ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 53


__ADS_3

Gedung agensi


El berjalan menyusuri lorong dengan tatapan yang dingin dan menakutkan di mana tangannya tak hentinya memainkan revolvernya.


Dengan santainya ia masuk ke dalam ruangan yang bertuliskan nama Oliv Force.


Ceklek


El melihat beberapa orang di dalam sana tampak terkejut bukan main kala melihat kedatangan seorang pria dengan revolver di tangannya.


"Di mana Oliv?" tanya El dingin kala tak menemukan Oliv.


"Ia cuti selama satu minggu, kemungkinan ia sedang berada di apartemennya," jawab salah satu tukang rias tersebut .


"Di mana alamatnya?" tanya El sembari meniup revolvernya seakan- akan memberikan kode pada mereka jangan bermain- main dengannya.


Wanita paruh baya itu langsung menghampiri El dan memberikan alamat apartemen Oliv.


El melenggang pergi begitu saja untuk segera menghampiri Oliv di apartemennya.


•••


El telah tiba di apartemen Oliv.


"Oke sesuai alamatnya," gumam El yang langsung turun dari mobil rubiconnya.


El langsung masuk ke dalam untuk segera menemui Oliv.


Dengan tak sabaran El menekan belnya sembari menatap revolvernya dengan begitu lekat.


Ceklek


"BERISIK BANGET SIH," bentak Oliv yang tidak melihat siapa yang datang.


Oliv langsung diam kala El menodongkan pistolnya dan mendorongnya masuk.


"Kau lagi, kau lagi," ketus Oliv dengan kesal kala El kembali mendatanginya.


El melihat bahu Oliv tampak diperban karena ulahnya tempo hari.


"Apa lukamu sudah kering? Aku ingin menambahkannya satu untukmu, di sebelah kiri sini," ucapnya sembari menunjuk bahu Oliv sebelah kiri.

__ADS_1


Oliv menatap sinis dan tajam El.


"Sepertinya kau begitu membutuhkanku hingga kau selalu datang kemari," ucap Oliv dengan beraninya.


Oliv langsung diam kala revolver itu mengarah pada lehernya.


"Kau ingin diputus kepala atau lehermu?" tawarinya dengan pelan.


Oliv diam, ia kini sudah tahu dan paham dengan sikap El.


Di mana ia tak akan main- main dengan ucapannya.


Terlebih El adalah orang yang begitu bengis dan kejam tanpa mengenal gender.


"Apa yang kau inginkan dariku? Aku sungguh tertekan dengan kedatanganmu," ungkapnya dengan jujur.


El tersenyum dan melangkah maju sembari menekan revolvernya pada leher jenjang Oliv.


"Kemana kau bawa pergi Lea?" tanyanya dengan penuh penekanan.


Oliv mengerutkan keningnya lalu detik kemudian tersenyum sumbang.


"Apa Lea sudah pergi? Meninggalkanmu?" tanyanya yang mana itu terlihat seperti ejekan.


Sebuah tamparan yang begitu nyaring dan tepat sasaran sekali.


Oliv membuka mulutnya tak percaya kala El begitu tega menampar seorang perempuan.


Tunggu, Oliv harus berhati- hati mulai saat ini.


Ia sudah paham karakteristik El.


Ia adalah orang yang tegas di mana ia tak pernah main- main dengan ucapannya.


Oliv memegangi pipinya lalu menatap El.


"Lalu jika ia pergi kenapa kau tak mencarinya, kenapa malah datang kemari dan menanyakannya padaku?" tekannya pada El di mana ia benar- benar tak habis pikir dengan pikiran El.


EL langsung mencekik Oliv hingga ia terdorong ke belakang.


"Bukankah kau orang yang bersikukuh untuk menyingkirkan Lea dariku? Bukankah kau yang mengatakan jika akan membawa Lea pergi? Tidak mungkin ia pergi sendiri dengan membawa papanya yang sakit tanpa bantuan orang lain jika bukan kau orangnya," tekan El pada Oliv.

__ADS_1


Oliv berusaha melepas cekikikan El namun begitu kuat dan erat sekali hingga ia kesulitan bernapas.


"Lalu kau menuduhku aku yang membantu Lea kabur darimu dan menyembunyikannya? Kau seorang mafia kenapa sangat bodoh sekali," oloknya dengan terbata- bata di mana ia sangat jengkel dengan El.


El lalu mendorong Oliv hingga ia terduduk di sofa.


El lalu duduk di atas meja dan menatap sinis Oliv.


"Apa yang bisa kau berikan sebagai jaminan jika kau benar- benar tidak menyembunyikannya? Kepala, tangan atau kakimu?" tanya El dengan begitu kejam dan menakutkannya.


Oliv berdecih kala mendengar ucapan El.


El menyimpan revolvernya di dalam jas dan beralih mengeluarkan pisau kecilnya.


"Apa kau sungguh gila hanya karena kehilangan satu wanita? Masih banyak wanita di luaran sana yang bisa kau miliki, tidak harus Lea," tekan Oliv dengan sarkas.


El menatap smirk Oliv sembari memainkan pisaunya.


"Termasuk kau? Sayang sekali, aku anti dengan wanita bandrolan sepertimu," oloknya dengan sarkas membuat Oliv mengepalkan tangannya erat.


"Kau dan Lea itu berbeda, ingat itu baik- baik!" tegasnya pada Oliv.


"Arghhh," ringis Oliv kala ia fokus dengan tatapan tajam El, El dengan santainya menggores lengannya dengan piau kecilnya.


Darah tampak mengalir ke bawah, menetes ke lantai marmer putih membuat EL tersenyum miring .


"Sudah lama aku tidak melihat darah, ternyata baunya masih sama," gumamnya membuat Oliv menautkan alisnya dengan amarah yang ia tahan sebisa mungkin sembari memegangi goresan itu dengan erat supaya darahnya tak terus keluar.


El beranjak dari duduknya dan mengelap pisau kecilnya dengan tisu di atas meja.


"Aku akan terus mendatangimu sampai kau mengatakan di mana kau menyembunyikan Lea. Dan aku akan memenuhi tubuhmu dengan goresan kecil setiap kali kau berbohong padaku, dan aku akan selalu memantaumu, di manapun kau berada, kau paham nona Oliv Force?" tekannya pada Oliv.


Oliv yang mendengar ucapan El benar- benar tak bisa percaya dan juga tak bisa membantah untuk melawannya.


Ia terdiam seribu bahasa dengan kebingungan di kepalanya.


BRAK


Oliv tersadarkan dengan suara pintu yang tertutup begitu keras.


"ARGHHHHHHH," teriak frustasi Oliv kala ia harus terlibat oleh El.

__ADS_1


"Kemana kau pergi bangsat, kau membuatku susah saja," umpatnya sembari menarik frustasi rambutnya.


__ADS_2