ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 88


__ADS_3

Markas Klan Wolf


Mungkin jika kemarin markas ini mendadak jadi tempat urut, berbeda dengan hari ini.


Sekarang teah berganti menjadi tempat pijat.


Yah setelah 2 hari menjelajah di hutan, tidak- tidak lebih tepatnya tersesat, siang ini mereka baru saja datang setelah dicari oleh anak buah yang El kerahkan.


Dan mereka pulang dengan keadaan yang sulit berjalan.


Lebih tepatnya seperti seorang zombie.


Jalan sempoyongan.


"Gara- gara pengawal sialan itu kita tersesat, coba aja waktu itu dia tidak pakai masker putih gitu, kan enggak bakalan tersesat kita, udah pulang dari kemarin," dumel Alvino yang tak ada hentinya menyumpah serapahi pengawal yang kemarin malam menyusul mereka.


"Kapan kau akan berhenti mengomel, telingaku sudah mengeluarkan nanah hanya karena umpatanmu," ucap Sarvel dengan lemah sembari menikmati pijatan pengawal.


"Setelah kakiku sembuh, aku akan segera kembali ke Washington, aku sudah tak tahan lagi berada di sini bersama kalian," ujar Zen membuat semua mata tertuju padanya.


"Salah siapa kau ikut bergabung dengan kami, makanya jangan suka nipu, kena imbasnya kan?" Zen dengan santainya mengangguk.


Alvino melihat Glen dan Ziko tampak diam sejak tadi.


"Kalian berdua kenapa?" tanya Alvino pada mereka berdua.


"Aku sedang memikirkan bagaimana caranya untuk balas dendam dan menghajar Ziko, karena dia bukannya untung, kita selalu sial setelah sembahyang kemarin, Flo juga tak kunjung menelponku untuk memberitahukan jika ia batal menikah atau memintaku untuk menjemput di bandara," tekannya dengan pelan di mana tatapannya tak teralihkan dari Ziko.


"Tenanglah, para dewa juga butuh waktu untuk mengabulkan doa kita. Bagaimana jika kita pindah saja ke Gereja? Di sana sembahyangnya tidak terlalu berat, yang terpenting kau bisa menyanyi," usul Ziko membuat Zen ingin sekali melepas kepala Ziko atau menjahit bibirnya.


"Emang ada sembahyang hanya nyanyi aja?" tanya Sarvel yang malah meladeni ajakan Ziko.


Ziko mengangguk dengan mantap.


"Bagaimana kalian mau mencobanya?" tanya Ziko pada mereka berempat.


"Berapa lama nyanyinya?" tanya Glen dengan sedikit ketus.


"Tidak lama, hanya sekitar 2 jam," jawabnya dengan gamblang membuat mereka semua langsung membulatkan matanya dan dengan serempak melemparkan bantal sofa pada Ziko.


"Kau saja yang menyanyi, aku tidak ingin melakukannya, yang sujud kemarin sudah cukup membuatku trauma," tolak Alvino dengan terus terang.


"Orang gila mana yang akan menyanyi selama itu jika bukan kau," olok Glen dengan kesal.


"Tapi 2 jam itu adalah waktu yang sebentar jika kalian menikmati lagunya, kalian juga bisa mengasah vokal kalian," katanya yang masih berusaha merayu mereka berempat.


"Menikmati apanya, yang ada setelah 2 jam selesai menyanyi kau kehilangan pita suaramu, dasar tolol," olok Zen yang sudah geram dengan sikap Ziko.


Ziko menghembuskan napas gusar kala tak ada satupun dari mereka yang mau diajak beribadah kembali.


"Kenapa kalian tidak percaya denganku, padahal para biksu kemarin begitu memuji ibadah kita. Bahkan mereka mengatakan jika kita sangat pantas menjadi Bhante setelah mereka mengamati ibadah kita yang begitu lama sekali," gumam Ziko dengan pelan yang mana hal itu masih bisa didengar oleh yang lainnya.


Tok tok


Semua menoleh saat pintu diketuk.


Pengawal itu langsung menghampiri Ziko.


