ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 110


__ADS_3

Keesokan harinya, setelah drama kemarin malam yang membeli balon, kini Ziko dan Zen sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.


Ya kalian tidak salah baca, mereka akan pergi ke sekolah.


Bukan untuk sekolah, melainkan untuk ikut Alvino memberikan kejutan pada Shakila.


Dan kini mereka tengah menunggu helikopter di belakang markas.


"Ini sebenarnya yang pacarnya Shakila kita atau Alvino, kenapa dari kemarin malam kita yang usaha ini itu?" dumel Ziko yang terlihat begitu pasrah dalam memegang balon karakternya.


"Setelah memberikan kejutan ini, aku akan langsung kembali ke LA, aku ingin hidup tenang tanpa ditumbalkan oleh siapapun," ujar Zen yang kelihatannya sudah begitu tertekan sekali selama tinggal di Milan.


Ziko langsung menoleh menatap Zen dari samping.


"Kau akan meninggalkanku sendiri di sini?" Zen langsung menoleh dengan ekspresi yang jijik.


"Memang dari dulu kita bersama?" tanya Zen membuat Ziko memajukan bibirnya.


"Lalu jika kau kembali, aku dengan siapa?" gumam Ziko mencoba memelas.


"Sendirilah seperti dulu, cukup kau sendiri saja yang tertekan jangan mengajakku," serunya yang terlihat benar- benar tak mau tinggal di Milan dengan Ziko.


Ziko menghembuskan napas panjang sembari melihat balon- balon yang ia pegang.


"Ayo kita berangkat," ajak Alvino dari dalam saat helikopternya sudah datang.


Terlihat Alvino tampak membawa bunga, paper bag LV dengan penampilan yang sungguh sangat rapi dan perfect.

__ADS_1


"Awas aja kelak, saat aku sudah menemukan pujaan hatiku, akan kubuat dia melakukan sesuatu seperti yang kulakukan semalam," dumelnya sembari berjalan di belakang Alvino.


"Dan akan kutunggu kau menemukan pujaan hatimu dan menyaksikan bagaimana kau menyiksa Alvino nantinya," sahut Zen membuat Ziko mengangguk dengan mantap.


Mereka lalu naik helikopter dan menuju ke sekolah Shakila.


••••


Kini helikopter Alvino sudah hampir sampai di sekolah Alvino.


"Kalian sudah menyiapkan apa yang kuperintahkan kemarin kan?" tanya Alvino yang sedikit was- was.


"Sudah yang mulia, semua sudah siap," jawab Ziko dengan penuh penekanan.


"Enak kan punya 2 babu kek kita," beo Zen dengan kesal membuat Alvino membasahi bibir bawahnya.


"Terima kasih ya," ucap Alvino sembari menyodorkan kembali kartu ATM nya pada mereka berdua.


Mereka tampak berbinar dan langsung menerima kartu tersebut.


Alvino tampak terus tersenyum tanpa memedulikan giginya yang sudah kering kerontang seperti musim kemarau.


Ia sudah tak sabar untuk melihat reaksi Shakila nantinya saat melihat kedatangannya ke acara wisudanya.


"Sebelum mendarat di rooftop, tolong perlihatkan dulu padaku di belakang sekolah, aku ingin melihat tulisannya," pinta Alvino pada pengawalnya yang mengemudikan helikoternya.


"Baik tuan," jawabnya patuh.

__ADS_1


Alvino terus tersenyum sembari melihat keluar jendela di mana ia sangat penasaran dengan tulisan Will You Marry Me nya.


"YAAA!" pekik Alvino kala melihat tulisannya membuat Zen dan Ziko terjengkit kaget.



"Tidak bisakah kau berbicara lemah lembut, jantungku hampir lepas keluar karena teriakanmu," ujar Ziko sembari memegangi dadanya.


"Apa kalian yang mencukur rumputnya hingga berbentuk love?" tanya Alvino berusaha menahan emosinya.


Keduanya mengangguk membuat Alvino membuang napas kasarnya.


"Bukankah tadi pagi kubilang hanya menuliskan kata Will You Marry Me?" tekannya dengan rahang yang diketatkan.


"YES," keduanya menjawab dengan serempak membuat pengawal yang mengemudikan helikopternya tersenyum dan Alvino menatap tajam mereka berdua.


"Lagian ya, kalau cuma tulisan doang itu enggak bakal kelihatan, apa lagi siang bolong kayak gini, karena itu kita berinisiatif untuk membuatkan love dengan mencukur sedikit rumput belakang sekolah biar kelihatan tulisannya," jelas Ziko pada Alvino yang diangguki oleh Zen.


"Harusnya kau bersyukur dan berterima kasih karena kami kreatif dalam membantumu menyiapkan semua kejutan ini, bukannya marah- marah enggak jelas," ketus Zen yang ikut kesal.


"Ya tapi enggak dicukur gitu rumputnya Ziko Zen, bagaimana jika pihak sekolah nanti marah dan menyalahkan Shakila, apa kalian akan bertanggung jawab? Mana luas banget lagi yang kalian cukur, kenapa enggak sekalian aja tadi semua belakang sekolah kalian cukur," ketus Alvino yang kesal dengan mereka berdua.


"Tadinya sih maunya gitu, dicukur semua," jawab Ziko lirih.


"Salah siapa pagi- pagi buta suruh orang ngantuk siapin beginian," dumel Zen yang masih kesal.


"Kenapa kalian enggak bilang jika punya skill jadi tukang kebun, kan aku bisa daftarin kalian di sekolahan Shakila sebagai tukang kebun," gumam Alvino membuat Zen dan Ziko berdecih.

__ADS_1


"Gayanya aja mau kasih kejutan, tapi effort dan usahanya suruh teman, " olok Ziko membuat Alvino mendengus sebal.


__ADS_2