ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 127


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain ada Zen dan Ziko yang tengah kasmaran.


Di mana mereka telah menemukan wanita yang tepat dan cocok setelah penyeleksian yang panjang tadi.


Ziko terlihat cengar- cengir begitu juga dengan Zen.


Ya mereka memang duduk bersama namun fokus keduanya terletak pada ponsel masing- masing.


Hingga Ziko buka suara.


"Buah persak di belakang markas masih berbuah kan?" tanyanya pada Zen.


"Kenapa emang?" tanya Zen tanpa mengalihkan tatapannya pada ponselnya.


"Dia bilang suka buah persak, aku ingin mengambilnya dan memberitahu padanya jika aku punya kebunnya," jawabnya membuat Zen menoleh menatap Ziko.


"Cewekmu aneh banget sih, suka buah persak, buah pahit getir gitu," oloknya pada Ziko.


"Tiap orang beda- beda kali kesukaannya," jawab Ziko membela calon gebetannya.


"Ayo Zen antar ke belakang bentar," ajak Ziko sembari menyimpan ponselnya di dalam saku.


"Ogah. Pergi aja sendiri, lagian udah malem juga," tolak Zen membuat Ziko seketika langsung merengek.


"Ayolah Zen, tolong antar ke belakang sebentar saja," ajaknya sembari memegangi lengan Zen dengan manja.


"Kupotong tanganmu jika tidak menyingkir dari lenganku," ancamnya pada Ziko.


Ziko langsung memberikan puppy eyes pada Zen.


"Yaaa!" teriaknya pada Ziko yang merasa jijik.


Zen membuang napasnya dan menatap garang Ziko.


"Kan bisa besok sih Zik, kenapa harus sekarang, lagian apa yang akan kau lakukan pada buah persak itu? Apa kau akan mengekspornya ke LA?" tanyanya dengan geram pada Ziko.


"Tiba- tiba saja aku ingin makan buah persak," jawabnya dengan cengar- cengir membuat Zen merasa ketempelan dan risih dengan tangan Ziko yang bergelayut manja di lengannya.


"Ini yang paling enggak kusuka dari orang jatuh cinta, selain tolol mereka mendadak bodoh dan buta. Dan orang ini baru tolol, belum buta atau tuli," dumelnya di akhir kalimat membuat Ziko tersenyum mendengarnya.


Dengan segala kesabaran yang tersedia, Zen kini langsung mengantar Ziko ke belakang markas hanya untuk memenuhi keinginannya yang ingin makan buah persak di tengah malam gelap gulita ini.


"Yaa, ini serius kita berdua? Kau tak ingin membawa pengawal?" tanya Zen sembari menahan baju Ziko saat mereka hendak keluar dari markas lewat pintu belakang.


"Baiklah, kalau gitu aku akan mengajak mereka," jawab Ziko yang langsung mengajak sekitar 5 pengawal hanya untuk mengantar dirinya mengambil buah persak.


Sebenarnya belakang markas tidak begitu gelap gulita sekali, masih ada beberapa lampu juga obor.

__ADS_1


Hanya saja tempat pohon persaknya sedikit jauh dan hampir memasuki hutan.


Karena itu Zen tak ingin menjadi tumbal apalagi sial hanya karena mengantar Ziko.


Mereka bertujuh berjalan menuju kebun persak.


Setelah sampai Ziko mengambil satu keranjang kecil buah persak.


"Maaf tuan, memang ada apa, kenapa tuan Ziko mengambil buah persak di tengah malam begini?" tanya salah satu pengawal.


"Dia sedang berada di fase tolol karena jatuh cinta, jadi maklumi saja orang tua yang kasmaran. Durhaka hukumnya melarang orang tua untuk merasakan senang apalagi ini tentang cinta, kau tahu?" kelima pengawal itu mengangguk dengan kompak.


"Setau saya tuan Ziko masih 26 tahun, apa ia setua itu?" tanya pengawal yang sepertinya tak terima kala Zen mengatakan Ziko tua.


"Ia hanya tua usianya, lihat saja tingkah dan ulahnya, tidak jauh seperti tuan muda Enzo," bisik temannya membuat Zen yang mendengarnya tertawa.


"Udah ayo balik," ajak Ziko setelah puas memetik beberapa buah.


Saat Ziko tak sengaja menyorotkan senternya ke atas ia melihat sesuatu di atas pohon.


"Zen," panggil Ziko sembari menahan baju Zen.


"Apaan sih," ketusnya sembari menepis tangan Ziko yang memegangi bajunya.


