
Deg
Sarvel terkejut kala tatapan mereka bertemu saat perempuan itu berbalik sembari membawa mangkuk besar.
Berlyn.
Ya mantan Sarvel semasa SMA dulu.
"Di mana papamu? Makan malamnya sudah siap," serunya dengan begitu santai layaknya mereka tidak ada masalah apapun dan sudah kenal lama.
Sarvel masih terdiam di tempatnya dan sedikit tertegun dengan penampilan Berlyn saat ini.
Di mana terakhir kali Sarvel bertemu dengan Berlyn setelah mereka putus dan tidak lagi pernah bertemu setelahnya.
Jujur Sarvel terpana akan penampilan Berlyn saat ini, ia terlihat seperti wanita dewasa dan layaknya seorang pemimpin.
Dan jangan lupakan jika ia juga sangat cantik dan seksi sekali.
"Apa kau akan berdiri di sana dan menatap Berlyn seperti itu?" Sarvel menoleh kala mendengar suara papanya.
Sarvel terlihat salah tingkah dan berdecak kesal kala Wendles menertawakannya.
"Saya akan menunggu di ruang tamu," pamitnya hendak pergi.
"Mau kemana kamu, ayo kita makan bersama," ajak Wendles pada Berlyn.
Berlyn menatap Sarvel sekilas lalu duduk bersama di meja makan.
"Yaa! Apa kau akan berdiri di sana sampai besok pagi? Cepat duduk," pintanya pada Sarvel.
Sarvel lagi-lagi berdecak dan terpaksa duduk berjarak satu kursi dengan Berlyn.
Wendles yang melihat hal itu tak bisa menahan senyumnya.
"Berlyn akan tinggal denganmu mulai malam ini," ucap Wendles dengan tiba-tiba.
Uhuk Uhuk
Berlyn dengan sigap dan reflek langsung menyodorkan gelasnya pada Sarvel.
Sarvel langsung meminum air milik Berlyn.
"Papa lain kali kalau ngomong jangan pas waktu Sarvel makan, Sarvel hampir tersedak wortel karena papa," dumelnya membuat Wendles tak hentinya tertawa.
"Berlyn juga yang mulai sekarang akan mengurus segala kebutuhan kamu, selain menjadi sekretaris ia juga akan menjadi asistenmu di rumah," jelas Wendles pada Sarvel.
Sarvel yang mendengar hal itu kini hanya diam dan menatap makanannya.
"Pa, bagaimana jika papa kasih waktu 5 hari aja? Sarvel akan menyelesaikan semua masalah kantor," tawarnya sekali lagi
Wendles yang keasyikan mengunyah kini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Papa sudah memanggil Berlyn dengan susah payah untuk membantumu. Tidak ada kata penolakan atau bantahan," tegas Wendles yang mulai serius.
Sarvel berdecak sembari meletakkan sendok dan garpunya.
"Lalu bagaimana dengan sekretaris Sarvel? Masak Sarvel punya dua sekretaris?" tanyanya yang mencoba untuk terus merayu ayahnya agar Berlyn tidak menjadi sekretarisnya.
Wendles tersenyum kala mendengar pertanyaan putranya.
"Papa sudah meratakan habis perempuan di kantor. Jadi hanya ada Berlyn yang akan bekerja denganmu, sisanya hanya pegawai pria, kamu bisa merekrut pegawai baru jika mau," ucapnya pada Sarvel dengan begitu entengnya.
Sarvel yang mendengar hal itu kini dibuat terperangah tak percaya.
"Rata habis? Memang papa apakan mereka?" tanyanya dengan wajah yang begitu bingung dan bertanya-tanya soal pegawai perempuan yang ia rekrut.
Wendles hanya tersenyum sembari menatap Berlyn sekilas.
Sarvel menatap sinis Berlyn yang terlihat kompromi dengan papanya.
Sarvel berdecak kesal disaat tidak ada siapapun yang berpihak padanya.
Setelah Wendles pulang kini hanya menyisakan Berlyn dan Sarvel di mansion sebesar ini.
Suasana sedikit canggung karena mereka sudah lama tidak bertemu.
Berlyn bergegas membereskan meja makan membuat Sarvel menatapnya dengan jengkel.
"Kau sengaja melakukan ini?" tanya Sarvel dengan nada yang terdengar menjengkelkan.
