ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 29


__ADS_3

Sekarang, El dan Lea sudah tiba di mansion tepat pukul 10 malam.


Sepanjang perjalanan, El merasa cemas saat Lea hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ketika Lea turun dari mobil, ia sepertinya melupakan sesuatu.


"Eh," kagetnya saat El mengangkat tubuhnya.


"Bukankah aku sudah bilang jangan turun sebelum aku membukakan pintu?" ucapnya dengan lembut pada Lea.


Lea hanya diam sambil memeluk leher El. Hati dan pikiran Lea sedang berperang satu sama lain, di mana ia bimbang dan bingung untuk memutuskan pilihannya. Lea ingin sekali bertanya pada El, apa alasan ia membunuh Nancy?


"Hei," panggil El sambil menoleh hidung miring pada Lea.


Lea tersadar dari lamunannya dan tatapannya bertemu dengan El yang sedikit merunduk di depannya.


"Mau mandi? Biar kusiapkan air hangat," tanya El dengan lembut.


"Kamu dulu saja yang mandi, setelah itu aku akan mengobati lukamu," tolak Lea, yang malah menyuruh El untuk mandi.


El menampilkan senyum manisnya yang membuat Lea langsung siaga.


"Ingin mandi bersama?" tawarinya yang membuat Lea refleks menendang kaki El.


Dugh!


El sengaja tidak menghindar dan sekarang ia merintih kesakitan karena tulang keringnya ditendang oleh Lea.


"Sayang, kenapa tendanganmu sekuat itu?" rintihnya sambil memegangi tangan Lea dan mengusap-usap kakinya.


"Salah siapa mesum," dumel Lea kesal.


El kemudian melepas jas dan kemejanya.


El melakukan tawa kecil ketika Lea memalingkan mukanya.


"Sebentar, aku akan mandi," ucap El yang disetujui oleh Lea.


Lea menatap pintu kamar mandi yang tertutup. Lalu tatapannya tertuju pada jas hitam El di sana. Dengan berani, Lea meraih jas itu untuk melihat lagi. Ia merogoh saku jasnya dan merasakan sesuatu keras di dalamnya.


Secara perlahan, Lea mengambilnya untuk melihat benda apa itu - revolver yang penuh dengan darah! Lea membuka mulutnya tak percaya dan mengembalikannya ke dalam saku. Dengan hati yang berdegup kencang, Lea melihat tangannya yang terkena darah itu.


Dengan cepat, Lea berlari keluar kamar untuk mencuci tangan sebelum El keluar dari kamar mandi. Lea mencuci tangannya di dapur sambil menangis sedih. Hingga memori tentang Nancy terlintas di pikirannya.


"Bagaimana keadaan ibunya?" gumamnya lirih, khawatir tentang ibunya Nancy.


Lea mengusap air matanya dengan cepat dan menghembuskan nafas panjang.


"Aku tidak boleh gegabah, aku juga tidak boleh berprasangka buruk padanya sebelum aku menemukan buktinya lebih dulu," gumamnya sambil mengambil tisu untuk mengelap tangannya dan hendak kembali ke kamar.


Lea tersentak kaget ketika melihat El berdiri tidak jauh darinya, hanya mengenakan jubah mandi dan terengah-engah.

__ADS_1


"Ternyata kamu di sini, aku takut kamu pergi tadi," ucapnya sambil memeluk Lea erat.


Lea merasa heran dan bingung dengan pelukan itu.


"Apa kamu lapar?" tanyanya sembari melepaskan pelukannya.


Lea menggelengkan kepalanya pelan.


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?" tanya El, sambil mengusap lembut rambut Lea.


"Tadi habis minum, terus cuci tangan. Ayo ke kamar, akan kuobati lukamu," ajak Lea untuk mengalihkan perhatian El.


El hanya mengangguk dan merangkul pinggang ramping Lea menuju kamar. Terlihat ada kotak obat di atas ranjang. Lea langsung mengobati pelipis El dengan hati-hati.


Sejak diobati, El hanya menatap wajah Lea tanpa mengalihkan tatapannya. Sesekali ia tersenyum dan mengusap lembut pinggang Lea.


"Bagaimana bisa kau terluka? Kau sangat ceroboh sekali," dengus Lea.


El tertawa kecil dan mencium sekilas dagu Lea.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil. Aku sangat khawatir tentangmu tadi," ujar El dengan jujur membuat aksi Lea terhenti.


Lea berniat dalam hati untuk menanyakan tentang kejadian di basement parkiran. Dia meletakkan kapasnya dan menatap El.


"Boleh aku tanya?" tanya Lea pelan, yang diangguki oleh El dengan mantap sambil menggenggam kedua tangan Lea.


