
Markas Klan Wolf
Ada Zen dan Ziko yang tengah duduk di balkon markas dengan ditemani secangkir kopi.
Ya mereka mencoba santai setelah tadi ribut untuk menidurkan baby Enzo.
"Akhirnya tidur juga setelah drama tadi," gumam Zen yang terlihat sangat tertekan dan putus asa sekali.
Ziko tampak manggut- manggut sembari menyeduh kopinya.
"Sepertinya aku harus kembali saja ke Washington, aku lelah di sini," gumam Zen yang mana ia selalu mengatakan hal itu disaat sedang frustasi dan tertekan.
"Kupikir setelah drama menjadi tukang dekorasi Alvino kemarin sudah selesai, enggak tahunya setelah kembali dari Thailand jadi baby sister, ternyata enggak berhenti sampai situ, kemarin malam disuruh bantu Flo buat kejutan, setelah ini apalagi, jadi pendeta? Buat nikahin Alvino dan lainnya? Sial bener perasaan gue dimari," dumelnya panjang di mana ia sangat tertekan berteman dengan Ziko.
"Tapi seru tahu, emang kamu enggak penasaran setelah ini profesi kita ganti jadi apa?" tanya Ziko yang terlihat begitu girang dengan pekerjaannya yang mungkin bisa dibilang serabutan.
"Apa kau bilang? Seru? Wahh apa ada hukum untuk membunuhmu?" ujar Zen yang tak percaya dengan jawaban Ziko barusan.
"Tapi kan dengan berbagai profesi ini kita jadi multitalenta, kita juga banyak pengalaman," ujarnya yang mencoba memberi pencerahan pada Zen.
"Apanya multitalenta, yang ada mati karena putus asa. Bagaimana bisa waktu itu aku berteman denganmu, aku sungguh menyesali hal itu," ujar Zen dengan segala penyesalannya.
__ADS_1
Zen membuang napasnya berat sembari menyeduh kopinya dengan sedikit geram.
"Yaa, berdirilah di tepi sana, aku akan mendorongmu," perintahnya pada Ziko dengan geram.
Ziko tertawa membuat Zen benar- benar tak percaya dengan otaknya.
"Percayalah, dibalik segala ketertekananmu dan rasa putus asa saat ini, kelak akan berbuah manis, apalagi jalaninnya denganku, buhh pasti gula darahmu bakal naik berkali- kali lipat saking manisnya," gurau Ziko membuat Zen ingin sekali melambaikan tangannya dan melompat dari atas balkon.
"Yaa, apa kau tahu, aku tidak pernah berpikir jika segala rasa tertekan ini akan berbuah manis, karena apa? Karna sebelum merasakan manisnya, mungkin aku sudah sekarat karena darah tinggi, bagaimana bisa kau berpikir semudah itu," tekannya dengan geram.
Ziko meletakkan cangkirnya, dan menatap Zen.
"Lalu kau akan kembali ke negaramu?" Zen mengangguk dengan mantap.
"Kau juga mengatakan hal yang sama tempo hari, tapi apa kau kembali lagi kemari," ejek Ziko membuat Zen sangat geram dengannya.
"Aku tak akan kembali lagi kemari jika kau memesankanku tiket dengan benar bukan ke Thailand bangsat," jawabnya dengan geram diikuti umpatan.
"Itulah hebatnya persahabatan kita berdua, Dewa seakan tahu jika kau dan aku tidak bisa dipisahkan," kata Ziko dengan sok seriusnya.
Zen membasahi bibirnya dan membuang napas berat.
__ADS_1
"Sebenarnya aku sudah memiliki firasat buruk ketika kita pergi ke minimarket malam itu, dan ternyata benar saja. Aku sangat menyesal kala malam itu pergi denganmu," dumel Zen membuat Ziko malah tertawa.
Dan malam itu keduanya mengobrol panjang di mana Zen lebih banyak mengungkapkan rasa tertekannya selama berteman dengan Ziko.
•••
Sedangkan di rumah lain ada Shila yang kini terlihat bingung dan takut.
"Bagaimana ini, aku sangat takut dengan hasilnya," gumam Shila sembari mondar-mandir memegangi ponselnya.
Ya Shila sedang menunggu hasil pengumuman beasiswa untuk kuliah ke Hardvard.
Ting
Shila langsung melihat ponselnya dengan jantung yang berdebar.
Ia langsung membuka surel pemberitahuan untuk melihat hasilnya.
Dan ia dinyatakan lolos.
Shila membungkam mulutnya tak percaya dengan hasil yang tak terduga juga memuaskan tersebut.
__ADS_1
"Ini serius?" tanyanya memastikan dengan mata yang berkaca- kaca.
"Apanya yang serius?" Shila berbalik dan terkejut bukan main dengan siapa yang datang saat ini.