ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 135


__ADS_3

Brugh


Zen langsung mendorong Van hingga punggungnya menabrak meja bar.


"ZEN!" tekan Tera kala melihat Zen tiba- tiba saja datang dan merusuh.


"Apa- apaan sih, dateng main dorong orang sembarangan,” ketus Van sembari melemparkan tatapan sinis pada Zen.


"Jangan manfaatin perempuan yang lagi mabuk kalau kau memang pria sejati,” oloknya pada Van dengan nada suara yang sedikit tinggi juga penuh dengan penekanan.


Tera menyambar tasnya dan berusaha membawa pergi Zen dari sana sebelum urusannya panjang.


“Memang apa urusannya denganmu? Apa kau kekasihnya?” tanya Van dengan sengit.


“Udah Zen, ayo kita pergi,” ajak Tera sembari menarik tangan Zen untuk pergi dari sana.


“Ya, aku kekasihnya. Kenapa, kau tidak tahu soal itu?” tanya Zen dengan lantang dan penuh percaya diri hingga membuat beberapa dari mereka menatapnya.


Tera yang mendengar pengakuan Zen barusan sedikit tersentak kaget.


Van tampak menyunggingkan senyum miringnya, ia terlihat tak percaya dengan pengakuan Zen barusan.


"Oh ya? Tapi Tera tidak pernah mengatakan jika dia mempunyai seorang kekasih? Bukankah itu artinya aku bebas untuk mendekatinya? Sepertinya cintamu ditolak,” ejek Van membuat Zen menyipitkan tatapannya.


Zen langsung merengkuh pinggang ramping Tera untuk lebih dekat dengannya.


“Diakui atau tidak itu urusanku, mulai dari sekarang batasi dirimu sendiri untuk tidak berdekatan dengan milikku,” tegasnya pada Van dengan begitu gentlenya.


Tera yang mendengar hal itu entah kenapa merasa jika perutnya kini sedang digelitiki.


Rasanya sangat geli dan sedikit memualkan.


“Tidak bisa begitu, selama Tera tidak mengakuimu, aku bebas untuk bersamanya,” katanya sembari berusaha untuk meraih tangan Tera.


“Maaf Van, aku tidak bisa,” tolak Tera membuat Van dan Zen menatapnya.


“Tidak bisa untuk apa? Bukankah kamu bilang jika kamu tidak ada hubungannya lagi dengan Zen?” tanyanya dengan sedikit takut jika Tera akan memilih Zen dibanding dirinya.


“Ya, aku memang mengatakan hal itu, tapi itu dulu. Sekarang,” Tera menjeda ucapannya di mana pelukan Zen sedikit erat pada pinggangnya.


Tera menoleh di mana tatapan mereka saling bertemu.


“Aku kembali jatuh cinta dengannya,” lanjutnya dengan sedikit keras tanpa mengalihkan tatapannya.


Zen yang mendengar pengakuan Tera barusan mendadak ingin pingsan saat ini juga.


Kakinya sedikit bergetar, jantungnya begitu berdebar dan kedua matanya tampak berbinar.


 Apa Zen baik- baik saja?


Takutnya dia pingsan dan mimisan.


Zen langsung ******* bibir manis Tera tepat di hadapan Van.

__ADS_1


Van langsung memalingkan muka dengan suara decakan kerasnya.


Ia langsung pergi begitu saja dengan umpatan kasar.


Keduanya langsung tersadarkan dari ciuman memabukkan itu kala mendengar suara gemuruh tepuk tangan dan cuitan dari para pelanggan club.


Zen tersenyum lebar sembari mengedarkan pandangannya.


“DIA MILIKKU SEKARANG!” teriak Zen pada mereka semua.


Mereka kembali berteriak dan bersorak untuk Zen kala ia mengucapkan hal manis tersebut.


Tera kini hanya bisa tersenyum malu dan merasa menjadi wanita paling bahagia untuk malam ini.


Zen langsung memeluk erat Tera dan beberapa kali mencium puncak kepalanya.


•••


Keesokan paginya, Alvino serta yang lain baru saja datang ke markas setelah beberapa hari mengunjungi kekasih mereka.


Terlihat Ziko tampak duduk di ruang tengah sembari menatap Zen yang senyam- senyum sembari berguling-guling di sofa.


"Ada apa dengannya?" tanya Sarvel yang langsung duduk di samping Ziko.


Ziko menoleh, menatap Alvino dan lainnya.


"Aku baru datang dan melihat dia sudah gila seperti ini," jawab Ziko yang juga bingung dengan sikap Zen.


