ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 132


__ADS_3

Di Mansion


Ada Lea yang terlihat begitu bahagia sekali saat ini hingga ia tak melihat bagaimana rupa suaminya.


El yang tengah duduk di dekat jendela beberapa kali menyipitkan matanya saat melihat Lea begitu asyik dengan ponselnya.


"Apa yang membuatnya tersenyum begitu lebar hingga lupa jika aku ada di sini, ia bahkan sejak tadi tidak bertanya atau menatapku, ia begitu fokus sekali dengan ponselnya," dumelnya sembari menyalakan pematik rokoknya.


"Jika aku yang melakukan hal itu, ia pasti akan sangat marah. Bagaimana jika sekarang aku marah?" gumamnya yang berbicara sendiri.


El kembali menoleh saat melihat Lea tertawa.


"Ahh kenapa dia sangat tampan sekali," gumamnya membuat El melayangkan tatapan kesalnya pada Lea.


El membuang rokoknya begitu saja dan enggan untuk merokok setelah mendengar Lea memuji pria di ponselnya.


"Ia bahkan tak pernah memujiku seperti itu, siapa yang ia puji saat ini?" gumamnya dengan heran juga iri.


Hingga El mendapatkan ide cemerlang di mana ia berniat untuk mandi agar terlihat segar.


Terlebih Lea sangat senang saat melihat rambut El basah.


"Aku mau mandi dulu sayang," pamit El sembari melirik ke arah Lea.


Lea hanya mengangguk tanpa menjawab apapun di mana ia tampak sibuk dengan ponselnya.


El semakin kesal dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Selang beberapa menit El keluar di mana ia hanya menggunakan celana pendek sebatas paha dan bertelanjang dada dengan rambut yang basah.


El berdeham sekilas namun Lea tak sedikitpun melihatnya.


"Sampai kapan aku harus sabar, kalau setelah ini ia masih saja mengabaikanku, aku tak akan membiarkan besok ia bisa turun dari ranjang dan berjalan dengan baik," dumelnya sembari meraih rokoknya dan hendak menyalakan pematik rokoknya.


El bersin di mana hal itu berhasil menarik perhatian istrinya.

__ADS_1


"KAN!" tekan Lea yang langsung menghmpiri El yang tengah duduk di dekat jendela.


El yang melihat hal itu tampak girang namun juga ada rasa takut saat ini.


"Siapa yang menyuruhmu mandi malam- malam begini hah? Mana enggak pakai baju lagi?" marah Lea sembari berjalan ke kamar mandi.


El yang mendapat omelan tersebut terlihat begitu senang sekali saat ini.


Terlihat Lea kembali dengan handuk kecil di tangannya.


"Apa kamu sungguh tidak bisa mengeringkan rambutmu dengan benar? Bagaimana jika kamu masuk angin? Jangan biarkan rambutmu basah seperti ini, kenapa kau sangat bandel sekali? Enggak ada angin enggak ada hujan tiba- tiba keramas, kan bisa besok pagi, " omel Lea sembari menyalakan hair dryernya untuk mengeringkan rambut El yang basah.


El hanya tersenyum sembari memeluk manja pinggang ramping Lea.


"Salah siapa kamu tadi sibuk dengan ponselmu, kamu juga terlihat sangat senang sekali. Tak hanya itu kamu juga memuji pria lain di depanku, karena itu aku melakukan sesuatu untuk bisa menarik perhatianmu," ucapnya dengan pelan sembari menciumi perut rata Lea.


Lea yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis sembari mengeringkan rambut El.


"Oh itu, aku sedang bertukar pesan dengan Oliv dan Nico," beritahunya pada El dengan jujur.


"Oliv hamil," beritahunya pada El.


El mendongak menatap Lea dengan lucu.


"Pasti kakak berandalanmu itu begitu senang kan?" Lea tersenyum sembari mengangguk pelan.


"Lalu siapa yang kamu puji tampan tadi?" tanyanya ingin tahu lebih jelasnya.


"Tentu Nico, siapa lagi," jawabnya membuat El langsung menenggelamkan wajahnya pada perut rata Lea.


Lea yang melihat hal itu hanya tertawa kecil dan mematikan hair dryernya.


"Aku kira kamu memuji pria lain," gumam lirih El membuat Lea tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala suaminya sembari sesekali merapikan rambutnya.


"EL!" kaget Lea kala El tiba- tiba mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


"Kan udah selesai main ponselnya, kini saatnya kita main ranjang sayang," katanya sembari membaringkan dengan pelan Lea di atas king sizenya.


El langsung mencumbui leher jenjang Lea dan dada mulusnya.


"Aku akan memberikan bonus double malam ini asal ada syaratnya," El langsung berhenti mencumbui Lea dan menatap istrinya dengan mata yang berbinar dan senyum yang lebar.


"Apa syaratnya?" tanya El dengan tangan yang sudah aktif membuka tali dress Lea.


Lea langsung mengalungkan tangannya pada leher El untuk bisa mendapatkan izin darinya.


"Besok aku akan terbang ke LA untuk mengunjungi papa dan Oliv, boleh kan aku pergi sendiri?" katanya meminta izin.


"Enggak, besok aku ikut," jawabnya dengan tegas membuat Lea langsung mengeluarkan jurus jitunya.


Lea mengecup singkat bibir seksi El.


"Kamu kan besok ada urusan dengan kepala departemen juga akan melakukan delegasi, kenapa ikut. Hanya 2 hari saja, setelahnya aku akan pulang, boleh ya?" rayunya membuat El mengerucutkan bibirnya.


'Kenapa lama sekali? Kan sehari aja cukup di sana, malamnya langsung pulang, kenapa harus sampai 2 hari," rajuknya dengan manja.


"Aku merindukan papa, masak enggak boleh di sana 2 hari, kan setiap harinya di sini sama kamu, aku hanya punya waktu 2 hari di sana untuk bertemu dengan papa," katanya dengan lirih dan wajah memelas demi bisa mendapatkan izin dari El.


El yang tak bisa melihat wajah menggemaskan Lea saat ini sontak langsung luluh dan menciumi leher jenjang istrinya.


"Kau boleh pergi setelah lehermu penuh dengan tanda kissmark dariku," bisiknya sembari mengecup singkat daun telinga Lea.


Lea yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum geli dan memeluk leher El.


"Buruan pulang ya kalau urusannya udah selesai di sana, jangan lama- lama apalagi sampai lupa waktu, aku akan menjemputmu nanti dan membawamu pulang jika saja kau sampai lewat 2 hari di sana," ancamnya pada Lea.


"Astaga, ini aja belum berangkat El, kenapa kamu sangat protektif sekali," heran Lea membuat El mengangkat kepalanya dari leher jenjang Lea.


"Memang kenapa jika protektif dengan milikku sendiri? Kata Alvino lengah dikit, kamu bisa diambil orang nantinya, jadi saatnya kita buat anak sayang," serunya dengan semangat sembari mematikan lampu kamarnya.


Lea hanya bisa tertawa dan tak bisa mengelak lagi dengan sikap manja El.

__ADS_1


__ADS_2