ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 63


__ADS_3

Dan Kini Sarvel sudah sampai di kantornya.


Dengan langkah yang lebar dan cepat, ia menaiki lift untuk bisa sampai ke ruangannya paling atas.


Ting


Pintu lift terbuka, dengan cepat Sarvel langsung menuju ke ruangan Berlyn.


BRAK


Berlyn yang tengah diskusi dengan para departemen terkejut bukan main saat pintu terbuka secara tiba- tiba.


Dengan cepat Berlyn langsung beranjak dari sofa untuk menghampiri Sarvel.


Brugh


"Tuan..," ucapan Berlyn terpotong saat Sarvel langsung memeluknya.


Dengan kompak para departemen itu langsung keluar dari ruangan Berlyn dan hanya menyisakan mereka berdua.


Berlyn yang mendapatkan pelukan tiba- tiba itu sontak terdiam dan juga terkejut.


Sarvel menguraikan pelukannya dan menangkup wajah Berlyn.


"Kau tak apa- apa?" dengan polos dan bingung Berlyn hanya menggelengkan kepalanya.


Sarvel kembali memeluk Berlyn dan menciumi puncak kepalanya.


Berlyn hanya bisa diam tanpa berniat membalas pelukan Sarvel.


Sarvel lalu menguraikan pelukannya dan menuntun Berlyn untuk duduk di sofa.


"Kau sedang sakit?" gurau Berlyn kala sikap Sarvel sedikit aneh padanya.


"Boleh pinjam ponselmu?" tanya Sarvel membuat Berlyn menaikkan sebelah alisnya.


"Untuk?" tanya Berlyn yang mana hal itu membuat Sarvel sedikit kesulitan untuk menjelaskannya.


Sarvel membuang napas kasar lalu detik kemudian ia meraih tangan Berlyn untuk memberitahunya pelan- pelan.


"Aku harus melindungimu dari para musuhku," jawabnya membuat Berlyn tak paham dengan maksud Sarvel.


"Aku tidak ada hubungannya denganmu, mereka tak akan bisa menyakitiku," jawabnya sembari menarik tangannya dari genggaman Sarvel.


Sarvel lagi- lagi menghela napas gusar kala Berlyn tak juga paham dengan maksud ucapannya.


"Hanya sebentar, ini tak akan lama," pinta Sarvel sekali lagi dengan peuh ketulusan.


Berlyn langsung beranjak dari sofa dan menatap Sarvel dengan datar.


"Terakhir kali kau mengambil ponselku tanpa izin, kali ini aku tak akan memberikannya padamu sekalipun kau meminjamnya," ketusnya yang mana ia langsung berlalu begitu saja.


Sarvel mengumpat kasar kala Berlyn tak juga mendengarkan ucapannya.


•••


Malam harinya pukul 7 Berlyn bersiap untuk pulang.


Ceklek


Berlyn menoleh dan tampak Sarvel berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Ayo kuantar pulang," ajaknya pada Berlyn.


Berlyn menyambar tasnya dan berjalan menghampiri Sarvel.


"Maaf, tapi saya akan pulang dengan suami saya. Permisi," ucapnya yang mana Sarvel kini menghalangi jalannya.


Sarvel menghela napas dan sedikit melonggarkan dasinya.


"Persetan dengan suami bohonganmu itu, ini sangat penting, tolong dengarkan aku sekali ini saja, pulanglah denganku agar aku bisa memastikan jika kamu pulang dengan aman dan selamat," jelasnya pada Berlyn yang mana Sarvel membongkar drama Berlyn tentang mempunyai suami.


Berlyn terlihat malu dan mencari cara untuk bisa lepas dari ajakan Sarvel.


"Tidak. Aku bisa pulang sendiri," tolaknya sembari mendorong tubuh Sarvel agar dirinya bisa lewat.


Tak punya pilihan lagi, Sarvel berusaha meraih tangan Berlyn dan langsung mengangkutnya layaknya karung beras.


"Yaaa, turunkan aku! Kau akan kena hajar suamiku nanti," ancamnya pada Sarvel.


Sarvel yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum kala mengingat bagaimana malam itu dirinya yang diancam oleh Verrrel perkara Berlyn.


"Tenang saja, aku dan suamimu sudah akrab dan berteman baik," ujarnya pada Berlyn sembari membuka pintu mobilnya.


Sarvel langsung mengelilingi mobilnya untuk segera mengantar Berlyn pulang.


Berlyn yang melihat sikap keras kepala Sarvel kini hanya bisa mendumel dan merutuki Sarvel sepanjang jalan.


•••


Kini Sarvel sudah sampai di depan rumah Berlyn.


Berlyn yang sengaja tidak memberitahu arah jalan ke rumahnya, sedikit spechelles kala Sarvel masih mengingat jalan ke rumahnya meski waktu sudah sangat lama.


"Makasih," ucap Berlyn yang segera turun dari mobil membuat Sarvel langsung mengikutinya.


"Aku ingin menyapa suamimu," jawabnya yang mana Sarvel langsung membuka gerbang kayu rumah Berlyn.


