ASI Untuk Bayi Mafia

ASI Untuk Bayi Mafia
Part 98


__ADS_3

Markas Klan Wolf


Ada El yang kini baru datang ke markas setelah tadi dari kantor untuk menemui tamunya dari Spanyol.


Sudah lama El tidak memainkan beberapa senjatanya.


Terlebih ia sangat merindukan darah.


El masuk ke dalam ruang latihan sembari melepas jasnya membuat semua anak buahnya langsung menghentikan aktivitasnya dan memberikan hormat pada El.


"Di mana Ziko?" tanyanya saat tidak melihat asistennya tersebut.


"Tadi pagi tuan Alvino mengajak tuan Ziko dan tuan Zen pergi tuan," jawab salah satu dari mereka.


"Kemana?" tanyanya sembari mengambil kunci bawah tanah.


"Kurang tahu tuan, tapi sedengar saya, tuan Alvino mengajak tuan Ziko untuk sembahyang," jelasnya yang tadi dengar kata- kata sembahyang.


El tersneyum tipis kala mendengar hal itu.


"10 orang ikut denganku masuk," pintanya membuat mereka langsung ikut masuk ke dalam ruang bawah tanah mengikuti El di belakangnya.


Terlihat Arga, Jemy, dan Fera terduduk begitu lemas di lantai karena kehabisan darah.


El menarik kursi besi tersebut sembari membawa palu kecil di atas meja.


"Bawa dia kemari!" perintah El pada anak buahnya.


Brugh


Arga tersungkur di depan El.


"Kuat juga tubuhmu," pujinya dengan seringaian liciknya sembari memainkan palu kecilnya di atas kepala Arga.



"Bunuh saja aku bangsat," teriak Arga begitu keras dengan sisa tenaganya.


"Tentu, tapi aku masih ingin bermain- main denganmu. Aku sangat merindukan darah setelah sekian lama hiatus dari duniaku," jawabnya sembari melemparkan palu kecilnya ke atas meja dan beralih mengambil pisau kecilnya.


Fera dan Jemy yang melihat sikap iblis El saat ini benar- benar dibuat ketakutan dan gemetar saat ini.


"Akhhhh," teriak Arga kala pisau kecil itu menggores pipinya.


Tak sampai disitu, El mulai melukis di lengan Arga dan sesekali menekannya dengan sepatunya.


"Kau terobsesi dengan wanitaku sejak kapan?" tanya El sembari mengarahkan pisaunya tepat di depan mata Arga.


Arga menyeringai dan sesekali meringis kesakitan saat sayatan pada lengannya ditekan oleh El.


"Sejak pertama kali aku bertemu," jawabnya dengan napas yang menderu.


"Sekarang kutekankan padamu, ia adalah wanitaku. Ia hanya milikku. Dan tidak seorangpun boleh menyentuhnya selain aku, kau paham itu!" tekannya pada Arga.


Arga tertawa membuat El langsung menginjak pipi Arga bekas sayatannya.


"ARGHHHH!" teriak Arga kesakitan membuat Fera dan Jemy terlihat begitu ketakutan saat ini.


"Tertawalah sampai puas sebelum aku merobek mulutmu," perintahnya dengan penuh penekanan.


Para pengawal yang melihat hal itu hanya bisa diam dan sesekali mengalihkan tatapannya kala mereka merasa ngilu sendiri.

__ADS_1


El lalu berjongkok di depan Arga sembari meletakkan pisau kecil itu tepat di leher Arga.


"Andai kau hanya mengaguminya tanpa melibatkan obsesi gilamu, mungkin aku masih bisa mengampunimu meski aku akan mencongkel kedua bola matamu lebih dulu, sayangnya kau melampui batas, jadi jangan salahkan aku untuk membunuhmu," tekannya dengan pelan namun jelas.


Sret


Darah segar itu mengucur begitu deras dan segar dari leher Arga.


Para pengawal yang melihat hal itu langsung paham dan langsung membawa pergi Arga untuk dieksekusi.


El mengelap pisau kecilnya dengan tisu sembari mencium aroma darah itu dengan begitu menikmatinya.


Kini ia beralih pada Jemy dan Fera.


El berjalan mendekati Fera dengan santai namun hal itu semakin membuat takut Fera.


"El kumohon jangan lakukan itu, ampuni aku, kumohon," ucapnya yang memohon pada El.


El hanya manggut- manggut lalu mendekati Fera dengan begitu tenangnya.


"AKHHHHH!" teriaknya begitu keras kala El menggores panjang punggung tangannya.


El menarik tangan Fera dan meletakkannya di atas lantai lalu menginjaknya begitu kuat dengan sepatunya.


