ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 43


__ADS_3

Kini El telah tiba di rumah pukul 2 dini hari.


Ia berlari begitu cepat untuk masuk ke dalam mansion.


Hingga depan pintu kamarnya, El mengatur napasnya lalu membuka secara pelan pintu kamarnya.


El langsung berlari ke arah Lea dengan mata yang memerah menahan tangis.


Lea yang mendengar suara berisik tersebut sontak membuka perlahan kedua matanya.


"El," gumamnya lirih dengan suara serak basahnya.


El langsung membuka borgolan pada tangan Lea dengan mata yang berkaca-kaca.


HAP


"Maafkan aku, maafkan aku," serunya sembari memeluk erat Lea dan beberapa kali mengucapkan kata maaf pada Lea.


Lea yang masih setengah sadar hanya diam dan mencoba mengumpulkan segala nyawanya.


Hingga Lea sudah sadar dan kini bisa dengan jelas mendengar suara Isak tangis.


Tunggu, El menangis?


Sungguh?


El menguraikan pelukannya pada Lea.


"Kumohon jangan pergi, kumohon," pintanya dengan mata yang sembab karena menangis.


Lea menatap El dengan penuh rasa tak percayanya.


El benar-benar menangis.


Tapi karena apa?


"Aku akan menarik ucapanku, asal kamu tidak pergi meninggalkanku," ucap El dengan begitu bersungguh-sungguh membuat Lea bingung dan tak percaya.


"Ucapan yang mana? Menikah denganmu?" tanya Lea dengan begitu antusias kala mendengar El akan menarik ucapannya.


El berdecak membuat Lea tersenyum namun detik kemudian ia langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


"Tentang membantai siapapun yang menyakitimu entah itu keluarga atau orang terdekatmu," Lea langsung diam tak berkutik.


"Aku akan menarik ucapanku itu dan akan menggantinya dengan melindungimu dari siapapun entah itu musuhku atau orang-orang yang menentang hubungan kita, sekalipun itu mamaku sendiri," ujar El membuat Lea tersenyum sangat tipis sekali.


El mungkin tidak tahu perihal Tesa yang malah berharap dan berdoa jika kelak yang akan menjadi istrinya adalah Lea.


Dan Lea juga tidak berniat untuk mengatakannya.


"Kenapa kamu hanya diam sejak tadi, kamu tidak akan pergi dariku kan?" tanya El dengan kesal kala Lea hanya diam dan tersenyum.


Lea memalingkan wajahnya menahan senyumnya.


"Tidak. Aku akan tetap pergi," tegasnya pada El.

__ADS_1


El menautkan alisnya dengan tajam kala mendengar jawaban Lea.


"Aku akan ikut denganmu," kekehnya membuat Lea menaikkan sebelah alisnya.


"Ikut kemana?" ketus Lea.


"Kemanapun asal denganmu," jawabnya dengan santai.


Lea menghela napas gusar dan menatap arah lain.


Hingga tatapannya tertuju pada keranjang baby Enzo.


El mengikuti tatapan Lea lalu ia mengatakan hal yang begitu di luar dugaan.


"Aku tak akan lagi memintamu untuk menjadi ibu susu putraku, asal jangan tinggalkan aku, kumohon," pintanya dengan begitu tulus dan bersungguh-sungguh.


Lea bisa melihat ketulusan itu.


Tapi mau bagaimana lagi.


Lea tak ingin dirinya menjadi orang yang tidak punya pendirian.


Tapi di sisi lain, Lea juga tak ingin menjadi orang jahat.


El sudah banyak membantunya.


Bahkan perawatan ayahnya saja, El tidak pernah mengungkit atau membahasnya.


Malah El selalu mendatangkan dokter kenalannya untuk merawat ayah Lea.


Berharap jika mereka bisa menyembuhkan ayah Lea.


Inilah yang paling Lea benci.


Dirinya tidak bisa memiliki pendirian yang kuat.


