ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 131


__ADS_3

Di Washington


Ada Oliv yang kini tengah menyiapkan makan siang untuk suaminya, Nico.


Sejak tadi senyum manis itu tak pernah pudar dari bibir tipisnya.


"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan di dapur?" tanya Cornelio yang baru saja keluar dari kamarnya setelah melakukan zoom meeting.


"Oliv sedang memasak untuk Nico pa," jawabnya dengan sangat antusias sekali.


"Astaga, kenapa kamu sangat repot sekali hingga membuatnya sendiri, kan ada maid sayang," ujar Cornelio yang cemas saat melihat Oliv bergulat di dapur sejak tadi.


"Enggak papa pa, lagian Oliv juga enggak ada urusan lain, ada banyak waktu senggang untuk melakukan hal lain," jawabnya sembari menyuguhkan kopi untuk Cornelio.


Huk


Oliv membungkam bibirnya saat ia merasa mual.


"Kenapa sayang?" tanya Cornelio dengan cemas.


Oliv langsung berlari menuju ke kamar mandi saat ia ingin muntah.


Cornelio yang sangat panik langsung memanggil maid perempuan untuk memeriksa kondisi Oliv.


"Aku akan menelpon Nico lebih dulu," gumamnya yang langsung menghubungi Nico sebelum memanggil dokter pribadinya.


"Iya pa, ada apa?" tanya Nico dari seberang telepon.


"Nico cepat pulang ke rumah, Oliv sepertinya sakit," beritahunya yang cemas dan panik sembari sesekali melihat ke arah kamar mandi yang ada di dekat dapur.


"Sakit apa pa? Sebentar, Nico akan pulang sekarang," ucapnya yang langsung segera bergegas untuk kembali ke kantor saat mendengar istrinya sakit.


"Yah baiklah, cepat pulang sekarang," pesan Cornelio sebelum mematikan teleponnya.


Bersamaan dengan itu Oliv keluar dari kamar mandi dengan maid perempuan di belakangnya.


"Kenapa sayang? Apa kamu merasa sakit dibagian tertentu? Ayo tunggu dokter di kamarmu, Nico akan segera pulang setelah ini," katanya dengan sangat cemas.


"Papa memberitahu Nico?" Cornelio mengangguk dengan sangat ragu dan juga takut.


Oliv sedikit mendekat pada Cornelio untuk memberitahunya sesuatu.


Cornelio melebarkan kedua matanya tak percaya kala mendengar bisikan Oliv.


"Kamu tidak sedang bercanda kan sayang?" tanya Cornelio yang tak percaya juga tak menyangka dengan apa yang Oliv bisikan barusan.


"Oliv akan ke kamar lebih dulu," ujarnya yang langsung bergegas pergi ke kamar sebelum Nico datang.


Cornelio dan maid perempuan itu saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


"Apa kamu tadi juga melihatnya?" maid itu mengangguk dengan senyuman yang bahagia.


Cornelio bersorak girang tanpa suara saking bahagianya.


"Sepertinya aku harus memberitahu putriku," gumamnya yang langsung menghubungi Lea untuk kabar ini.


•••


Selang 15 menitan Nico datang dengan begitu tergopoh- gopohnya.


"SAYANG!" panggilnya pada Oliv saat memasuki kamarnya.


"Aku sedang mandi," sahut Oliv dari dalam kamar mandi.


Nico langsung berdiri di depan pintu kamar mandi dengan segala rasa cemasnya.


"Kenapa kamu mandi saat sakit? Cepat keluar sebelum kudobrak pintunya," ancamnya yang marah pada Oliv.


"Gantilah baju lebih dulu, aku akan segera keluar. Sebentar lagi juga selesai," beritahunya pada Nico.


Nico mengerutkan keningnya tak paham namun patuh dengan ucapan istrinya.


Ia langsung ganti baju dan kembali berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Aku udah ganti. Cepat keluar sebelum kubobol pintunya!" ancamnya sekali lagi saking cemas dan takutnya dengan Oliv.


Tak lama pintu terbuka dan menampilkan Oliv dengan baju seksinya.


"Kata papa kamu sakit? Kenapa malah mandi dan berpakaian seperti ini? Apa kamu sedang menggodaku? Ini masih siang sayang," ujarnya sembari merengkuh pinggang ramping Oliv untuk merapat pada tubuhnya.