Teriakan dan tangisan histeris kini memenuhi ruang bawah tanah membuat El begitu tenang setelah sekian lama ia tidak bermain- main dengan senjatanya.


El baru melepaskan injakannya membuat Tera langsung menarik tangannya dengan picingan mata yang tajam.


El lalu berjongkok di depan Fera dan mencelupkan tangannya pada oli lalu mengusapkannya pada kepala Fera.



"Selain menamparnya, apalagi yang kau lakukan pada wanitaku?" tanya El dengan sangat pelan dan begitu menakutkan sekali.


Crek


Fera melebarkan kedua matanya kala El menyalakan korek api tepat di depan matanya.


"Berbicaralah selagi mulutmu masih bisa berbicara sebelum aku membakarmu," tekannya sembari mendekatkan korek apinya pada Fera.


"Aku hanya menamparnya," jawab Fera dengan sedikit ketus membuat El manggut- manggut.


"Lalu siapa yang mengikatkan tali pada tangannya?" tanya El dengan detail di mana ia tak akan mengampuni siapapun yang telah melukai seinci pun tubuh Lea.


Fera menela salivanya dan hanya diam membuat El paham.


Ia lalu bangun dari jongkoknya.


"5 orang tampari dia secara bergantian, jangan berhenti sebelum dia pingsan," perintahnya padapara pengawal.


Mereka mengangguk dan langsung melakukan perintah El tanpa memandang siapa pelakunya.


El lalu berjalan ke arah Jemy sembari memainkan korek apinya.


Terlihat Jemy menatap sinis El.



"Kau yang membawanya ke tempat Arga, kau juga yang membuatnya dalam bahaya, bahkan kau juga berani menyentuhnya. Lantas hukuman apa yang pantas untukmu?" tanya El sembari berdiri di depan Jemy.


"Apa kau akan tega melakukannya padaku? Kita masih saudara," ujarnya pada El.

__ADS_1


"Oh tentu aku tega melakukannya, apa hubungannya dengan saudara. Kau telah menyentuh milikku, kau juga yang telah membawanya dalam bahaya, wajar dong jika aku membalas perbuatanmu, setiap kejahatan akan selalu ada balasannya," ucap El dengan entengnya.


Jemy terlihat memicingkan matanya tajam pada El.


"Turunkan pandanganmu sebelum kucongkel keluar bola matamu!" tekannya pada Jemy.


Jemy langsung memalingkan wajahnya diiringi dengan dengusan sebalnya.


El membuang pisau dan koreknya lalu dengan tenang ia mengisi revolvernya hingga penuh.


Jemy yang melihat hal itu terlihat sangat ketakutan hingga ia mencoba memberontak dalam ikatan rantai kuat tersebut.


"El hentikan, jangan lakukan hal itu. Kita masih bersaudara," tegasnya pada El mencoba mengingatkan.


DOR


Jemy mengerang kesakitan kala bahunya tertembak.


DOR


Dan kini bahu sebelah kirinya.


El sedikit mendekat pada Jemy agar jaraknya bisa lebih dekat.


El membuka paksa mulut Jemy lalu memasukkan revolvernya ke dalam mulut Jemy.


Jemy dengan mata yang berkaca- kaca menggelengkan kepalanya mencoba mengeluarkan revolver El dari dalam mulutnya.


El memejamkan matanya bersamaan dengan jemarinya yang menarik pelatuk revolvernya.


DOR


Cipratan darah itu mengenai wajah El.


Perlahan El membuka kedua matanya dan terlihat Jemy sudah tewas di depannya.


El langsung melenggang pergi tanpa merasa berdosa sedikitpun pada mereka yang telah menyentuh wanitanya.


Sebelum meninggalkan ruang bawah tanah El berpesan pada pengawalnya.


"Cepat bereskan mereka semua," pesannya lalu pergi keluar dari sana.


El menyambar jasnya dan segera meninggalkan markas.


Ting


El mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.


Ia melihat ponselnya.


Terlihat senyum manis terbit pada bibir El kala ia mendapatkan pesan dari wanitanya.



Aku sudah berusaha untuk berolahraga, tapi sepertinya timbangannya rusak.


El memalingkan wajahnya dengan senyum manisnya saat ini setelah membaca pesan dari Lea.


"Bagaimana timbangannya tidak rusak jika ia berolahraga sembari minum-minuman yang manis," gumamnya yang merasa gemas dengan wanitanya.


El langsung masuk ke dalam mobilnya dan bergegas untuk pulang.

__ADS_1


Rasanya ia begitu ingin sekali menerkam Lea saat ini.


"Apa ia tengah mengujiku? Bagaimana bisa ia mengirimkan foto secantik dan seseksi itu?" gumam El yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan pelataran markas.


__ADS_2