Ia selalu luluh lantah hanya dengan kesungguhan El.


"Kenapa kau begitu ingin aku menetap denganmu?" tanya Lea ingin tahu.


El mengusap air matanya sekilas lalu menatap Lea dengan lekat.


"Apa perlu kuberi alasan kenapa aku mencintaimu?" tanya balik El membuat Lea terdiam.


"Tapi aku tidak mencintaimu, bagaimana?" tanya Lea to the point pada El.


Inilah kata-kata yang tidak ingin El dengar dari bibir Lea.


Namun terlambat, El sudah mendengarnya dengan jelas.


"Tak masalah, aku akan tetap mencintaimu," jawabnya dengan yakin.


Kini Lea merasa dirinya adalah orang paling jahat saat ini.


Lea langsung menatap arah lain.

__ADS_1


"Aku akan berganti baju lebih dulu," ujarnya sembari beranjak dari ranjang.


El terdiam di tepi ranjang, ucapan Lea barusan benar-benar membuatnya terus berpikir.


"Kenapa aku sulit membedakan mana obsesi dan mana cinta. Bagiku ini adalah cinta, bukan obsesi. Kenapa ia masih tetap memilih untuk pergi?" gumam El yang bingung untuk membedakan sikapnya pada Lea antara cinta dan obsesi.


Tak lama Lea kembali dari walk in closet dengan penampilan yang begitu simpel.


Celana sebatas paha dan baju rajut.


"Sudah hampir pagi, sebaiknya kita istirahat sebentar," ujar Lea sembari naik ke atas ranjang.


El masih diam di tepi ranjang dan menatap Lea yang hendak tidur.


Kenapa hati El rasanya begitu bimbang.


Seperti senang namun detik kemudian sedih.


Perasaan apa seperti ini?


"Kamu tidak ingin tidur?" tanya Lea pada El.


El menoleh menatap Lea yang merentangkan kedua tangannya.


El yang melihat Lea melemparkan senyum manis dengan merentangkan kedua tangannya membuat hatinya berdebar begitu hebat.


"Tanganku sudah kebas, apa kamu tidak ingin tidur?" tanya Lea dengan sedikit kesal membuat El tertawa kecil dan langsung naik ke atas ranjang.


HAP


Ia langsung memeluk erat tubuh Lea dengan begitu nyamannya di mana Lea tersenyum tipis dan perlahan memeluk tubuh El yang berada di atasnya.


"Bisakah aku tidur seperti ini setiap malam?" tanyanya pada Lea dengan kedua mata yang sudah terpejam.


Lea hanya tersenyum tipis dan mulai memejamkan matanya.


"Tidurlah, sudah hampir pagi," suruhnya pada El.


El tersenyum dan memeluk erat Lea sembari menghirup aroma tubuhnya yang begitu candu dan memabukkan bagi El.


"Aku mencintaimu," bisik El dengan mata yang terpejam di mana ia begitu nyaman dan tenang tidur di pelukan Lea saat ini.


Lea yang mendengar hal itu mendadak gugup dan takut jika El mendengar detak jantungnya.


Namun siapa yang tahu jika El memang sudah mendengar detak jantung Lea yang berpacu begitu cepat.


Dan El lebih memilih diam tidak mengatakan karena bagi El itu adalah suara paling indah yang pernah El dengar di waktu tidurnya.


Yaitu detak jantung Lea.


Lea mencium sekilas kening El dan mulai memejamkan matanya rapat karena sudah begitu ngantuk saat ini.


Terlebih posisi tadi yang tangannya di borgol benar-benar membuat Lea tersiksa di mana ia sangat mengantuk dan ingin sekali berbaring.


Dan kini akhirnya ia bisa berbaring dengan nyaman di tambah El sebagai gulingnya.

__ADS_1


Kelihatannya keduanya sama-sama saling nyaman hingga tidur begitu pulas dengan posisi seperti ini.



__ADS_2