Glen lalu mendekati Zen.


"Tentu. Kenapa kalian sangat aneh?" tanya balik Zen membuat mereka berempat saling menatap satu sama lain.


"Kita? Aneh? Padahal dia yang bersikap gila. Kenapa jadi kita yang disangka aneh," dumel Ziko tak terima kala Zen mengira mereka yang aneh.


Kring


Zen dengan cepat langsung meraih ponselnya yang bergetar di atas meja.


Semua mata tertuju pada Zen yang sibuk berdeham sebelum mengangkat teleponnya.


"Apa ia sedang telpon dengan jenderal? Kenapa berlagak seperti itu," dumel Alvino yang heran dengan sikap Zen.


"Halo," semua membungkam mulutnya kala Zen bersuara LAKIK, lebih tepatnya serak basah, yah ada bariton- bariton nya gitu.


Zen menatap mereka satu persatu dengan bibir yang tak bisa menahan senyumnya.


Sontak Zen bangkit dari sofa dan pergi ke luar.


"Apa sikapnya masih bisa dibilang waras?" tanya Sarvel yang sudah geram sejak tadi.


"Hampir gila," jawab Alvino yang langsung beranjak dari sofa untuk melihat Zen.


Sontak semua langsung mengikuti Alvino.

__ADS_1


Terlihat Zen berada di taman markas, mencabuti semua bunga-bunga cantik itu selagi berteleponan.


"Kita bisa dibunuh El jika dia tahu bunga kesukaan Lea habis dibabati Zen gila itu," gumam Ziko memberitahu mereka.


"Dengan siapa ia bertelepon? Kenapa roman- romannya ia sedang kasmaran," dumel Alvino yang muak melihat Zen seperti orang gila.


Dan kini taman kotor karena bunga- bunga yang berserakan di atas rumput karena ulah Zen.


"Enggak bisa dibiarin, kita harus mengarahkan Zen ke jalan yang benar," kata Glen yang diangguki oleh mereka semua.


Glen langsung menghampiri Zen diikuti yang lainnya.


Zen tampak biasa aja dan masih dengan bibir yang tersenyum lebar kala melihat Ziko dan lainnya berdiri di depannya.


Glen langsung menarik tangan Zen ke belakang markas diikuti oleh yang lainnya.


Glen melepaskan tangan Zen, melihat reaksinya saat ini.


Mereka berempat saling menatap satu sama lain dengan wajah terkejut kala Zen langsung mencabuti rumput liar di belakang markas.


"Ini lebih baik dibanding mencabuti bunga-bunga di taman," bisik Ziko yang diangguki Glen.


"Tanpa sadar kita punya mesin rumput super canggih," gumam Sarvel sembari menghela napas gusar.


"Apa ini kali pertamanya dia jatuh cinta?" mereka semua mengangguk membuat Alvino membuang napas kasar.


"Meski aku juga kali pertamanya jatuh cinta tapi tidak bersikap gila sepertinya," gumam Alvino yang terlihat sangat putus asa melihat sikap Zen.


Mereka berempat lalu meninggalkan Zen sendiri di sana dan kembali masuk ke dalam markas.


Alvino menghempaskan tubuhnya di sofa diikuti yang lainnya.


"Kalian sudah menemukan dokter gila itu?" tanya Alvino membuka suara.


Semua menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana jika kita pergi sembahyang?" tawari Ziko yang langsung mendapatkan tatapan datar dari mereka bertiga.


Ziko langsung diam, paham dengan tatapan mereka.


"Ayo berangkat," sorak Glen dengan semangat diikuti yang lainnya yang langsung beranjak dari sofa.


Ziko yang melihat hal itu tersenyum tak percaya.


Dengan cepat ia langsung menyusul Glen dan lainnya.


"Kenapa diam aja, ayo cepat berangkat," ajak Ziko kala mereka bertiga hanya diam mematung.


"Mau berangkat gimana, noh kelakuan temenmu," kata Sarvel sembari menunjuk Zen dengan dagunya.


Ziko mengikuti arah tunjuk Sarvel.


Terlihat Zen tampak menyiram semua mobil yang ada dan jangan lupakan ponsel yang masih menempel di telinganya.

__ADS_1


Terdengar helaan napas dari mereka berempat secara bersamaan melihat tingkah aneh Zen.


"Kita buka cucian mobil aja dah, enggak usah sembahyang," tutur Ziko yang kembali masuk ke dalam markas.


__ADS_2