
Keesokan paginya, Lea sudah siap untuk berangkat ke bandara.
Di mana ia tampak paling antusias sejak semalam.
Bahkan saking antusiasnya ia untuk pergi hari ini, tuan El semalaman penuh memeluknya erat tanpa memberikan kelonggaran pada Lea untuk lepas.
Tak hanya itu, El bahkan terus merusuh saat semalam Lea tengah berkemas juga terus merengek layaknya anak kecil yang akan ditinggal pergi oleh ibunya.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka bertiga," gumamnya yang langsung menarik kopernya keluar dari kamar dan menaiki lift untuk bisa sampai di lantai satu.
"Entah kenapa aku sedikit merasa lega dan leluasa kala ia tidak bisa mengantarku ke bandara pagi ini, bagaimana tidak semalam ia memelukku begitu erat tanpa melepasnya, apa ia tidak merasakan kebas di tangannya? Bagaimana bisa ada pria sepertinya?Ahhh apa aku istri durhaka?" gumam Lea sendiri saat memikirkan bagaimana semalam El yang begitu over manjanya.
Ya, El tidak bisa mengantar istri tercintanya ke bandara.
Dan kalian kira ia akan membiarkan sang istri pergi begitu saja tanpa ada sesuatu yang ia lakukan?
"Ah entah kenapa perasaanku tidak enak? Aneh rasanya jika ia tidak melakukan sesuatu yang gila," gumam Lea sembari menarik kopernya keluar dari lift di mana ia beberapa kali menggelengkan kepalanya karena merasa tak enak hati.
"SELAMAT PAGI NONA!" sapa para pengawal saat Lea membuka pintunya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Lea dengan sedikit syok juga tak percaya kala melihat penampilan para pengawal El yang memakai kaos serba hitam dengan tulisan putih di depan dada bertuliskan PENGAWAL ISTRI EL ZIBRANO.
"Kami akan mengantar nona," jawab salah satu dari mereka.
"Ke bandara?" tanya Lea memastikan.
"Ke Washington," jawab mereka dengan kompak sembari mengangkat tiket pesawatnya masing- masing.
Lea dbuat terperangah dengan hal itu dan membuka mulutnya tak percaya.
"Yaaa, apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membeli tiket?" tanya Lea dengan tak percaya.
"Kami diperintahkan tuan untuk mengawal anda selama di Washington," beritahunya pada Lea.
Lea menyugar rambutnya ke belakang dengan helaan napas gusarnya.
"Tidak, aku bisa berangkat sendiri. Kalian tetaplah di sini," perintahnya pada mereka sembari menarik kopernya.
"Kalau begitu anda tidak diperkenankan meninggalkan mansion tanpa kami semua," ucap salah satu pengawal yang langsung menghalangi langkah Lea.
__ADS_1
Lea membuka mulutnya tak percaya dan membuang napas berat.
"El sialan," umpatnya yang kini hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan apapun.
Alhasil mereka berangkat ke bandara bersama- sama.
Lea yang setiap kali melihat tulisan yang ada pada kaos hitam pengawal merasa geli juga ingin tertawa.
Antara senang juga malu.
"Kutaruh mana mukanya nanti saat sampai bandara?" gumam Lea yang terlihat sangat tertekan dengan sikap suaminya yang over protektif.
Lea melihat pengawal yang tengah mengemudikan mobilnya tersenyum tipis.
"Kenapa kalian begitu patuh sekali dengan perintahnya? Apa kalian tidak bisa menurut saja sekali dengan perintahku?" tanya Lea heran dengan pengawal El.
"Maaf nona, sudah hampir 6 tahun kami bekerja dengan tuan El. Tidak ada kesejahteraan untuk kami selain nyawa sendiri jaminannya. Mungkin jika kami tidak mematuhi ucapan nona, nona hanya akan marah atau memecat kami. Beda urusannya kalau kita membelot dari perintah tuan El, selain kepala dan tangan yang dipenggal, tuan El bisa menutup usia kita dengan cepat, kami hanya ingin hidup lebih lama nona, apalagi kami juga belum menikah," jawab pengawal itu dengan panjang lebar dan terdengar sangat lucu.
