ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 80


__ADS_3

Markas Klan Wolf


Alvino datang ke markas di pagi buta ini untuk mengambil laptopnya sekaligus untuk membicarakan sesuatu hal yang penting dengan El.


Alvino sedikit bingung kala melihat Glen dan Sarvel tampak termenung di ruang tengah begitu juga dengan Ziko dan Zen.


Ia sontak langsung menghampirinya.


"Ada apa dengan wajahmu? Apa kau sedang terlilit hutang?" ejek Alvino pada Glen.


"Flo kembali ke LA," jawabnya dengan lesu membuat Alvino sedikit membuka kedua matany.


Ia lalu beralih pada Sarvel.


"Lalu kau?" tanyanya pada Sarvel.


"Berlyn kemarin kencan buta," jawabnya yang tak kalah mengejutkannya.


Alvino tampak manggut- manggut lalu menatap Ziko dan Zen.


"Kalian patah hati juga?" tebak Alvino pada mereka berdua.


"Boro- boro patah hati, satu wanita aja enggak punya," jawab Ziko yang berhasil membuat Glen dan Sarvel tersenyum tipis.


"Kau sudah hampir seminggu tinggal di markas, apa kau sudah kaya hingga tak kembali ke mansion El dan bekerja dengannya?" tanya Alvino sembari menghempaskan tubuhnya di sofa


Ziko yang mendengar ucapan sarkas Alvino sontak ingin sekali memukul kepalanya saat ini.


"Tidak bekerja? Kau kira semua urusan kantornya selesai sendiri? Setiap pagi aku selalu datang ke kantor dan selalu di keroyok dengan banyak proposal dan kontrak kerja, hanya saja aku bukanlah tipe orang yang ria dan menunjukkan kinerjaku, aku adalah tipe orang yang selalu membuktikan semuanya dengan tindakan, bukan hanya dengan ucapan," ucapnya dengan begitu sombong sekali.


Sontak Alvino dan Zen langsung memberikan tepuk tangan pada Ziko.


"Kau seharusnya mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari El," Ziko tampak manggut- manggut setuju dengan usulan Alvino.


"Seperti tembakan di kepala atau di dada mungkin," lanjutnya membuat mereka semua sontak langsung tertawa.


Ziko yang tadinya tersenyum lebar dan hampir terbang ke angkasa, sontak langsung terjatuh di kerasnya tanah.


"Sepertinya aku lupa jika kalian sekutunya, aku akan mencari sekutu dari alam baka saja," gumamnya yang mana tak ada satupun dari mereka mendukungnya.


"Alam baka lagiiiiii," geram Alvino sembari mengetatkan rahangnya dengan kesal.


"Yaaaa, kalian sedang galau kan?" tanya Ziko pada Glen dan Sarvel.


Keduanya hanya diam dan menatap Ziko dengan datar dan penuh dengan dendam.


"Bagaimana jika kalian bakar saja perusahaan teman kalian sebagai bentuk pelampiasan? Dengan begitu kita bisa alih profesi di alam baka dengan bebas, bagaimana?" guraunya untuk menghibur keduanya.


"Untuk apa membakar perusahaan El sebagai pelampiasan jika bisa membakarmu," jawab Sarvel dengan sarkas membuat Ziko berdecak.


Hingga ia mengingat sesuatu yang sangat mengagumkan.


"Yaaa, aku tahu kita harus kemana," soraknya dengan bersemangat yang mana hal itu sangat mengejutkan Alvino.


"Kuyakin kalian tidak akan menyesal pergi ke sana, bagaimana kalian mau ikut denganku?" tanya Ziko yang menawari mereka semua untuk diajak ke suatu tempat.


Semua saling menatap satu sama lain seakan berbicara lewat tatapan.

__ADS_1


......................


Vihara Suci


Di sinilah mereka berlima saat ini, di Vihara suci.


Tepatnya di dalam vihara untuk melakukan ibadah.


Di mana mereka berlima berbaris sejajar untuk melakukan sembahyang.


"Yaa, berapa kali kita sujud seperti ini?" tanya Glen kala ia merasakan kesemutan pada lututnya setelah melakukan sujud lalu berdiri dan kembali sujud dan terus diulang seperti itu.


"101 kali," jawab Ziko dengan enteng membuat Glen dan Sarvel yang mendengar hal itu membulatkan kedua matanya.


