ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 106


__ADS_3

Keesokan harinya, Alvino sudah tampak rapi dengan setelan jasnya.


Ia berada di ruang tengah sembari menunggu Shakila yang tengah dandan.


Ya, ia masih berada di rumah Shakila.


Ia ingin berangkat bersama dengan Shakila untuk menghadiri pernikahan El dan Lea.


Alvino menoleh kala mendengar suara ketukan high heels.


Terlihat betapa cantik dan seksinya Shakila saat ini dengan gaun yang ia pesankan semalam.


"Ayo kita berangkat," ajaknya sembari membenahi rambutnya.


Alvino beranjak dari sofa dan menghampiri Shakila.


Shakila sedikit gugup saat ini kala melihat Alvino mendekatinya tanpa mengalihkan tatapannya saat ini.



"Kenapa? Jelek ya? Atau dandanannya terlalu menor?" tanyanya dengan takut membuat Alvino tersenyum tipis dan merengkuh pinggang ramping itu untuk merapat ke tubuhnya.


"Kau sangat cantik sekali sayang, kau terlihat seperti wanita dewasa," pujinya sembari mencium punggung tangan Shakila.


Shakila yang mendengar pujiannya itu hanya bisa membasahi bibir bawahnya.


Alvino merengkuh tengkuk Shakila dan ******* lembut bibir yang kini akan menjadi candu baginya.


Rasanya ia tak mau melepas pangutan itu kala sudah merasakan manis dari bibir Shakila.


Alvino terlihat semakin agresif dan ciumanya semakin intens.


Perlahan Shakila mendorong dada bidang Alvino untuk menghentikan ciumannya.


Keduanya saling beradu pandang dengan napas yang sedikit terengah.


"Bukankah acaranya pukul 5, kita akan telat jika tak berangkat sekarang," ucapnya dengan gugup membuat Alvino tersenyum dan mengecup singkat sudut bibir Shakila.


"Baik, sepulang dari pernikahan nanti aku akan membuat bibirmu bengkak," ujarnya sembari menggandeng tangan Shakila untuk segera berangkat.


•••


Pantai Scalo Maestro



Ada Glen bersama Flo, Sarvel bersama Berlyn serta dua sejoli somplak yang tengah mengobrol ria sembari menunggu acara di mulai.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana bahagianya El saat ini," seru Flo membuat mereka mengangguk setuju.


"Setidaknya rasa tertekanku akan sedikit berkurang jika ia sudah menikah dengan Lea, mungkin hatinya akan sedikit melembut dan halus, tidak seperti dulu layaknya psikopat," gumam Ziko yang mengingat bagaimana dulu sikap bengis dan kejam El.


"Ibarat kata si buaya dapat pawang yang tepat ya ini," timpali Zen yang sedikit tidak rela kala El bisa mendapatkan Lea namun ia turut bahagia saat tahu betapa tulus dan besarnya cinta El pada Lea.


"GLEN, SARVEL, ZIKO, ZEN. LIHAT AKU! AKU PUNYA PENGGANTINYA LEA, INI TEMAN HIDUPKU. MANA TEMAN HIDUP KALIAN?" teriak Alvino yang baru datang sembari menggandeng tangan Shakila membuat semua tamu undangan memberikan tepuk tangan dan cuitan.


"Yaa, apa kita tidak salah lihat?" tanya Ziko yang sedikit terkejut dengan kejutan ini.


"Si anjing dari kutub utara udah jinak? Imut bener pawangnya," gumam Glen yang juga terkejut kala melihat Alvino dan Shakila.


"Ternyata dewa itu adil ya, Alvino yang suka emosian dan memiliki kesabaran setipis tisu dewa pasangkan dengan gadis imut- imut seperti itu, kan jatuhnya ia seperti pedofil," komentar Sarvel yang tah habis pikir dengan kejutan ini.


"Bagaimana bisa ia mendapatkan gadis seimut itu padahal ia menyebutkan nama dewa yang salah, kenapa aku jadi ragu- ragu jika sebenarnya dewa mahabarata itu ada, tapi kan dikitab enggak ada nama dewa mahabarata," gumam Zen yang lebih tak percaya kala doa Alvino terkabul meski menyebutkan nama dewa yang salah.


Alvino dan Shakila kini sudah berada di depan mereka.


