ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 126


__ADS_3

Sedangkan di mansion ada El yang tampak mondar- mandir layaknya setrika.


"Kemana sih sebenarnya mereka? Pergi sampai malem banget," gerutunya yang terlihat sangat kesal kala Lea tak kunjung pulang padahal sekarang sudah pukul 9.


El langsung menoleh kala mendengar suara mobil berhenti di depan.


Dengan rasa gengsi yang tinggi El langsung mengintip dari balik gorden.


Terlihat Lea dengan pakaian yang sangat- sangat terbuka dan tampaknya baru, turun dari mobil dengan kedua tangan yang penuh dengan belanjaan.


"Kenapa mama dandani dia seperti itu? Mana terbuka banget lagi," dumelnya sembari melihat para pengawalnya yang tampak fokus menatap ke depan tanpa melihat penampilan Lea yang mampu menarik perhatian siapapun saat ini.


"Beritahu mama jika suamimu marah, biar mama yang menggantungnya di belakang rumah," pesan Tesa dengan sedikit keras seolah tahu jika El tengah menyaksikannya.


Lea hanya tersenyum dan membukakan pintu untuk Tesa.


"Mama hati- hati ya," pesannya sembari melambaikan tangannya.


El dengan cepat langsung duduk di sofa kala melihat Lea hendak masuk ke dalam.


"Sayang," panggil Lea dengan senyum manis dan lebar kala melihat El duduk di ruang tamu menyambut kedatangannya.


El hanya diam dan sibuk geser galerinya ke kanan dan ke kiri tanpa menjawab atau menatap penampilan Lea saat ini.


Lea meletakkan semua belanjaannya lalu berdiri di depan El.


"Gimana, bagus enggak dress yang mama belikan?" El mendongak sekilas dan berdeham.

__ADS_1


Lea mengerutkan keningnya kala melihat respon El.


"Kamu marah aku pulang malam? Maaf tadi masih diajak mama ke butik," ucapnya jujur pada El.


El masih diam dan fokus dengan foto- foto Lea di galerinya.


Lea tampak kesal kala El hanya diam tak merespon.


"Kamu sudah makan? Biar kumasakkan lebih dulu," ucapnya yang langsung meletakkan tasnya di atas meja dan pergi ke dapur.


El melirik Lea yang sudah bergulat di dapur dengan baju haramnya.


"Astaga, bagaimana bisa aku mengabaikannya begitu sajaaa," sesalnya sembari menggigiti bantal sofa di mana ia sangat menyesal mengabaikan Lea saat ini.


"Biarlah ya marah sebentar, salah siapa dia pulang malem banget tanpa ngabari, mana bajunya kebuka banget lagi, bukankah aku sudah memberitahunya beberapa kali untuk tidak memakai baju terbuka, kenapa ia malah memakai baju seperti itu di saat berada di luar? Di tambah ia juga tidak memberitahuku soal dirinya yang seorang model," dumelnya panjang sembari menatap gemas punggung seksi nan mulus milik istrinya.


El menghentakkan kakinya dan menggigiti bantal sofa dengan gemas kala melihat penampilan Lea saat ini.


"Sayang makanannya udah siap," teriak Lea dari dapur membuat El mengetatkan rahangnya untuk tidak tersenyum saat ini.


"Bahkan ini kali pertamanya ia memanggilku sayang namun kuabaikan," gumamnya yang merasa bersalah dengan Lea saat ini.


"Ayo makan, makanannya udah siap," ucap Lea yang tiba- tiba saja sudah berdiri di depan El.


El langsung bangun dari baringnya dan bersikap datar dan cool.


"Aku makan nanti saja," jawab El yang langsung beranjak dari sofa menuju kamarnya.

__ADS_1


"Nanti? Aku langsung masak ketika baru pulang untuk kamu, kamu bilang nanti?" marah Lea membuat El menelan salivanya dan menggenggam erat ponselnya.


"Aku belum lapar," ujar El sok cool.


Lea membuang napasnya gusar lalu menyambar semua belanjaannya untuk di bawa ke kamar.


"Dasar bangsat, jika kau belum lapar, kenapa tidak bilang dari tadi," marah Lea dengan kesal sembari naik ke lantai atas.


El yang melihat Lea marah kini sangat cemas dan panik.


"Bagaimana ini kenapa jadi dia yang marah, kan seharusnya aku yang marah," gumamnya heran dengan istrinya.


El segera menyusul Lea ke lantai atas.


"Nih bantal dan gulingmu, kau tidur saja dengan ponselmu," katanya kala El membuka pintu kamar dan langsung memberikan bantal dan guling hitam itu pada El.


"Tapi sayang...,"


Brak


Pintu terkunci dari dalam membuat El ingin menangis saat ini.


"Kenapa jadi dia yang marah, kan seharusnya aku yang marah," protesnya tak terima kala disuruh tidur di luar.


El lalu mencari kunci cadangannya.


"Argh ****, aku lupa menaruhnya di dalam," umpatnya kesal.

__ADS_1


Hingga El tersenyum jahil kala ia terpikirkan satu ide.


"Aku tidur di luar? Sekalipun harus mengerahkan damkar, aku harus tidur di dalam bersamamu, bagaimanapun caranya," gumam El yang langsung turun ke lantai bawah entah melakukan apa.


__ADS_2