
Di sinilah mereka semua berakhir, di dalam mobil yang sama untuk waktu yang tidak sebentar.
Yah mereka adalah Alvino dan kawan- kawannya.
Dari mulai tadi pagi hingga malam ini mereka hanya berputar- putar di sekitar kota Milan.
Kalian tahu untuk apa?
Tentunya untuk menjalankan misi dari tuan besar El Zibrano.
"Yaaa, rumah sakit mana lagi yang harus kita kunjungi?" tanya Ziko yang terlihat kesal dan juga lelah.
"Kenapa enggak sekalian aja kita data semua rumah sakit yang ada di Milan untuk bisa mendapatkan dokter sialan itu? Aku sangat lelah saat ini," usul Zen yang mana hal itu langsung mendapatkan tatapan horor dari mereka berempat.
"Sekarang kau mengeluh setelah tadi cerita panjang lebar tentang cinta pertamanya Lea? Jika malam ini belum ketemu juga kupastikan kau yang akan kami serahkan pada El sebagai gantinya," kata Glen yang diangguki setuju oleh mereka bertiga.
Zen mengalihkan pandangannya keluar jendela.
"Aku kan hanya bicara jujur saja, siapa yang tahu jika pria itu bisa bersikap sangat gila seperti ini. Memangnya apa yang akan ia lakukan pada dokter sialan itu saat bertemu nanti," dumelnya yang tak terima saat mereka menyalahkannya.
__ADS_1
"Setelah aku bertemu dengan dokter sialan itu, hal pertama yang akan aku lakukan adalah memintanya untuk menjahit bibirmu," ucap Sarvel yang diangguki oleh lainnya.
"Tak hanya itu, kau bilang dia dokter anestesi kan? Aku akan memintanya untuk mengoperasi kepalamu," ujar Glen membuat semua menatapnya.
"Untuk apa? Kepalanya kan enggak bocor," tanya Sarvel.
"Kepala dia mah kalau bocor jangan dioperasi, ditambal aja," timpali Ziko membuat Zen berdecak.
"Kepalanya tidak bocor, tapi aku ingin dokter sialan itu mengambil otaknya. Meski kepalanya besar, otaknya sungguh tidak berfungsi dengan baik, daripada enggak guna di dalam kepala, kenapa enggak kita jual saja?' Zen yang mendengar hal itu benar- benar tak percaya.
"Astaga, aku sungguh tidak percaya, kalian merencanakan pembunuhan tepat di depanku, apa kalian sungguh teman?" tanya Zen yang mana hal itu langsung dijawab oleh mereka bertiga dengan gelengan kepala yang kompak dan serentak.
Alvino yang tengah mengemudi hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Alam baka lagiiiiii. Kenapa hal itu kembali diungkit setelah sekian lama tidak pernah dibahas," dumel Alvino sembari mengetatkan rahangnya saat mendengar Ziko membahas hal yang membuatnya merasa cukup tertekan hanya dengan mendengar kata- katanya.
"Oh iya kau benar. Bagaimana dengan ginjal dan hatinya? Biasanya orang bodoh sepertinya, ginjal dan hatinya sangat mahal saat dijual," usul Glen yang langsung diangguki oleh Sarvel dan Ziko.
"Berarti kita harus menemukan dokter sialan itu malam ini agar kita bisa cepat buka konter dan cabang- cabangnya di alam baka sana nanti," tambah Ziko yang kembali diangguki oleh Sarvel dan Glen.
__ADS_1
"Yaa, bagaimana dengan kedua matanya? Kita harus memiliki cukup uang untuk bertahan hidup di alam baka sana nanti, kenapa tidak kita jual sekalian?" tawari Ziko yang kembali diangguki oleh Glen dan Sarvel.
Zen, orang yang tengah dibicarakan akan dijual semua organ tubuhnya, hanya bisa menatap mereka dengan mulut yang sedikit terbuka karena merasa tak percaya.
"Apa jantungnya bisa dijual? Kemungkinan saat di alam baka nanti kita sudah memiliki anak, kita harus punya banyak uang," usul Glen yang kembali disetujui oleh Ziko dan Sarvel.
Alvino yang sudah menahan diri sejak tadi yang mana ia terus mendengar kata keramat itu hanya bisa mencengkeram stir mobilnya untuk menahan emosinya.
"Kenapa tidak sekalian saja kalian jual semua tubuhku, jangan cuma organnya saja. Jadi di alam baka sana nanti kalian tidak hanya bisa buka konter, tapi juga bisa buka perdagangan organ manusia," ketus Zen yang kesal dengan mereka bertiga yang berencana akan menjual semua organnya.
"Ya kau benar, kenapa kita tidak terpikirkan ide cemerlang itu," kata Ziko yang setuju dengan usulan Zen.
Zen yang mendengar hal itu tak bisa berkata apapun lagi selain mengusap dadanya.
"YAAAA!" teriak Alvino yang tak bisa lagi menahan emosinya.
Sontak seisi mobil langsung diam dan hening.
"Kurasa bukan otakku yang harus dijual, tapi otak mereka. Sepertinya aku harus menemukan bajingan itu lebih dulu agar bisa menjual semua otak- otak mereka lalu kabur dari sini dan hidup tenang di LA," gumam Zen sembari menatap keluar jendela saking tertekannya hanya melihat wajah mereka bertiga.
__ADS_1
"Apa yang ia lakukan? Ia tidak marah kan dengan kita?" tanya Glen yang sedikit berbisik pada Ziko yang duduk di tengah.
"Selagi ia masih bicara sendiri, dia belum termasuk gila. Masih aman meski sedikit memprihatinkan, kita awasi saja dari jauh," jawab Ziko yang diangguki oleh Glen.