Berlyn membuka mulutnya kala melihat sikap lancang dan berani Sarvel.


"Yaaa, aku akan membunuhmu jika kau masuk ke dalam rumah," teriaknya sembari berlari untuk menahan Sarvel yang hampir sampai di pintu.


Sarvel berdiri di ambang pintu di mana tatapannya sedikit syok dan tertegun dengan keadaan rumah Berlyn.


Berlyn yang berdiri di belakang Sarvel ingin sekali menghilang saat ini.


"Wahh, apa ini ruangan dari nona Berlyn yang selalu berpenampilan rapi dan perfeksionis ? Sungguh rapi sekali," pujinya sembari masuk ke dalam tanpa meminta izin Berlyn.


Berlyn berkacak pinggang menatap kesal Sarvel.


"Sekarang aku sudah sampai di rumah dengan aman. Apalagi, cepat pergi dari rumahku," usirnya pada Sarvel.


Sarvel yang tengah duduk di sofa dan menelisik setiap penjuru ruang tengah Berlyn kini tampak tak memedulikan ucapan Berlyn.


"Di mana suamimu? Apa ia belum pulang? Aku harus menyapanya selagi membereskan ini," ujarnya yang mana Sarvel langsung membereskan ruang tengah Berlyn yang berantakan karena buku dan bungkus snack di mana- mana.


Berlyn yang jengah dan jengkel dengan sikap Sarvel kini meninggalkannya begitu saja untuk mandi karena tubuhnya yang terasa lengket.


Mungkin sekitar 30 menitan Berlyn mandi dan berberes kamar di mana ia memang sengaja melakukan hal itu agar Sarvel pergi.


Berlyn mengatur napasnya lalu berniat untuk keluar kamar melihat Sarvel.


Betapa terkejutnya Berlyn kala melihat ruang tengahnya yang sudah bersih dan rapi.

__ADS_1


Bahkan sisa- sisa remahan snacknya di lantai kini sudah bersih kinclong.


Terlihat Sarvel sudah tertidur pulas di sofa membuat Berlyn menghela napas.


"Dia sangat banyak sekali akalnya," gumamnya yang mana ia tahu betapa liciknya Sarvel.


Berlyn beralih ke dapur, semua piring kotor kini sudah bersih dan tersusun rapi di raknya.


Hingga hidung Berlyn mencium sesuatu yang begitu menggugah seleranya.


Ada makanan di atas meja makannya.


Berlyn spontan langsung mendekat ke arah meja makan untuk melihatnya.


Nasi goreng dengan kornet orak- oraik kesukaannya.


Tanpa menunggu lama Berlyn langsung menyantapnya tanpa merasa malu atau sungkan setelah tadi memarahi dan mengusir Sarvel.


Sarvel yang hanya berpura- pura tidur, membuka sebelah matanya dan tersenyum kala melihat betapa lahapnya Berlyn makan nasi goreng buatannya.


Setelah makan Berlyn berniat untuk segera tidur setelah seharian ini ia bekerja.


Namun tatapannya teralihkan pada Sarvel yang tidur di sofa.


Dengan belas kasihan ia mengambil selimutnya di kamar untuk diberikan pada Sarvel.


Dengan sangat hati- hati Berlyn mencoba menyelimuti Sarvel.


Hap


Brugh


"Yaaa lepaskan aku!" berontaknya kala Sarvel menarik tangannya untuk berbaring bersama.


"Udara malam ini sangat dingin, alangkah baiknya jika kau tidur denganku," bisik Sarvel di telinga Berlyn.


Berlyn yang mendengar Sarvel bisa berbicara dengan lancar sontak langsung sadar.


"Kau hanya berpura- pura tidur ? Cepat, sekarang pulanglah," usirnya lagi.


"Mana belas kasihanmu padaku, aku sudah membersihkan semua ruanganmu dan juga masak untuk makan malammu, tega banget kamu usir aku," rajuknya pada Berlyn.


"Salah siapa kau melakukannya , aku tidak memerintahmu," ketus Berlyn yang masih berusaha melepas pelukan Sarvel pada tubuhnya.


Sarvel dengan sengaja mendekatkan wajahnya pada Berlyn.


"Tidurlah sebelum aku menerkammu," peringatinya pada Berlyn.


"Yaaa, apa kau tidak takut jika suamiku pulang dan membunuhmu?" tanya Berlyn dengan jengkel.


Sarvel menyunggingkan senyum manisnya.


"Biarkan saja dia membunuhku, biar sekalian dia ceraikan kamu," jawabnya dengan enteng sembari menghirup aroma rambut Sarvel.


Berlyn berdecak dan memukul dada bidang Sarvel.


"Kau bangsat sekali," umpatnya pada Sarvel dengan kesal.


Sarvel berpura-pura tidur agar perdebatan itu berakhir.


Berlyn yang lelah sendiri karena berdebat dengan Sarvel, di mana ia juga sudah lelah dan mengantuk, alhasil memilih untuk tidur di sofa bersama dengan Sarvel.

__ADS_1


Lagian berdebat dengannya juga tak akan ada habisnya.


Sarvel adalah orang yang keras kepala.


__ADS_2