
Jika Glen pulang karena Flo akan kembali ke LA, berbeda halnya dengan Sarvel yang kini kembali ke kantor untuk bertemu dengan Berlyn.
Lebih tepatnya ia ingin membicarakan sesuatu dengannya.
Sarvel langsung masuk ke dalam ruangan Berlyn namun tak ada siapapun di sana.
"Maaf tuan, apa anda sedang mencari Berlyn?" tanya Siska, pegawai di sana.
"Ya, kemana dia?" tanya Sarvel dengan suara dingin dan ekspresi wajah yang datar.
"Tadi dia pamit untuk pulang lebih dulu setelah menyelesaikan laporan yang anda minta, saya dengar- dengar sih dia mau kencan buta," ujar Siska sembari membasahi bibirnya.
"Apa? Kencan buta?" tanya Sarvel dengan ekspresi wajah yang sedikit mendelik.
Siska hanya mengangguk pelan.
Sarvel langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah ktapun.
"Tuan- tuan, dulu dingin banget kalau sama perempuan, kini giliran sama Berlyn jadi lupa diri," gumam Siska heran.
•••
Di sinilah Sarvel sekarang, di kantor Verrel.
Pasalnya tadi Sarvel tidak bisa menemukan Berlyn di rumahnya, karna itu ia pergi ke kantor kakaknya untuk menanyakan di mana Berlyn sekarang.
Brakk
Sarvel langsung masuk ke dalam ruangan Verrel tampak mengetuk pintunya.
"Di mana Berlyn sekarang?" tanya Sarvel pada Verrel.
Verrel mengangkat kepalanya, meletakkan bolpoinnya di atas meja.
"Dia sedang kencan buta, ada masalah?" tanya Verrel dengan santai dan nada yang mengejek.
Sarvel membuang napasnya lalu berkacak pinggang sekilas.
"Di mana mereka kencan butanya?" tanya Sarvel yang terlihat begitu gelisah dan tampak tak sabaran.
Verrel melemparkan senyum manisnya membuat Sarvel memicingkan matanya.
"Kenapa kau begitu kepo dengan urusannya, apa kau ingin menjadi obat nyamuk di sana?" ejeknya pada Sarvel.
"Cepat katakan di mana ia sekarang?" tanyanya sembari menarik kerah Verrel.
Verrel menatap tangan Sarvel yang menarik kerah jasnya.
"Perlu kau ingat, jika kau masih menginginkan Berlyn, kau masih perlu restu dariku," peringatinya pada Sarvel.
__ADS_1
Sarvel langsung menghempaskan Verrel begitu saja.
Verrel yang melihat Sarvel langsung tunduk dengan ucapannya sontak tersenyum tipis.
"Lagian untuk apa kau menanyakan Berlyn, itu sudah terlambat. Kemungkinan kini mereka berdua sudah berada di motel," ejek Verrel yang tak hentinya menggoda Sarvel.
"Bangsat," umpatnya pada Verrel lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan Verrel.
Verrel yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis.
"Enak aja mau balikan dengannya begitu mudah, setidaknya kau harus sedikit berusaha untuk bisa mendapatkannya kembali. Dia adik perempuanku satu- satunya, tak akan kubiarkan kau menyakitinya lagi," gumamnya yang mana ia tak ingin Berlyn kembali sakit hati karena Sarvel.
•••
Malam harinya sekitar pukul 7 malam, Sarvel dengan setianya berdiri di depan gerbang kayu rumah Berlyn.
Ya, sejak tadi siang ia menunggu di depan rumah.
Entah setebal apa kesabarannya, yang pasti Sarvel begitu setia menunggu di sana hingga ia melihat Berlyn pulang.
"Kencan buta apa kerja rodi sih, lama banget dari tadi siang juga," dumelnya sembari menendang- nendang batu kecil di depannya.
"Semoga aja pria yang ia ajak kencan buta udah punya istri, atau seorang duda, semoga aja pia itu setelah bertemu dengan Berlyn besoknya langsung mules sampek 7 hari 7 malem, atau seluruh tubuhnya panuan, biar kapok," ujarnya yang menyumpah serapahi pria yang Berlyn ajak kencan buta.
"Kenapa dia jadi cewek gampang banget sih percaya sama pria enggak jelas? Kemarin drama udah punya anak dan suami, setelah ini drama apalagi," gumamnya sembari menebak- nebak kira- kira alasan apa yang akan Berlyn lontarkan setelah ini.