Berlyn hanya diam sembari membawa beberapa piring kotor ke wastafel.
Sarvel yang tidak mendapatkan jawaban apapun dari Berlyn kini merasa diacuhkan dan dipermalukan.
Dengan rasa jengkel Sarvel menunggu Berlyn selesai mencuci piring.
Setelah selesai tampak Berlyn dengan santai memasukkan semua sisa makanan ke dalam almari dan hendak beranjak dari dapur.
Sarvel langsung menghadang jalan Berlyn dengan tatapan yang datar namun terkesan tidak suka.
"Menurut kontrak yang kutanda tangani, jam kerjaku mulai dari pukul 5 sampai pukul 9 malam. Sekarang sudah lewat waktu kerja, jadi tolong tunggu besok pagi untuk meminta bantuan," ujarnya dengan santai dan tegas.
Sarvel langsung mencekal lengan Berlyn kala ia hendak melenggang pergi.
Tatapan mereka bertemu sama lain dengan jarak yang dekat.
"Setelah mencampakkan diriku beberapa tahun yang lalu dan kau pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun alasanmu, dengan beraninya kau kembali ke kehidupanku setelah sekian lama aku bersusah payah melupakanmu, apa kau sedang mempermainkan perasaanku?" tanyanya dengan pelan dan penuh penekanan.
Berlyn tampak tersenyum tipis dan melepaskan tangan Sarvel dari lengannya.
"Jangan mencampur adukkan permasalahan masa lalu dengan sekarang. Aku sudah tidak ingat apapun tentang itu," ucapnya dengan santai.
Sarvel mencekal lengan Berlyn dan kini cengkramannya sedikit erat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang kau mau? Kau ingin uang dariku? Atau apa? Katakan padaku, aku akan memberikannya padamu. Tapi tolong, pergi dari hidupku, jangan terus menjadi bayang-bayang di kehidupanku saat ini," pintanya dengan tulus pada Berlyn.
Berlyn hanya diam sembari menatap lekat kedua mata Sarvel.
"Tidak satupun darimu," titahnya dengan tegas dan penuh penekanan membuat Sarvel memicingkan matanya tajam.
Ting
Suara ponsel Berlyn mengalihkan perhatian Sarvel.
Berlyn menghempaskan tangan Sarvel dan merogoh sakunya untuk mengambil ponselnya.
Dengan tajam Sarvel melirik kala Berlyn membuka ponselnya.
Lockscreen Berlyn?
Siapa anak kecil itu?
"Halo sayang, ada apa?" jawab Berlyn dengan lemah lembut berbeda kala sedang berbicara dengan Sarvel beberapa menit yang lalu.
"Enggak papa sayang, mama juga belum tidur kok," serunya sembari melenggang pergi begitu saja menuju lantai atas.
Sarvel membeku di tempatnya kala mendengar ucapan Berlyn barusan.
"Mama? Jadi anak itu? Putranya?" gumam Sarvel yang tak percaya dengan hal itu.
Beberapa detik kemudian Sarvel tersenyum lalu tertawa.
"Mama?" gumamnya sekali lagi yang menirukan logat bicara Berlyn barusan diiringi dengan tawa kecilnya.
BRAK
Sarvel menendang kursi meja makan dengan begitu kerasnya.
Napasnya terdengar terengah-engah, terlihat Sarvel begitu lepas kendali dalam mengatur emosinya.
"Apa yang sebenarnya dia inginkan dariku? Setelah pergi mencampakkanku, kini ia datang dengan kehidupan barunya, apa ia berniat untuk membuatku tersiksa dengan bayang- bayangnya?" gerutunya dengan penuh penekanan.
Sarvel yang tak bisa menahan amarahnya memilih keluar rumah daripada emosinya terlampiaskan pada Berlyn nantinya.
Kini pikiran Sarvel hanyalah club malam, di mana ia akan melampiaskan semua amarahnya di sana.
•••
Keesokan paginya Berlyn bangun pukul 5 di mana ia sudah bergulat di dapur tanpa tahu jika Sarvel tidak ada di rumah.
Sekitar pukul 6 Berlyn baru selesai masak dan bergegas untuk membangunkan Sarvel.
Berlyn mengetuk beberapa kali pintu kamar Sarvel namun tidak ada jawaban dari dalam.
Karena takut terjadi apa- apa Beryn langsung membuka pintunya untuk memeriksanya.