"Maaf tuan ada info dari tuan El," lapornya pada Ziko.


"Tidak menerima semua info kecuali info mendapatkan hatinya Lea," kata Ziko yang sudah lelah dengan El.


Pengawal itu langsung membisikkan sesuatu pada telinga Ziko.


Ziko dengan sedikit terkejut membulatkan kedua matanya kala mendengar hal itu.


"Cepat bawa senjata kalian, kita ke mansion El sekarang," intruksi Ziko dengan tiba- tiba membuat mereka langsung menyelipkan senjatanya di dalam jas dan segera bergerak kala paham dengan maksud intruksi Ziko.


•••


Kini Archellio dan anak buahnya telah sampai di mansion El.


Ya dia datang ke sana secara terang- terangan hanya untuk menemui Lea.


Archellio langsung turun dari mobilnya diikuti oleh Ven dan anak buahnya.


Terlihat sedikit aneh saat melihat mansion besar El tanpa penjagaan seorang pengawal.


"Bukankah ini sedikit aneh tuan? Kenapa tak ada satupun pengawal yang berjaga di depan ataupun di gerbang?" tanya Ven sembari melihat sekeliling halaman dan teras.


"Entah, persetan dengan hal itu, ayo masuk dan temukan Lea," ajaknya yang langsung masuk ke dalam tanpa takut apa yang akan ia temui di dalam nanti.


BRAK


Archellio menendang pintunya dan terlihat beberapa maid tengah melakukan pedicure dan manicure.


Semua langsung berteriak histeris kala Ven menodongkan pistolnya.


"Di mana Lea?" tanya Ven pada salah satu maid.


"Ada di atas tuan" jawabnya dengan gagap membuat Ven langsung mendorong maid itu lalu menatap Archellio.


Keduanya mengangguk dan langsung menaiki tangga untuk menemukan Lea di lantai atas.


Dengan cepat para maid itu bersembunyi di saat Archellio dan anak buahnya naik ke lantai atas.


Archellio dan anak buahnya langsung menggeledah semua ruangan hanya untuk menemukan Lea.


BRAK


"****, di mana dia?" umpatnya dengan keras kala memasuki kamar El dan tidak menemukan Lea di sana.


Hingga tatapan Archellio tertuju pada figura kecil di atas nakas.


Ternyata foto Lea dan El.


Namun bukan fotonya yang menarik perhatian Archellio melainkan sesuatu yang berkedip di belakang figura tersebut.


Alat penyadap.


Archellio mengerutkan keningnya saat melihat penyadap tersebut.


"Kenapa ada penyadap di kamarnya sendiri?" gumamnya lirih di mana Archellio terlihat ganjal dan bingung.


Archellio menoleh saat mendengar suara mobil dari luar.


Dengan cepat ia langsung melihatnya dari jendela.



"****," umpatnya dengan keras kala melihat mobil El dan teman- temannya.

__ADS_1


Dengan cepat Archellio berlari keluar dari kamar El dan segera pergi dari sana.


Sayang sekali, saat ia menuruni anak tangga El dan teman- temannya sudah menunggunya di ruang tengah.


"Hei, kita jumpa lagi," sapa El sembari melaimbaikan tangannya pada Archellio.


Archellio menggenggam erat pistolnya.


Ia lalu melihat kanan kirinya mencari keberadaan Ven di sisinya.


Tidak ada.


Kemana Ven?


"Cari Ven ya?" tanya Glen dengan sedikit ejekan membuat Archellio sudah memicingkan matanya dengan tajam kala ia sudah dikepung dan merasa tak tahu dengan apapun saat ini.


El yang melihat ekspresi Archellio saat ini tersenyum tipis.


Di mana semua ini adalah jebakan yang Lea rencanakan.


Ya, Lea lah yang merencanakan semua ini.


•••


FLASHBACK ON


El tengah merangkul Lea dalam dekapannya di mana ia sangat- sangat nyaman sekali saat ini.


"El," panggil Lea dengan pelan di mana ia sangat takut sekali saat ini.


"Apa sayang, tidurlah sudah malam," kata El dengan serak sembari menciumi kening Lea.


