
Arga tampak mondar- mandir saat El tak kunjung datang.
Sejak tadi ia terus bergerak gelisah di dekat jendela dan melihat keluar berharap El segera datang.
"Nah itu dia," soraknya kala melihat rombongan mobil hitam dari El yang tengah dihadang oleh anak buahnya.
Lea yang mendengar sorakan Arga mendadak hatinya berdebar begitu hebat sekali.
Apa El sungguh datang? batin Lea dalam hati.
Arga menyeringai sinis kala melihat anak buah El yang begitu banyak sekali ia bawa.
Dan bodohnya anak buahnya sendiri terlihat begitu ketakutan hanya karena melihat kehadiran El.
"Jemy, cepat masukkan Oliv ke bak besar itu, ikat tangan dan kakinya, lalu nyalakan krannya," perintah Arga yang terlihat begitu gelisah dan sedikit panik kala melihat El membawa banyak rombongannya.
Lea yang mendengar perintah Arga membulatkan kedua matanya tak percaya.
"Tidak, Jemy tolong jangan lakukan itu kumohon," teriak Lea memohon pada Jemy.
Plak
"DIAM!" teriak Jemy setelah menampar sekilas Lea.
Arga yang melihat kelakuan Jemy dengan cepat langsung menendang punggungnya hingga Jemy tengkurap di lantai.
"Bangsat, siapa yang mengizinkanmu menyentuhnya?" teriaknya dengan keras dan mata yang memerah.
Jemy mengumpat lalu melepaskan Oliv untuk dibawa ke bak besar.
Arga lalu berdiri di tengah- tengah tepat di depan Lea.
Ia seakan begitu tak sabar untuk menyambut kedatangan El.
Sedangkan El yang berada di luar, dengan cepat berlari menaiki tangga diikuti oleh pengawalnya untuk bisa sampai di lantai tiga.
El mengatur napasnya kala ia telah sampai di atas dan disambut dengan senyuman yang manis dari Arga.
"Selamat datang tuan El Zibrano Alemannus," sambut Arga dengan nada suara yang sedikit mengejek.
El mengedarkan pandangannya, dan memicingkan matanya kala ia dipertemukan kembali oleh mantan istrinya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi ialah, keberadaan Jemy di sana.
"Jemy, kenapa kau ada di sini?" tanya El pada Jemy.
Jemy menyeringai lalu berjalan menghampiri Lea yang duduk di kursi dengan kedua tangan yang terikat.
"Kau pikir siapa yang membawa wanitamu kemari?" tanyanya balik sembari berdiri di belakang kursi Lea sambil memegang pundaknya.
El sedikit menelengkan kepalanya dan memicingkan matanya kala melihat pipi Lea tampak memar kemerahan.
"Kau menamparnya?" tanya El dengan suara yang penuh penekanan pada Jemy.
Jemy mengangguk dengan santai membuat El mengepalkan tangannya erat.
"Aku juga melakukannya," tambahi Fera membuat El menoleh menatap mantan istrinya tersebut.
Arga yang melihat anak buah El saat ini benar- benar banyak, sedikit dibuat bergetar dan ada rasa ragu dalam dirinya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya El dengan nada suara yang tegas dan terdengar begitu seksi dan berwibawa.
"Sujud padaku!" pintanya pada El dengan seringaian sinisnya.
Lea menggelengkan kepalanya sembari menatap El.
Sedangkan Alvino dan yang lainnya menatap El dengan kedua mata yang tajam.
"Baik," ucapnya yang memenuhi permintaan Arga.
El langsung bersimpuh di depan Arga membuat Alvino dan yang lainnya dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini.
Arga tersenyum lebar dan puas saat melihat El begitu patuh dengan ucapannya.
Fera yang melihat El bersimpuh di depan Arga hanya karena Lea, benar- benar dibuat tak percaya dengan hal ini.