Kosong.
Ia memiliki kebiasaan buruk yang selalu bangun siang hari.
Tapi hari ini?
Berlyn langsung turun ke bawah untuk bertanya pada pengawal yang berjaga.
Ternyata Sarvel pergi sejak kemarin malam dan belum pulang sampai sekarang.
Berlyn langsung melihat ponselnya untuk menghubungi Sarvel sembari masuk ke dalam mansion untuk membersihkan diri.
Berlyn terus menelpon tanpa henti namun tidak satupun panggilan darinya terjawab.
Hinhga Berlyn ingat akan sesuatu yang dikatakan Wendles kemarin malam tentang tempat-tempat yang akan menjadi singgahan Sarvel untuk kabur dari pekerjaannya.
Markas El, Club dan terakhir makam mamanya.
"Mana dulu yang harus kutuju?" gumam Berlyn ketika ia sudah siap dan rapi setelah mandi tadi.
Hingga Berlyn memilih untuk pergi ke club lebih dulu.
Kini Berlyn sudah sampai di club Zibrano.
Ia segera masuk untuk mencari keberadaan Sarvel.
Bukan rahasia umum lagi jika club Zibrano tidak pernah sepi akan pengunjung.
Sekalipun pagi buta, ada banyak orang yang masih berjoget ria dan minum- minum bersama.
Tanpa ada rasa takut atau cemas karena beberapa pria hidung belang melemparkan senyum ke arahnya atau kerlingan mata genit, Berlyn berjalan dengan santai dan melihat satu persatu orang- orang di sana.
"Apa mungkin ia di atas?" gumamnya sembari melihat jam tangannya.
Berlyn dengan santai dan beraninya membuka satu persatu kamar untuk bisa menemukan Sarvel.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul 7 di mana nanti pukul 8 waktunya Sarvel memimpin rapat.
BRAK
Pintu VVIP terakhir Berlyn buka dengan sedikit kasar karena saking lelahnya mencari Sarvel.
Untungnya Berlyn bisa menemukannya dan itu tepat pada kamar terakhir.
Berlyn langsung menghampiri Sarvel yang berbaring bersama dua perempuan tersebut.
Tak ada rasa cemburu apalagi sakit hati kala melihat Sarvel tidur bersama dengan perempuan.
Berlyn berjalan menuju kamar mandi dan kembali dengan membawa segayung air.
Byur
__ADS_1
Ketiganya langsung terkejut bukan main karena merasakan dinginnya air mandi.
Sarvel langsung bangkit dari baringnya begitu juga dengan dua perempuan tanpa baju dan hanya menyisakan bra dan underwear nya tersebut.
"Yaaa! Siapa yang melakukan ini padaku?" teriak Sarvel marah tanpa sadar jika Berlyn berdiri di dekat ranjang.
"Aku," jawab Berlyn dengan santai sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
Sarvel menoleh menatap sinis Berlyn.
"Pukul 8 nanti waktunya kau memimpin rapat bersama dengan kepala dewan. Siangnya bertemu dengan klien dari China di restoran milik keluarga tuan Wendles, setelahnya kamu bisa bebas ingin pergi kemana," jelasnya pada Sarvel tentang jadwal hari ini.
Sarvel mengusap kasar wajahnya dan melepas kancing kemejanya satu persatu.
"Pergi saja sendiri ke kantor, aku akan tetap di sini," ketusnya sembari melempar kemejanya dan mencumbu wanita di sampingnya.
Berlyn menghela napas pelan dan melihat Sarvel yang terlihat sangat menikmati ciumannya bersama wanita tersebut.
Terlihat Sarvel kembali berbaring di mana dua perempuan itu langsung mencumbui tubuh Sarvel.
"Apa kau akan berdiri di sana dan menyaksikan aku bercinta dengan mereka berdua?" tanyanya diiringi dengan erangan.
Berlyn hanya diam saja dan menunggu di mana Sarvel memainkan puncak dramanya.
Perempuan kurus tanpa busana itu sudah mulai melepas resleting celana Sarvel membuat Berlyn dengan santai merogoh ponselnya.
Beberapa kali Berlyn bisa mendengarkan erangan Sarvel namun hal itu tidak mengganggu dirinya.
Ia terlihat sangat tenang dan santai.
"Halo Berlyn ada apa?" jawab Wendles dari seberang telepon.