"Hei Flo, Berlyn," sapa Alvino pada mereka.


"Hei. Anak siapa yang kau bawa?" tanya Flo sembari melemparkan senyum ramah ke arah Shakila.


"Dia wanitaku, namanya Shakila, minggu depan baru lulus SMA," ujarnya memperkenalkan Shakila pada mereka semua.


BYUR


"ZIKO!" tekan Alvino menahan amarahnya sebisa mungkin di depan Shakila meski ia sudah ingin sekali melahap kepala Ziko.


"Maaf- maaf itu semburan otomatis, aku tidak berniat membaptismu," ucap Ziko sembari membersihkan jas Alvino yang terkena semburan minumannya.


"Tunggu, jadi dia masih SMA?" tanya Glen memastikan dan diangguki oleh Avino dengan bangganya.


"Astaga, jika tahu jodohnya anak SMA, kenapa tidak kita pangkalkan saja dia dari dulu di semua SMA yang ada di Milan, agar ia tidak menjadi pribadi yang keras dan emosian," gumam Sarvel yang sedikit syok dengan kenyataan barusan.


"Ternyata masih SMA. Dewa Mahabarata adil banget, untung dijodohkan dengan gadis SMA bukan drupadi, argh aku hampir gila hanya karena menyakini dewa mahabarata yang tidak jelas asal usulnya ini," gerutu Zen yang kesal sendiri.


Sedangkan di tempat lain ada Oliv dan Nico yang ingin memberikan Lea kejutan.


Perlahan Oliv membuka pintunya dan benar saja terlihat Lea tengah dirias.


__ADS_1


"SURPRISE!" sorak Oliv membuat Lea melihat ke pantulan cermin.


Betapa terkejutnya Lea kala melihat papanya yang duduk di kursi roda yang saat ini tengah di dorong Nico menghampirinya.


"Papa," sapanya dengan penuh syok dan keterkejutan.


Lea langsung memeluk Cornelio dengan penuh haru dan rindu.


"Bagaimana bisa, bukankah papa masih terbaring terakhir kali Lea menjenguk?" tanya Lea yang tak percaya.


"Semua ini berkat menantuku, ia mendatangi papa di LA hanya untuk minta doa restu, mungkin kala itu papa tidak sadarkan diri saat El datang beberapa kali menjenguk papa hanya untuk mengobrol sendiri atau minta restu, tapi berkat Nico, papa merestui kalian setelah melihat bagaimana tabiat dan sikap El yang serius untuk memilikimu, Nico menceritakan segalanya pada papa saat papa siuman tepatnya kemarin lalu, bahkan putraku ini, ia memasang cctv di ruangan papa hanya untuk memantau perkembangan papa. Dan papa juga bisa melihat sendiri dalam rekaman itu El datang beberapa kali tanpamu," jelas Cornelio panjang lebar membuat Lea menitikkan air matanya.


"Maafin Lea pa, Lea sampai jarang menjenguk papa, bahkan Lea tidak tahu jika papa sudah siuman," ucapnya dengan penuh sesal.


"Tidak apa- apa sayang, papa tahu kamu di sini sibuk mengurus anak cabang perusahaan kita. Papa sengaja melarang Nico untuk memberitahumu, dan ini sekaligus permintaan dari El sebagai kejutan untukmu," beritahunya pada putrinya.


Lea tersenyum manis kala mendengar hal itu.


Lea menatap Nico dengan mata yang berkaca- kaca.


Nico lalu mendekati Lea dan merengkuhnya ke dalam pelukan layaknya seorang kakak laki- laki.


"Terima kasih sudah menjadi kakak untukku dan terima kasih banyak sudah menjaga dan merawat papa dengan baik," ucap Lea pada Nico.


"Apa yang kau bicarakan, kau keluargaku, tentu aku harus menjaga dan merawat papa," jawab Nico sembari menahan air matanya dan mengusap pelan punggung Lea.


Lea menguraikan pelukannya dan beralih menatap Oliv.


"Apa kamu tak akan memelukku?" Oliv tersenyum dan langsung memeluk Lea begitu erat.


"Kau sangat cantik sekali hari ini, aku sangat iri denganmu," ucapnya dengan bergetar membuat Lea tak bisa menahan tangisnya.