"Sekarang minta semua pengawalmu untuk keluar!" pintanya sekali lagi pada El.
"YAAAA, APA YANG KAU INGINKAN?" teriak Alvino dengan keras kala ia merasa geram dengan Arga saat ini.
"Cepat bangun, apa yang kau lakukan saat ini," ucapnya sembari menarik tangan El untuk segera berdiri.
"LEPASKAN!" bentak El dengan keras pada Alvino.
Alvino yang kali pertamanya mendapatkan gertakan keras dari El sedikit terkejut.
"Kau bisa pulang sekarang, jangan membuat wanitaku semakin dalam bahaya, pulanglah akan kuhadapi mereka sendiri," ucap El dengan begitu gentlenya.
Alvino tampak manggut- manggut dan menahan emosinya.
"Hanya karena seorang wanita kau melupakan siapa dirimu yang sebenarnya. Kau seorang pemimpin Klan Wolf El, apa yang akan dipikirkan anggotamu jika kau begitu lemah hanya karena soal wanita. Di mana sikap kejam dan bengismu dulu? Apa Lea yang membuatmu lemah seperti ini?" bentak Alvino dengan keras membuat El langsung bangun dan memukul begitu keras rahang Alvino.
BUGH
"ALVINO!" teriak Glen dan lainnya yang langsung membantu Alvino untuk berdiri.
"El apa yang kau lakukan, hanya karena Lea kau memukulnya? Kau tak pernah seperti ini pada kami meski kau begitu keras dan bengis pada musuhmu," ucap Sarvel dengan tak percaya.
"Dia sudah buta dengan cintanya, biarkan ia hancur bersama dengan wanitanya," sarkas Alvino yang langsung melenggang pergi begitu saja turun ke bawah.
"Kenapa, kalian tidak akan pergi juga?" teriak El begitu keras pada Glen dan Sarvel.
Keduanya hanya membuang napas dan tetap berada di sana.
Prok prok
"Drama yang sungguh bagus dan patut untuk diacungi jempol," puji Arga sembari bertepuk tangan membuat El kembali fokus padanya.
El menatap tajam dan lekat Arga.
"Oh ya, aku melupakan sesuatu. Masih ada satu orang yang harus kalian selamatkan nyawanya, jika terlambat sedikit saja, dia akan tewas di dalam bak besar," ucap Arga sembari melemparkan ponselnya yang merekam Oliv yang terikat di bak besar dengan kran yang mulai mengisi.
Nico yang melihat hal itu langsung merebut ponsel Arga dari El dengan tatapan tajamnya.
"****," umpatnya sembari membanting ponsel Arga tepat di depan pemiliknya.
"Apa maumu?" teriak Nico dengan emosi yang meledak- ledak.
Arga hanya tersenyum tipis membuat El atau Nico merasa terpancing emosinya.
"Kalian hanya memiliki dua pilihan, selamatkan salah satunya," ucap Arga dengan serius.
__ADS_1
Ziko dan Zen yang sejak tadi berdiri di samping El hanya diam saja kini dengan lirih mereka saling berbisik.
"Kita kek enggak ada gunanya banget di sini," bisik Zen.
"Tenang saja, jika kita tewas di sini, kita akan sangat berguna di alam baka. Di sana ada banyak job," jawab Ziko membuat Zen manggut- manggut paham.
Lea yang mendengar ucapan Arga sontak langsung buka suara.
"Nico cepat selamatkan Oliv, dia tak akan bisa bertahan lama, kondisinya sudah melemah, ia harus dibawa ke rumah sakit," ucap Lea dengan begitu cemasnya pada Oliv.
El yang mendengar ucapan Lea kini memicingkan matanya marah.
Bagaimana bisa ia memikirkan orang lain di saat dirinya sendiri dalam bahaya, batinnya dalam hati.
"Maaf El, aku harus menyelamatkan Oliv lebih dulu," ucap Nico sembari menatap Arga dengan lekat.