"Sebenarnya aku yang membebaskan Tera," ucap Lea dengan tiba- tiba membuat El tertawa kecil.


"Ayolah sayang, jangan bergurau. Sekarang sudah larut malam, tidurlah," katanya yang tak percaya sembari menciumi pipi chubby Lea.


"El aku bersungguh- sungguh," kesalnya sembari memukul punggung El.


El sedikit merunduk menatap wajah cantik wanitanya.


"Dengarkan penjelasanku, aku sengaja membebaskan Tera untuk bisa memancing Archellio keluar dari persembunyiannya, jika Tera bisa menarik perhatian Archellio dan mampu membuat Ven merasa tidak dibutuhkan disitulah kita bisa memanfaatkannya untuk memancing Archellio keluar," jelasnya pada El.


"Tunggu, jadi kamu sengaja membebaskan Tera karena ingin menjauhkan Ven dari Archellio, agar kita bisa memanfaatkannya?" Lea mengangguk membuat El membuang napasnya.


"Wahh apa kamu sungguh wanitaku? Bagaimana bisa kamu memiliki otak secerdik ini," pujinya sembari menciumi wajah Lea dengan sedikit brutal.


Lea hanya tersenyum karena merasa geli.


"Sekarang tugasmu untuk bisa menarik Ven dari Archellio, dengan begitu besok kita bisa melihat Archellio keluar dari persembunyiannya dan kita bisa menangkapnya," jelasnya pada El tentang rencananya.


El manggut- manggut dan menciumi leher jenjang Lea.


"El geliiii," teriaknya sembari tertawa kecil kala merasa geli dengan kecupan di lehernya.


El lalu meraba ponselnya di atas nakas untuk menelpon anak buahnya.


"Iya tuan," jawabnya dari seberang telepon.


"Tolong susul Alvino dan yang lainnya, suruh mereka untuk kembali," perintahnya pada anak buahnya.


"Baik tuan," El langsung mematikan panggilannya.


"Udah sekarang tidur," katanya sembari menarik selimut tebal untuk menyelimuti keduanya dan memeluk erat Lea.


El kembali merunduk menatap wajah cantik Lea.


"Biarin sekali- kali mereka camping di dalam hutan, udah lama juga kita enggak ngerjain misi," jawabnya sembari menatap lekat wajah cantik Lea.


"Mau di kiss enggak?" tawari Lea dengan tiba- tiba membuat El menggigit bibir bawahnya lalu memalingkan wajahnya sekilas dan kembali menatap Lea.


"Sebaiknya kamu tidak bertanya seperti itu, bagaimana jika aku menginginkan hal yang lain, hmm?" godanya membuat Lea membulatkan matanya pada El.


"Dasar mesum," oloknya sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang El.


El yang melihat semu merah di pipi Lea tertawa begitu puas sekali sembari menciumi pelipis dan pipinya.


•••


Keesokan paginya, El bangun lebih awal dari biasanya, karena ia harus melakukan tugasnya sesuai permintaan Lea.


Kini El tengah memanggil wakil kepala pengawal.


Karena Ziko sedang sakit.


"Tunggu aba- aba dariku, kau harus membawa wanitaku pergi dari sini lebih cepat sebelum Archellio datang. Bawa ia ke rumah mama, lalu beritahu yang lain untuk meninggalkan mansion agar Archellio bisa masuk tanpa ragu, kamu paham?" pengawal itu mengangguk dengan mantap membuat El menepuk pundaknya sekilas lalu langsung masuk ke dalam mobilnya untuk pergi ke suatu tempat.


•••


Di sinilah El dan Ven sekarang, di tepi jalanan tepatnya di dalam mobil, yang tak jauh dari markas Albania.


Ven diam sejenak membuat El menyodorkan rokok padanya.


"Bagaimana bisa ia mempercayai ****** picik itu," dumelnya sembari menyalakan pematik rokoknya.


"Aku sudah menahannya kemarin malam, sayangnya ia bisa kabur disaat markas sedang kosong. Aku sedang ada urusan di kantor, karena itu ia bisa kabur dengan lancar dan selamat hingga sampai di markas Archellio," jelas El berbohong.