Lea menelan salivanya dan menatap El dengan hati yang sedikit takut dan was-was.


El terdiam dan tatapannya terasa sangat dalam dan serius pada Lea.


"Intinya, dia bukan orang biasa. Ia adalah orang jahat yang akan membunuh siapa saja yang berada di sampingku. Karena itu, aku sangat ketakutan saat Flo kembali tanpa bersamamu tadi. Aku takut dia menyakitimu, dia adalah anggota kelompok yang jahat," jelasnya jujur kepada Lea.


Lea menelan salivanya dan kembali mengajukan pertanyaan pada El.


"Kenapa harus dibunuh, jika bisa dilaporkan ke polisi? Apakah kamu tidak takut ditangkap polisi?" tanya Lea ingin tahu alasan El membunuh Nancy.


El terlihat diam dan suasana terasa sedikit menegangkan.


"Kamu tahu, sekalipun harus digantung mati, aku tidak peduli, asalkan kamu selamat dan baik-baik saja. Dan aku akan menghabisi siapa saja yang menyakiti dan membuatmu menderita tanpa ampun, tak peduli dia keluarga atau saudaramu," ucap El meyakinkan Lea.


Lea seakan dihantam oleh tombak ketika mendengar ucapan El itu. Ucapannya terasa menakutkan bagi Lea, di mana ia tak ingin melihat siapa pun mati karenanya.


Lea memegang tangan El dan menghembuskan napas sekilas.


"Aku akan baik-baik saja denganmu, aku akan selalu bersamamu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir lagi, aku akan aman denganmu, aku percaya itu," ucap Lea meyakinkan El.


"Jadi..." Lea menunda ucapannya sambil menatap tangan mereka yang saling bergandengan erat.


"Jangan lagi membunuh siapa pun karena aku. Kamu akan mampu kan?" tanyanya pada El, di mana itu terdengar seperti permohonan.

__ADS_1


El masih diam, sementara ia menatap Lea dengan lekat.


"Asalkan kamu tidak mempunyai niat atau pikiran untuk meninggalkanku sampai kapan pun," ucap El sambil merengkuh tengkuk Lea dan mencium bibir tipisnya dengan lembut.


Perlahan, El mendorong Lea untuk berbaring dan menindih sebagian tubuhnya.


Ciuman mereka semakin dalam, di mana tangan El yang sudah aktif dan kreatif membuka resleting dress bagian depan Lea.


Lea langsung menghentikan tangan El, di mana ciuman mereka terjeda sejenak.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi," ucapnya pada El.


"Yang mana?" tanya El menggoda Lea.


Lea berdecak kesal sehingga membuat El tertawa puas.


"Tergantung kondisi nanti," jawab El sambil ******* bibir Lea dan tangan El sudah masuk ke dalam dress.


Lea membusungkan dadanya kala merasakan remasan El yang begitu menggelikan. El yang melihat hal itu tersenyum di sela ciumannya.


Lea langsung mendorong dada bidang El untuk menghentikan ciumannya.


"Kenapa?" tanya El sembari menautkan alisnya.


Lea kembali menutup resletingnya dan menatap garang ke arah El.


"Enggak ada pompa ASI manual saat baby Enzo tidak ada di rumah," katanya ketus sehingga membuat El terkekeh.


"Kamu kira hanya baby Enzo yang butuh ASI, aku juga butuh," ujarnya frontal sehingga membuat Lea melotot tak percaya pada ucapan El barusan.


"KAU!" tekannya sembari menatap Lea tajam.


El semakin tertawa sembari memeluk erat Lea dengan gemas.


"Akhh," pekik Lea kaget saat El menggigit kecil lehernya.


"Kenapa kamu bisa secantik ini hmmm?" tanyanya sembari menggigit gemas pipi chubby Lea.


"Awww sakit," rintih Lea sembari memegangi pipi kanannya yang bekas gigitan El.


"Salah siapa cantik banget," jawab El sembari memainkan perut rata Lea.


"Udah ah aku mau mandi," ucap Lea yang langsung beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri.


El yang mendengar hal itu sontak menyunggingkan senyum sumringahnya.


"Ikutttt," teriaknya ketika berlari membuntuti Lea menuju kamar mandi.


El langsung berbalik kanan saat Lea melepas high heelsnya. Ia menghempaskan tubuhnya di ranjang dengan remote control di tangannya.

__ADS_1


"Rutinitas yang tidak akan bosan untuk kulakukan setiap malam dan sampai kapanpun," gumamnya kala tirai coklat itu terbuka secara perlahan dan menampilkan kaca transparan kamar mandi.


El tak bisa menahan senyumnya dan beberapa kali berguling-guling kala melihat pemandangan indah pada kaca transparan yang menampilkan Lea sedang mandi.


__ADS_2