El menoleh menatap Nico dari samping sembari menyipitkan matanya.
"Lalu teman kecilmu?" tanya El yang terdengar jelas dari suaranya jika ia begitu marah saat ini.
Nico menoleh menatap El sekilas.
"Ia bisa bela diri," jawabnya dengan gamblang membuat El mengepalkan tangannya.
"SERANG!" teriak Arga tiba-tiba membuat El dan yang lainnya terkejut bukan main kala para pengawal Arga keluar dari persembunyiannya.
Arga lalu memanfaatkan hal itu untuk membawa Lea pergi diikuti oleh Jemy dan Fera.
"El cepat selamatkan Lea," teriak Glen pada El.
El yang melihat kursi besi itu kosong sontak langsung berlari untuk mengejar Arga begitu juga dengan Nico.
"Yaaa, kenapa kau menyuruhnya pergi? Bagaimana dengan nasib kita?" teriak Zen yang melawan anak buah Arga hanya berbekal balok kayu yang ia pegang sejak tadi.
"Kau tak ingin cepat pergi ke alam baka? Ini jalan VVIP menuju ke sana," gurau Glen untuk mengalihkan rasa tegang saat ini.
"Tapi ya enggak gini juga kali caranyaaaa," keluh Zen sembari memukuli mereka yang tak ada habisnya.
Sedangkan di parkiran bawah tanah ada Arga yang membawa pergi Lea.
"Tolong lepaskan Oliv, aku akan ikut bersamamu ," rayu Lea pada Arga.
"Tidak sayang, bukan ini yang kuinginkan," gumamnya sembari mencekik leher Lea dengan lengannya dan berjalan mundur secara hati- hati.
"BERHENTI!" teriak El dan Nico bersamaan membuat suara mereka begitu menggema.
Arga langsung berhenti dan tanpa sadar karena rasa cemas dan paniknya saat ini, ia sedikit kuat dalam memiting kepala Lea.
"Bukankah sudah kubilang, kalian hanya bisa menyelamatkan satu dari mereka berdua," ucap Arga dengan senyum jahatnya.
"Kalian berdua jangan pedulikan aku, tolong selamatkan Oliv, percayalah padaku aku bisa mengatasi ini sendiri," ucap Lea dengan susah payah karena cekikkan Arga yang begitu kuat.
El menatap Lea untuk bisa memberikan kode padanya.
"Apa kau sungguh akan membiarkan wanitamu terendam di bak besar itu hingga tewas?" tanya Arga pada Nico.
Nico hanya diam sembari menatap Lea.
"Nico apa yang kau tunggu, cepat selamatkan Oliv," teriak Lea dengan susah payah di mana kedua matanya sudah berkaca- kaca.
Melihat El ataupun Nico tak kunjung ada yang bergerak membuat emosi Lea semakin menggebu- gebu dan hampir meledak.
"Arghhhhh," teriak Arga kala Lea menggigit lengannya begitu kuat.
Bugh
Lea menyundul dagu Arga lalu menginjak kakinya.
Hal itu El dan Nico manfaatkan untuk menyerang Arga dan Jemy.
Lea hendak pergi menyelamatkan Oliv sayang sekali Fera menghadangnya.
"Minggir ******," bentaknya dengan keras di mana mata Lea begitu merah saat ini.
"Kau pikir kau sudah jagoan karena pandai bela diri? Aku juga bisa melakukannya," ucap Fera yang langsung menyerang Lea.
Pertarungan itu pun terjadi dengan El yang sesekali melihat ke arah Lea dengan rasa cemas dan khawatirnya.
Bugh
"El," pekik Nico kala Arga mendapatkan kesempatan memukul El hingga terhuyung ke belakang.
Lea yang mendengar pekikkan itu sekilas menoleh dan kembali melanjutkan pertarungannya dengan Fera.