Oliv langsung menguraikan pelukannya dan mengusap pelan air mata Lea.


"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang," guraunya membuat Lea tertawa kecil.


Nico merengkuh pinggang ramping Oliv tepat di depan Lea dan Cornelio.


"Oh ya pa, Lea. Nico mau memberitahu kalian," ujarnya dengan serius.


"Nico dan Oliv akan segera menikah, mohon doa restu dari kalian," Lea dan Cornelio saling bertatapan dan tersenyum dengan penuh haru dan bahagia.


"Sungguh? Arghh aku sangat bahagia mendengarnya," ujar Lea yang ikut bahagia mendengar kabar tersebut.


"Oke, setelah pernikahan adikmu usai, kita langsung adakan pernikahanmu, bagaimana?" tawari Cornelio pada Nico.


tok tok


Semua menoleh kala pintu diketuk.


"Maaf nona, acara akan segera dilangsungkan, mohon bersiap sebentar lagi," beritahu pengawal itu pada Lea.


"Baik, aku juga sudah selesai," jawab Lea membuat pengawal itu tersenyum manis dan mengangguk pelan.


•••


Kini Lea digandeng oleh Nico dan Oliv berjalan menuju ke El dan pendeta yang sudah menunggunya di atas kuade.


Semua mata kini tertuju pada Lea, di mana tatapan mereka begitu menggambarkan betapa terpesonanya mereka dengan kecantikan Lea saat ini.


Jangankan orang lain, El sendiri kini hampir tak berkedip saat melihat betapa cantiknya Lea sekarang.


Nico memberikan tangan kanan Lea pada El sembari berbisik sesuatu.


"Akan kuhancurkan setiap tulang tubuhmu jika kau membuat ia mengeluarkan setetes air mata setelah hidup bersamamu. Masih baik aku memberimu ampun atas apa yang kau lakukan pada Oliv," bisiknya pada El.


"Akan kupastikan kau menyaksikan betapa bahagianya adik perempuanmu saat hidup bersamaku. Tak akan kubiarkan ia bersaing dengan wanita manapun apalagi menitikkan air matanya, kau bisa memegang ucapanku," jawab El sembari mengerlingkan sebelah matanya.


Nico dan Oliv lalu duduk di kursi karena pendeta akan memulai pernikahannya.


El menggandeng erat tangan Lea di mana sejak tadi tatapan El begitu lekat sekali pada Lea.


Tadinya El ingin membuat pernikahan yang besar mewah nan megah dengan pesta 7 hari 7 malam saking bahagianya begitu juga dengan Tesa yang sudah riwuh sendiri untuk menyiapkan dekorasinya.


Sayang sekali semua itu hanya bayangan kala Lea meminta pada El untuk mengadakan pernikahan yang sederhana di pantai.


Dan El mengabulkan permintaan Lea yang baginya tak ada apa- apanya tersebut.


Karena pernikahan mereka tidak memakan banyak biaya lebih tepatnya begitu sederhana, alhasil El menyerahkan segala asetnya atas nama Lea sebagai gantinya.


Begitu juga dengan Tesa yang memberikan setengah asetnya untuk menantu tercintanya.


Karena Lea, El menjadi mengerti jika semua yang berharga bukan bernilai dari seberapa banyak uang yang kamu keluarkan melainkan dengan siapa kamu menikmatinya.


"Kalian siap untuk dinikahkan sekarang?" tanya Pendeta pada mereka berdua.


El mengangguk begitu antusias membuat Lea tersenyum dan ikut mengangguk.


Pendeta memulai untuk menuntun mempelai pria mengucap janji sucinya.

__ADS_1


Setelah selesai kini pendeta beralih pada Lea.


"Disaksikan oleh mereka semua, kini kalian telah sah menjadi sepasang suami istri," tegas pendeta pada mereka berdua dengan suara lantang.


Sontak suara tepuk tangan dan cuitan dari para tamu undangan memenuhi suasana.


El terlihat meneteskan air matanya saking bahagianya sekarang ini.


Ia menangis tanpa rasa malu saat ini sembari menggenggam erat tangan Lea.


"Cieee yang udah nikah, kapan nih bulan madunya," teriak Glen menggoda El.


"Seorang El Zibrano nangis? Cemen kali kau," kini giliran Sarvel yang berteriak.