Lea yang mendengar jawabannya hanya tersenyum tipis sembari menatap keluar jendela.
•••
Di mana ia sangat menunggu telpon dari pengawal yang ia titipi untuk menjaga dan mengawal Lea sampai dengan selamat di Washington.
"Yaaa, kapan kau mulai rapatnya? Mereka sudah menunggumu seperti ini sejak 30 menit yang lalu," bisik Ziko yang begitu gemas dan geram dengan sikap El saat ini.
El mengangkat kepalanya melihat koleganya yang terlihat menunggu arahan darinya.
"Tunggu 15 menit lagi, aku harus melihat istriku naik pesawat baru kita mulai rapatnya. Jika kalian keberatan, bisa keluar sekarang. Untuk yang ingin kontrak denganku, kalian bisa menunggu sebentar," beritahunya pada mereka semua membuat Ziko membuka mulutnya tak percaya.
"Gila, bagaimana bisa ada orang sepertinya?" gumamnya yang heran dengan sikap El yang over gilanya pada Lea.
El langsung mengangkat telepon dari pengawalnya kala ponselnya berdering.
"Halo, bagaimana? Apa kau sudah sampai bandara?" tanyanya dengan menggebu.
"Sudah tuan," jawabnya membuat El tersenyum lebar dan langsung menyandarkan punggungnya di kursi dengan lemas saking senangnya di mana ia sepertinya lupa jika kini sedang berada di kantor dan tengah disaksikan oleh para koleganya.
Kalau Ziko mah udah muak mual muntah lihat kebuncinan El.
__ADS_1
Jadi bisa dikatakan ia sudah terbiasa dengan sisi lain dari El.
Berbeda dengan para kolega yang terlihat terkejut tertegun terperangah melihat sikap lucu nan manis El.
"Maklum, masa pubertas jadi sedikit child," ucap Ziko pada para kolega El.
"Coba fotokan," pinta El pada pengawalnya.
"Baik tuan, tunggu sebentar," ujarnya yang langsung dengan sigap memotret Lea untuk dikirimkan kepada El.
El terlihat cengar- cengir kala melihat foto istrinya.
"Kenapa ia terlihat sangat cantik dan begitu menggemaskan meski tidak terlihat wajahnya," gumamnya yang memuji kecantikan Lea saat ini.
"Jaga istriku dengan baik, pastikan ia selamat dan aman saat mendarat di Washington. Dan jaga ia baik- baik selama di sana, laporkan apapun kegiatannya dan siapa saja yang ia temui, kau paham?" pesannya pada pengawalnya.
"Paham tuan," jawab pengawal itu.
"Baiklah, telpon aku saat kau sudah sampai nanti," pesannya lagi pada pengawalnya.
"Baik tuan."
El lalu mengakhiri teleponnya di mana ia masih terlihat cengar- cengir tanpa sadar jika semua mata tertuju padanya.
"Kau menelpon pengawal untuk tahu keadaan Lea, kenapa kau tidak menelponnya sendiri saat kau bisa melakukan itu, hah?" tanya Ziko dengan geram juga geli melihat kebucinan El.
"Aku takut dia marah padaku, jadi aku tidak berani menelponnya, setelah sampai Washington saja aku akan menelponnya," jawab El sembari mengamati foto Lea.
Ziko menggenggam erat bolpoinnya kala mendengar jawaban El.
"Baik ayo kita mulai rapatnya," ujarnya sembari membuka laptopnya.
Mereka menahan senyumnya sebisa mungkin kala memiliki kesempatan untuk melihat sisi lain dari El Zibrao.
Ternyata selain kejam dan bengis El Zibrano memiliki hati yupi tulang rangu.
Hehe bercanda.
__ADS_1