Ven menghembuskan asap rokoknya keluar jendela sebelum akhirnya ia bertanya.


"Apa papanya dia sungguh dibunuh? Seperti sahabatnya Lea?" El mengangguk.


"Dan wanitaku yang menjadi sasaran utamanya," jawabnya dengan sedikit dingin.


Ven membuang naspasnya membuat EL menoleh.


Terlihat pipi Ven memang sedikit memar dan sudut bibirnya berdarah.


El meraih tisu dan memberikannya pada Ven.


"Usap darahmu, meski kau sudah tak dibutuhkan lagi, kau juga seorang manusia yang harus diperlakukan dengan layak," kata El membuat Ven berdecak.


"Dia merencanakan sesuatu dengan ****** picik itu untuk bisa menjebak wanitamu, kuharap kau bisa menjaga wanitamu sendiri," peringati Ven pada El.


El yang mendengar hal itu dibuat tersenyum tipis.


"Terima kasih," ucap El singkat dan padat.


Ven yang mendengar ucapan terima kasih dari El entah kenapa membuat hatinya terasa terenyuh dan sedikit tersentuh.


"Ck, bukan tipemu untuk mengatakan terima kasih pada orang lain, kau telah banyak berubah semenjak bertemu dengan wanita yang tepat," ujar Ven yang merasakan perubahan pada diri El.


El tersenyum lalu membuang putung rokoknya.

__ADS_1


"Apa boleh aku meminta satu permintaan padamu?" Ven menghela napas gusar.


"Kuharap kali ini permintaanmu tidak membuatku bimbang," El tersenyum tipis.


"Aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau mau membantuku. Lea adalah segalanya bagiku, semua akan kulakukan untuk bisa melindunginya, aku tak ingin Archellio menyentuhnya," tegas El pada Ven.


Ven hanya manggut- manggut paham.


"Kau juga sudah menyelamatkan hidupku 10 tahun yang lalu," gumamnya yang mengingat bagaimana dulu El menyelamatkan dirinya dari jeratan mafia Barat.


FLASHBACK OFF


••••


Archellio terlihat begitu kesal dan marah sekali kala ia dikhianati oleh orang yang selama ini begitu ia percayai.


"Sepertinya tak perlu ada penyerangan atau peperangan di antara kita, sudah jelas siapa yang akan menang seperti tahun- tahun sebelumnya," kata El membuat emosi Archellio semakin menggebu.


"Persetan dengan siapa yang menang dan yang kalah, selagi aku masih bisa berdiri dengan tegak, aku akan menghabisimu," tekan Archellio yang sudah tak bisa lagi menahan dirinya.


"SERANG!" teriak Archellio pada pengawalnya.


Dan peperangan itu terjadi di dalam mansion El, di mana Archellio kini melawan El.


Tak butuh waktu lama untuk El bisa melumpuhkan musuh seperti Archellio.


Hanya dalam hitungan menit saja.


DORRR


DORRR


"ARGHHHHH," teriak Archellio kala menembak kedua kaki Archellio tapa belas kasihan sedikitpun.


Alvino dan lainnya yang telah menumbangkan semua pengawal Archellio hanya menonton bagaimana ketua mereka memberikan hukuman pada musuhnya.


"Aku sangat merindukan dia yang kejam dan bengis ini, bukan seperti hello kitty," gumam Alvino kala melihat El tak segan dalam menembak kedua kaki Archellio.


"Dia sangat menakutkan jika sudah menyangkut perihal Lea, kepalamu mungkin bisa saja dipenggal olehnya, dan kamu bisa pergi lebih cepat menuju ke alam baka," bisik Ziko dari samping Alvino.


"Jika menyebut sekali lagi kata ajaib itu, aku sendiri yang akan mengirimmu ke sana," tekan Alvino dengan kesal pada Ziko.


Ziko hanya terkekeh dan kembali menonton pertunjukan thriller secara langsung ini.


El hanya tersenyum miring sembari menatap Archellio yang kini meringis kesakitan karena tembakan pada kedua kakinya.


