
Pagi hari ini El berpura- pura terlelap demi mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istri tercintanya tersebut.
Di mana El akhir- akhir ini sangat curiga saat Lea diam- diam pergi hanya untuk menerima telepon.
Jika tidak ada yang disembunyikan, bukankah ia seharusnya tidak melakukan hal itu?
Karena itu tadi El berpura- pura terlelap demi ingin tahu apa yang disembunyikan oleh istrinya tersebut.
Dan pagi ini Lea bangun lebih awal tanpa membangunkan El di mana ia tampak buru- buru dan hendak pergi.
El yang tidak tidur sejak tadi, kini memantau dari jendela lantai satu untuk melihat istrinya.
El menautkan alisnya saat melihat pakaian Lea saat ini yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Kenapa ia berpakaian sangat pendek seperti itu? Ia bahkan sangat cantik dan begitu rapi sekali, siapa yang akan ia temui?" dumel El yang mulai emosi hanya karena melihat pakaian dan dandanan Lea yang mana menurut kita begitu wajar dan normal saja namun tidak dengan tuan El Zibrano.
Mobil lamborgini itu pergi begitu saja membuat El langsung naik ke lantai atas.
El meraih ponselnya dan menghubungi Ziko.
"Yaa, ada apa?" tanya Ziko dari seberang telepon.
"Kau ingin kartumu kembali dicairkan bukan?" tanya El dengan dingin.
"Ya ya aku mau," jawab Ziko dengan begitu antusias sekali.
"Kalau begitu pulang dan jaga putraku, aku ada urusan sebentar," perintahnya pada Ziko.
"Sekarang?" tanya Ziko membuat El mendesis.
"Bulan depan," gertaknya dengan kesal.
"Untung masih bulan depan, kirain sekarang, kalau sekarang aku tidak bisa, aku sedang menuju ke Thailand untuk menjemput Zen," jawabnya membuat kepala El serasa mau meledak.
__ADS_1
"ZIKO!" bentaknya dengan keras di mana ia sangat geram sekali dengan Ziko.
El menoleh di mana putranya langsung bangun karena suara kerasnya.
"Apa yang kau lakukan di Thailand sedangkan di kantor banyak pekerjaan? Apa kau ingin kubunuh di Thailand? Cepat kembali sebelum kugantung kepala di atas pesawat," suruhnya dengan tegas sembari mengangkat baby Enzo dari keranjang bayinya.
"Kau kira dari kemarin meeting- meeting dan pertemuan kepala departemen dengan klienmu dari Belgia berjalan begitu saja? Kau kira pesta perjamuan untuk klien Spanyol kemarin berjalan sendiri di restauran? Semua sudah kuselesaikan tanpa melapor padamu, meski aku tidak pulang ke mansion, aku melakukan semua pekerjaanku dengan baik, kau pikir aku sepertimu? Setelah bertemu dengan Lea kau bahkan tidak pernah datang sama sekali ke kantor dengan alasan ini itu, cihh apa kau kini menjadi budak cinta?" ejeknya di akhir kalimat membuat El manggut- manggut paham.
"Baik, pembekuan kartu akan kuperpanjang sampai tahun depan," serunya lalu mematikan teleponnya secara sepihak.
"Dasar asisten gila, ia bahkan membandingkan diriku dengannya," dumelnya sembari melempar ponselnya ke atas ranjang.
"Sayang, sekarang kita mandi ya, kita susul mamamu yang pergi tanpa membangunkan kita, jangan biarkan lelaki manapun dekati milik kita, kamu setuju?" baby Enzo hanya menatap El sembari mengulum ibu jarinya.
El hanya tersenyum dan langsung memandikan baby Enzo untuk segera menyusul istrinya tersebut.
.....
Di sinilah Lea sekarang, di cafe dekat taman kota yang mana itu tak jauh dari mansion El.
Ya kalia tidak salah baca, ia dengan sepupunya.
"Makasih ya Lea, kau sudah banyak membantuku," serunya sembari mengaduk kopinya.
"Tak masalah, sudah seharusnya kita saling bantu," jawab Lea yang terlihat fine- fine saja tanpa memperdebatkan apa yang telah Tera lakukan dulu terhadapnya.
"Setelah ini apa rencanamu?" tanya Lea yang mana Tera sudah terlihat begitu tenang dan bisa menjalani hidupnya dengan benar setelah kasus papanya terpecahkan dan semua mendapatkan keadilannya.
"Mungkin aku akan ke Amerika, aku akan melanjutkan studiku di sana," Lea manggut- manggut saja.
"Kau akan kembali lagi ke sini kan?" Tera tersenyum saat Lea menanyakan hal itu.
"Aku sudah tidak punya siapa- siapa lagi di sini," jawabnya membuat Lea melemparkan tatapan kesalnya.
"Lalu kau tidak menganggapku sebagai saudaramu?" Tera tertawa kecil.
__ADS_1
"Yaa, aku sesekali aku akan berkunjung," jawabnya membuat Lea berdecak.
"Aku tidak setuju jika kau menikah dan tinggal tetap di Amerika," peringatinya pada Tera.
"Kenapa?" tanya Tera penasaran juga ingin tahu kenapa Lea begitu baik dan tulus sayang dengannya.
"Kau bisa tinggal bersamaku, kau sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, jadi jangan jauh- jauh dariku, kita sama- sama hidup di sini sebagai keluarga," serunya memberitahu Tera.
Tera tersenyum manis sembari menyeduh kopinya.
"Betapa bodohnya dulu aku, kenapa aku dulu begitu murka dan serakah dengan hartamu tanpa tahu ketulusan hatimu," gumamnya membuat Lea tersenyum tipis.
Lea memegang tangan Tera dan tersenyum.
"Lupakan semua yang terjadi di sini dan pergilah ke Amerika untuk mencari udara dan suasana baru, setelah mendapatkan pasangan kembalilah kemari, aku akan menjadi baby sistermu nanti," gurau Lea membuat Tera tertawa dan menggenggam erat tangan Lea.
"Maaf ya, tempo hari saat pernikahanmu aku tidak bisa datang, aku takut merusak suasana dan hari bahagiamu mengingat El begitu membenciku," ujarnya untuk kesekian kalinya.
"Justru aku yang seharusnya minta maaf tidak bisa membuatmu datang karena ego El, padahal kemarin aku sungguh berharap kamu datang," gumam Lea membuat Tera kini merasa sedih dan tak enak hati.
"Tapi tak apa, aku sangat senang dengan kado darimu, aku sangat menyukainya," ucap Lea dengan jujur dan tulus.
"Syukurlah, aku bingung harus memberimu apa, kau sudah memiliki semuanya, karena itu aku hanya bisa memberimu itu," ujar Tera membuat Lea berdecak.
"Jangan berlebihan aku sudah sangat senang dengan hadiah itu," ucapnya dengan senang hati.
Mereka terus mengobrol panjang hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Lea yang tak ingin El curiga dan marah padanya, sontak langsung pamit pada Tera untuk segera kembali.
Lea bergegas keluar dari cafe untuk bisa pulang secepatnya.
"Kenapa aku sangat lupa waktu sekali, bagaimana jika ia mencariku? Aku bahkan tidak melihat jam karena asyik mengobrol dengan Tera," dumel Lea yang menyesali kecerobohannya yang lupa waktu.
Spontan langkah Lea terhenti saat ia melihat siapa yang duduk di bangku taman.
__ADS_1