ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 134


__ADS_3

Malam harinya di club milik El ada Zen yang tengah menikmati kesenangan dirinya.


Di mana ia terbebas dari tekanan batin dan pikiran.


Karena apa? Karena ia selama seharian ini berusaha untuk menghindar dari Ziko.


Selain Zen tak ingin gila, ia juga tak ingin mati muda hanya karena terkena tekanan batin sebab berteman dengan Ziko dan lainnya.


Ia masih ingin menikmati hidup dan nikah muda.


Karena itu ia berakhir di sini untuk merilekskan pikiran dan hatinya.


"Kenapa rasanya seperti hidup di surga setelah seharian ini aku tidak bertemu dengan Ziko dan yang lain?" gumam Zen sembari cengar- cengir menggoyangkan gelas sokinya.


"Lagian apa untungnya berteman dengan mereka berempat, aku hanya mendapatkan tekanan batin dan pikiran yang negatif, bagaimana bisa mereka merencanakan pembunuhan di depan orangnya? Apa mereka sungguh tega untuk melakukannya? Arghh memikirkannya saja membuatku merinding dan takut," gumam Zen yang berngidik ngeri saat mengingat percakapan semalam Ziko dan yang lainnya yang merencanakan pembunuhan dirinya.


"Sepertinya aku harus lebih dulu menemukan bajingan gila itu sebelum mereka berempat menemukannya, jika tidak organku bisa dijual oleh mereka," ujarnya yang masih bersikeras untuk bisa menemukan cinta pertamanya Lea.


Zen mengedarkan pandangannya sembari menganggukkan kepalanya mengikuti alunan irama musik DJ.

__ADS_1


Hingga matanya berhenti pada satu titik pada seseorang yang terlihat sangat familiar baginya.


"Apa itu Tera?" gumamnya yang bertanya pada dirinya sendiri.


Zen masih diam di tempatnya mengamati Tera dari jauh sembari menikmati alkoholnya.


Terlihat Tera begitu banyak minum tanpa memedulikan beberapa pria yang ada di samping kanan dan kirinya.


"Pria sialan ini," umpatnya yang hendak beranjak dari sofa untuk menghajar para pria tersebut yang mengganggu Tera namun lebih dulu Ven.


Ya kalian masih ingat kan dengan Ven? Anak buah Archellio, yang bersekutu dengan El.


Terlihat Zen menggenggam erat gelas slokinya.


Zen kembali menuangkan alkoholnya ke dalam gelas dan minum dengan sekali tenggak.


"Apa mereka dekat?" gumam Zen yang bertanya- tanya soal itu juga merasa penasaran dengan hubungan mereka berdua.


Terlihat Ven menyampirkan jasnya pada pundak polos Tera dan ikut duduk di sampingnya menunggu Tera selesai minum.

__ADS_1


Zen tersenyum sumbang dan kembali menuang alkoholnya.


"Siapa yang tahu jika ia juga sedang mencari kesempatan?" gumam Zen menebak kala melihat Ven yang sok perhatian dengan Tera.


Terlihat Tera memutar kursinya membelakangi meja bar.


Hingga pandangannya bertemu dengan mata tajam Zen.


Tera terlihat terkejut juga sedikit terperangah dengan mata tajam Zen.


Lama mereka saling menatap satu sama lain hingga Tera memutuskan kontak mata tersebut dan menghadap kearah Ven.


Zen tersenyum miring sembari menghembuskan asap rokoknya kala melihat Tera meraih tengkuk Ven dan keduanya saling berciuman.


Tampaknya bukan hanya rokok yang Zen pegang yang saat ini tengah terbakar, tapi ada juga sesuatu lain yang sepertinya hampir hangus.


"Kenapa ia harus melakukan itu hanya untuk memanasiku?" gumam Zen sembari melihat Tera dan Ven yang masih asyik berciuman.


Hingga puncaknya, di mana Zen benar- benar merasa marah dan kesal saat melihat tangan kekar Ven mulai merambat ke paha mulus Tera.

__ADS_1


"Sialan!" umpat Zen yang langsung berdiri untuk menghampiri Tera dan Ven.


__ADS_2