ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 83


__ADS_3

Di Hutan


Setelah perdebatan dan baku hantam yang lumayan, kini akhirnya mereka berlima berangkat bersama ke hutan untuk mencari Tera.


Di mana mereka berjalan dengan berbaris bukan jalan bersama- sama.


Barisan depan dipimpin oleh Ziko, lalu Glen, Sarvel, Alvino dan yang terakhir Zen.


"Yaaa, tidak bisakah aku pindah di depan? Kenapa aku yang harus paling belakang setelah kalian memaksaku ikut?" protes Zen tanpa henti.


"Jangan banyak bicara dan tetaplah di belakangku, kau harus jadi pelindungku," seru Alvino membuat Zen tertawa sumbang.


"Kenapa selalu aku yang dijadikan tumbal?" gumam Zen meratapi nasibnya.


"Yaaa, bukankah kita sudah mengitari pohon ini lebih dari 3 kali? Kau yakin kita tidak berputar- putar kan?" tanya Glen yang merasa aneh saat ia melihat pohon serupa ini sebanyak 3 kali.


"Gelap gulita gini bagaimana bisa kau membedakan pohon- pohon ini?" tanya Ziko yang sangat percaya diri sekali memimpin jalanan.


"Yaaa, bagaimana jika kita kembali saja ke markas? Kita cari Tera besok aja?" usul Zen membuat Alvino yang ditarik- tarik kaosnya sejak tadi merasa geram dan ingin sekali memukul kepalanya saat ini.


"Lalu pulanglah sendiri ke markas, agar harimau bisa melahapmu," suruh Alvino dengan ketus dan segala emosinya.


"Kenapa kau selalu marah- marah hanya karena sesuatu kecil, aku hanya berniat untuk mencairkan suasana," dumel Zen yang ikut kesal.


"Yaaa, apa kelap- kelip di atas pohon itu?" tanya Glen sembari menunjuk pada pohon yang tak jauh dari mereka.


"Mungkin burung hantu," jawab Ziko enteng.


Belum sempat mereka melanjutkan jalannya, aungan serigala membuat mereka berteriak dengan histeris karena terkejut.


"Yaaa, apa itu serigala?" tanya Zen yang sudah panik dan takut tak karuan.


"Bukan, domba hutan," sarkas Alvino dengan kesal.


"Ayo kembali saja ke markas, bagaimana jika kita digigit oleh serigala itu dan menjadi manusia serigala? Bagaimana jika di dalam hutan sana ada vampir atau semacamnya? Bukankah kalian masih ingin menikah muda? Maka berbaliklah dan kembali ke markas sebelum kalian menyesalinya nanti," omel Zen dengan panjang lebar membuat Alvino yang berada di depannya ingin sekali meremas mulut Zen sekarang.


"Tenang saja, kita akan aman selagi kau dan Ziko berada di depan dan di belakang," jawab Sarvel mencoba bergurau.


"Aku sungguh menyesal tidak kembali ke Washington secepat mungkin kemarin jika tahu di sini hanya dijadikan tumbal oleh kalian," dumelnya yang merasa menyesal kala bergabung dengan mereka.


"Tenang saja, para biksu kemarin sudah mendoakan kita, dia bilang setan, jin dan iblis tidak akan mendekat selagi kita terus berdoa dalam hati," beritahu Ziko pada mereka.


"Lalu apa binatang buas itu setan, jin dan iblis? Apa kau sungguh bodoh, mana ada harimau dan serigala lari hanya karena kita lafalkan doa? Jika mereka bisa tunduk hanya dengan lafalan doa, mungkin semua orang akan menjadi pawang binatang buas," dumel Zen yang tak habis pikir dengan pikiran Ziko.


"Ternyata otakmu bekerja saat tengah malam begini," gumam Sarvel membuat Zen berdecak.


"Yaaa, kapan kita menemukan Tera jika kita berjalan seperti kereta api begini? Yang ada kita akan satu bulan di hutan hanya untuk mencari ****** picik itu" dumel Ziko yang kesal kala mereka tak kunjung menemukan apapun.


"Percayalah, ini adalah cara satu- satunya untuk kita melindungi diri dari kejaran hantu dan binatang buas, jika kita bersatu begini mereka akan takut untuk menganggu kita," jawab Glen yang berusaha untuk membujuk Ziko agar tetap jalan berbaris layaknya kereta api.


Alvino dan Sarvel pun mengangguk membuat Zen berdecih.


"Cih, aman bagimu bahaya bagiku," dumel Zen yang berdiri paling belakang sendiri.

__ADS_1


"Yaa, apa kalian bisa lari?" tanya Ziko tiba- tiba membuat mereka semua langsung mengerutkan keningnya bingung.


"Lari untuk apa?" tanya Sarvel.


"Siapa tahu di depan sana tiba- tiba muncul serigala atau semacamnya," jawab Ziko sembari terus melangkah.


"Oh bisa aja mah," jawab Alvino enteng yang juga diangguki oleh Glen dan Sarvel.


"Tidak, aku tidak bisa, kakiku masih sangat sakit jika untuk berlari, ini aja hampir patah rasanya hanya untuk berjalan," dumel Zen dengan kesal.