"Ayo El buat anak yang banyak," tambahi Alvino yang ikut meneriaki.


Zen menatap Ziko yang hanya diam saja sembari membasahi bibirnya.


"Kau tak ingin berteriak juga seperti yang lainnya?" tanyanya penasaran kala manusias somplak itu hanya diam saja sejak tadi.


"Enggak, kartuku masih dibekukan, aku tidak boleh banyak tingkah," jawabnya sembari menyeka air mata yang hampir jatuh tersebut.


Zen tersenyum karena melihat Ziko yang tengah menahan tangisnya.


"EL KATA ZIKO KAU PECUNDANG SEKALI, MAFIA BERHATI YUPI," teriak Zen dengan tiba- tiba membuat Ziko panik kala El melemparkan tatapan sinisnya padanya.


"Yaaa, apa kau sengaja ingin aku mati di tangannya?Hidupku di tepi jurang kau malah menggantungku di tengah jembatan, rese' banget sih jadi orang," marahnya pada Zen membuat Glen dan yang lain tertawa melihatnya.


El kini langsung ******* bibir manis Lea saking bahagianya.


Teriakan histeris dan cuitan dari tamu undangan benar- benar memenuhi suasana pernikahan.


Tesa dan Cornelio terlihat begitu bahagia dan penuh haru saat ini.


"Yaaa, saatnya pelemparan bunga," kata Glen yang terlihat begitu antusias.


"Tunggu apalagi, cepat kita maju," seru Sarvel yang langsung menarik tangan Glen untuk maju ke depan.


Flo dan Berlyn yang melihat tingkah prianya hanya bisa tersenyum.


"Astaga, mereka sudah memiliki pasangan bagaimana bisa mereka masih berebut bunga?" gumam Zen yang heran.


Lea dan El lalu bersiap untuk melempar bunganya.


Tepat pada hitungan ketiga bunga putih itu terlempar ke belakang.


Glen dan Sarvel dengan kompak melompat begitu tinggi untuk bisa mendapatkan bunganya.


HAP


Bunga itu terkoyak menjadi dua, di mana Sarvel dan Glen sama- sama mendapatkannya.


Dengan cepat mereka berlari ke belakang membuat semua mata mengikuti kemana mereka pergi.


"Nah Zik, buat lo," ujar Glen sembari memberikan bunganya pada Ziko.


"Dan ini untukmu pria kemayu," seru Sarvel sembari memberikan bunganya pada Zen.


Ziko dan Zen saling menatap satu sama lain membuat mereka semua tertawa melihatnya.


"Kenapa jadi kita yang mendapatkan bunganya?" tanya Ziko dengan bingung.


"Kan tinggal kalian berdua yang belum mempunyai pasangan, jadi itu bunga buat kalian," ujar Glen sembari merangkul bahu Ziko.


"Dengan begini kau akan segera menemukan belahan hatimu yang sekarang entah masih berada di belahan bumi bagian mana," beo Sarvel pada Zen.


"Aku sungguh terharu dengan sikap mulia kalian berdua, maaf sudah berburuk sangka pada kalian," ucap Zen dengan senang hati.


"YAAA, CEPAT NAIK KE ATAS SINI, KITA FOTO BERSAMA," teriak El membuat Glen dan lainnya menoleh.


Dengan cepat mereka langsung menggandeng wanita mereka masing- masing untuk segera naik ke atas kuade dan melakukan foto bersama.


Kini tinggal Zen dan Ziko yang saling bertatapan.


"Bagaimana jika kita saling bergandengan?" tawari Ziko membuat Zen langsung berlari tunggang langgang.


"Kenapa dengan orang gila itu, aku berniat baik untuk mengajaknya bergandengan malah lari," gerutu Ziko yang berjalan santai untuk menyusul yang lainnya.


Mereka lalu melakukan foto bersama dengan begitu girang dan senang sekali.


Mereka lalu berlarian di pasir dan saling kejar- kejaran.


El yang melihat hal itu dibuat tersenyum bahagia dan penuh haru.


"Aku sangat bahagia sekali hari ini, " bisiknya sembari mengecup singkat pipi chubby Lea.


Lea tersenyum dan mengusap pelan pinggang El sembari memandangi teman- teman El yang tengah berlarian begitu bahagia di tepi pantai.


__ADS_1


__ADS_2