ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 94


__ADS_3

Mansion El Zibrano


Ada Lea yang terduduk di atas ranjang dengan perasaan bingung dan risau karena El sedang marah dengannya.


Ya, El marah saat tiba di markas tadi hendak merayakan pesta bersama- sama baru menyadari jika pergelangan tangan Lea terluka akibat gesekan dari tali yang mengikat pergelangan tangannya.


"Duh gimana dong sekarang, masak dari tadi dia cuma diem aja," gumamnya sembari berguling- guling di atas ranjang karena merasa resah dan bingung.


"Lagian kan ini cuma luka kecil aja, udah diobati juga sama dia tadi, masak gitu aja marah sih," dumelnya yang kesal juga dengan El.


"Kan aku juga pengin pesta sama Ziko dan yang lainnnnnnn," rengeknya sembari memukuli bantal El.


Lea diam sejenak lalu mencoba untuk berpikir bagaimana caranya bisa membujuk El.


"Ahh bodoh amatlah, mau marah kek mau apa kek terserah dia, dia kira cuma dia aja apa yang bisa marah, aku juga bisa kali," gerutunya sembari mematikan lampu kamarnya.


Lea menarik selimut tebal dan bersiap untuk tidur tanpa memedulikan El yang marah dengannya.


Ceklek


Lea langsung pura- pura tidur kala mendengar suara pintu dibuka.


Dengan sangat penasaran Lea membuka sebelah matanya untuk melihat El.



Lea membuka mulutnya kala melihat betapa seksinya El saat ini.


Lea menggigit gemas selimutnya kala melihat roti sobek yang begitu seksi sekali.


Tanpa sadar, El menatap Lea yang saat ini tengah fokus menatap dirinya, lebih tepatnya menatap perut sixpacknya.


El tersenyum tipis kala melihat ekspresi wanitanya saat ini.


Dengan sengaja El tebar pesona dan berpura- pura tidak melihat jika Lea sedang memperhatikan dirinya.


El duduk di tepi ranjang dan sibuk dengan bukunya.


"Kau dari mana saja?" tanya Lea pelan pada El.


"Di depan," jawabnya singkat tanpa menoleh pada Lea dan fokus dengan bukunya.


Lea mengerucutkan bibirnya kala El begitu cuek saat ini.


Hingga ide cemerlang terlintas di pikiran Lea.


Ia tiba- tiba bangun dari baringnya dan pergi menuju ke walk in closet.


"Apa dia marah?" gumam El yang kini panik sendiri kala Lea tiba- tiba pergi.


El sesekali melihat ke walk in closet dengan cemas kala Lea tak kunjung kembali.


"Kenapa lama banget sih, apa ia tidur di walk in closet? Harusnya kan aku yang marah kenapa jadi dia yang balik marah," dumelnya tak henti dari tadi kala tak melihat Lea kembali ke ranjangnya.


El beberapa kali berdecak dan menyugar rambutnya ke belakang dengan perasaan yang begitu geram saat ini.


Hingga ia tertegun kala melihat Lea keluar dari walk in closet dengan penampilan yang begitu seksi dan sangat cantik sekali.



El langsung mengalihkan pandangannya kala Lea berjalan ke arah ranjang.


Lea lalu langsung berbaring di ranjang dan membelakangi El di mana ia menyibukkan dirinya dengan melihat ponsel.


El yang melihat sikap Lea tersebut dibuat kesal sendiri saat ini.


El menautkan alisnya kala melihat foto- foto yang tengah Lea scroll saat ini, yaitu pria- pria seksi yang bertelanjang dada dengan roti sobek yang terlihat begitu menggoda.


"Yaaa," teriak El tiba- tiba membuat Lea berbalik dan menatap El dengan alis yang naik sebelah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Lea pada El.


El melemparkan bukunya ke sembarang arah lalu sedikit mendekat pada Lea.


"Kenapa kamu melihat foto- foto pria bertelanjang dada seperti itu?" tanya El yang tak bisa menyembunyikan rasa kesalnya saat ini pada Lea.


"Memangnya kenapa, kan hanya bertelanjang dada tidak telanjang semua," jawab Lea dengan santai dan kembali membelakangi El.