"Tenang saja, aku akan menggendongmu nanti," kata Ziko dengan begitu gamblangnya.


Zen yang mendadak merasakan berat pada pundaknya beberapa kali berdeham untuk menghilangkan rasa gugup dan takutnya.


"Yaaa," panggil Zen pada mereka berempat.


"Apasih, diem jangan ngoceh, kau hanya akan membangunkan hantu hutan dan menakuti mereka karena suaramu, lebih baik diamlah," tekan Alvino yang sudah merasa panas sejak tadi hanya mendengar dumelan Zen.


"Siapa yang baris paling depan?" tanya Zen untuk memastikan.


"Ziko," jawab Glen cepat.


"Lalu?" tanya Zen sekali lagi.


"Aku," jawab Glen.


"Aku," jawab Sarvel.


"Bukankah kita berangkat berlima?" tanya Zen sekali lagi sembari meremas pundak Alvino.


Mereka dengan kompak menganggukkan kepalanya.


"Coba berhitung," suruh Zen pada mereka.


"Apa kau sedang bercanda, untuk apa berhitung jika jelas- jelas hanya kita berlima yang sejak tadi berjalan berbaris seperti ini," kata Ziko yang begitu berhati- hati saat memimpin jalan di depan.


"Sudahlah jangan banyak bicara, cepat berhitung dari sekarang," pinta Zen dengan sedikit geram dengan mereka berempat.


Ziko menghela napas kasar lalu mulai menghitung.


"Satu,"


"Dua,"


"Tiga,"


"Empat,"


"Lima," hitung Zen dengan sedikit gemetar.


"Enam," sahut seseorang membuat langkah mereka langsung terhenti dengan kompak.


"Kau dengar bukan, ada yang berhitung enam, tidak mungkin serigala dan burung hantu bisa berbicara," ujar Zen yang hampir kencing saat ini hanya karena kakinya yang gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Dalam hitungan ketiga, kita lihat sama- sama," pandu Glen yang diangguki oleh semuanya.


"Satu."


"Dua."


"Tiga," kelimanya langsung menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya kala melihat wajah putih di belakang Zen.


"Akhhhhhhhhhh," teriak Zen dengan histeris dengan logat perempuannya.


Wush


Zen langsung berlari tunggang langgang membuat mereka berempat dengan kompak menatap Zen dengan sedikit tak percaya.


"Bukankah ia bilang jika kakinya sakit dan tidak bisa berlari? Tapi ia berlari seperti macan kumbang," gumam Alvino heran.


"Apa ia tahu jalannya? Ia terus berlari tanpa tahu tujuannya," timpali Ziko cemas.


"Kurasa ia akan sampai di Washington setelah berlari secepat itu," gurau Sarvel yang diangguki oleh Alvino.


"Yaaa, kenapa kalian sibuk membicarakan Zen disaat hantu gundul ini masih berdiri di dekat kita?" gumam Glen menyadarkan mereka semua.


Sontak mereka semua langsung diam dan tak berani menatap ke belakang.


"Dalam hitungan ketiga, mri kita berlari bersama- sama, kalian paham?" pandu Sarvel pada mereka bertiga.


Semua mengangguk setuju dan menunggu aba- aba dari Sarvel.


"Satu,"


"Dua,"


"Lariiiiiiiii," teriak Sarvel yang berlari lebih dulu meninggalkan mereka bertiga.


"Yaaa, keparat. Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau tidak bisa berhitung?" teriak Alvino yang langsung berlari menyusul Sarvel diikuti oleh Glen dan Ziko.


"Apa kau lupa jika ia sangat buruk di pelajaran matematika?" ingatkan Glen pada Alvino.


"Awas saja nanti setelah sampai di sana, aku akan memukuli kepalamu," ancam Glen yang kesal dengan Sarvel.


"Bagaimana bisa orang sekejam dan sebengis kalian- kalian ini berhitung satu sampai tiga saja tidak bisa, pantas Lea menolak kalian," ucap Ziko yang tiba- tiba nyeletuk begitu saja sembari memperlambat larinya.


Sontak tatapan Glen dan Alvino mengarah padanya.


Ziko yang ditatap seperti itu hanya bisa menelan ludahnya.


"Zen tunggu akuuuuuu," teriak Ziko yang mempercepat larinya sebelum diterkam mereka berdua.


Sedangkan pria yang dikira hantu tadi adalah pengawal yang diminta El untuk meminta mereka berlima agar kembali ke markas.


"Kenapa mereka malah lari dan masuk ke dalam hutan setelah melihatku, ini kan hanya masker wajah modelan terbaru," gumam pengawal itu yang terpaksa kembali ke markas.


"Bagaimana bisa mereka masih berada di sini setelah pergi sejak tadi? Apa mereka hanya berputar- putar di sini atau bermain kereta api- kereta apian? Astaga jika aku tak datang, mungkin mereka bisa satu bulan di dalam hutan," gumam pengawal itu yang tak habis pikir dengan tuannya.

__ADS_1


__ADS_2