"Kau serius? Bagaimana jika kaki kita patah sebelum sampai 101 kali?" tanya Zen yang sudah kesulitan untuk berdiri.


"Itu akan lebih baik, artinya Tuhan telah menerima sembahyang kita," jawab Ziko dengan enteng.


"Apa Tuhan tidak akan terkejut jika melihat kita tiba- tiba sembahyang seperti ini?" tanya Alvino yang sebenarnya ingin sekali berlari dari sana namun kakinya seakan begitu lengket.


"Justru Tuhan akan senang melihat kita tiba- tiba taubat seperti ini, meski niat kita bukan tulus untuk sembahyang, lebih tepatnya berdoa untuk mengembalikan para wanita kalian, Tuhan akan senang ketika melihat kita kesemutan dan kesulitan berjalan karena sembahyang begitu lama," jawab Ziko dengan panjang lebar.


"Tapi aku tidak punya wanita," jawab Alvino dan Zen dengan bersamaan.


Ziko membuang napasnya dan kembali sujud.


"Setidaknya kita sudah taubat sebelum pergi ke alam baka," kata Ziko pelan.


Alvino mengetatkan giginya saat ia mendengar kata ajaib yang mampu membuatnya tertekan tersebut.


Zen yang sedari tadi hanya diam tak banyak bicara tiba- tiba buka suara.


"Yaaa, sejak tadi kita sujud beberapa kali hingga kaki kita kesemutan, apa yang kalian ucapkan saat sembahyang?" tanya Zen yang mana hal itu membuat mereka langsung diam dan berpikir.


"Ucapkan saja apa keinginan kalian, apa susahnya dengan hal itu," jawab Ziko dengan santai dan terus melakukan sujud beberapa kali tanpa henti.


"Bukankah sembahyang ini biasanya dilakukan oleh mereka yang beragama budha?" tanya Glen yang sempat tahu tempat ibadah para budha.


"Ya, kenapa?" tanya Ziko yang sembahyang dengan begitu khidmat.


Alvino langsung berhenti sujud diikuti yang lainnya kecuali Ziko.


"Dari kita berlima, siapa yang beragama budha?" tanya Sarvel pada mereka.


"Tidak ada," jawab Ziko membuat Glen membuka mulutnya tak percaya.


"Lalu apa gunanya kita sembahyang sejak tadi di sini jika tak ada satupun dari kita yang beragama Budha?" tanya Alvino yang sudah emosi sejak tadi.


"Aku pernah mendengar dari dukun terkenal di Milan, katanya jika kita berdoa di Vihara, doa kita akan cepat terkabul," jelas Ziko pada mereka.


"Kau sedang mempermainkan kami?" tanya Glen yang ikut emosi.


"Coba saja lakukan sujud sebanyak 101 kali, jika Flo kembali dan Berlyn batal nikah, itu artinya dukun Milan itu benar ucapannya, dan kita bisa meminta apapun hanya dengan melakukan sembahyang seperti ini sampai kaki kita kesemutan," jelas Ziko panjang lebar.


"Lalu jika gagal?" tanya Glen yang sangat geram dengan Ziko.


"Kita pindah ke gereja, dan berdoa di sana, siapa tahu di sana doa kita bisa terkabul," jawab Ziko dengan enteng.

__ADS_1


Mereka berempat yang mendengar hal itu tampak manggut- manggut dan kembali sembahyang bersama dengan Ziko karena tertarik dengan hasil sembahyang tersebut.


"Yaaa, ngomong- ngomong, siapa nama Tuhan dari agama ini? Aku pernah lihat jika setiap agama memiliki nama Tuhan yang berbeda- beda," tanya Glen yang mana sejak tadi ia sempat dibuat bingung untuk memanggil nama Tuhannya.


"Ada banyak, kalian bisa memanggil dewa Adibuddha, Dhyani Buddha, Bodhisattwa, dan Mahabarata, kalian bisa memilih salah satu dari mereka berempat," jawab Ziko yang begitu lancar menyebutkan nama dewa- dewanya.


"Mahabarata? Aku seperti tidak asing dengan nama itu? Apa itu sungguh nama- nama dewanya?" Ziko hanya mengangguk membuat Glen hanya beroh ria saja.


"Kenapa makin kesini makin tidak beres," gumam Alvino yang merasa tidak enak dengan sesuatu.