El yang mendengar jawaban Lea melotot tak percaya.


"Dasar wanita, ada pria lain yang bening dikit dengan roti sobek yang menggiurkan langsung aja tertarik," dumelnya sembari berbaring dan membelakangi Lea.


Lea yang mendengar dumelan El tak bisa menahan tawanya lagi saat ini.


Ia meletakkan ponselnya dan langsung berbalik memeluk El dari belakang dengan tawa kecilnya.


"Yaa, apa kamu marah hanya karena aku melihat foto- foto pria itu?" tanya Lea sembari mengusap dada bidang El.


El yang merasakan usapan pada dada bidangnya, mendadak begitu gugup hingga ia tak bisa berkata apapun saat ini.


"Salah siapa kau tadi marah denganku, kau bahkan juga melarangku untuk ikut pesta setelah kita sudah sampai di markas tadi," beritahu Lea tentang alasannya yang ikut mendiamkan El.


El hanya diam saja bukan berarti ia marah, ia sedang menetralkan detak jantungnya saat ini di mana usapan tangan Lea benar- benar membuatnya tak bisa berpikir apapun.


"Apa kau akan mendiamkanku sampai besok?" tanya Lea di mana usapannya kini beralih pada roti sobek El.


El memejamkan matanya dan beberapa kali menelan salivanya.


"Lea," panggil El kala usapan Lea membuatnya hampir terbang saat ini.


Cup


"Apa kau masih marah?" tanya Lea setelah mengecup singkat punggung polos El.


Lea lalu mengecupi punggung El dengan gemas kala ia hanya diam saja dan mengabaikan Lea.


Brugh


El mengatur napasnya membuat Lea tersenyum tipis.


"Kau tak marah lagi kan?" tanya Lea memastikan pada El.


"Bagaimana bisa aku marah denganmu jika kamu menggodaku seperti ini," jawabnya sembari mengecup lembut pergelangan tangan Lea yang terluka.


Lea lalu mengalungkan tangannya pada El.


"Lain kali jangan menggodaku dengan sentuhan tanganmu, itu benar- benar membuatku sangat gila," bisik El lirih dengan suara serak basah yang terdengar begitu seksi sekali di telinga Lea.


"Oh ya? Lalu kenapa kau tadi tidak menatap atau memujiku saat aku berusaha terlihat seksi di depanmu?" tanya Lea membuat El tertawa renyah dan tak percaya jika Lea akan bertanya seperti itu.


"Apa kau tahu bagaimana gilanya aku berusaha menahan diri saat ini, bukan tak mau menatapmu sayang, aku hanya berusaha menjagamu, aku tak yakin jika memandangmu hanya pujian yang akan kulontarkan, mungkin hujaman dan kecupan yang akan kau dapatkan," ujarnya dengan frontal membuat Lea melotot malu.


"Yaaa, tidak bisakah kau berucap yang benar, kau sangat mesum sekali," ucap Lea pada El.


El hanya tertawa lalu menciumi pipi chubby Lea.


"El," panggil Lea kala El sibuk mengulum pipinya dan sesekali menggigitnya gemas.


"Hmm?" sahutnya dengan suara seraknya.


"Makasih ya udah dateng selamatin aku dan Oliv tadi, bahkan teman- temanmu terluka karena berusaha untuk membantu menyelamatkanku, aku sungguh berhutang budi pada mereka semua," ucapnya membuat El langsung mengangkat kepalanya.


"Kamu hanya mengucapkan terima kasih padaku dan lebih mencemaskan teman- temanku, apa kamu sungguh mencintaiku? Kamu bahkan tidak menanyakan apakah aku terluka atau tidak," rajuk El membuat Lea tertawa geli mendengarnya.


"Iya- iya maaf, lalu apa tuan El terluka?" tanya Lea membuat El semakin merajuk dengan pertanyaan Lea barusan.


"Tuan El? Ahh apa aku sungguh tuanmu? Oh ya aku lupa, kita kan bukan sepasang kekasih, jadi tak apa jika kamu memanggilku tuan, ya kan?" ucapnya pada Lea.


