana lagi, udah terlanjur juga, setelah makan kita ke sana lagi," ucapnya yang kembali melanjutkan makannya dengan segera.
Setelah selesai makan, Ziko segera memanggil waiters untuk membayar billnya.
"Jadi semua berapa mas?" tanyanya sembari mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Totalnya 700 euro," jawab waiters itu sembari memberikan billnya dan mesin EDC.
Ziko menggesekkan kartunya dan betapa terkejutnya ia kala melihat kartunya dibekukan.
Zen yang melihat raut wajah Ziko saat ini rasanya ingin memuntahkan kembali semua makanan yang tadi ia makan.
"Kenapa?" tanyanya sedikit berbisik pada Ziko.
"Bangsat, semua kartuku dibekukan?" Zen membulatkan kedua matanya dan segera meraba jaket dan saku celananya.
Kosong.
Ia lupa membawa dompetnya karena terburu- buru tadi.
"Argh ****, kenapa dompetku ketinggalan," umpat Zen membuat Ziko berusaha tetap tenang sembari memasukkan dompetnya.
Ziko langsung beranjak dari kursinya dan menatap waiters tinggi dan kekar itu.
"Mas kenal saya?" tanyanya pada waiters.
"Tidak," jawabnya dengan singkat dan cepat.
"Mas tahu media sosial saya?" waiters itu menggelengkan kepalanya.
"Seandainya kita bertemu lagi di jalan mas masih ingat saya?" tanyanya dengan terus menerus membuat Zen geram dan waiters itu dengan sabar melayaninya.
"Mungkin," jawab waiters itu membuat Ziko manggut- manggut sembari melirik Zen.
"ZEN LARI!" teriak Ziko yang kemudian berlari tunggang langgang membuat Zen melebarkan kedua matanya tak percaya.
Zen dengan cepat beranjak dari kursinya untuk menyusul Ziko yang sudah terbirit- birit keluar dari restauran.
"Tuan mau kemana? Siapa yang akan membayar semua ini?" tanya waiters itu sembari mencekal lengan Zen.
"Tapi yang pesan dia," bantahnya pada waiters.
"Anda juga ikut makan bukan?" Zen diam tak menjawab.
"Lalu bayar tagihannya," pintanya pada Zen.
Zen mengetatkan rahangnya sembari menatap waiters itu dengan tangis yang ia tahan sebisa mungkin.
"ZIKO BANGSAT!" teriaknya dengan penuh penekanan dan kekesalan kala dirinya diseret oleh waiters itu ke ruang manager.
"Kini aku percaya jika hari sial tidak ada di kalender. Awas aja kau besok, aku akan menggantungmu di markas dan mengulitmu hidup- hidup," gerutu Zen yang benar- benar kesal dan marah dengan Ziko.
__ADS_1