"Sepertinya ia akan bunuh diri, apa yang ia lakukan di atas?" tanyanya sembari menunjuk perempuan cantik yang duduk di atas ranting.


"Wahh ia sangat cantik sekali, apa yang ia lakukan di atas sana?" gumam Zen yang sepertinya tertarik dengan perempuan tersebut.


"Bukankah ia hampir sama persis seperti duplikatannya Lea?" tanya Ziko yang diangguki oleh Zen.


"Hei nona apa yang kamu lakukan di atas? Cepat turun dan kita masuk ke dalam, di sini sangat dingin sekali," teriak Zen yang mulai tebar pesona.


Perempuan itu hanya menatap Zen datar tanpa menjawab atau memberikan respon apapun.


"Yaaa, cepat ambilkan tangga, biar aku naik ke atas untuk membantunya turun," perintah Ziko pada para pengawal.


Para pengawal itu diam di tempatnya di mana mereka saling berpelukan satu sama lain.


"Tuan," panggil pengawal itu.


"Apalagi sihhhh, cepat ambil tangga sebelum perempuan itu bunuh diri," tekannya yang geram dengan mereka berlima yang enggan untuk mengambil tangga.


"Apa anda yakin jika dia manusia?" tanya pengawal itu pada Ziko dan Zen.


"Apa kalian sedang bercanda? Nyawanya harus kita selamatkan sebelum sesuatu terjadi," ucap Zen yang kini ikut angkat bicara.


"Masalahnya bukan begitu, jika benar ia manusia, lalu bagaimana cara ia bisa naik ke atas sana dengan jubah panjang itu?' tanya pengawal itu.

__ADS_1


"Namanya juga mau bunuh diri, pikiran kosong bisa aja melakukan sesuatu di luar nalar tanpa ia sadari, jangankan naik ke atas pohon, mungkin ia bisa saja mengendarai roket," jawab Zen dengan kesal.


Para pengawal itu sudah saling berpelukan dengan erat dan ketakutan bukan main saat ini.


"Coba tuan suruh turun, jika kakinya menyentuh tanah, itu artinya ia manusia, jika tidak," pengawal itu tak melanjutkan ucapannya.


"Bagaimana bisa kau memiliki pengawal bego seperti mereka, orang mau bunuh diri disuruh loncat," olok Zen pada mereka berlima.


Zen menoleh ke samping, ia sudah tak menemukan Ziko di sampingnya.


"Yaaa, kemana tuanmu?" tanya Zen yang celingak- celinguk mencari keberadaannya.


"Zen ini tangganya," teriak Ziko yang terlihat begitu girang sembari membawa tangga.


Zen langsung membantu Ziko untuk membawa tangganya ke pohon besar itu.


"Nona turunlah secara perlahan dengan tangga ini, kami bukan orang jahat," teriak Zen setelah memasang tangga yang tinggi itu tepat di bawah perempuan tersebut.


"Yaa, kau sungguh yakin perempuan itu manusia?" tanya pengawal gempal pada temannya.


"Entah manusia atau bukan, aku sudah hampir kencing saat ini, tolong jangan bergerak sedikitpun atau aku akan kencing saat ini," jawab temannya yang memeluk erat tubuh pengawal gempal itu.


"Kami hitung dari 3, kamu turun pelan- pelan ya dari sana," teriak Ziko pada perempuan tersebut.


Ziko dan Zen menghitung bersama- sama.


"Satu, dua, tiga turun," teriak Ziko dan Zen dengan senyum sumringah dan lebar.


Perempuan itu tersenyum tipis dan merentangkan tangannya bersiap untuk turun.


Namun bukan menggunakan tangga melainkan terbang.


"ARGHHHHH KABUR!" teriak kelima pengawal itu kala melihat perempuan berjubah putih itu turun dari atas dengan cara terbang.


Brugh


Ziko dan Zen yang tak sempat kabur sudah pingsan di tempat lebih dulu.


"CUT!" teriak sutradara diiringi dengan tepuk tangan yang meriah.


Semua langsung menghampiri aktris perempuan yang memerankan hantu hutan tersebut.


"Aktingmu sungguh bagus sekali, kamu memang luar biasa," ucap sutradara memuji aktris cantik tersebut.


"Terima kasih," ucap aktris cantik itu.


Sutradara itu lalu beralih menatap Ziko dan Zen yang kini sudah pingsan.

__ADS_1


"Berkat mereka berdua, film horor kita terlihat sangat natural sekali. Kita harus berterima kasih pada mereka berdua besok," ucap sutradara itu yang tersenyum geli melihat Zen dan Ziko pingsan.


__ADS_2