ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 18


__ADS_3

°°°


Glen tiba di apartemen tepat pukul 2 dini hari.


Tubuhnya sudah begitu lelah sekali dan kakinya begitu berat saat ini seakan tak kuasa meski hanya untuk berjalan menuju ke kamar.


Mata yang tadinya begitu lengket seketika terbuka kala melihat Flo berbaring di sofa.


"Kenapa ia tidur di sofa?" gumamnya sembari berjalan menghampiri Flo di sofa.


Perlahan Glen berjongkok di depan Flo.


Wajah cantik yang begitu damai sekali saat tidur diam-diam membuat Glen tersenyum.


Hingga Glen memberanikan diri untuk menyingkirkan rambut panjang yang menutupi wajah cantik Flo tersebut.


Kini ia bisa dengan leluasa memandangi wajah cantik Flo.


Flo yang merasa terusik sontak mengerjapkan matanya membuat Glen sedikit terkejut dan langsung menarik tangannya.


Flo menatap Glen dan beberapa kali mengerjapkan matanya.


"Kau baru pulang?" tanya Flo yang langsung duduk sembari mengusap kedua matanya agar terbuka lebar.


Glen dengan keadaan masih jongkok kini menatap muka bantal Flo dengan senyuman yang tipis.


"Lain kali jangan tidur di sini. Banyak nyamuk," bohongnya dengan ketus sembari beranjak dari jongkoknya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil bir dingin.

__ADS_1


Hingga tatapan Glen tertuju pada meja makan.


Terlihat ada beberapa menu yang dihidangkan, di atas meja makan yang biasanya kosong tersebut.


"Kau ingin makan? Akan kupanasi sebentar," ucap Flo sembari mencepol rambutnya ke atas.


Glen menatap Flo yang tampak begitu gesit dalam memanaskan makanan untuknya.


"Kau dari mana? Kumpul sama El?" tanya Flo sembari menyalakan microwavenya.


"Tidak. Aku baru saja kerja keras," jawabnya sembari membuka kaleng birnya.


Flo hanya manggut-manggut tanpa kembali bertanya.


Glen yang tengah menenggak birnya sontak langsung menyemburkan minuman dingin itu kala tatapannya tak sengaja melihat kaki jenjang Flo.


"Yaaa! Kemana celana panjangmu? Kenapa kau malah mengenakan hot pants seperti itu?" marah Glen membuat Flo memutar bola matanya dengan malas.


"Enggak usah ngatur-ngatur pakaianku, atur aja dirimu yang tak laku-laku itu," ketusnya sembari mengusap lengannya dengan tisu akibat semburan dari Glen barusan.


Glen berdecak kala mendengar olokan tersebut.


Ia langsung menenggak hingga habis birnya kala kaki jenjang Flo benar-benar membuat dirinya gerah body.


"Oh ya, besok malam mungkin aku tidak akan pulang. Aku ada party sama temen-temen cewek SMA di club, tak apa kan jika kumasakkan sore hari? Nanti kau tinggal manasi saat pulang dari kantor," ucap Flo yang begitu perhatian dengan Glen.


Glen yang mendengar hal itu sontak langsung melemparkan kaleng birnya ke tempat sampah dengan wajah yang masam.

__ADS_1


"Terserah, mau kau tidak pulang atau tidur di club, tak ada yang melarangmu," jawabnya dengan sedikit ngedumel sembari duduk di meja makan.


Flo yang mendengar hal itu hanya mendengus sebal kala sifat Glen tak pernah berubah sejak SMA.


Flo segera mengambil makanannya kala sudah terasa panas dan pas untuk dimakan.


"Cuma ini makanannya, aku belum beli bahan makanan yang lain. Mungkin jika sempat besok aku akan pergi ke minimarket," ucap Flo sembari menyajikan semua masakannya di atas meja.


Glen yang melihat semua itu kini merasa tak sabar untuk mencicipinya.


"Udah ya, aku tidur dulu. Kau taruh sana aja, besok akan kucuci piringnya," ucapnya sembari melenggang pergi dan kembali berbaring di sofa.


Glen menghela napas gusar kala melihat hal itu.


"Apa perlu kujual sofaku? Apa gunanya ranjang jika ia tidur di sofa," dumelnya sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Selesai makan Glen membereskan semuanya bahkan ia juga mencuci piringnya.


Glen lalu menghampiri Flo di sofa dan lagi-lagi terdengar helaan napas darinya.


Dengan pelan ia mengangkat tubuh ramping itu untuk dipindahkan ke kamarnya.


Glen lalu menyelimuti Flo dan mematikan semua lampunya dan hanya menyisakan lampu tidur yang berada di atas nakas.


Karena ia sendiri juga sudah lelah, alhasil Glen tidur di sofa panjang yang ada di dalam kamarnya.


Di mana sebelum tidur, Glen tersenyum sekilas kala mengingat bagaimana konyolnya ia tadi saat memarahi Flo hanya perkara celana pendek.

__ADS_1


__ADS_2