Sarvel menoleh kala lampu mobil seseorang membuatnya silau.
Ya, perempuan itu ialah Berlyn.
Berlyn yang melihat Sarvel berdiri di depan rumahnya kini bertanya- tanya soal hal itu.
Sarvel segera menghampiri keduanya di mana Sarvel sedikit geram melihat pria matang tersebut.
Sarvel berdeham membuat pria itu menoleh.
"Yaaa, apa kau tahu siapa dia?" tanya Sarvel pada pria itu.
"Calon tunanganku," jawabnya dengan santai sembari menggenggam tangan Berlyn membuat Sarvel memicingkan tatapannya.
"Sepertinya kau sungguh bosan hidup," gumam Sarvel sembari melonggarkan dasinya dan menatap kanan kirinya.
Berlyn yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini jika ia membiarkan Sarvel mengadu kekuatan, pasti akan berakhir pilu.
"Cepatlah pergi selagi kau masih bisa menyetir dengan baik," ucap Berlyn mengusir pria tersebut.
"Memangnya kenapa, aku bisa bertarung," tanya pria itu membuat Berlyn mendesis kesal.
"Ini bukan masalah bertarung atau apa, ia akan menjadi gila jika sudah adu kekuatan," ucap Berlyn sembari membukakan pintu untuk pria tersebut agar segera pergi.
__ADS_1
"Sudah pulanglah, kita bertemu lagi besok," ujarnya sembari melambaikan tangannya.
Pria itu terpaksa pergi karen paksaan Berlyn.
"Yaaa, kenapa kamu menyuruhnya pulang?" tanya Sarvel dengan kesal.
Berlyn menyugar rambutnya ke belakang dan membuang napas secara kasar.
"Pulanglah, aku sangat lelah dan ingin isirahat," usirnya pada Sarvel dan hendak masuk ke dalam rumah.
Berlyn tersentak kaget saat Sarvel memeluk dirinya begitu erat dengan tiba- tiba.
"Tolong jangan pergi dengan pria lain, dari tadi siang aku berdiri di sini untuk menunggumu," ucapnya pada Berlyn.
Berlyn hanya diam sembari mendengarkan segala ocehan Sarvel.
"Siapa yang menyuruhmu menunggu," ketus Berlyn yang tak ingin luluh begitu saja karena sikap Sarvel.
Sarvel semakin erat memeluk Berlyn di mana pelukannya seakan tak ingin terlepas.
"Aku mencintaimu Berlyn, aku masih mencintaimu," ucapnya pada Berlyn entah tanpa sadar atau tidak.
Berlyn yang mendengar pengakuan itu mendadak jantungnya berdebar begitu hebat dan sedikit tertegun.
"Tolong jangan pergi lagi dengan pria lain, aku bisa gila karenamu," ujarnya yang mana sejak tadi ia tak melepaskan pelukannya.
Berlyn diam- diam menahan senyumnya.
Dengan sedikit sulit Berlyn melepas pelukan Sarvel.
"Jika kau ingin mengusirku dari kantor, kau tak perlu melakukan ini, aku akan tetap bekerja denganmu," ujar Berlyn yang salah paham dengan Sarvel.
"Tidak, aku tidak ingin kau pergi, tetaplah di sampingku, bukan untuk bekerja melainkan jadi istriku, kau mau kan?" tanya Sarvel dengan terus terang membuat Berlyn terdiam tak percaya.
Berlyn mencoba menyadarkan dirinya namun beberapa kali ia ia mencoba untuk sadar, ia benar- benar sadar saat ini.
Jika ini nyata bukan mimpi.
"Berlyn, maafin aku yang dulu, mungkin aku menyakitimu dan pergi meninggalkanmu begitu saja, tapi percayalah, aku masih mencintaimu hingga detik ini," jujurnya yang berterus terang tanpa ada yang ia tutupi.
Berlyn langsung memalingkan wajahnya mencoba menahan tangisnya saat ini di depan Sarvel.
Sarvel mencoba meraih tangan Berlyn namun dengan cepat Berlyn menarik tangannya.
"Pulanglah, sudah malam. Aku sangat lelah saat ini," usirnya pada Sarvel.
Berlyn bergegas masuk ke dalam rumah sebelum Sarvel membuntutinya.
__ADS_1
Sarvel terdiam di tempatnya dan kakinya terasa begitu berat untuk mengejar Berlyn.
"Kenapa ia tak lagi percaya dengan cintaku?" gumamnya lirih sembari melihat jendela kamar Berlyn.