"Aku benar- benar sakit, dan tiba- tiba saja aku ingin mandi," jawabnya membuat Nico menatap heran juga bingung pada istrinya.


Nico memeriksa kening Oliv lalu mencium begitu lama puncak kepalanya.


"Ayo ke rumah sakit, kita periksa badan kamu," ajaknya yang langsung mengangkat tubuh Oliv hendak keluar kamar.


"Tunggu dulu, bisa tolong dudukkan aku di ranjang?" Nico diam sejenak hingga akhirnya ia mendudukkan Oliv di tepi ranjang.


"Duduklah di sini," pinta Oliv sembari menepuk sisi sampingnya yang kosong.


Nico duduk dengan rasa bingung dan penasarannya.


"Tolong ambil hadiahmu di laci," perintahnya pada Nico.


Nico dengan bergegas juga senyum yang tiba- tiba saja tampil di bibirnya langsung membuka laci di dekat ranjang.


Nico yang melihat tespack dengan hasil yang positif langsung meraihnya dengan rasa tak percaya juga ingin memperjelas apa yang ia lihat.


"Sayang," panggilnya pada Oliv.

__ADS_1


"Aku memang sengaja meminta maid untuk membeli tespack tempo hari saat aku sudah telat 1 bulan, sebenarnya hasil kemarin sudah positif, karena aku kurang percaya dan sedikit ragu, jadi aku melakukannya lagi hari ini hingga merasa yakin untuk bisa memberitahumu," jelas Oliv dengan jujur membuat Nico tiba- tiba saja langsung memeluk Oliv dengan begitu erat sekali.


"Makasih banyak ya sayang, makasih. Asal kamu tahu, ini adalah kado paling terindah setelah mendapatkanmu," ujarnya memberitahu Oliv.


Oliv yang mendengar pengakuan tersebut merasa begitu bahagia dan terharu.


Ternyata sebahagia ini dicintai oleh tuan Nico yang memiliki cinta besar padanya.


Oliv merasa ia tak membutuhkan apapun lagi selain Nico di sampingnya untuk waktu yang lama.


Oliv mengusap lembut punggung kekar Nico.


"Mulai sekarang kamu harus jaga kesehatan kamu, kamu harus jaga pola makan kamu, dan kamu harus melakukan semua hal dalam pengawasanku, kamu paham sayang?" Oliv yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.


Cup


Oliv mengecup singkat bibir seksi Nico.


Nico membuka kedua matanya dengan rasa yang sedikit kecewa kala ia hanya bisa mendapatkan kecupan.


"Lain kali jangan mancing sayang, jika kamu masih ingin bisa berjalan," beritahunya yang mana Nico langsung meraih tengkuk Oliv dan ******* lembut bibir istrinya.


Oliv hanya tersenyum tipis dalam sela ciumannya kala Nico begitu agresif sekali saat ini.


"Sebentar ponselku berbunyi," ujarnya yang menahan dada bidang Nico kala mendengar suara ponselnya berbunyi.


Oliv langsung berjalan menuju meja riasnya untuk melihat siapa yang menelpon.


"Kau berani meninggalkanku demi ponselmu?" tanya Nico yang kini sudah memeluk tubuh ramping Oliv dari belakang.


"Aku hanya melihat siapa yang menelpon," ujar Oliv sembari melihat siapa yang menelponnya.


Nico langsung merebut ponsel Oliv kala melihat nama Lea di sana.


"Itu Lea, kenapa dimatikan sihh," kesal Oliv kala panggilan Lea dimatikan begitu saja oleh Nico.


"Papa pasti sudah memberitahunya, jadi ayo beri dia kabar bahagia ini dengan sesuatu yang manis," bisik Nico sembari membalik tubuh ramping Oliv dan mencium bibir tipisnya.


Cekrek



Oliv langsung menahan dada bidang Nico.


"Apa kamu mengirimkannya pada Lea?" tanyanya dengan panik juga malu.


"Tentu sayang," jawabnya sembari mengirimkan fotonya.


"NICOOOO!" teriak Oliv sembari memukuli Nico dengan geram.

__ADS_1


Nico hanya tertawa dan langsung mengangkat tubuh ramping itu untuk dibawa ke atas ranjang.


__ADS_2