Lea semakin tertawa puas kala melihat sikap El yang tak kalah lucu dan menggemaskannya saat ini.

__ADS_1


"Bagaimana bisa ada bayi besar sepertimu," gumam Lea membuat El menautkan alisnya kesal.


Lea langsung diam kala El menatapnya datar.


"Apa kamu terluka tadi sayang?" tanya El dengan manis membuat El langsung membasahi bibirnya sebagai bentuk untuk menahan senyumnya saat ini.


"Bisa kamu panggil aku seperti itu sekali lagi?" pintanya pada Lea.


"Sayang? Honey? Sweety? Yang mana?" goda Lea membuat El kembali mengerucutkan bibirnya membuat Lea kembali tertawa.


El langsung menciumi leher Lea sebagai bentuk balasannya karena sejak tadi Lea terus menggodanya.


"El ampun geliiii," teriak Lea dengan tawa renyahnya.


El lalu menghentikan kecupannya di leher jenjang Lea lalu menatap lekat kedua mata Lea dengan serius saat ini


Suasana yang tadinya bising karena tawa dari Lea, kini mendadak sunyi karena tatapan El pada Lea.


"Aku ingin selalu bisa melihatmu tertawa seperti ini sampai hari tua nanti, aku juga ingin bersamamu sampai waktu yang lama, dan aku ingin kamu selalu ada di sampingku sampai akhir hayat nanti," ucap El dengan tiba- tiba serius.


Lea kini mulai ikut serius dan menatap lekat El.


"Kenapa kamu tiba- tiba mengatakan hal itu?" tanya Lea ingin tahu.


El menggelengkan kepalanya lalu mencium begitu lama kening Lea.


"Aku hanya ingin mengutarakan rasa bahagiaku saat ini," jawabnya dengan tatapan yang terus tertuju pada bibir Lea.


Cup


El memejamkan matanya sekilas kala Lea mengecup singkat bibir seksinya.


"Kalau begitu lakukan sesuatu untuk bisa mengikatku agar bisa bersamamu untuk waktu yang lama," suruh Lea membuat El mengembangkan bibirnya lebar.


"Siapa yang mengajarimu mengatakan hal manis itu, hmm?" tany El sembari menyatukan keningnya dengan kening Lea.


Lea tertawa kecil sembari mengusap lembut tengkuk belakang El.


"Menurutmu siapa yang kutiru untuk bisa berucap manis seperti ini?" tanya balik Lea membuat El tertawa kecil.


El lalu memangut lembut bibir bawah Lea.


Lea yang selalu teringat permintaan kecil El kala itu untuk kali pertamanya mereka ciuman selalu membuat Lea tersenyum kecil.


Dan kini Lea melakukannya sebagai bentuk kasih sayangnya pada El.


El yang merasakan usapan lembut pada tengkuk belakangnya, remasan pada rambutnya, benar- benar dibuat melayang dan hampir terbang dengan sikap manis Lea.


Lea membuka kedua matanya kala El melepaskan pangutannya.


"Kurasa jika kita tidak berhenti sekarang," El menjeda ucapannya.


"Aku tak yakin besok kamu akan bisa berjalan dengan baik untuk menemui mama," lanjutnya sembari memainkan hidungnya dengan hidung Lea.


Lea hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


El menjatuhkan tubuhnya ke samping lalu merangkul Lea ke dalam dekapannya dengan selimut tebal yang menyelimuti keduanya.


Cup


"Sekarang tidurlah dengan nyenyak, besok akan kuadakan pesta lagi untukmu di rumah mama," ucapnya pelan sembari menciumi kening Lea.


"Undang yang lainnya juga ya?" pinta Lea yang selalu memikirkan orang lain.


El hanya tersenyum dan berdeham sekilas.


El yang hampir terlelap, kembali dibuat tak fokus kala merasakan uapan pada punggungnya.


"Sayang berhentilah mengusap punggungku atau aku akan menghujammu malam ini hingga esok pagi," peringati El pada Lea.

__ADS_1


Lea hanya tertawa kecil sembari memukul pelan punggung El.


__ADS_2