ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 62


__ADS_3

CITTT


Deritan ban mobil pada basement parkiran benar- benar memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.


Glen turun dari mobil dan berlari begitu kencang untuk sampai ke lantai atas tepat pada apartemennya.


Disusul oleh yang lainnya, mereka berlari dengan tergopoh- gopoh dan selalu menepis pikiran buruk yang selalu muncul pada Flo.


Karena tak ingin mengulur waktu, Glen menggunakan tangga darurat untuk bisa sampai di apartemennya tanpa peduli jika ada lift.


Sedangkan El dan yang lainnya sengaja menaiki lif tberjaga- jaga jika kurir itu turun ke bawah menggunakan lift.


Glen mengatur napasnya, masih kurang satu lanttai lagi.


Ia dengan cepat kembali menaiki tangga untuk cepat sampai di apartemennya.


Glen berlari begitu cepat menuju apartemennya kala ia sudah sampai di lantai paling atas.


BRAKK


Glen menendang pintunya membuat Flo yang tengah makan pizza di ruang tengah hampir tersedak.


"Flo," panggilnya yang langsung menghampiri Flo.


Brugh


Glen langsung memeluk Flo bersamaan dengan El dan yang lainnya datang.


El dan yang lainnya segera memeriksa seluruh ruangan Glen.


Flo yang bisa mendengar betapa cepatnya detak jantung Glen dan napas yang terengah- engah membuat Flo percaya dan yakin jika Glen secemas itu padanya.


Flo menguraikan pelukan Glen dan melihat Glen yang tampak terengah- engah.


"Kamu tidak apa- apa? Apa ia melukaimu? Apa ia mengancammu? Apa ia mengatakan sesuatu?" tanya Glen yang membrondongi Flo dengan segala pertanyaan cemasnya.


Flo menggelengkan kepalanya pelan di mana tangan Glen kini menggenggam erat tangan Flo.


Dan Flo bisa merasakan betapa dinginnya tangan Glen.


"Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membukakan pintu pada seseorang yang tidak kamu kenal, kenapa kamu tidak medengarkanku, bagaimana jika tadi ia melukaimu, apa kau tidak tahu jarak markas kemari itu sangat jauh, bagaimana jika tadi aku terlambat datang, meski kau bisa menjaga diri kau tetap perempuan yang harus dilindungi, apa kau tak paham dengan ucapanku?" omel Glen panjang lebar membuat Flo begitu girang dalam hatinya namun ekspresi wajahnya benar- benar flat sekali.


El dan yang lainnya yang menyaksikan Glen yang tengah mengomeli Flo hanya bisa diam dan terheran- heran.


"Bukankah ia begitu pantas sekali menjadi bapak- bapak?" tanya Ziko yag diangguki oleh Sarvel.


"Meski ia selalu kocak dan Somplak sepertimu, jika menyangkut Flo ia mendadak jadi bapak- bapak yang serius," Ziko berdecak kala Sarvel mengatakan jika dirinya koplak dan somplak.


"Tapi Glen lebih waras dari dia," tambahi Alvino dengan singkat namun sangat panas di telinga.


El hanya tertawa kecil.


"Semua pria pasti akan melakukan hal itu jika menyangkut wanitanya," tambahinya yang diangguki setuju oleh Zen.


"Beruntungnya aku jadi wanitamu," godanya pada El sembari menoel dagunya.


El langsung menodongkan pistol ke arah Zen.


"Sekali lagi kau sentuh wajahku kutembak kepalamu," ancamnya membuat Zen langsung berdiri tegak layaknya sedang baris.

__ADS_1


Ziko dan yang lainnya yang melihat hal itu hanya bisa tertawa.


Glen kembali memeluk erat Flo di mana ia benar- benar sangat mencemaskannya.


PYAR


Semua terjengkit kaget kala mendengar suara pecahan tersebut.


Glen menarik tangan Flo agar ikut bersamanya menuju ke kamar untuk memeriksa suara pecahan tadi.


Terlihat jendela kamarnya pecah.


El langsung keluar ke balkon untuk memeriksanya.


El memicingkan matanya kala seseorang bertopeng hitam di rooftop apartemen seberang tepatnya di TKP, tampak melambaikan tangan padanya.


"****," umpatnya yang langsung berlari keluar dari apartemen Glen untuk menangkap pria bertopeng tersebut.


Alvino dan lainnya yang melihat hal itu segera ikut bersama dengan El untuk menangkap pria tersebut.


"Tetaplah di sini dan jaga dia," pesan Alvino pada Glen sebelum pergi.


Alvino langsung pergi diikuti oleh yang lainnya.


Kini hanya menyisakan Glen dan Flo di dalam kamar.


Flo melihat tangan Glen tak lepas sejenak pun dari tangannya, sejak tadi ia terus menggenggam begitu erat hingga keringatan.


"Minumlah dulu, bukankah semua sudah baik- baik saja, jangan terlalu dipikirkan," ucap Flo sembari menggenggam erat tangan kekar Glen.


Glen hanya diam sembari menatap wajah Flo.


Glen meminum satu botol air untuk menghilangkan rasa gelisah dan cemasnya yang tak kunjung hilang meski Flo sudah aman dan bersamanya saat ini.


"Sebenarnya siapa yang sedang kalian incar? Apa ia yang menculik Lea?" tanya Flo yang penasaran di mana ia tahu apa profesi Glen.


Glen membuang napasnya dan mulai bercerita.


