ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 124


__ADS_3

Markas Klan Wolf


El datang ke markas karena mamanya mengajak pergi Lea.


"Wihh yang baru bulan madu nih," sorak Glen kala melihat El datang ke markas.


"Di mana putraku?" tanya El pada Ziko dan Zen saat ia tak melihat putranya.


"Kau baru ingat sekarang jika punya putra?" tanya Zen dengan ketus.


"Yaa, kau sungguh satu bulan ini bulan madu?" El mengangguk dengan lemah sembari menyerobot sampanye Sarvel.


"Lalu kenapa dengan wajahmu jika kau baru saja bulan madu selama 1 bulan penuh ini? Apa kau masih kurang puas?" El menoleh ke samping menatap Sarvel lalu mengangguk dengan bibir yang mengerucut ke depan.


"Kau niat mau bulan madu apa gempur rongrongan?" ketus Ziko yang mana ia reflek memukul kepala El dengan bantal sofa.


Sontak semua kepala menoleh menatap Ziko.


"Kau baru saja memukulku?" tanya El sembari menahan sampanyenya secara perlahan.


Ziko menelan salivanya sembari perlahan beranjak dari sofa.


"Maaf tadi itu adalah gerakan reflekku selama berteman dengan Zen, aku akan menggantung diriku sendiri, kau tidak perlu menggantungku, jadi tetaplah di tempat dudukmu," ujarnya yang mana Ziko langsung berlari tunggang langgang ke belakang markas sebelum El keluar tanduknya.


Semua sontak langsung tertawa terbahak- bahak kala melihat tingkah Ziko barusan.


"Lalu di mana Lea sekarang? Dia masih bisa berjalan kan?" tanya Zen yang mana hal itu membuat El menyipitkan tatapannya.


"Aku pergi untuk bulan madu ya, bukan mengamputasi kakinya," ketus El membuat Sarvel dan Glen tertawa.


"Mama tadi pagi dateng terus nyabotase Lea gitu aja, mana aku enggak boleh ikut tadi, ngeselin banget mama," dumelnya membuat mereka tersenyum dan menggelengkan kepalanya heran dengan sikap bulol El.

__ADS_1


"Yaaa, kau baru saja menghabiskan waktu 1 bulan penuh dengan Lea di Paris, dipinjem mamamu 1 hari aja kau udah uring- uringan, apa kau mendadak bodoh setelah jatuh cinta?" tanya Zen yang geram juga sedikit jijik dengan sikap El yang over protektif serta posesif.


El meletakkan gelasnya lalu menatap Zen.


"Dia istriku kenapa kau ikut campur dan selalu sewot?" tanya balik El membuat Zen berdecak dan menyalakan rokoknya.


"Perempuan enggak boleh ngerokok," gurau Glen yang langsung mengambil alih rokok di tangan Zen.


"YAAA!" teriak Zen membuat mereka tertawa.


"Oh ya, kemarin aku baru saja dihubungi sama perusahaan desainer yang kemarin aku ceritakan pada kalian, akhirnya mereka membatalkan untuk menggunakan Lea sebagai modelnya. Akhirnya milikku tidak akan menjadi santapan liar di luaran sana oleh para pria hidung belang, hanya aku yang boleh melihat tubuhnya," ujar El memberi tahu mereka semua dengan bungah sumringah lilo legowo.


Zen yang melihat senyum sumringah itu merasa emosi dan ingin sekali merobek bibir El.


Tapi ia terlalu penakut untuk melawan El.


"Yaa, apa kau sungguh tidak tahu?" tanya Zen yang mana hal itu membuat suasana menjadi hening dan semua mata tertuju pada Zen.


"Apa?" tanya El pada Zen.


"Sebelum kenal kau dan pindah kemari, dari SMA Lea udah jadi model, di luaran sana majalahnya udah tersebar hampir di beberapa negara, " jelas Zen memberitahu El.


El, Glend dan Sarvel yang melihat majalah Lea saat ini benar- benar merasakan apa itu cuci mata yang sebenarnya.


"Yaa, ini sungguh Lea? Wahh ia sangat cantik sekali," gumam Sarvel yang memuji kecantikan Lea membuat El berdecak dan terus menggeser foto majalah Lea.


"Yaa, apa aku batalkan saja lamaranku dengan Flo? Seketika aku ingin menikahi Lea saat ini," goda Glen yang mana hal itu langsung mendapatkan tatapan maut dari tuan El.


"Apa? Aku hanya bercanda, kenapa kau begitu marah," ucap Glen dengan santai.


El langsung menghapusi semua foto- foto majalah itu di ponsel Zen.

__ADS_1


"Mau kau hapus semua filenya, majalahnya udah ke sebar di mana- mana tuan El," ejek Zen membuat El langsung melemparkan ponselnya pada Zen.


"Yaaa! Ini ponsel cicilan, enak aja main lempar, aku belum bisa melunasinya, jangan buat aku jual ginjal untuk bisa melunasinya," marah Zen sembari mendekap ponselnya dengan sepenuh hati.


"Sepertinya kepalanya panas, cepat ambilkan es batu," pinta Sarvel pada Glen.


"Baik," semua menoleh saat mendengar suara itu.


Ziko?


Tak lama Ziko kembali dengan segelas es batu.


"Siapa yang menyuruhmu kemari?" tanya El dengan kesal.


"Aku sudah menggantung diriku tadi, sekarang dinginkan dulu kepalamu," serunya sembari meletakkan segelas es batu di depan El.


El berdecak kesal kala ia tak tahu tentang Lea yang ternyata seorang model.


"Kenapa, kau menyesal sekarang? Atau merasa marah karena baru tahu jika Lea seorang model?" tanya Zen yang mengejek El.


El menatap Zen membuat semua mata ikut tertuju padanya.


"Ahh kau juga belum tahu kan cinta pertamanya Lea?" sontak mereka semua langsung menghampiri Zen.


"Yaaa, kau bawa kemana aku?" teriak Zen kala Sarvel, Glen dan Ziko menyeretnya ke belakang.


El mencoba mengatur napasnya saat ini demi merendam emosinya.


"El aku akan memberitahumu cinta pertamanya Lea, tapi tolong lepaskan aku dari orang gila ini," teriak Zen dari belakang markas membuat El memejamkan matanya untuk menahan emosinya.


"Tahan El tahan," gumam El sembari mengepalkan tangannya.

__ADS_1


El membuang napas kasar lalu memilih untuk pulang.


Ia ingin bertanya langsung pada Lea.


__ADS_2