Zen yang mendengar jawaban Ziko kini benar- benar terlihat frustasi di mana ia menarik rambutnya dengan putus asa.


"Astaga, apa yang ia pikirkan, bukankah kita atheis? Kenapa kita harus melakukan sembahyang budha dan katolik hanya untuk mencoba hasil dari doa kita? Bagaimana jika Tuhan murka? Bahkan ia hafal nama- nama dewanya dan pengikutnya terlihat lebih bodoh dari gurunya, bagaimana bisa mereka percaya begitu saja jika nama dewa keempatnya mahabarata, kenapa tidak disebutkan sekalian nama pemeran mahabaratanya" gumam Zen yang heran dengan mereka.


"Ya Tuhan kembalikan aku ke Washington sebelum kewarasanku hilang karena mereka berempat," gumam Zen yang kini kembali ikut sembahyang dengan mereka berempat.


"Kenapa kita tidak sekalian aja mencoba semua ibadah yang ada? Siapa tahu salah satu dari ibadah yang kita lakukan, doa kita bisa terkabul," usul Zen dengan iseng karena sudah lelah dengan pikiran mereka.


"Ide yang bagus, besok kita pindah ke Pura untuk melakukan sembahyang agama Hindu, bagaimana?" usul Ziko yang langsung diangguki oleh mereka berempat.


Zen yang mendengar hal itu kini membuka mulutnya tak percaya.


"Astaga, sepertinya aku akan benar- benar menjadi orang gila bersama mereka," gumamnya yang merasa putus asa dengan mereka.


Sedangkan di luar Vihara ada beberapa biksu yang hendak sembahyang.


Dan tak sengaja melihat lima pria yang tengah khusyuk sembahyang.


"Lihatlah para pemuda itu, mereka begitu khusyuk dalam sembahyang, pasti mereka sangat baik akhlaknya hingga begitu giat dalam sembahyang," puji salah satu biksu tersebut.


"Bukankah mereka sangat pantas untuk diangkat menjadi bhante?" usul salah satu biksu.


"Jika mereka menjadi biksu, pasti Vihara akan sangat ramai dikunjungi oleh mereka para masyarakat karena paras mereka yang tampan dan masih muda," tambah biksu satunya.


"Pasti mereka sedang berdoa untuk bisa menjadi biksu atau sedang menghadap Dewa Adibudha untuk bisa mengkonsentrasikan pikirannya, mereka terlihat begitu bersungguh- sungguh dalam berdoa," puji biksu yang lainnya yang kagum dengan mereka berlima.


Biksu besar itu tampak manggut- manggut setuju.


Padahal yang terjadi sebenarnya ialah.


"Dewa Adibudha, tolong kembalikan Flo kesini lagi, jangan biarkan ia menikah dengan pria lain, atau kalau perlu buat hujan badai di pernikahannya hingga mereka batal menikah," ucap Glen yang terus menerus mengulang doanya.


"Dewa Dhyani Buddha, tolong buat Berlyn kembali jatuh cinta denganku, tolong gagalkan rencana mereka setiap kali akan kencan buta," doa Sarvel.


"Dewa Bodhisattwa, kuharap kau memberikan aku wanita paling cantik dan sempurna seperti Lea, kalau bisa duplikatannya Lea juga enggak papa Dewa," dan ini doa Ziko.


Alvino menelan salivanya dan mulai berdoa.


"Dewa Mahabarata, kuharap aku mendapatkan jodoh yang cantik dan sempurna seperti Lea, kalau bisa secepatnya ya Dewa, agar aku tidak muak melihat kebucinan mereka," dan ini doa Alvino.


Alvino yang baru saja berdoa tiba- tiba berhenti.


"Entah kenapa rasanya sedikit aneh saat menyebutkan nama dewa ini, apa ia sungguh dewa?" gumam Alvino yang merasa tak beres dengan hal ini.


Zen yang mendengar semua doa mereka hanya bisa menghela napas.


"Bagaimana jika kuberitahu semua nama pemeran mahabarata? Agar ia lebih lama sembahyang di sini? Kukira ia paling normal dari mereka berempat, siapa yang tahu jika ia sama gilanya," gumam Zen yang sedikit geram dan ingin sekali memukuli kepala mereka saat ini agar cepat sadar.

__ADS_1


__ADS_2