"Dia Archellio, ketua Albania dan musuh rival dari Klan Wolf. Ia selalu ingin menghancurkan kita karena tak terima akan kekalahan yang terjadi 5 tahun lalu, beberapa kali ia menyerang ia akan selalu kalah dengan El, dan apapun yang ia lakukan untuk menguasai kelompok dan wilayah manapun, selalu digagalkan oleh El. Ia sudah menyerah dan menyatakan tidak akan lagi menganggu Klan Wolf, namun ia kembali lagi setelah hiatus lama dari kekalahan 5 tahun lalu, entah apa yang tengah ia cari, tapi kata El, Archellio ingin membalaskan dendamnya atas kekalahan yang ia terima dulu, dan ia sangat takut jika Archellio mengincar Lea, karena itu ia sedang merencanakan hal besar untuk bisa menemukan Lea dan menangkap Archellio," jelasnya panjang lebar membuat Flo manggut- manggut paham.


"Lalu kenapa kamu tadi begitu cemas saat aku menyebutkan warna mata kurir tadi, bukankah heterochromia banyak dijumpai di negara kita?" tanyanya yang tak paham membuat Glen menggelengkan kepalanya.


"Archellio berbeda, ia memiliki warna mata merah dan biru, kata El sangat langka dan hampir tidak ada orang heterochromia memiliki warna mata merah dan biru, kebanyakan dua- duanya warna biru, yang paling langka adalah warna hijau," jelasnya pada Flo.


Flo kini paham sekarang.


"Jadi kurir tadi itu Archellio?" tanya Flo yang diangguki oleh Glen.


Glen langsung meraih tablet Flo di atas meja.


"Tolong sebutkan dengan detail ciri- ciri kurir tadi," pintanya yang sudah bersiap untuk membuat sketsa.


Flo langsung menjelaskan semua detailnya.


Dan sketsa sudah jadi namun hal itu membuat Glen terdiam.


"Kenapa?" tanya Flo sembari mengamati sketsa tersebut.


"Kenapa ciri- ciri yang kamu sebutkan tidak menggambarkan Archellio?" gumamnya yang heran dan bertanya- tanya tentang sketsa yang ia buat.

__ADS_1


"Memang wajah Archellio seperti apa? Apa ia memiliki media sosial atau semacamnya? Tunjukkan saja padaku fotonya," pinta Flo yang tak ingin ribet.


"Ia tidak pernah mengunggah fotonya di media sosial, pernah ada kejadian di Amerika, seorang wartawan tewas setelah mengunggah fotonya, El bilang jika Archellio pembunuhnya, ia tak ingin mengakses fotonya di media sosial dan tak ingin ada seseorang yang mengenalinya, kalau kata El ia ingin disebut sebagai sosok misterius yang menakutkan karena memiliki warna mata yang berbeda, semenjak kejadian di Amerika ia selalu mengenakan topeng sebelah wajah untuk menutupi mata merahnya atau menggunakan masker," jelasnya pada Flo.


"Aku begitu merinding saat ini hanya karena mendengarkan namanya," gumamnya sembari memeluk dirinya sendiri.


"Tapi kurir tadi tidak menggunakan masker," ucap Flo yang mengingat wajah tampan dari kurir tadi.


Glen menatap sketsa yang ia buat dan bertanya- tanya tentang hal itu.


Siapa orang yang ia gambar ini?


•••


Sedangkan di apartemen seberang, El dan yang lainnya tengah menggeledah semua penjuru apartemen untuk menemukan pria bertopeng tadi.


Namun mereka tidak menemukan apapun.


EL lalu mengajak mereka ke rooftop untuk memeriksanya.


Tidak ada siapapun di sana.


"El lihatlah," teriak Sarvel kala melihat tulisan kapur putih di lantai rooftop yang berwarna hijau.


COBA TEBAK, GILIRAN SIAPA SEKARANG?


"****," umpat El kala membaca pesan tersebut.


Hingga Sarvel mengingat tentang Berlyn.


"El," panggil Berlyn.


El menoleh menatap Sarvel yang wajahnya kini sudah pucat pasi.


"Bagaimana jika yang ia maksud Berlyn?" tebaknya membuat EL baru teringat akan hal itu.


"Apalagi cepat temui dia," suruh El pada Sarvel.


"Tapi penerbangan ke San Fransisco nya?" bantahnya membuat Alvino yang kesal langsung menendang kaki Sarvel.


"Di saat genting begini kau malah memikirkan tentang hal itu, cepat pergi dan temui Berlyn sekarang," tegasnya pada Sarvel.


"Biar mereka bertiga yang ke San Fransisco , kau dan Glen tetaplah di sini menjaga para wanita," beritahunya pada Sarvel.


Sarvel langsung berlari untuk menghampiri Berlyn.


Kini hanya menyisakan mereka berempat di rooftop.


El lalu melihat ke seberang di mana rooftop ini memang berhadapan secara langsung dengan lantai Glen.


"Menurutmu apa yang ia lakukan di sini kemarin malam?" tanya Alvino pada El.


"Memantau Glen, ia ingin menghancurkan kita lewat orang yang kita cintai," jawabnya dengan pelan di mana pikirannya kini hanya tertuju pada El.


Alvino menatap El dari samping.


"Percayalah, Lea sedang berada di tempat yang aman saat ini, jangan cemaskan dia, ayo kita tangkap Archellio dan kita bongkar kejahatannya 5 tahun lalu," ujar Alvino yang mencoba menghibur El.


El hanya mengangguk pelan membuat Ziko yang berada di belakang El kini merasa kasihan padanya.

__ADS_1


Ternyata tuannya itu memang sudah jatuh cinta pada Lea.


__ADS_2