Sarvel langsung menoleh dengan cepat menatap Berlyn.
Berlyn yang memang tengah melakukan video call sontak langsung mengalihkan kamera belakangnya.
"Maaf tuan mengganggu waktu anda, tapi saya hanya ingin melaporkan jika hari ini tuan Sarvel ingin membatalkan semua rapat dan janji temu yang sudah anda siapkan kemarin malam, tuan muda juga menolak untuk pergi ke kantor," jelasnya pada Wendles.
Sarvel yang mendengar hal itu sontak langsung bangkit dari baringnya dan menghampiri Berlyn.
Sarvel langsung merebut ponsel Berlyn dan mematikan panggilan video callnya dengan papanya.
"Apa kau sengaja melakukannya?" Berlyn mengangguk santai.
Sarvel menggenggam erat ponsel Berlyn.
"Kalian bisa pergi," usirnya pada mereka berdua.
Setelah mereka berdua pergi Sarvel dengan agresif langsung mendorong Berlyn ke atas ranjang.
"Yaa, apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" tanya Berlyn dengan sedikit keras.
Sarvel tersenyum devil kala melihat raut wajah Berlyn yang begitu ketakutan.
"Kenapa? Kau takut sekarang?" tanya Sarvel selagi ia melepas celana panjangnya.
Berlyn menatap tajam Sarvel yang kini terlihat begitu menakutkan.
"Aku sudah bersuami, jangan membuat suamiku murka denganmu," ancam Berlyn pada Sarvel.
Sarvel tampak tersenyum miring kala mendengar ancaman Berlyn.
"Oh ya? Lalu mari kita buktikan saat ini, apa kau sudah menikah atau hanya ingin mengompori ku?" ujar Sarvel yang lebih tidak percaya saat Berlyn mengatakan jika dirinya sudah menikah.
Sarvel langsung menindih tubuh Berlyn dengan senyum smirknya di mana Berlyn dengan sigap menahan dada bidang Sarvel.
"Kau sungguh ingin bukti? Apa kau tidak melihat cincin ini?" tanyanya sembari menunjukkan cincin di jari manisnya.
Sarvel berdecak pelan dan tak percaya dengan ucapan Berlyn.
"Sekarang cewek mana yang tidak memakai cincin di jari manis? Semua memakainya meski belum menikah, jangan mencoba menipuku dengan hal itu," serunya pada Berlyn.
Sarvel hendak mencium leher jenjang Berlyn namun kembali ditahan oleh kedua tangan Berlyn.
"Kenapa, kau tidak mempercayainya karena kau tidak bisa melupakanku?" tanya Berlyn dengan penuh smirk.
Sarvel yang mendengar hal itu menatap lekat kedua mata Berlyn.
"Hanya memastikan aku bekerja dengan orang lain, bukan orang di masa lalu yang datang tanpa diundang setelah pergi tanpa permisi. Kau terlalu percaya diri sekali," olok Sarvel di akhir kalimatnya.
Sarvel langsung bangun dari atas tubuh Berlyn dan memakai kembali celananya.
Berlyn kini bisa bernapas lega kala Sarvel mengurungkan niatnya.
Ia segera bangkit dari baringnya dan merapikan rambutnya.
Berlyn melihat Sarvel yang mengambil baju di almari.
"Aku sudah menyiapkan baju kantornya di mobil, kamu bisa ganti dan mandi di kantor nanti selagi masih ada waktu," beritahu Berlyn pada Sarvel.
Sarvel yang tengah memakai kaos hitam sontak menghampiri Berlyn.
"Ingat! Kita bukan siapa-siapa lagi, jadi jaga cara bicaramu dengan atasanmu. Jangan samakan seperti berbicara dengan mantanmu," sindirnya dengan tajam.
Berlyn hanya diam dan menatap datar Sarvel.
"Dan satu lagi," Sarvel melangkah maju mendekati Berlyn sembari merapikan rambutnya.
"Mari kita buktikan, seberapa kuat kau bekerja denganku. Aku akan melakukan segala cara untuk mengusirmu dalam kehidupanku, camkan baik-baik hal itu!" tegasnya pada Berlyn lalu melenggang pergi begitu saja keluar kamar.
Berlyn mengepalkan tangannya dan menelan salivanya dengan berat.
Ia menghembuskan nafas panjang dan segera menyusul Sarvel keluar.
__ADS_1