El lantas bangun dan menyerang Arga dengan membabi buta.
Kini Nico paham dan tahu, kenapa El dijuluki serigala hitam.
Faktanya El lebih bengis dan kejam dari cerita yang beredar.
Seperti saat ini, hanya dalam hitungan menit El mampu mengalahkan Arga kala hatinya tergerak untuk bersikap kejam mengingat Lea sudah bebas dari cengkramannya.
DORRR
"ARGHHH BANGSAT," teriak Arga kala kaki kanannya tertembak.
DORRR
"ARGHHHH," teriaknya sekali lagi kala kaki kirinya juga tertembak.
Nico yang melihat hal itu sedikit menelan ludahnya.
"Kejem juga nih orang," gumamnya sembari melawan pukulan dan serangan dari Jemy yang sedikit membabi buta.
El lalu menginjak secara bergantian kaki Arga yang tertembak tadi dengan sepatu bootsnya.
Bahkan darah yang seharusnya dihentikan itu, El buat terus keluar dengan injakan sepatunya.
Arga sudah mengerang dan merintih kesakitan kala kakinya diinjak begitu kuat dengan sepatu boots tersebut.
"Kau memang tidak melakukan apapun pada wanitaku, tapi obsesimu padanya, menempatkan ia dalam bahaya dan banyak orang salah paham dengannya. Dan aku sangat benci dengan orang yang suka mengambil milik orang dengan sembarangan. Sekalinya milikku, selamanya tetaplah milikku. Camkan itu baik- baik," tegasnya pada Arga sembari menggores lengan kanan dan kiri Arga.
Arga berteriak kesakitan membuat Jemy menoleh sekilas dan berlari meninggalkan Nico.
DORRR
BRUGH
Nico hanya bisa membuka mulutnya kala El tak banyak kata dan lebih banyak bermain pistol.
"Bukan main, sekalinya gerak yang maju pistolnya," gumamnya lirih sembari menyimpan pistolnya yang hanya tersisa satu.
__ADS_1
Setelah puas bermain- main dengan Arga, El beralih pada Jemy.
"Arghhhhhhh," teriak Jemy begitu keras dan histeris kala El menginjak pahanya yang tertembak.
DORRR
Nico langsung memalingkan wajahnya kala El menembak lengan kanan Jemy.
Jemy berteriak dan mengumpat begitu keras sembari memegangi lengan kanannya yang ditembak.
"Itu balasanmu karena kau telah menyentuh milikku," ujarnya dengan santai sembari mengisi penuh revolvernya.
PLAK
El menampar begitu keras Jemy.
"Dan ini balasanmu untuk satu tamparan pada wanitaku," ucapnya sembari menampari Jemy beberapa kali tak peduli tangannya yang kini terasa panas.
Nico yang melihat sikap asli El tak bisa berkata apapun dan hanya menatap Arga yang merintih kesakitan sembari berusaha merangkak.
El mengatur napasnya dan menatap Jemy yang kini sudah pingsan karena ulahnya.
Ia lalu bangun dan berbalik menatap Fera dan Lea yang masih bertarung.
El menatap Lea yang memang begitu jago dalam bela diri, namun ia tak mau wanitanya terluka.
"Apa kubilang, dia sangat jago dalam hal bela diri," ucap Nico yang berdiri di sampingnya.
El sontak langsung menghampiri Lea dan Fera.
"EL," pekik Lea terkejut kala El tiba- tiba saja datang dan menendang perut Fera hingga ia terhuyung ke belakang.
El mengongkang senjatanya membuat Lea langsung mencekal lengannya.
"El udah, ayo selamatkan Oliv," tahannya sembari memegang erat lengan El.
El mengibaskan tangan Lea dan tetap menghampiri Fera yang meringis kesakitan memegangi perutnya.
PLAK
Lea membungkam mulutnya kala El menampar Fera dengan sekuat tenaga.