"Arghhhhh," teriaknya sangat keras kala El menginjak kakinya.


"Kuperingatkan sekali lagi, jangan pernah kau mencari atau mendekat pada wanitaku sebelum aku sendiri yang menggantung kepalamu, kau tahu ucapanku tidak pernah main- main, jika kau tak ingin seperti teman- temanmu yang tewas di kelompok Barat, jadi bersikap baiklah selagi aku masih bisa mengampunimu, kau paham?" tekannya dengan injakan yang begitu kuat dan keras di kaki Archellio.


"Sekalipun kau membunuhku sekarang, aku tak peduli. Karena bukan hanya aku saja yang mengincar wanitamu, tapi juga orang lain," beritahunya pada El.


El menautkan alisnya dengan injakan yang semakin ia tekan.


"Apa maksudmu?" tanya El dengan sedikit cemas dan was- was saat ini.


"Jangan dengarkan ucapannya, dia hanya ingin mengecohmu," teriak Glen pada El.


"Apa kau sungguh tak tahu jika ada penyadap di dalam kamarmu? Di belakang figura fotomu dan Lea," ucap Archellio memberitahu El dengan sedikit ejekan.


Glen dan yang lainnya sontak saling bertatapan satu sama lain.


Dengan cepat Ziko berlari ke lantai atas untuk memeriksanya.


El dengan cepat langsung menelpon mamanya.


El terlihat begitu mondar- mandir saat telepon mamanya tak kunjung di angkat.


"Kau ketakutan sekarang?" ejek Archellio membuat El langsung berbalik dan kembali menembakkan revolvernya.


DORRR


"ARGHHHHH," teriak Archellio kala bahunya terkena peluru El meski meleset.


El menoleh kala melihat Ziko menuruni anak tangga.


"Benar, ada penyadap di kamarmu," kata Ziko sembari menunjukkan penyadap tersebut pada El.


Kringgg


El langsung mengangkat telepon mamanya.


"Halo El," sapa Tesa.


"Ma, apa Lea bersama mama?" tanyanya dengan begitu was- was dan takut.


"Tidak sayang, memangnya kenapa? Dia mau ke sini?" tanya Tesa dengan sangat antusias.


"Tidak. Nanti El telepon lagi," ujarnya pada Tesa.


Sarvel langsung melacak pemilik dari penyadap tersebut.


Sedangkan El kini sedang mondar- mandir menelpon Lea.


Tidak aktif.


"****," umpatnya dengan keras sembari bergerak gelisah menelpon Lea berulang kali meski ponselnya mati.


El dengan umpatan dan sumpah serapahnya terus mondar- mandir sembari menelponi Lea.


"Tunggu, di mana para pengawalmu?" tanya Glen tiba- tiba kala ia tak melihat satupun pengawal khusus yang berjaga di rumah muncul.


El yang baru sadar dengan hal itu meremas kuat ponselnya.


"Arghhhhhh," teriak El frustasi sembari melemparkan botol sampanye yang masih utuh dan segelan ke dinding.


PYAR


BYUR


Archellio mengibaskan rambutnya yang terkena cipratan dari sampanye tersebut.


"Sudah kuduga, ada orang lain yang ikut campur dengan masalah ini," gumam Archellio membuat El melayangkan tatapannya padanya.


Archellio mengangkat wajahnya menatap El lalu mengedarkan pandangannya pada teman- teman El.


"Apa maksudmu?" tanya Alvino tak paham.


"Orang anonim inilah yang membunuh sahabat serta pamannya Nancy sebelum kita bertindak lebih dulu, kemungkinan wanitamu sedang bersamanya," ujar Archellio sembari memegangi bahunya dan sesekali meringis kesakitan membuat Ven yang melihat hal itu merasa tak tega.


"Apa maksudmu, katakan yang jelas?" bentak El dengan keras dan tatapan mata yang memerah.

__ADS_1


"Ada orang lain yang mengincar Lea," jawab Archellio dengan sedikit pelan karena menahan rasa sakit pada bahunya.


__ADS_2