"Itu balasanmu terhadap milikku," ucapnya dengan penuh penekanan sembari menarik rambut Fera hingga kepalanya mendongak ke atas.
Fera hanya tersenyum miring sembari menatap El lekat.
"Kau kira ia akan bertahan lama denganmu? Tidak akan. Tak ada perempuan yang akan bertahan lama denganmu jika sikapmu seperti ini, dia juga akan meninggalkanmu," ucapnya pada El.
El memicingkan matanya sembari menarik kuat rambut Fera.
"Oh ya? Lalu tetaplah hidup dalam penjara bawah tanahku agar kau bisa menyaksikan jika ia akan bersamaku untuk selamanya," ujar El dengan yakin dan penuh percaya diri.
Fera tertawa membuat El langsung menodongkan pistolnya pada mulut Fera hingga tawanya langsung terhenti.
"Tertawalah sekali lagi jika kau ingin merasakan peluru ini masuk ke dalam tenggorokanmu," tekannya dengan mata yang memerah.
HAP
"El cukup, jangan membunuh banyak orang lagi. Aku sudah baik- baik saja sekarang, tolong lepaskan dia. Kau ingat dengan janjimu kan?" ucap Lea sembari memeluk erat El dari belakang.
Emosi dan amarah yang tadi begitu menggebu- gebu, kini langsung luluh lantah hanya karena pelukan Lea.
El lalu mendorong Fera hingga terhuyung ke belakang lalu berbalik menatap Lea.
Keduanya saling bertatapan satu sama lain hingga El langsung memeluk erat Lea dan menciumi puncak kepalanya.
"Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu," gumam El dengan mata yang berkaca- kaca sembari menciumi puncak kepala Lea.
Lea hanya tersenyum tipis sembari mengusap pelan punggung El.
El menguraikan pelukan Lea lalu tersenyum manis sembari membelai pipi chubby Lea.
"Ayo selamatkan Oliv," ajaknya pada El.
"Alvino sudah menyelamatkannya," jawabnya membuat Lea mengerutkan keningnya.
El lalu menjelaskan jika pertengkaran dirinya dan Alvino tadi hanyalah trik mereka untuk bisa mengelabui Arga agar bisa menyelamatkan Oliv.
"Lalu di mana Oliv sekarang?" tanya Lea dengan cemasnya.
"Bersama Alvino sayang," jawabnya sembari membelai rambut Lea.
Lea menghembuskan napas lega kala mendengar hal itu.
Ia lalu berjinjit dan meraih tengkuk El.
El yang mendapatkan ciuman tiba- tiba itu merasa ada kupu- kupu yang begitu menggelitik di perutnya.
Nico yang masih berada di sana hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Enggak tahu tempat banget nih orang, dikira gue patung apa," gerutunya dengan kesal.
Fera yang melihat hal itu, mengepalkan tangannya dengan kuat.
Dengan pelan ia merogoh pistol dari dalam bajunya.
"EL AWAS," teriak Nico kala Fera menodongkan pistolnya.
DOR
BRUGH
El langsung berguling di lantai dengan Lea yang berada di dekapannya.
El menutup kedua mata Lea dan mengarahkan pistolnya pada Fera.
DOR
DOR
El menembak tangan dan kaki Fera hingga ia ambruk di lantai.
Dengan cepat Nico langsung mengamankan Fera dan membuang pistolnya.
El mengatur napasnya lalu dengan hati- hati ia membuka perlahan tangannya yang menutupi kedua mata Lea.
Terlihat begitu berkaca- kaca.
"Lupakan semua yang terjadi di sini," ucap El lirih yang hanya diangguki oleh Lea.
__ADS_1
El mencium begitu lama pelipis Lea lalu keduanya saling berpelukan satu sama lain.
"Perasaan keberadaan gue dari tadi enggak kelihatan banget sama mereka berdua," dumelnya dengan kesal sembari memborgol tangan Fera.